
Setengah jam berlalu dan para pendekar itu berhasil menumpas habis seluruh pengeroyok. Akan tetapi di pihak mereka sendiri pun juga tak sedikit yang tewas.
Maka dari itu, sekelompok orang ini yang berangkat dengan jumlah dua ratusan orang, sekarang hanya tersisa dua ratus orang.
Kali ini, mereka sudah kembali melanjutkan perjalanan. Golok Merah memutuskan untuk mendaki jalan batu bercadas itu, karena dari bawah terlihat betapa di sana adalah puncak dari Bukit Pedang.
"Hati-hati, jangan sampai terpeleset!" antara lain Golok Merah memperingatkan kawan-kawannya.
Memang sejatinya jalan yang mereka lewati ini sukar bukan main. Selain bebatuan yang tajam dan amat banyak, juga di setiap permukaan dilapisi oleh lumut tebal. Membuatnya licin sekali.
Hingga beberapa menit kembali berlalu dan mereka sudah tiba di padang rumput yang luas. Dari tempat mereka berdiri, kira-kira kurang lima ratus meter lagi untuk bisa mencapai puncak. Dan padang rumput alang-alang inilah yang menjadi penghalang.
Golok Merah tidak ingin bertindak sembrono, maka dia menghentikan rombongan tepat di depan padang rumput itu.
"Tempat ini amat berbahaya, pastilah di depan sana terdapat banyak sekali jebakan seperti tadi." kata Golok Merah.
Lalu dia mengambil batu yang kemudian ia lemparkan ke tengah padang rumput. Hasilnya, tidak ada sama sekali. Batu itu tidak mengeluarkan bunyi atau apapun.
"Benarkan, ini pasti jebakan." ucapnya kemudian mengambil batu lagi dan melemparnya.
Hasilnya masih sama, tidak ada reaksi.
"Biar aku lihat sendiri." seorang pengemis maju mendekat dan meraba-raba bagian bawah rumput tinggi itu.
Setelah beberapa saat, dia mengangkat tongkatnya dan berkata, "Ini air!! Ini adalah rawa-rawa, sebagian air dan sebagian darat."
Golok Merah mengangguk-angguk. "Minggir!" lalu memerintahkan kepada pengemis itu.
Dia berjalan mendekat dan mengambil nafas dalam-dalam. Memasang kuda-kuda, kemudian menghentakkan kedua lengan ke depan yang menimbulkan gelombang angin dahsyat.
"Swwuuushhh!!" suara angin menderu itu segera menyibak gugusan alang-alang yang menghalangi pandangan. Sedetik kemudian, di depan Golok Merah itu semua alang-alang ambruk dan terlihatlah apa yang ada di sana.
"Benar, ini rawa. Ada air dan ada daratnya. Cepat ikuti aku, kita runtuhkan semua alang-alang untuk membuka jalan!" perintah Golok Merah.
"Baik!!"
Segera mereka semua berbaris dan melakukan hal yang sama. Yaitu meruntuhkan semua alang-alang dengan cara seperti yang dilakukan Golok Merah. Hingga lima menit berlalu dan sudah setengah rawa alang-alang itu berhasil disingkirkan.
"Cepat ambil batang pohon atau bambu. Kemudian letakkan di air untuk sarana kita menyebrang!"
__ADS_1
Berbondong-bondong mereka melaksanakan perintah tersebut. Mengambil batang pogon kecil atau bambu sekitar.
Kemudian Golok Merah menyuruh mereka semua meletakkan kayu-kayu di atas air lalu menyebranglah mereka dengan cara yang amat luar biasa.
Pasalnya, kayu atau bambu itu dinaiki oleh satu orang dengan cara berdiri. Kemudian, dengan kayu kecil, mereka mendayung sehingga balok kayu tunggangannya berjalan perlahan melewati rawa. Satu orang satu tunggangan, sehingga dengan ilmu meringankan yang sudah tinggi, mereka tidak ada masalah dengan hal itu.
Sebentar saja semua orang sudah tiba ke tengah rawa. Golok Merah segera memerintahkan mereka untuk melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Namun secara tiba-tiba, terdengar suara lengking myaring dan...
"Sialan!! Kita terkepung!!" ucap seorang pria tinggi begitu melihat banyak sekali buaya dari segala penjuru.
"Cepat, sibak alang-alang ini dan kita segera menyebrang!!" seru Golok Merah tegas begitu melihat keadaan mereka yang semakin genting.
Buru-buru orang yang terdepan melakukan perintah itu. Menyibak alang-alang dengan hawa pukulan atau menebasnya. Sedangkan barisan belakang mencoba menghalau buaya-buaya dengan sekuat tenaga.
Namun kembali hal mengejutkan terjadi, sama seperti beruang tadi, ternyata buaya-buaya ini juga abnormal! Jika beruang tadi berukuran lebih besar dari biasanya, sekarang buaya-buaya itu lebih keras dari buaya biasa.
Maka dari itu, baru setelah dua tiga pukulan tenaga dalam, kulit buaya itu mampu ditembus dan dibunuhnya.
"Buaya sialan!! Keras sekali kulitnya ini!!" bentak salah satu pasukan Zhang geram sambil mebacok-bacokkan pedangnya.
Kemudian dari tengah barisan, meloncat tiga orang dengan sangat indah. Mereka ini ternyata adalah Lin Tian, Zhi Yang dan kakek pengemis yang tadi di olok-olok oleh si bangsawan.
"Dasar buaya bandel! Rasakan tongkatku!!" antara lain si kakek mengomel sambil mendaratkan pukulan tongkat bututnya itu ke salah satu kepala buaya.
Begitu pula dengan dua orang lain. Ternyata mereka ini membantai para buaya dengan cara hebat sekali. Yaitu dengan berloncatan dari satu buaya ke buaya lain sambil mainkan senjatanya. Setiap kali mereka melompat, tentu buaya yang jadi pijakan sebelumnya sudah jadi mayat.
"Hebat!!" seru mereka penuh kagum.
Kakek pengemis itu juga tak mau kalah, dia segera melakukan apa yang dua hantu itu lakukan. Namun sayang, gerakannya tidak secepat dua orang pendekar bertopeng itu.
Lima belas menit sudah mereka menyerang sekaligus melindungi barisan depan yang berusaha meruntuhkan alang-alang. Sambil maju sedikit demi sedikit, akhirnya barisan terdepan sudah tiba di daratan seberang.
"Tuan, cepat kemari!!!"
Golok Merah menoleh, ternyata teman-temannya sudah mampu membuka jalan sampai ke seberang sana. Maka dirinya yang juga ikut membantu menahan serangan buaya, segera membentak keras.
"Haaaaa!!!" bentakan menggelegar terdengar, yang sontak membuat para buaya itu terdiam sejenak.
"Cepat menyeberang!!!" Golok Merah lanjut memerintah.
__ADS_1
Memang sudah beberapa kali pendekar paruh baya itu melakukan strategi yang sama untuk menghalau para buaya. Yaitu dengan suara bentakan guntur barusan. Namun yang terakhir ini agaknya yang paling keras dan mengerikan dari sebelumnya.
Tiga orang sakti itu masih meloncat-loncat. Mereka sudah membulatkan tekad untuk membiarkan rekan-rekan menyeberang lebih dulu, dan mereka mendapat giliran paling akhir.
Di tengah-tengah loncatannya, kakek pengemis itu tidak sadar bahwa dari punggungnya meloncat seekor buaya yang siap menerkam tengkuk. Lin Tian yang melihat ini segera mengirimkan tebasan jarak jauh dari jurus Bilah Pedang Bulan.
"Scraaatt-Scraaat!!"
"Aaiihh!!" kakek itu nampak terkejut melihat ada sebuah angin dingin menyambar yang mampu membelah rawa. Ternyata tebasan itu berhasil membelah pula buaya yang hendak menyergapnya.
"Kakek, hati-hati!!" seru Lin Tian dari kejauhan.
Kakek itu hanya mengangguk dan melanjutkan aksinya. Sampai terdengar suara Golok Merah yang nyaring.
"Hei kalian, semua sudah menyeberang. Lekaslah kemari!!!"
Tiga orang ini serempak memandang. Maka tanpa menunggu lama lagi, mereka segera lari ke seberang melalui tubuh-tubuh buaya itu.
"Aduuhh!!" kakek itu berteriak keras yang spontan mengagetkan Lin Tian juga Zhi Yang.
Ternyata, di saat kakek itu menginjak punggung salah satu buaya, ada satu buaya yang berhasil menarik kakinya sehingga membuat ia jatuh ke dalam air.
"Kakek!!" Lin Tian segera melompat mendekat.
Akan tetapi, dari depannya menyambar empat ekor buaya yang menyabetkan ekornya ke arah wajah.
Dengan refleks, Lin Tian menebas mereka. Sebelum dia kembali melangkah, terdengar kakek itu berkata di sela-sela koyakan banyak buaya.
"Pergi, pergi!! Jangan pedulikan aku!! Tuntaskan tugas ini dan selamatkan warga desaa!!" teriaknya sebelum benar-benar tenggelam di balik sekumpulan buaya kelaparan.
Lin Tian tetap ingin menolong, namun tindakannya berhasil dihentikan oleh tarikan tangan Zhi Yang.
"Sudahlah, dia tak akan selamat lagi. Lebih baik kita menuruti pesannya."
Maka dengan hati perih, Lin Tian mengikuti Zhi Yang untuk menyeberang.
"Kenapa sedikit sekali? Kemana yang lainnya?" tanya Lin Tian begitu melihat rombongan mereka hanya tersisa sekitar tiga puluh orang.
Dengan muka sedih setengah pucat, Golok Merah menjawab, "Kau pasti tahu Lin Tian, mereka semua mati di makan buaya rawa itu."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG