
Tiga belas, jumlah total dari semua manusia yang telah nenek siluman itu masukkan kedalam kuali besar. Perapian di bawahnnya masih membara dengan hebat bahkan semakin besar seiring berjalannya waktu.
Dengan sebuah sendok besar, nenek itu asyik mengaduk-aduk ramuannya sambil terkekeh-kekeh. Buih-buih udara di air itu mulai bergerombol ke tengah ketika air sudah mencapai suhu didih yang panas sekali. Tapi kiranya nenek itu belum menghentikan kegiatannya dan terus mengaduk-aduk.
"Tak-Tak-Tak"
Tiba-tiba gerakan tangannya berhenti tatkala dia mendengar suara langkah kaki dari arah tangga yang menghubungkan ke lantai atas menuju jalan keluar. Alisnya sedikit terangkat tanda bingung. Padahal selama ini, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa tahu jalan masuk ke ruang bawah tanah ini.
Dia meletakkan sendok besar alat aduk tadi ke lantai dan memegang tongkat bututnya. Membalikkan badannya, dia berdiri tegak sambil matanya menerawang ke satu-satunya tangga menuju lantai atas.
Suara tak-tuk-tak-tuk itu terus bergema makin keras, membuat nenek itu makin yakin bahwa sosok tamu yang datang ini sedang menuju ke ruangannya.
"Siapa itu?" suara serak milik sang nenek mencoba menggertak seorang yang baru datang itu. Tapi agaknya hanya dihiraukan saja karena sedikit saja suara itu tak terdengar melambat. Masih dalam tempo yang sama.
"Siapa pun adanya dirimu, kau akan mati kalau menyentuh lantai di sini. Sudah menjadi perjanjianku dengan Sian Yang bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa memasuki wilayah ini."
Masih sama seperti tadi, tak ada jawaban dari sosok misterius itu. Hingga tujuh kali terdengar langkah kakinya, kemudian dia berhenti. Dari tempat nenek berdiri saat ini dia hanya bisa melihat kaki dari sosok itu.
"Sepertinya....seru sekali ya merebus orang-orang tak berdosa hasil culikan itu?"
"Apa maumu!!"
Terdengar kekehan pelan dari sosok itu sebelum melanjutkan langkahnya dan menampakkan wajahnya yang tertutup topeng hitam sebelah wajah. Senyum angkuh terukir jelas di wajahnya.
"Kau....Lin Tian, apa maumu?"
"Kukira kau sudah mati dahulu itu, nyatanya masih sehat-sehat saja sampai sekarang ini. Aku terlalu ceroboh..."
Hening, keduanya saling pandang dengan tajam dan waspada. Mata mereka menyinarkan kilat-kilat mengerikan, menandakan keduanya sudah saling siap.
"Hehehe....seperti dugaanku, racun buatanku tak terlalu mempan kepadamu. Ingatanmu sudah kembali huh?"
"Hahaha.....! Lucu sekali!! Kau salah paham nenek reyot!"
Tak perlu dijelaskan lagi bagaimana rupa nenek itu saat ini. Tentu sudah memerah saking jengkelnya mendengarkan seseorang yang dianggapnya bocah kemarin sore itu.
"Aku sama sekali tak kehilangan ingatan, racun kacangan macam itu sepatutnya kau arahkan kepada kucing saja. Kau pikir aku ini siapa bisa kau kelabuhi dengan pil racun setengah matang itu."
__ADS_1
Nenek ini membanting-banting kakinya dan mengetukkan tongkatnya ke lantai keras sekali. Membuat lantai itu retak seketika karena dalam ketukannya terkandung tenaga dalam.
"Tidak mungkin! Aku berani taksir kalau racunku itu bahkan tak mampu dihalau oleh Sian Yang, lalu kau sama sekali tak terpengaruh? Hei, kau bahkan jauh lebih lemah dari Sian Yang!"
"Oh...benarkah?" seringaian Lin Tian melebar lantas dia mengarahkan telapak tangannya menuju dinding ruangan.
"Bres....Craakk!" dinding batu licin dan lembab di ruangan itu tiba-tiba melesak ke dalam dan hancur seketika. Membuat sebuah cekungan yang tak dangkal membentuk bulat sempurna.
"Ingin adu? Mau coba-coba? Boleh saja, maju sini!" Lin Tian mengangkat kedua tangan dan menggerakkan sepuluh jarinya seolah mengatakan agar nenek itu maju mendekat.
"Bocah keparat! Kau harus mati!!"
Dibarengi bentakan yang penuh daya sihir ini, dia melompat dan menggebukkan tongkat bututnya mengarah ubun-ubun Lin Tian.
Karena teriakan sihir ini, diam-diam Lin Tian kagum karena sedikit banyak sudah mampu menguasai batinnya. Tapi agaknya karena keberadaan hawa sakti maka hawa sihir itu mampu diusir jauh-jauh dan dia menjadi kebal.
Menggeser kakinya selangkah ke samping kanan, Lin Tian dapat menghindarkan diri dari gebukan tongkat lawan. Bahkan dia mampu balas menyerang dengan tendangan punggung kaki yang langsung mengarah tulang rusuk nenek tersebut.
Kembali teriakan terdengar bahkan daya sihir dalam teriakan kali ini lebih kuat dari yang pertama. Akan tetapi tetap saja sihir itu tak mampu memengaruhi Lin Tian yang cepat mengirimkan pukulan mengarah wajah.
"Kurusakkan wajahmu yang sudah tak berbentuk ini!"
Nenek ini memutar tongkat di depan dada dan tangan Lin Tian berhasil ditepis. Tapi sayang, saat dia memutar tongkatnya, pandangannya sedikit terhalang dengan tongkatnya sendiri. Karena itulah dia tak menyadari tangan kiri Lin Tian yang sudah mencabut pedang dan mengirim tusukan kilat ke ulu hati.
"Jleb"
"Aaaakkkhhh!!" teriakan menyanyat hati terdengar ketika pedang Lin Tian berhasil menembus dada nenek tersebut. Belum juga tercabut dari himpitan tulang rusuk lawan, Lin Tian memutar pedangnya itu sebelum kemudian dicabutnya.
Tak berhenti sampai di sana, membiarkan mayat itu jatuh terlungkup di depan kakinya, Lin Tian menumpahkan cairan berisi rebusan manusia itu.
"Maafkan aku, jasa kalian sangat berharga saat ini." ucapnya membungkuk hormat memberi penghormatan serta berdoa.
Kemudian dia berjalan ke salah satu ruangan dan setelah mencari sesuatu di dalam sana, Lin Tian keluar membawa sebuah bola sebesar telapak tangannya.
"Agaknya ini bendanya. Hem...." Lin Tian membolak-balikkan halaman buku yang berisi beberapa informasi hasil penyelidikan Xin Kiu.
"Wah, dia hebat...aku sudah lebih lama di sini tapi tak pernah tahu keberadaan benda ini. Alat peledak bila bertemu api? Hm, nenek ini sungguh berbahaya."
__ADS_1
Lin Tian kembali memasukkan catatannya di balik jubah baju sebelum kemudian mengambil lebih banyak bola-bola itu dan disebarkannya ke seluruh ruangan.
Lalu dia mengambil pecahan batu yang berasal dari dinding yang dirusakkannya tadi, kemudian ia gesekkan ke dinding dengan pengerahan tenaga.
"Srek-srek-srek!"
Tiga kali gesekan terdengar pada dinding itu dan ketika gesekan keempat, percikan api tercipta untuk membuat bara api begitu mengenai salah satu bola.
"Hm....rencana berikutnya...aku serahkan padamu, Xin Kiu!" Lin Tian melesat keluar melalui tangga menanjak yang menghubungkan dengan ruang atas, yang dimana terdapat pintu keluar.
Setelah lima detik kepergian Lin Tian dari ruang bawah tanah, dari dalam sana tercipta cahaya terang yang beberapa saat kemudian menimbulkan suara nyaring.
"Booomm....Booommm!!!"
Tanah di atas ruang bawah tanah itu berhamburan seketika. Gempa kecil tercipta di sekeliling tempat itu dan dalam kawasan dua puluh meter, tercipta sebuah kubangan besar nan dalam.
...****************...
"Boomm....Booommm!!"
"Apa itu?" gumam Chan Fan yang saat ini sedang duduk-duduk di pesisir pulau Tulang Naga.
Dirinya lekas menoleh ke sumber suara untuk menemukan kepulan asap hitam tebal membumbung tinggi ke langit malam.
"Sial...itu tempat nenek sinting!" umpatnya sebelum bangkit dan segera melesat menuju ke tempat itu.
Beberapa menit berselang, ternyata di sana sudah terdapat Sian Yang dan Naga Emas, juga ada beberapa anggota Iblis Tiada Banding yang terkejut dengan ledakan tersebut. Salah satunya adalah Xin Kiu yang nampak luka-luka.
"Ada apa ini?" ujar Chan Fan begitu sampai di sana.
Tapi yang didapatnya adalah tatapan dingin dari Sian Yang dan Naga Emas, juga pandangan sedikit tidak suka dari beberapa anggota. Dia heran sekali dengan semua ini, apalagi ketika Sian Yang berkata dingin.
"Chan Fan...jelaskan semuanya padaku, jangan sampai ada yang ditutupi!"
"Apa maksudmu?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG