
Dapat dibayangkan betapa murkanya Zhang Heng ketika pada saat itu, pasukan besar Iblis Tiada Banding sedang berlayar menuju daratan, ada satu buah perahu yang didayung cepat-cepat menghampiri kapal paling besar. Kapal yang ditempati Zhang Heng.
Ternyata penghuni perahu itu adalah mata-mata Iblis Tiada Banding yang ditugaskan di ibukota kekaisaran. Begitu dia datang, terkejutlah orang-orang yang menyambut karena melihat dengan jelas, kalau orang yang datang ini sedang buru-buru.
"Mana ketua?" tanyanya begitu sampai di atas kapal.
"Beliau ada di ruangan dalam, mari kuantar."
Dua orang itu lekas menuju ke ruangan tempat dimana Zhang Heng berada. Begitu sampai di depan pintu ruangan Zhang Heng, salah satu dari mereka mengetuk pintu.
"Brak!"
Sungguh hebat sekali, tanpa ada yang membuka, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Disusul sebuah suara menggema yang membikin hati mereka tergetar.
"Masuk!"
Mata-mata yang baru pulang tadi memasuki ruangan itu dan segera berlutut. Padahal di sana tak nampak ada orang, tapi mata-mata ini yakin kalau ketuanya ada di sana yang sedang berada entah dimana.
"Mohon maaf karena telah lancang mengganggu istirahat anda tuan. Tapi saat ini saya membawa berita yang amat penting dan gawat. Beberapa waktu lalu, senior A Xin berhasil dibunuh oleh nona Zhang."
Berkata seperti itu dengan perasaan takut akan kemarahan ketuanya, orang ini sama sekali tidak mengangkat muka. Keadaan makin tegang ketika sampai lama tidak terdengar sahutan dari Zhang Heng.
Lalu terdengar siur angin kencang mengarah kepadanya. Disusul dengan berkelebatnya seorang pria berwajah belang. Di bagian kanan wajahnya, ada bekas luka yang berwarna kepucatan, seperti membeku. Itu adalah hasil pukulan Lin Tian di dalam sungai bawah jurang dulu.
"Jelaskan lebih rinci!"
Orang itu menunduk takut dan menceritakan segala yang ia tahu. Ketika A Xin datang dan membikin keributan, lalu datanglah Zhang Qiaofeng yang mengaku telah membunuh perdana menteri sebelum akhirnya membunuh A Xin pula.
"Jadi perdana menteri sudah mati.....sialan!"
Tembok kapal di ruangan itu, yang terbuat daripada kayu kokoh kuat dan padat seketika jebol ketika terkena sambaran angin pukulan jarak jauh Zhang Heng.
"Keluar!" perintahnya dengan marah.
__ADS_1
Berita ini segera tersebar luas di kalangan pasukan Iblis Tiada Banding. Bahkan saudara-saudara kandung A Xin pun sudah mendengar akan hal ini dan mereka menjadi marah. Hal ini membuat semangat serta mental para pasukan menurun, namun sebaliknya dengan lima pendekar sejati. Mereka justru marah sekali dan diam-diam akan membumi hanguskan keluarga Zhang.
"Keluarga Zhang....kalian ini, satu dari empat keluarga kuno pewaris empat kitab keramat, kenapa selalu menghalangiku!? Kebangkitan keluarga Ling dan cita-cita guru harus dilaksanakan! Seluruh daratan seharusnya milik keluarga Ling!" pekik Zhang Heng yang teringat akan pesan gurunya, Ling Haocun. Yang mengatakan bahwa seluruh daratan hanya milik keluarga kaisar Ling dan keluarga Song serta Chu hanya pencuri belaka.
...****************...
Desa nelayan di pantai itu sepi kosong tak berorang bukan tanpa alasan. Hal ini dikarenakan tersebarnya berita hangat yang mengatakan bahwa kaisar akan melakukan penyerangan terhadap Iblis Tiada Banding. Dan mereka berpikir tentulah pasukan kaisar lewat desa itu.
Maka berlandaskan pikiran ini, berbondong-bondong mereka pergi mengungsi menyelamatkan nyawa sendiri beserta keluarga.
Hal ini memang benar, saat itu kaisar sudah menurunkan titahnya untuk menyerbu Pulau Tulang Naga. Dan seluruh pejuang ikut membantu penyerbuan ini.
Saat itulah baru diketahui ternyata para pendekar yang mengabdikan diri kepada pemerintahan, bukan hanya berasal dari daerah Utara saja. Namun banyak sekali para pendekar Selatan, bahkan tak jarang tokoh-tokoh kosen, yang ikut bergabung dalam pasukan pejuang.
Hal ini dikarenakan rasa sakit hati mereka akan tindakan Iblis Tiada Banding yang terlalu semena-mena. Tak memikirkan nyawa orang dan menganggap manusia lain hanyalah kotoran yang tak penting.
Maka dari itulah, pertempuran kali ini bertempat di tanah Utara, namun bisa dibilang bahwa Iblis Tiada Banding tidak hanya menghadapi kekuatan Utara, melainkan menghadapi kekuatan seluruh daratan.
Rombongan paling tengah adalah pasukan kaisar Song dengan benderanya yang paling besar. Sedangkan di sekelilingnya, terdapat panji-panji keluarga penguasa serta perguruan Putri Elang. Untuk para pendekar bebas, mereka bersatu dalam pasukan kaisar.
Tiba-tiba, barisan paling depan melihat ada titk hitam kecil yang makin lama makin besar. Setelah beberapa saat, kiranya titik itu adalah seorang manusia yang menunggang kuda.
"Berhenti!" ucap salah satu komandan dalam pasukan ini.
Si penunggang kuda itu berkaki buntung, matanya merah dan rambutnya berambut tipis hampir ke gundul. Namun sinar mata itu membayangkan tekad kuat tak tergoyahkan sungguh pun nafasnya tersenggal-senggal tanda kelelahan yang teramat sangat.
"Sahabat, ada apa!?" seru beberapa pasukan yang mengenal orang ini sebagai pelayan dalam istana.
Segera mereka itu menangkap tubuh Xin Kiu yang terpelanting jatuh dari atas punggung kuda. Agaknya dia sama sekali tidak berhenti selama perjalanan, sehingga kuda tunggangannya ikut kelelahan dan jatuh miring dengan nafas ngos-ngosan pula.
Xin Kiu tak mempedulikan rasa sakitnya, dia mencoba bangkit sambil berkata lirih.
"Panggilkan Yang Mulia...katakan kepada beliau....Xin Kiu datang menghadap."
__ADS_1
Beberapa orang segera melaksanakan permintaan ini. Sedetik kemudian barisan pasukan terbelah dan menampakkan kaisar dengan baju perangnya yang datang terburu-buru.
"Xin Kiu!" pekiknya kaget melihat keadaan kepala pelayannya ini.
Xin Kiu berusaha sedapatnya untuk berlutut memberi hormat, tapi karena kakinya hanya sebuah, dia hanya mampu besimpuh dengan lemah.
"Maaf atas keterlambatan saya Yang Mulia, saya membawa berita yang amat penting."
"Katakan....ayo katakan apa yang ada di markas Iblis Tiada Banding!"
Ucapan kaisar ini mengejutkan mereka semua karena tidak mengira kalau orang ini adalah mata-mata kiriman kaisar. Tapi mereka tak berani berkomentar ketika Xin Kiu mulai bercerita.
Di akhir cerita, dia juga menyerahkan tanda pengenal Zhang dan Pedang Dewi Salju kepada kaisar sambil berkata.
"Yang Mulia, ini adalah hadiah dari sahabat saya yang namanya Lin Tian. Hadiah ini....untuk nona Zhang...."
Tepat ketika ucapannya berhenti, tubuhnya terkulai dan roboh pingsan.
Wajah kaisar berubah, mendengar penuturan Xin Kiu tadi, dia benar-benar kagum. Kiranya pengawalnya telah membantu seseorang yang berjuluk Pendekar Hantu Kabut untuk melemahkan iblis itu. Tapi dia tidak tahu, bahwa sebenarnya Pendekat Hantu Kabut yang dimaksud oleh Xin Kiu adalah Lin Tian itu sendiri.
Bertepatan dengan pingsannya Xin Kiu pula, terlihat bayangan berkelebatan dari rombongan pasukan dan tiba-tiba kaisar telah dikurung banyak orang. Mereka adalah para petinggi keluarga penguasa.
"Itu....tanda pengenal Zhang!"
"Tanda pengenal yang hanya dimiliki para tetua dan nona Zhang!"
Namun seruan-seruan ini tak terdengar dari mulut rombongan keluarga Zhang. Mereka terpaku dengan dua benda yang masih tergenggam erat di tangan kaisar itu. Apalagi Zhang Qiaofeng, dia hanya mampu memandang dengan muka pucat. Pikiran dan hati mereka meneriakkan kalimat yang sama.
"Lin Tian!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1