Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 211. Kamar


__ADS_3

Lin Tian menyelinap di dalam gelap dan berjalan berindap-indap. Sebenarnya dia bukannya berjalan berindap-indap, pemuda ini berjalan seperti biasa, hanya saja ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sempurna membuat setiap langkah kakinya tidak menimbulkan suara.


Dia berjalan di lorong panjang yang berada di bangunan besar tersebut. Setiap kali ada orang lewat, dengan cekatan dan tanpa suara, Lin Tian meloncat dan tubuhnya menempel di langit-langit.


Dia melewati berbagai ruangan, mulai dari ruangan lebar yang sepertinya untuk berlatih silat. Ruangan untuk berdiskusi, dan terakhir sampailah ia di bagian lorong yang berisi kamar-kamar.


Ada sepuluh kamar yang nampak mewah di lorong ini. Lin Tian melewatinya satu-satu dan setiap kali melewati satu kamar, dia menengok ke dalam melalui jendela untuk melihat siapa penghuninya.


Namun dua kamar nampak kosong dan sangat rapi, seolah dua tempat itu tak pernah ditinggali. Sedangkan dua kamar lain nampak sedikit berantakan, di salah satu kamar yang sedikit berantakan itu, terdapat berbagai macam lukisan ataupun kaligrafi.


"Sepertinya ini kamar paman Minghao." Lin Tian mengambil kesimpulan setelah melihat kamar itu.


"Jika ini kamar paman, kemungkinan tempat macam gudang ini punya guru Zhang Hongli." ucapnya dengan wajah datar memandang ke kamar yang terletak di sebelah kamar Minghao.


Lin Tian kembali melangkah, dia melewati enam kamar lainnya yang terlihat sangat rapih. Perabotan dan pernak-pernik penghias kamar itu terlihat jelas bahwa pemiliknya adalah perempuan. Tapi sama seperti sebelumnya, kamar ini kosong.


"Harum sekali...ini pasti kamar wanita."


Dia sampai di kamar paling ujung dan paling harum. Jendela itu tertutup rapat dan dalamnya sama sekali tak nampak karena terhalang gorden merah muda. Lin Tian mendekati jendela yang tertutup gorden itu dan mencoba melihat. Ternyata gorden itu sedikit transparan.


"Rapih sekali...melihat baunya, ini bau harum milik nona! Tak salah lagi."


Lin Tian dapat melihat jelas kamar itu sangatlah rapih dan hanya sedikit perabotan yang ada. Alat-alat rias pun hanya sekadarnya saja. Benar-benar ciri khas nonanya yang tidak ingin terlalu mencolok dalam hal rias merias.


Namun ada satu hal yang membuat kening Lin Tian mengerut heran.


"Kemana semua orang pergi? Kenapa sepi sekali."


Lin Tian memandang sekitar dan yang terlihat memang hanya lorong sepi tanpa penghuni saja.


"Aku tadi lihat ada kelebatan orang menuju ke sini."


Tiba-tiba telinganya mendengar suara demikian yang berhasil membuatnya terperanjat karena kaget.


"Wah gawat, sepertinya posisiku sudah ketahuan."


Lin Tian mulai bingung karena kamar Zhang Qiaofeng berada di ujung lorong dan itu adalah jalan buntu. Satu-satunya jalan untuk keluar hanyalah melalui jalan masuk yang menjadi sumber dari suara tersebut. Maka tak ada pilihan lain, terpaksa sekali dia melesat memasuki kamar nonanya yang sangat harum itu.

__ADS_1


"Mengejutkan, pintu tak terkunci! Maafkan saya nona, tapi jika tidak seperti ini, baik saya maupun anda akan kena masalah."


Dia meringkuk di bawah jendela untuk bersembunyi dari orang-orang patroli itu. Mereka yang agaknya berjumlah dua orang itu melewati kamar Zhang Qiaofeng dan terdengar dia bercakap-cakap.


"Bagaimana jika kita periksa kamar nona?"


"Apa pintunya tak dikunci?"


"Entahlah, tapi dilihat dari gorden transparan ini...." orang itu mendekatkan wajahnya ke gorden dan melihat ke dalam. "Semuanya baik-baik saja, tak ada siapapun."


"Ayo kita masuk." ucap rekannya dan memegang knop pintu.


"Cklek-cklek."


"Terkunci."


"Hah...mungkin tadi hanya perasaanku saja, ayo pergi."


Berturut-turut mereka pergi dari sana dan kembali melanjutkan obrolan mereka sebelumnya. Lin Tian yang tadi menahan pintu agar seolah-olah terkunci pun dapat mendengar obrolan mereka.


"Semoga nona dan yang lainnya baik-baik saja."


"Bukannya aku ragu, tapi distrik merah katanya menjadi tempat Iblis Tiada Banding bukan? Bahkan menurut penuturan nona Yin Yin, semua pelacur di sana adalah anggota pengacau itu."


"Kita percayakan saja pada nona."


Lin Tian terkejut mendengar itu. Tak disangkanya nonanya dan yang lain sudah pergi ke tempat yang bernama distrik merah. Dia mendengarkan lebih teliti namun dua orang itu sudah pergi jauh dan dia tak mampu mendengar lebih lanjut.


"Sial, distrik merah...dimana tempat itu?"


Dia mengedarkan pandangannya, lalu secara tak sengaja, matanya melihat peta seluruh wilayah Utara. Dia mendekati peta itu dan melihat tanda merah yang jika dilihat adalah tanda merah buatan Zhang Qiaofeng.


"Distrik merah..." dia melihat sebuah tempat yang diberi titk merah dan terdapat tulisan demikian.


Tanpa pikir panjang lagi, Lin Tian lekas pergi ke sana. Akan tetapi sebelum benar-benar pergi, dia melihat sekali lagi seluruh ruang kamar dan menghirup napas dalam-dalam.


"Kapan lagi aku bisa memandang wajahnya...." gumamnya dan tubuhnya benar-benar lenyap dari sana.

__ADS_1


Dengan kepandaian Lin Tian, apa sukarnya untuk keluar dari wilayah Zhang dan keluar dari markas para pejuang. Tubuhnya berkelebat cepat sekali, dengan Langkah Kilatnya, beberapa detik saja dia sudah berada jauh dari markas pejuang.


"Aku harus melihat langsung pertempuran itu!"


Saking cepatnya gerakan Lin Tian, perjalanan yang harusnya ditempuh dalam waktu satu hari dapat dipangkas menjadi setengah hari. Sehingga tepat sebelum mata hari berada di atas kepala, Lin Tian sudah berdiri tegak di salah satu bangunan distrik merah.


"Hm...untung mereka masih menyelidiki. Dan itu...topengku bukan?"


Lin Tian mengamati seluruh tempat di distrik merah dan menemukan orang-orang Zhang masih berjalan-jalan di sana untuk mengumpulkan informasi. Bagaimana Lin Tian dapat mengenali orang-orang Zhang sedangkan mereka dalam keadaan menyamar?


Lin Tian memang tak kenal dengan orang baru, namun dia dapat melihat banyak orang yang dahulu pernah dilihatnya di keluarga Zhang. Tentu saja orang-orang itu adalah orang yang dikenalnya sebelum dia jatuh ke jurang.


Pandangannya terpaku ke enam orang wanita yang sedang meloncat-loncat cepat seperti terbang itu. Lima orang berpakaian merah dan satu orang berpakaian putih dengan sulaman naga emas di punggung yang seperti ingin melahap matahari.


Mereka semua memakai topeng. Namun yang menarik perhatiannya adalah topeng putih retak yang dipakai oleh wanita berjubah putih.


"Melihat bentuk tubuhnya, dia pastilah nona, tak salah lagi."


Sedetik kemudian, tanpa terasa mulutnya tersenyum kecil melihat hal itu. "Apakah anda masih mengingat saya?"


Masih asyik memandangi nonanya yang nampak gagah dengan topeng dan jubah putihnya, dia sedikit terkejut dengan kedatangan seseorang yang begitu tiba-tiba.


"Kau ingin mencari wanita penghibur? Jangan di sini, mereka semua anggota Iblis Tiada Banding. Manusia-manusia busuk."


"Kau pikir aku tak tahu? Aku kemari untuk hal itu." balas Lin Tian seraya melirik kakek tua yang ada di sampingnya.


"Kakek Lim, kenapa kau kemari?" lanjutnya kemudian.


"Aku hanya ingin lihat-lihat. Aku sudah berjanji kepada salah satu perempuan jubah merah itu, bahwa saat penyerangan aku akan membantu keluarga Zhang."


Lin Tian mengerutkan keningnya dan memandang tajam. Melihat hal ini buru-buru Kang Lim berkata.


"Aku mengatakan bahwa aku punya sahabat baik dari keluarga Zhang. Sama sekali tidak menyebutkan namamu." ucapnya tersenyum lebar.


"Terserah...."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2