
Semenjak pertemuan itu, para pejuang mengirimkan mata-matanya menuju Timur, tempat dimana markas Iblis Tiada Banding berada. Namun diantara mereka semua, yang paling diandalakan adalah Asosiasi Gagak Surgawi dan Hantu Merah.
Zhang Qiaofeng mengutus Yin Yin dan Yin Mei untuk menyelidik ke sana. Masing-masing dari mereka membawa sepuluh orang yang dahulunya adalah anggota Asosiasi Gagak Surgawi.
Rombongan keluarga Zhang berangkat paling awal. Satu hari pasca pertemuan itu, keluarga Zhang sudah mengutus mereka dan dua puluh dua orang ini pergi dari markas para pejuang, menuju ke arah Timur.
Tentu saja Yin Yin dan Yin Mei tidak menggunakan jubah Hantu Merah yang menjadi kebanggaan mereka. Dua orang ini membalik bajunya sehingga ibu dan anak tersebut mengenakan jubah yang sama-sama kuning. Topeng mereka lepas sehingga menampakkan wajah cantik natural tanpa riasan itu.
Dua orang ini bersenjatakan sepasang belati yang diletakkan di kanan dan kiri pinggang. Walaupun sedang menyamar, namun mereka tetap menunjukan identitas sebagia pendekar. Sama seperti sepuluh orang anak buahnya, mereka semua berpakaian sederhana namun tetap membawa pedang di pinggang atau punggung.
Sampailah mereka di desa sederhana setelah melakukan tiga hari perjalanan. Tempat ini sudah masuk ke dalam lingkup kawasan Iblis Tiada Banding, sehingga tak jarang terlihat para pendekar golongan hitam atau bahkan anggota dari kelompok itu sendiri.
Terlihat sekali desa ini sangat sengsara, banyak warga yang dipukuli atau disiksa hanya karena tidak sengaja menabrak salah seorang dari mereka. Semuanya nampak suram muram, sungguh pun keadaan desa berjalan sebagai mana mestinya.
Ada yang bekerja ke sawah, dagang, berburu dan lain sebagainya. Namun baik Yin Yin, Yin Mei atau pun anggota lain tahu bahwa mereka ini melakukan semua itu dengan terpaksa.
"Jika menyiksa rakyat seperti ini, bagaimana mungkin mereka hendak menjadi kaisar? Siapa yang jadi pendukung?" Yin Yin berkomentar dengan bergumam.
Mereka lantas pergi ke rumah makan setelah memerintahkan anak buah mereka menyebar ke segala penjuru desa. Mencari informasi sebanyaknya mengenai Iblis Tiada Banding.
Di salah satu rumah makan, terdapat banyak sekali pendekar golongan hitam yang berkumpul, tempat inilah yang dipilih Yin Mei untuk mencari informasi. Sedangkan ibunya pergi ke salah satu rumah penginapan dekat sini.
Ketika masuk, semua kegiatan berhenti dan rumah makan itu menjadi sepi seketika. Mereka semua terbelalak memandang kecantikan Yin Mei yang jarang bandingannya. Bahkan ada beberapa pria yang sampai meneteskan air liurnya. Melihat ini Yin Mei tersenyum dan berjalan menuju meja kasir untuk memesan makanan, setelah itu dia duduk di salah satu kursi, kursi di tengah ruangan.
Yin Mei mengederkan pandangannya, kemudian dia secara tidak sengaja menangkap sosok pemuda tampan dan tegap yang duduk di sudut ruangan, dia ini juga sama seperti yang lain, terbengong memandangnya.
Yin Mei melihatnya penuh perhatian, kemudian dia memberikan senyum manis serta satu kedipan sebelah mata. Membuat si pemuda itu memerah sekali wajahnya dan cepat-cepat menundukkan muka.
"Hehe, mangsa empuk." batin Yin Mei menyeringai.
"Bocah ingusan yang beruntung! Tunggu apa lagi!?" goda temannya yang duduk di sebelah pemuda tersebut.
Pemuda ini lantas mencebikkan bibir dan menggebrak meja, "Maaf saja, aku tidak seperti kalian yang gila wanita!" Dia lalu bangkit dan pergi dari rumah makan tersebut.
Saat dirinya lewat di sebelah Yin Mei, diam-diam dia melirik kearah gadis tersebut yang sedang enak-enak makan. Namun betapa kaget, gugup dan malunya ia saat tiba-tiba Yin Mei mengangkat muka da memandangnya dengan senyum lembut.
"Kenapa kau memandangku?" tanya Yin Mei pura-pura polos.
__ADS_1
"Siapa yang memandangmu!" pemuda ini melanjutkan langkahnya.
Namun baru satu langkah, tangannya sudah dicekal oleh Yin Mei dan menariknya sampai telinganya dekat dengan bibir gadis tersebut. Darah pemuda ini berdesir cepat tatkala hembusan nafas hangat dari Yin Mei terasa jelas olehnya.
"Hihi...dasar pemalu. Nanti malam temui aku di sungai dekat sawah Barat kota. Yah, jika kau tak mau tak masalah."
Setelah itu Yin Mei melepaskannya dan kembali makan dengan tenang. Namun gadis ini dapat melihat jelas kilatan penuh gairah dari pemuda tersebut, walaupun hanya sejenak dan berusaha mati-matian untuk menutupinya, Yin Mei masih mampu melihat jelas.
"Hehe, apa kau tahu siluman rase?" tanya Yin Mei kepada pemuda itu yang belum juga pergi.
"Huh, hanya dongeng yang menakut-nakuti anak kecil. Dia adalah seekor siluman yang senang mencari mangsa laki-laki untuk memuaskan hasratnya sekaligus diambil jiwanya." jawab pemuda tersebut yang sudah kembali ke sikap dinginnya.
"Yah....ternyata kau cukup tahu."
"Huh, wanita aneh! Kau pikir aku akan mengindahkan ajakanmu? Maaf saja, aku tak sudi dengan perempuan murah!" setelah mencela seperti itu, dia berbalik dan berjalan cepat keluar restoran.
"Hahaha, A Tong yang sangat pemalu dan dingin. Dustamu sungguh kelihatan!" seru temannya yang sepertinya sudah berada dalam pengaruh alkohol.
"A Tong, tunjukkan kehebatanmu!" seru temannya yang lain.
Sedangkan Yin Mei, tidak ada yang tahu dari mereka semua bahwa gadis yang sedang menunduk dan menutupi muka dengan rambutnya itu, sedang memasang senyum iblis mengerikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di penginapan yang tak jauh berada dari rumah makan tempat Yin Mei menjadi pusat perhatian, Yin Yin juga sibuk melakukan tugasnya.
Saat ini di depan meja resepsionis, di salah satu kursi panjang yang empuk dan nyaman, terlihat seorang wanita dan pria yang sedang duduk bermesraan. Dia tak lain adalah Yin Yin dan mangsanya.
"Ahaha, kau sangat pintar merayu." ucap Yin Yin kepada pria setengah tua di sampingnya dengan senyum ceria.
Pria ini memiliki tubuh tinggi besar, berkumis dan berjenggot tipis, alisnya hitam panjang dan matanya mencorong tajam. Sungguh pria yang terlihat sangat kasar.
Ditambah dengan baju kebanggaannya yaitu baju Iblis Tiada Banding, membuat ia ditakuti di desa ini dan tak ada yang berani menegur dua orang tersebut.
"Nyonya cantik yang nakal, dimana suamimu?"
Yin Yin memasang ekspresi cemberut dan mendekap tangan kiri orang tersebut, "Suamiku pergi berperang sebagai pendekar dan entah kemana sampai sekarang tak pernah kembali. Kau tahu kan maksudku?" dalam ucapan terakhir ini, satu kerlingan tajam berhasil membius lelaki tersebut.
__ADS_1
Lelaki ini langsung bangkit sambil menggandeng Yin Yin, dia menghampiri meja resepsionis dan berkata kepada resepsionis yang ada di sana.
"Satu kamar paling mewah dan mahal untuk aku dan kekasihku ini." ucapnya memberikan tiga koin emas.
"Tuan, ini terlalu banyak untuk kamar paling mahal sekali pun."
"Tak apa, aku sedang berbaik hati dan sepertinya hari ini adalah gerbang kebahagiaanku!" serunya sambil tertawa dan meminta kunci kamar. Setelah itu dia naik ke lantai paling atas, tempat dimana kamarnya berada.
"Orang bodoh yang terlalu idiot!" gumam Yin Yin dalam hati dengan seringaian kejam.
"Maafkan aku tuan Lin Tian, kau pasti sedang mengutukku di sana. Tapi maaf sekali, ini demi kepentingan nona kita tercinta."
Malam hari pun tiba, setelah dari siang tadi Yin Yin dan pria bernama Tai Lun tadi sibuk bercanda ria dan minum arak, tibalah masanya yang dinanti-nantikan Tai Lun.
Wajah mereka berdua sudah memerah sekali tanda arak keras itu sudah memengaruhi pikiran dan tubuh mereka. Namun jika diperhatikan lebih teliti, sepasang mata Yin Yin itu sungguh pun sayu hampir meram karena mabuk, namun dapat dilihat bahwa dia masih sadar sepenuhnya.
Yin Yin Berjalan gontai ke arah kasur tempat dimana Tai Lun terlentang setengah sadar. Dia naik keatas kasur dan menjalankan aksinya.
"Tai Lun kekasihku, cintakah kau kepadaku?"
"Bagaimana kau tak melihat, seluruh jiwa ragaku menyerukan namamu, Yin Yin ku."
"Kalau begitu, bolehkah kekasih tercintaku ini menjawab beberapa pertanyaan dariku. Setelah itu barulah akan kuberi hadiah yang sangat indah seumur hidupmu."
"Apa yang bisa kutolak darimu Yin Yin. Hayo katakanlah, apa yang hendak kau tanyakan?"
Yin Yin menyeringai, namun karena dalam keadaan hampir mabuk, dia tidak mampu membentuk seringaian dan malah berubah menjadi seperti senyum penuh gairah.
"Ini soal kelompokmu, Iblis Tiada Banding. Bolehkah aku mengetahuinya?"
Mendengar ini, Tai Lun sedikit terbelalak dan memandang tajam. Sampai di sini Yin Yin sudah waspada, namun dia menghembuskan nafas lega saat Tai Lun malah tertawa seraya berkata.
"Haha, hanya itu, tentu saja akan kujawab sebanyak yang kau mau!"
Seringaian Yin Yin makin lebar dan Tai Lun telah jatuh ke tangan siluman!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG