Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 189. Kemajuan


__ADS_3

Yang menjadi pertanyaan semua orang hingga saat ini adalah, kemana perginya Zhang Heng? Apakah mantan tetua keluarga Zhang itu benar-benar sudah mati?


Sebenarnya, dia tak jauh berbeda dengan nasib Lin Tian. Dia belum mati dan saat hanyut di sungai yang sangat deras itu, kebetulan ada orang-orang yang melihatnya dan menyelamatkannya.


Orang-orang ini dipinpim oleh Chan Fan yang sedang melakukan misi di daerah tersebut. Saat melihat tubuh Zhang Heng hanyut di sungai dalam keadaan tak sadar, secepat kilat dia sudah melesat dan menyambar tubuhnya.


Aneh memang karena pada saat itu Chan Fan mampu mengenali Zhang Heng yang tanpa menggunakan topeng. Entah pria itu mendapat informasi dari mana, tapi yang jelas dia memang sudah tahu wajah asli Zhang Heng.


Setelah menyelamatkan pria itu, Chan Fan mendapat ide baik. Yaitu menggabungkan Zhang Heng ke dalam Iblis Tiada Banding agar kelompoknya bisa bertambah kuat.


Maka dari itulah, Chan Fan lekas membawa Zhang Heng yang masih pingsan ke hadapan ketuanya, Sian Yang.


Pria yang seperti wanita ini menjelaskan semuanya dengan mendetail. Soal misi dan tentang penemuan Zhang Heng di sungai itu. Tak lupa pula Chan Fan juga menjelaskan rencananya untuk menarik Zhang Heng ke pihak Iblis Tiada Banding.


"Apa kau yakin? Aliansi Golongan Hitam sangat membenci kita." tanya Sian Yang kala itu yang masih ragu dengan usul Chan Fan.


"Itu dulu ketua, dan sekarang pemimpin Aliansi Golongan Hitam baru saja mati."


"Apa? Dimana dia mati dan siapa yang membunuhnya!?" Sian Yang terkejut sampai meninggikan intonasi bicaranya.


"Zhang Hongli, dialah yang membunuh pria itu beberapa jam lalu."


Setelah jawaban ini, tiba-tiba Sian Yang tertawa keras sambil mendongakkan kepala.


"Hahah, bagus, dengan begitu Aliansi sudah hancur dan tidak ada yang menghalangi kita untuk merekrut Zhang Heng."


Pada hari itu pula, Zhang Heng bangun dari pingsannya dan segera diajak bergabung oleh Sian Yang. Awalnya pria ini menolak keras ajakan itu karena masih menganggap bahwa Sian Yang ini adalah pengacau.

__ADS_1


Apalagi saat dirinya melihat adanya Naga Emas di sana, Zhang Heng benar-benar marah karena tak menyangka ada anggota Pilar Neraka yang bersekutu dengan Iblis Tiada Banding.


Akan tetapi sungguh hebat pengaruh dan wibawa Sian Yang dalam usahanya untuk membujuk Zhang Heng. Dia menjanjikan satu hal yang selama ini menjadi mimpi Zhang Heng dan gurunya.


"Kau ikut aku dan kau akan menjadi kaisar." ucap Sian Yang dengan nada yakin dan tegas.


"Jangan bercanda! Kalian memang kuat, tapi bisa apa melawan kekaisaran!" bantah Zhang Heng.


"Haha, masalah itu bisa dipikirkan nanti. Yang pasti aku ingin agar kau mengumpulkan sisa-sisan anggota Aliansi yang masih berkeliaran dan diajak bergabung bersama kami. Yakinlah padaku, kau tak akan kecewa." demikian ucapan Sian Yang yang berusaha meyakinkan hati Zhang Heng.


Pria ini terus menolak dengan keras, namun pada akhirnya tunduk juga. Dia bergabung dengan Iblis Tiada Banding dan tugas pertamanya adalah mengumpulkan sisa-sisa anggota Aliansi Golongan Hitam yang masih bersembunyi.


Hasilnya cukup memuaskan, Zhang Heng mampu mengumpulkan sekitar seratus orang anggota Aliansi Golongan Hitam yang tak bisa dianggap lemah. Mereka mengikuti Zhang Heng untuk menjadi bagian Iblis Tiada Banding.


Seperti itulah sepenggal cerita mengenai nasib Zhang Heng setelah terjatuh dari jurang. Dia juga ikut berkonstribusi besar saat penyerangan Iblis Tiada Banding di keluarga Xiao.


Namun sayang sekali karena mereka berhasil dipukul mundur dan pindah ke Utara. Sejak saat itu, Zhang Heng ingin pergi dari Iblis Tiada Banding namun kembali Sian Yang menyakinkannya untuk tetap tinggal.


Maka sejak hari itu, lima orang tokoh Iblis Tiada Banding yang kuat dan sakti itu menjadi gembong penjahat di wilayah Utara. Hanya satu kelemahan mereka, yaitu Pendekar Sejati.


Seandainya Sian Yang masih prima seperti dulu, mungkin masalah itu tidak begitu berarti. Namun sekarang sudah berubah, luka parah yang diakibatkan pertempuran lima orang Raja Dunia Silat benar-benar menyengsarakannya karena hampir sepenuhnya dia kehilangan kekuatan.


...****************...


Hari ini genap sudah tiga bulan semenjak Lin Tian berlatih meditasi di tengah hawa dingin puncak salju Pegunungan Tembok Surga. Selama tiga bulan itu Lin Tian belum juga bisa lanjut ke tahap berkutnya, yaitu meditasi di tengah danau.


Dan sepertinya baru hari inilah Lin Tian berhasil menyempurkanakn latihannya sejak perjuangan keras tiga bulan ini.

__ADS_1


"Huh..." Lin Tian menghela nafas berat dan dari mulutnya keluar kabut tebal.


Terjadi sedikit perubahan dalam diri Lin Tian, yaitu warna kulitnya yang menjadi sedikit lebih pucat. Hal itu terjadi karena tubuh Lin Tian bukan mampu melawan hawa dingin di puncak, melainkan suhu tubuhnya yang sudah lebih dingin dari suhu puncak. Membuat pemuda ini tenang-tenang saja walaupun berdiri di tengah salju tanpa pengerahan tenaga dalam atau hawa sakti untuk melawan hawa dingin.


Tapi walaupun begitu, dia masih ragu apakah saat ini dirinya sudah mampu untuk bertahan di dalam air danau.


"Aku harus memberitahu guru soal ini."


Lin Tian bangkit berdiri dan berjalan memasuki goa tempat gurunya berada. Ketika sampai di sana, Lin Tian segera menyampaikan kemajuannya.


"Bagus, sekarang makanlah makanan-makanan itu lebih banyak lagi agar hawa sakti dinginmu menjadi jauh lebih kuat dari kebanyakan orang."


Lin Tian mematuhi perintah gurunya, dia segera masuk ke ruangan yang berisi banyak makanan untuk memakan makanan yang ada di sana. Setelah menyelesaikan makannya, dia kembali keluar untuk meditasi di dalam air danau.


"Cesss...."


Terdengar suara seperti es batu di siram air panas ketika kaki Lin Tian menyentuh permukaan danau. Saat itu juga, mulai dari ujung kaki sampai ubun-ubun, Lin Tian merasakan rasa dingin yang tak tertahankan sampai membuat kepalanya mengepulkan uap.


Uap itu adalah karena perlawanan hawa panas di tubuhnya yang berasal dari makanan melawan hawa dingin air danau. Spontan Lin Tian menarik kembali kakinya dengan mata terbelalak.


"Apa-apaan air ini? Dingin sekali! Ditambah semua makanan itu, membuat suhunya seolah terasa makin dingin." desis Lin Tian dengan muka makin pucat.


"Tak perlu ragu lagi, aku harus melewati semua ini!" ucap Lin Tian memberanikan diri sendiri.


Dengan nekat, dia melompat untuk menceburkan diri ke dalam danau. Airnya memang tidak dalam, namun suhu dinginnya sungguh di luar nalar.


Merasakan rasa dingin yang makin lama makin menusuk, Lin Tian segera bersila untuk meditasi dan menyerap itu semua.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2