
Keesokan harinya, pada pagi hari ketika matahari baru naik setinggi empat puluh derajat, Lin Tian dan Minghao sudah pergi meninggalkan penginapan untuk berkunjung ke keluarga Hu. Sedangkann yang lainnya, mereka Lin Tian suruh untuk tetap menunggu di penginapan tersebut.
"Ah...dia...Tuan Lin Tian!! Saudara pemimpin kita!!" ucap salah seorang tukang kebun keluarga Hu dari dalam sana kepada temannya. Sedangkan temannya juga terkejut mendengar pernyataan barusan.
"Apa? Mana? Mana?" tanyanya diikuti oleh beberapa tukang kebun lain yang ikut berkumpul.
Sedangkan di gerbang sana, Lin Tian dan Minghao sudah disambut dengan hormat oleh para penjaga gerbang. Mereka ini jelas sudah mendengar kabar tentang saudara pemimpin mereka yang misterius, yang mana selalu menggunakan topeng putih. Maka sekali lihat saja tahulah para penjaga itu jika orang inilah yang dimaksud.
Ditambah di sana juga terlihat Sastrawan Sakti, si pendekar besar yang kejeniusannya tak dapat diragukan lagi. Terlihat dari jubahnya yang bergambar burung merak, maka mereka langsung dapat segera mengenal siapa adanya orang itu.
Karena itulah, melihat kedatangan dua orang istimewa ini, mereka segera membungkuk dalam sekali memberi penghormatan dan segera mengantar mereka menemui Tuan besar yang bukan lain adalah Hu Tao.
"Maaf mengganggu Tuan, ada tamu ingin mengunjungi anda." ucap penjaga itu setelah mengetuk pintu ruangan Hu Tao berada.
"Siapa?" katanya dari dalam sana.
"Tuan Lin Tian, saudara anda sendiri Tuan." jawab penjaga itu.
Tanpa ada jeda sedikitpun, segera dari dalam sana terdengar teruan keras. "Suruh masuk!!"
Begitu pintu terbuka, Lin Tian langsung disambut dengan senyum lebar oleh pemimpin muda itu. Pemuda ini cepat menghampiri Lin Tian dan menepuk-nepuk kedua pundak pendekar bertopeng itu.
"Hahaha...setelah sekian lama, akhirnya kita bisa berjumpa lagi saudaraku!!" ucapnya penuh semangat.
"Bagaimana dengan pekerjaan sebagai pemimpin? Apakah cukup merepotkan untuk anak sesusia kita?" balas Lin Tian dengan pertanyaan.
"Cukup melelahkan untuk mengurus ini dan itu setiap harinya...."
"Tidak enak bukan untuk menjadi anak keturunan pemimpin keluarga besar seperti ini?" Lin Tian menjawab. Kali ini nadanya terdengar sedikit mengejek.
"Sialan kau!!" balas pemuda albino itu seraya memukul pundak Lin Tian.
"Tolong katakan pada para pelayan agar menyiapkan minuman untuk kami bertiga!" perintah Hu Tao kepada seorang penjaga yang masih berdiri di tengah pintu.
"Kau tak menyuruhnya untuk sekalian menyiapkan makanan?" celetuk Lin Tian tiba-tiba.
"Heh...kau pasti sudah makan kan? Tak mungkin pula seorang pendekar besar seperti engkau ini mampir kemari hanya untuk numpang makan, benar kan?" kali ini Hu Tao bertanya dengan senyum mengejek.
"Cih!" Lin Tian hanya mampu mencebikkan bibirnya kesal. Setelah itu pemuda ini cepat berjalan mengambil salah satu kursi dan duduk di sana bagaikan rumah sendiri.
"Mari duduk." Lin Tian berkata untuk mempersilahkan Hu Tao dan Minghao duduk di kursi masing-masing.
"Hei ini rumahku!!" bentak Hu Tao tak terima.
"Hoh...bukankah kita saudara? Kau sendiri kan yang waktu itu dengan seenak jidat menganggapku sebagai saudara? Sebagai saudara, rumahmu ya rumahku!" balas Lin Tian acuh.
"Cih terserah! Cepat siapkan minuman kami!!"
"Baik Tuan!"
__ADS_1
Sedangkan Minghao, melihat semua ini dia hanya bisa memasang ekspresi datar. Bingung hendak melakukan apa dan bagaimana, karena itulah sastrawan ini lebih memilih untuk bungkam.
...****************...
Mata Hu Tao nampak bergerak kekanan dan kekiri dengan cepat saat membaca surat dari Nona Zhang. Raut mukanya nampak sangat serius disetiap detiknya.
Beberapa saat kemudian, dia menggulung kembali surat itu sebelum meletakkannya di atas meja dan berkata.
"Baiklah, aku akan menyetujui kesepakatan ini. Setiap tahunnya, kami keluarga Hu akan mengirim seperempat anak murid kami untuk berlatih di bawah bimbingan keluarga Zhang. Namun aku ingin agar pelatih dari keluarga Zhang mampu memenangkan pertarungan satu lawan satu melawan guru besar keluarga Hu. Apa kau setuju?" tanya Hu Tao serius.
"Aku setuju!" jawab Lin Tian yang dibalas anggukan oleh Minghao.
"Dan untuk kompensasi...hm bisa mencari informasi dari Asosiasi Gagak Surgawi tanpa dipungut biaya? Apa maksudnya ini, kau tak bercanda kan Lin Tian?" tanyanya penasaran.
"Tentu saja tidak!"
"Lalu, bagaimana ceritanya keluarga Zhang mampu memberi tawaran sehebat ini? Asosiasi tentu tahu akan hal ini kan? Kau tak menipu mereka dan kami kan Lin Tian?" tanya Hu Tao masih kebingungan.
Seketika wajah Lin Tian menegang, inilah pertanyaan yang cukup sulit jawabannya. Pasalnya, Lu Tuoli sendirilah yang mengajukan kompensasi ini, akan tetapi dia tidak mau jika rahasia tentang bergabungnya Asosiasi dengan keluarga Zhang bocor.
Maka dari itulah pemuda ini segera memutar otak untuk mencari jawaban yang paling tepat
"Tentu Asosiasi tahu akan hal ini. Jika anda butuh bantuan mereka, anda tinggal menunjukkan identitas sebagai bagian dari keluarga Hu, tentu mereka semua akan paham. Dan tentang bagaimana keluarga kami mampu memberi jaminan seperti ini, maaf kami tak bisa menjawab karena itu adalah rahasia pribadi keluarga Zhang." jawab Minghao tiba-tiba.
Seketika Lin Tian tersenyum lega di balik topengnya. Dia makin kagum akan kejeniusan sastrawan di sebelahnya ini. Memang pemuda itu tidak bicara jujur sepenuhnya, akan tetapi dia juga sama sekali tidak membohong.
Lin Tian bukan seorang ceroboh yang tidak terpikirkan akan pertanyaan barusan. Hanya saja, dia merasa tak enak hati kepada saudaranya ini untuk bicara tanpa kebenaran. Lagipula dia tak sepintar Minghao, maka kecepatan pikirnya untuk mencari alasan pun juga sedikit lebih lambat dibanding Sastrawan Sakti ini.
"Lin Tian, sudah lama kita tak saling jumpa. Bukankah baik sekali bagi kita sekarang untuk mencoba-coba barang satu dua jurus agar bisa tahu mana yang lebih unggul?"
Lin Tian terkejut, pemuda ini paham betul bahwa ucapan itu adalah sebuah tantangan. Maka cepat dia berkata seraya berdiri dari kursi.
"Karena kau tuan rumah, tentukan tempatnya untuk kita berdua bisa saling pukul." jawab Lin Tian menerima tantangan.
"Di tempat latihan silat, di halaman samping!!" jawabnya yang langsung disusul dengan lompatan cepat keluar ruangan.
Lin Tian dan Minghao pun juga melakukan hal yang sama. Bergegas mereka melompat keluar melalui jendela dan langsung menuju tempat tujuan.
Minghao berhenti di pinggir halaman luas itu, sedangkan Lin Tian sudah menerjang Minghao dengan cara mengirimkan serangan pukulan berhawa dingin.
"Plak!!"
Dua telapak tangan beradu di udara. Sedetik kemudian, mereka berdua memutar tubuh beberapa kali guna menetralisir dampak serangan sebelum akhirnya mendarat dengan sempurna dan halus.
"Terima ini!!" teriak Hu Tao sambil melesat maju. Dia segera mainkan ilmu silat tingkat tinggi warisan guru-gurunya yang bukan lain adalah Empat Dewa Mata Angin.
Cepat Lin Tian menggerakkan kaki mengelak, namun tepat ketika tangan itu lewat di samping tubuhnya, secara tiba-tiba sekali tangan itu berbalik arah dan menyerang dadanya.
Dengan gerak refleks, Lin Tian menekuk kedua lutut kebelakang dan memposisikan tubuhnya serendah mungkin. Sehingga saat ini pemuda bertopeng itu seakan-akan "berbaring" di udara dengan tumpuan kedua kaki.
__ADS_1
Tak berhenti sampai di sana, ternyata Lin Tian tak hanya menghindar dan masih sempat menyerang. Begitu lengan Hu Tao lewat di atas dadanya mengenai udara kosong, pemuda ini lekas menendangkan kaki kanannya kearah dagu di susul totokan ujung sepatu kaki kiri kearah pundak. Sebuah serangan yang cukup berbahaya.
Akan tetapi, Hu Tao ternyata masih mampu mengatasinya. Begitu melihat datangnya serangan, pemuda ini segera menggerakkan tangan kiri yang sebelumnya digunakan menyerang untuk menangkis tendangan kaki kanan. Sedangkan tangan kanan ia gunakan untuk memapaki totokan ujung sepatu Lin Tian.
"Plak-Plak!!"
Lin Tian segera mencelat keatas begitu serangannya gagal. Hu Tao mundur satu langkah sesaat setelah menerima kedua serangan tersebut.
"Luar biasa!!" batin pemimpin muda ini kagum akan kepandaian Lin Tian.
Detik berikutnya, mereka sudah saling serang kembali sehingga terjadilah pertarungan yang teramat hebat. Amat cepat sampai-sampai yang terlihat hanyalah dua kelebatan bayangan putih yang saling bergulung-gulung.
Minghao serta beberapa orang pelayan dan pengawal yang berada di sana. Memandang kagum kearah pertarungan dua orang muda itu. Bagi mereka yang tak pandai ilmu silat seperti pelayan-pelayan itu, tentu pandangannya berubah kabur dan berkunang begitu menatap dua bayangan putih itu terlalu lama.
Namun bagi mereka yang pandai ilmu silat apalagi Minghao, mereka bisa mengikuti setiap gerak dua orang pemuda sakti itu sungguh pun harus mengerahkan seluruh konsentrasi. Akibatnya, sebentar saja para pengawal itu banyak yang mengeluh dan merasa pening akibat tidak kuat memfokuskan konsentrasi kearah mata. Maka dari itu, nasib mereka sebenarnya sama saja dengan para pelayan yang sibuk mengucek-ucek indra penglihatan dengan punggung tangan sesaat setelah menatap kearah tempat latihan tersebut.
Berbeda dengan Minghao yang memang sudah memiliki ilmu silat tinggi. Sedari awal, dia masih terlihat baik-baik saja memandang kearah pertarungan. Bahkan orang ini memandang penuh takjub akan kelihaian dua orang muda itu.
Makin lama pertempuran berjalan makin sengit. Sudah seratus jurus berlalu dan belum terlihat siapa yang terdesak.
Namun, Hu Tao mulai terdesak ketika secara tiba-tiba sekali Lin Tian mengubah gerakan silatnya. Perubahan yang begitu mendadak ini jelas membuat Hu Tao terkejut dan kualahan.
Gerakan silat Lin Tian itu tak lain adalah gerakan ilmu silat Ketenangan Batin. Sebuah ilmu silat yang menurut pandangannya selama ini, belum pernah ada satu pun jurus yang mampu membuka celah dari setiap gerakan jurus ini.
Ditambah dengan keterkejutan Hu Tao, maka pemuda itu makin lama kian terdesak hebat oleh serangan dan hawa pukulan dahsyat Lin Tian.
Hingga di saat Lin Tian melakukan gerakan memukul kepala dibarengi dengan pukulan kearah dada. Hu Tao tak mampu mengelak karena posisinya yang tidak diuntungkan akibat gerakan silat Lin Tian sebelumnya. Maka, pemuda ini hanya berusaha menangkis sebisanya dengan kedua tangan.
"Dees!!"
Pukulan kearah dada mampu ia lawan dengan cara menyilangkan kedua tangan, namun pukulan kearah kepala itu jelas akan telak mengenainya jika dia tidak juga lekas menghindar. Namun semua telah terlambat, kepalan itu sudah dekat sekali dengan wajahnya dan...
"Wusshh"
Angin bertiup kencang sampai membuat sebagian daun pohon yang kira-kira berjarak sepuluh meter dari Hu Tao itu rontok semua. Ternyata pemuda bertopeng itu telah membelokkan arah serangannya.
"Kau makin hebat Lin Tian!" puji Hu Tao sambil mengelap sedikit peluh di dahi.
"Kau juga, tak kusangka kau akan memiliki kepandaian sehebat ini." balas Lin Tian.
Tiba-tiba, dari arah kejauhan terdengar bunyi tepuk tangan yang entah dari mana datangnya. Lalu secara aneh sekali, di atas pohon yang daunnya sudah dirontokkan Lin Tian itu duduk seorang pria tua sastrawan yang di punggungnya terdapat sebuah kecapi.
"Bagus!! Hebat sekali!! Kalian orang-orang muda sama sekali tidak mengecewakan kami para kaum tua!!" ucapnya lantang dengan tepuk tangan yang masih terdengar.
"Guru!!"
"Apa!? Tuan ini gurumu!!?" tanya Lin Tian dan Minghao bersamaan dengan perasaan penuh keterkejutan dan keheranan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG