
Pagi hari tepat pada keesokan harinya, berkumpul banyak sekali orang di halaman depan kediaman pemimpin itu. Mereka terdiri dari gabungan para petugas dan pendekar keluarga Hu.
Mereka berbaris rapi di halaman. Di samping setiap orangnya, terdapat sebuah kuda perang yang terlihat sangat gagah dan kuat.
Begitupun dengan Lin Tian dan Dewa Angin Selatan. Mereka juga ikut dalam barisan yang jumlahnya kurang lebih terdiri dari enam puluhan orang itu.
Di depan mereka semua, lebih tepatnya di atas panggung, berdiri dengan gagah seorang pemuda tampan yang dari ujung rambut sampai ujung kaki berwarna putih semua. Dialah Hu Tao.
"Kita semua tahu, jika kemenangan yang kita raih adalah karena faktor keberuntungan. Andaikata ayah dan dua iblis kembar itu ada di sini, dapat kupastikan bahwa kita tak kan mampu berkutik." katanya dengan suara tenang akan tetapi lantang dan berwibawa.
"Maka dari itu hari ini, kita akan menyusul rombongan ayah untuk membinasakan mereka semua terutama sekali dua iblis itu. Dan untuk ayah sendiri, serahkan padaku! Jangan ada yang berani menyentuhnya!!" kembali pemuda itu berucap dengan menekankan setiap kalimat di akhir perkatannya.
"Siap pemimpin!!" jawab mereka kompak.
Hu Tao memandangi mereka semua. Dari sekian banyaknya pasukan itu, setiap orang menampakkan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang terlihat ketakutan, ada yang datar-datar saja dan ada juga yang mukanya sampai merah karena amarah. Mereka ini adalah para pendekar dan tetua keluarga Hu yang sudah terlalu murka dengan kelakuan Hu Kai.
Setelah itu Hu Tao menaiki punggung kudanya. Kuda besar yang berwarna putih bersih bagaikan salju, sangat cocok dengan orang yang menungganginya.
Ketika Hu Tao sudah duduk di atas punggung kuda, orang-orang yang ada di sana menjadi terkesima. Mereka berdiri dengan mata terbelalak kagum memandang kearah pemimpin muda tersebut.
Hu Tao terlihat sangat gagah ketika duduk di atas kuda putih itu. Dia terlihat bagai seorang pangeran salju yang keluar dari istana hendak pergi mengembara. Rambut putihnya berkibar mengikuti hembusan angin yang lambat-lambat namun menenangkan.
Mata merahnya memandang tajam ke depan bagaikan sebilah pedang. Terlihat semangat dan ambisi besar di balik tatapan mata pemuda tersebut.
Kemudian, Hu Tao menjalankan kudanya untuk menuju gerbang kediaman. Serentak para pasukan langsung memberi jalan kepada pemimpin itu. Mereka benar-benar menunjukkan rasa hormat dan segan terhadap Tuan barunya.
"Kita berangkat!!" akhirnya Hu Tao berkata setelah tiba di pintu gerbang.
Serentak mereka semua langsung menaiki punggung kuda masing-masing dan mengikuti pemimpin mereka. Lin Tian dan biksu tua itu berjalan di kanan kiri Hu Tao. Untuk tetua pertama, keempat dan keenam, mereka berjalan beriringan di belakang tiga orang terdepan.
Ketika pasukan besar itu melewati jalanan kota, para penduduk memandang mereka dengan tatapan takjub dan kagum. Apalagi ketika menyaksikan dua orang terdepan itu.
Hu Tao dan Lin Tian terlihat sangat serasi. Dari baju sampai kudanya semua berwarna putih. Hanya bedanya Lin Tian mengenakan topeng.
Akhirnya, rombongan itu pergi dari Kota Sungai Putih diiringi dengan sorak sorai warga setempat. Mereka tidak tahu tujuan dari rombongan itu, akan tetapi mereka semua menaruh kepercayaan penuh terhadap Hu Tao bahwasannya pemimpin muda itu akan melakukan suatu hal penting untuk kotanya.
Maka dari itu, tak henti-hentinya mereka bertepuk tangan dan melontarkan teriakan-teriakan penyemangat.
...****************...
Sudah dua hari lamanya pasukan itu melakukan pengejaran kearah Utara guna menyusul pemimpin sebelumnnya, Hu Kai.
Menurut perkiraan Hu Tao, seharusnya mereka sudah dekat dengan keberadaan ayahnya itu.
"Apakah masih lama?" tanya Lin Tian tiba-tiba.
"Kalau dihitung-hitung, seharusnya sebentar lagi. Karena ayah menggunakan kereta kuda, sehingga mereka berjalan lebih lambat daripada kita. Juga, selama dua hari ini, kita tak pernah beristirahat selama lebih dari tiga jam. Karena itulah, menurutku keberadaan ayah pasti sudah dekat."
"Sebenarnya ayahmu hendak pergi kemana sih?"
Hu Tao diam sejenak setelah mendengar pertanyaan Lin Tian. Dia merasa betapa hatinya menjadi tidak enak untuk menjawab pertanyaan ini. Akan tetapi karena Lin Tian sudah banyak membantunya, akhirnya dia pun menjawab singkat.
__ADS_1
"Pergi ke pertemuan Aliansi Golongan Hitam, yang bertempat di daerah Pegunungan Tembok Surga."
Lin Tian terkejut, ternyata itu yang akan dilakukan oleh Hu Kai. Orang tua itu pasti akan melakukan hal-hal yang amat berbahaya jika tidak dihentikan sekarang, begitulah pikirnya.
"Dari rumah sampai di tempat pertemuan, dengan perjalanan lambat seperti yang dilakukan ayah, seharusnya mereka sampai di sana kurang lebih selama tujuh hari." kembali Hu Tao berkata.
"Berarti kurang dua hari lagi sebelum mereka sampai..." gumam Lin Tian.
"Kita harus cepat!!"
"Ya!!" jawan Hu Tao sambil menganggukkan kepala.
Memang saat ini mereka telah memasuki daerah Pegunungan Tembok Surga wilayah Timur. Karena itulah, saat ini rombongan itu hanya perlu untuk mencari jejak Hu Kai agar bisa menyergap mereka.
Selang beberapa jam, akhirnya di depan mereka terlihat sebuah rombongan yang terdiri dari tiga puluhan orang. Itulah rombongan Hu Kai.
"Itu dia, cepat kepung mereka!!" perintah Hu Tao kepada anak buahnya.
Tanpa diperintah dua kali, pasukan itu menyebar menjadi tiga barisan. Barisan pertama mengikuti Hu Tao untuk menyergap dari depan, barisan kedua dari arah kanan, dan barisan ketiga dari arah kiri.
"Hm...apa itu?" gumam seorang penjaga dari rombongan Hu Kai. Dia heran ketika memandang jauh di sana, terdapat rombongan besar yang menuju kearahnya.
Beberapa detik kemudian, wajahnya memucat tatkala mengenali wajah seseorang yang menunggang kuda paling depan. Cepat dia berseru kepada teman-temannya.
"I-itu Tuan muda Hu Tao!! Gawat Tuan muda dan pasukannya telah menyusul kita!!"
"Apa!?? Bagaimana mungkin??" tanya salah seorang dengan terkejut bercampur heran.
Ketika Hu Tao tiba di dekat rombongan itu, dia menghentikan langkah kudanya. Dia memandang tajam ke depan, ternyata mereka semua sudah siap dengan senjata masing-masing untuk menyambut kedatangan Hu Tao.
Sontak hal ini pun juga membuat pasukan pemimpin muda itu mencabut senjata dan bersiap siaga.
"Aku ingin bertemu dengan ayah!!" kata Hu Tao dengan lantang kepada rombongan tiga puluhan orang itu.
"Heh jangan sombong kau bocah!! Hendak apakah kau tiba-tiba datang kesini dengan membawa banyak sekali pasukan" bentak salah seorang dari rombongan Hu Kai seraya menengok ke kanan kiri mengamati pengepungan pasukan Hu Tao.
Lin Tian yang mendengar hal ini sudah mengangkat lengan dan hendak memecahkan kepala orang itu dengan pukulan jarak jauh. Akan tetapi tindakannya ini berhasil dihentikan oleh Hu Tao.
Tak berselang lama, dari dalam sebuah kereta kuda yang cukup besar dan indah, keluar tiga orang yang berpakaian serba mewah. Mereka adalah Hu Tao dan Si Cantik Setan Kembar.
Melihat anaknya duduk dengan sikap gagah di atas punggung kuda dengan membawa pasukan sebanyak itu, hatinya menjadi heran. Maka cepat ia melangkah maju diikuti kedua perempuan itu dan berkata.
"Hu Tao, kau mau apa!?" tanya pria tua itu sedikit membentak kepada putranya.
Hu Tao langsung turun dari kuda dan menjawab seraya membungkukkan badan, "Maaf ayah, tetapi sekarang aku sudah merebut kursi pemimpin keluarga Hu. Aku kemari hendak bicara dengan ayah supaya kiranya ayah suka-"
"Bocah durhaka!! Beraninya kau memberontak kepadaku hah!?? Habisi mereka!!"
Ucapan Hu Tao belum terselesaikan karena sudah dipotong oleh Hu Kai yang marah akibat perbuatan anaknya.
Hu Tao terkejut, dia sama sekali belum melakukan persiapan akan tetapi serombongan orang sudah menyerbu kearahnya, maka cepat dia pun memberi perintah kepada pasukan.
__ADS_1
"Hadapi mereka!!"
Bentrokan pun tak dapat dihindari. Di tengah-tengah pegunungan yang berdiri tinggi sekaligus agung itu, terjadi pertempuran habis-habisan antara dua pasukan yang bertentangan pendapat.
"Trang-trang"
"Ayah sadarlah, jangan mau dibodohi oleh mereka!!"
Saat ini, Hu Tao sedang bertarung melawan ayahnya sendiri. Seperti yang diperintahkannya, dari pihak pasukannya sama sekali tidak ada yang berani mengganggu pertarungan ayah dan anak itu. Mereka sangat patuh kepada Hu Tao untuk tidak menyentuh Hu Kai.
"Bocah tiada guna!! Jangan banyak omong, cepat mati dan enyahlah dari hadapanku!!" bentak Hu Kai marah. Matanya memancarkan kilatan mengerikan.
Hu Tao merasa prihatin melihat keadaan ayahnya yang sudah jatuh terlampau dalam ke jurang kesesatan. Terlihat dari sorot matanya, agaknya Hu Kai benar-benar ingin membantunya untuk bertemu dengan dewa kematian.
Tak ada pilihan lain lagi, satu-satunya cara bagi Hu Tao saat ini adalah terus melawan untuk menyelamatkan nyawanya.
Sedangkan dipihak lain, Si Cantik Setan Kembar sedang bertempur melawan keroyokan lima orang yang sama-sama lihai. Dua orang wanita kembar ini bertarung hanya mengandalkan jari-jari tangan yang runcing tajam dan berwarna hitam.
Akan tetapi jangan dianggap remeh, karena jika mereka mengalirkan tenaga dalam ke kuku itu, maka secara otomatis kuku runcing seruncing anak panah itu akan berubah menjadi sebuah senjata ampuh yang beracun.
Kelima orang itu adalah Dewa Angin Selatan, Lin Tian, bersama ketiga tetua keluarga Hu. Walaupun mereka mengeroyok, akan tetapi tidak bisa dibilang bahwa mereka lebih unggul.
Karena kuku beracun itu, mereka menjadi sangat hati-hati dalam menyerang. Sehingga pertempuran berlangsung seimbang.
"Hiaaattt!!" Teriak Dewa Angin Selatan bersama tetua pertama dari arah kiri dan kanan.
Mereka sama-sama melakukan serangan pukulan yang penuh kandungan tenaga dalam di setiap lengan untuk merobohkan salah seorang wanita itu.
"Hap-tap-tap"
Kedua telapak itu bertemu dengan telapak tangan halus dari salah satu wanita kembar itu. Kemudian, wanita yang lainnya bergerak secepat kilat mengirim serangan balasan disaat kedua lengan biksu dan tetua itu masih saling tempel dengan telapak lawan.
"Waaahh!!" mereka terkejut dan langsung mencelat kebelakang untuk menghindarkan diri.
"Sin Cia, Sin Nia!! Insyaflah!! Tak ingatkah bahwa kita orang-orang tua bau tanah ini sudah tak punya banyak waktu lagi untuk terus bernafas di dunia!??" ucap si biksu. Bisa-bisanya orang tua ini masih mau memberi peringatan kepada dua orang sesat itu.
"Hik-hik-hik, heh kakek gundul!! Kaulah yang tua!! Apa kau buta? Kami bahkan masih bisa membuat banyak sekali pria muda dimabok nafsu akan kecantikan kami berdua, keelokan tubuh kami dan tentu saja...kemerduan suara kami. Hik-hik." ucap orang yang menahan kedua pukulan itu dengan genit. Dialah Sin Cia.
"Benar ucapan adik!! Walaupun kami sudah tak mampu mengandung anak, akan tetapi kami masih bisa memuaskan hasrat ratusan banyak pria dan menyenangkan hati mereka!! Sedangkan engkau? Heh...wanita mana yang sudi untuk melirik muka penuh keriput itu!??" sahut wanita satunya. Dialah Sin Nia.
"Kecantikan dan keindahan hanyalah bagian luar!! Aku yakin sepenuhnya kalian juga sadar bahwasannya tubuh dalam kalian itu juga semakin menua dan renta." kembali kakek itu membantah.
"Memang benar!! Tapi dengan ilmu ciptaan kami, semua itu bisa ditangani!!" Sin Cia menjawab.
"Adik sudahlah!! Tak ada gunanya kita mengobrol dengan monyet-monyet ini, lebih baik lekas kita bereskan mereka!!"
Setelah berkata, tubuh kedua wanita ini sudah menerjang maju untuk mencengkram biksu tua itu.
"Hm...kalian sudah tersesat terlalu jauh." gumam perlahan Dewa Angin Selatan sembari menggerakkan tangan menghadapi serangan lawan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG