
Pagi hari itu cuaca nampaknya cukup cerah, matahari yang bersinar terang menebarkan kehangatan dan ketenteraman bagi sapa saja yang merasakannya.
Angin sepoi-sepoi dengan lembut menerbangkan daun kering pepohonan sekaligus membuat pemandangan di hamparan padang rumput itu kian indah. Rumput bergoyang ke sana-sini mengikuti hembusan angin seakan sedang menari bersama.
Seperti halnya rambut hitam legam milik wanita itu, dari kejauhan sudah terlihat rambutnya yang subur dan gemuk melambai-lambai dengan riangnya, senada dengan arah angin sekitar.
Jubahnya berwarna kuning emas, bukan berasal dari bahan terbaik namun masih cukup bersih dan bagus. Apalagi ditambah dengan kecantikan si pemakai baju yang seperti gadis-gadis muda itu, agaknya baju apa pun itu cocok saja jika dipakaikan padanya.
Melihat dari wajahnya, orang akan mengira usianya baru menginjak dua puluh tahun. Tapi sejatinya umur wanita ini lebih daripada itu. Yah, walaupun tidak lebih dari dua puluh tujuh tahun.
Wajahnya berbentuk daun sirih, kulitnya putih bersih tanpa kecacatan. Yang paling menarik adalah, tahi lalat kecil yang terletak di bawah sepasang mata indahnya. Benar-benar menambah daya tarik wanita ini.
Dia menggendong anak bayi yang dibalut kain putih tebal. Selain untuk menghangatkan anak tersebut, juga kain itu bisa digunakan untuk menutupi kepala si anak agar tidak kepanasan.
Wajah cantik itu terlihat seperti seorang gadis, tapi melihat bayi di gendongannya yang sangat mirip dengan wajahnya, orang akan berpikir dua kali untuk berpendapat demikian.
Namun yang sebenarnya adalah, wanita yang sedang berjalan di tengah padang rumput ini adalah seorang janda!
...****************...
Memasuki kota Batu, wajah wanita ini terlihat seperti bernostalgia. Sudah bertahun-tahun dia pergi meninggalkan kota tempat kelahirannya ini untuk berguru kepada seorang pertapa sakti di pantai Selatan sana.
Tiba-tiba, dia terkejut saat mendengar anaknya menangis di tengah hiruk pikuk keramaian kota itu.
"Ah...Xiao Tsun, kau lapar? Haus? Kepanasan? Aduh, betapa bodoh ibumu ini." gumamnya dan membawa ia pada sebuah gang sempit yang jarang dilalui orang-orang.
Lalu wanita ini menengok ke sana-sini mencoba memastikan tak ada orang melihat. Setelah merasa yakin, dirinya berkelebat cepat sekali tanpa menimbulkan suara, seolah tak pernah ada seseorang di sana sebelumnya.
Beberapa detik kemudian, dia sudah mendarat di atas pohon tinggi besar yang daunnya menjuntai sampai bawah. Tanpa ragu lagi dia membuka sedikit pakaiannya dan mulai menyusui anaknya yang bernama Xiao Tsun itu. Karena daunnya yang lebat, tentu orang tak akan dapat melihat ada manusia di atasnya.
Sampai sini pastilah dapat diduga siapa adanya wanita tersebut. Dia adalah Xiao Lian, anak dari Xiao Li yang pergi ke pantai Selatan bersama Hao Yu untuk memperdalam ilmu.
Kurang lebih, mungkin kurang atau lebih sedikit, dia bersama Hao Yu berlatih di bawah bimbingan Dewa Kipas selama lima tahun.
Lalu setelah tinggal bersama Hao Yu, tanpa sadar dia telah mencinta lelaki itu. Tak hanya sekedar mengagumi, namun memang tulus dari hatinya terdalam.
Singkat cerita, mereka meminta restu kepada Dewa Kipas dan akhirnya menikah. Lalu dikaruniai satu orang putra bernama Xiao Tsun ini.
Akan tetapi beberapa bulan setelah kelahirannya, betapa sedih dan terpukul Xiao Lian mengetahui suaminya itu terkena racun ganas dari salah satu spesies ikan mematikan di laut Selatan sana. Ikan itu bernama Hiu Taring Darah.
Hao Yu menerima racun itu bukan karena kepandaiannya yang lemah, namun karena ketika dia sedang berburu ikan, pria ini tanpa sengaja bertemu dengan sekawanan Hiu Taring Darah yang segera mengeroyoknya.
Dia berhasil pulang ke rumah, namun karena sudah takdir, setelah tiga jam pasca kepulangannya, Hao Yu meninggal.
Sesuai tujuan awal Xiao Lian, setelah mematangkan ilmu dengan Dewa Kipas, dia ingin berlatih di bawah bimbingan para pertapa Pegunungan Tembok Surga. Tapi sebelum berangkat ke sana, lebih dulu ia menyempatkan diri untuk mengunjungi keluarganya di kota Batu.
Setelah beberapa menit menyusui anaknya, Xiao Lian segera melesat menuju ke tempat dimana seharusnya kediaman ayahnya dahulu berdiri.
Seharusnya....
Ya, seharusnya.....
Seharusnya begitu, namun apa yang dilihatnya benar-benar di luar dugaan.
"Kenapa bendera Chu berkibar di sini? Tidak ada bendera Xiao?"
__ADS_1
Xiao Lian mendatangi salah satu penjaga gerbang dan menanyakan hal ini kepadanya. Penjaga gerbang itu hanya balas dengan tatapan bingung sebelum menjawab.
"Nyonya, keluarga Xiao sudah runtuh beberapa tahun yang lalu."
Seperti dihantam dengan palu raksasa, kepalanya seketika pening dan dia terhuyung. Wajahnya pucat sekaligus tatapan matanya kosong.
"Nyonya!" penjaga gerbang dan beberapa temannya lekas menghampiri ketika melihat Xiao Lian terhuyung seperti itu.
"Dimana....dimana....tuan Xiao Li?" tanyanya lirih.
"Emh....dia...telah meninggal setelah gantung diri. Karena mengetahui kalau putrinya yang tertua sudah mati." jawab penjaga gerbang itu.
Xiao Lian tersentak, putri tertuanya mati? Dia masih hidup!
"Tidak mungkin...."
Mungkin karena masih suci dan ikatan dengan ibunya kuat sekali, Xiao Tsun terbangun dari tidurnya dan menangis kencang melihat ekspresi Xiao Lian.
"Tidak mungkin...."
Tak pernah disangkanya, bahwa sosok yang selama ini paling diidolakannya, ayahnya yang terkenal bijaksana, mengakhiri hidup dengan cara demikian pengecut.
"Tidak mungkin....!!!!" dia berteriak keras dan mengejutkan orang sekitar.
...****************...
"Kau tenang saja, lupakan dendam itu karena walaupun kau ingin membalasnya.....itu tidak mungkin. Mereka sudah mati. Lin Tian dan Zhang Qiaofeng sudah melenyapkan mereka semua dalam pertempuran Hitam Putih beberapa tahun lalu."
Xiao Lian duduk di bawah pohon bersama seorang lelaki tua bercaping lebar dan bertongkat butut. Kakek inilah yang tiba-tiba menariknya tepat ketika dirinya menangis di tengah kota, kemudian menyeretnya kemari.
"Aku berlatih keras bertahun-tahun ini, untuk membuat keluarga Xiao maju. Aku tidak ingin terus-terusan menjadi beban."
"Namaku Chong San, kau putri Xiao kan. Setidaknya aku punya kabar baik untukmu."
Xiap Lian tersentak dan cepat menoleh, "Apa itu?"
"Jadilah muridku, aku ingin menghabiskan masa tuaku dan mewariskan ilmu-ilmu ini kepada murid-muridku, agar kelak dapat berguna."
Xiao Lian mengerutkan kening, "Ini yang anda maksud kabar gembira?"
"Bukan." Chong San menggeleng, "Entah kau kenal atau tidak tapi wajahnya terlalu mirip denganmu. Hm...kira-kira dua tahun lalu aku baru memperbolehkannya pergi bersama bibinya. Dia masih begitu muda...namanya Xiao Niu, kau kenal?"
"Ah....dia adikku! Dimana dia!" wajah Xiao Lian berseri dan cepat-cepat mendekati Chong San.
"Mana kutahu, dia pergi bersama bibinya yang dipanggil bibi Sun."
Perasaan lega menyelubungi dadanya. Setidaknya adiknya itu masih selamat, "Dia adikku dan bibi Sun adalah pelayan di keluarga Xiao." kata Xiao Lian kemudian.
"Jadi, bagaimana dengan tawaranku?"
"Aku menerimanya!" dengan wajah berseri, dia menjawab cepat. "Mungkin aku bisa menemukan Niu'er setelah menjadi murid anda."
"Apa hubungannya menjadi muridku dan menemukannya?"
"Entah, aku merasa begitu."
__ADS_1
"Kau langsung percaya padaku?"
"Semoga saja anda dapat dipercaya. Bukti bahwa anda mengenal bibi Sun yang tidak terkenal bahkan dikalangan keluarga, itu menandangan anda tidak berbohong."
Tatapan bingung menjadi tanggapan dari lelaki tua itu.
...****************...
"Kita sampai." ujarnya di depan pondok yang sederhana.
"Hei Rouwei, ada murid baru! Haha, kau punya kakak perempuan lagi sekarang. Dan...hem, ada adik laki-laki juga!" seru Chong San kepada dara jelita berumur sekitar empat lima belas tahun. Dia sedang menjemur tanaman obat di depan pondok itu.
Gadis yang dipanggil Rouwei ini menoleh dan tersenyum, "Ah...guru mengambil murid lagi? Selamat datang kakak! Eh...mana yang laki-laki?"
"Masih digendong." jawab singkat Chong San seraya menunjuk Xiao Tsun.
"Eh...nona, saya Xiao Lian...." Xiao Lian tersenyum canggung memperkenalkan diri. "Dan ini Xiao Tsun."
"Woah....keturunan keluarga Xiao? Hebat, kukira mereka sudah lenyap!! Eh...Xiao Lian? Ah, bukankah engkau ini seseorang yang pernah diselamatkan kakak?" Rouwei menjadi histeris, "Kau juga putri keluarga Xiao kan?"
"Ah...." Xiao Lian tersenyum canggung dan mengangguk. "Tak usah formal begitu." kemudian buru-buru dia berkata saat melihat Rouwei hendak membungkuk memberi hormat.
"Kalau begitu kau juga jangan bersikap kaku terhadapku. Aku memang tak terlalu kenal dengan wilayah Selatan ini, tapi setelah menjadi murid guru yang rumahnya pindah-pindah, aku menjadi tahu soal keluarga Penguasa dan lain sebagainya."
"Eh, kau dari Utara."
"Benar!"
Xiao Lian tersenyum hangat menanggapi itu, "Hayo, berkenalanlah dulu pada kakak." kata Xiao Lian kepad Xiao Tsun.
Rouwei mengelus dan menciumi wajah kecil Xiao Tsun. Saat itu Xiao Lian bertanya-tanya tentang kakak Rouwei yang telah menyelamatkannya. Saat hendak bertanya, lebih dulu mereka dikejutkan dengan suara ribut-ribut di belakang rumah.
"Zhi Yang! Aku merasa gerah dan jengah melihatmu bertopeng seperti itu hanya untuk mencari tanaman di hutan!"
"Guru! Aku merasa jengah dan mual dengan kelakuan para pemuda hidung belang itu! Kalau tak ingat mereka masih manusia, mungkin sekarang sudah jadi arwah penasaran!"
Wajah Rouwei berseri dan Xiao Lian mengerutkan kening, merasa seperti kenal dengan suara serak menyeramkan itu. Rouwei menariknya ke sumber suara seraya berkata.
"Kalau engkau Xiao Lian, tentu akan kenal dengan kakakku yang satu ini."
Ketika sampai di belakang rumah, betapa terkejut dua orang itu saat saling berhadap-hadapan. Zhi Yang yang sedang adu mulut dengan gurunya sontak berhenti dan terpaku akan kehadiran Xiao Lian.
"Kau....nona Xiao!"
"Kau kan...si topeng tengkorak yang menyelamatkanku dari keluarga Chen waktu itu."
Perlahan, Zhi Yang membuka topengnya dan terkejutlah Xiao Lian akan paras Zhi Yang yang kelewat cantik. "Nona Xiao, ada apakah sampai datang kemari?"
Kali ini, Chong San yang menyahut. Dia menarik tangan Zhi Yang dan menarik pula tangan Xiao Lian, memaksanya berjabat tangan.
"Hari ini tak ada lagi panggilan nona. Kalian berkedudukan sama sebagai muridku. Nah, yang akrab."
"Guru...nona Xiao...menjadi murid anda!?" tanpa sadar Zhi Yang memekik.
"Gurumu pernah berbohong? Kau tak percaya?"
__ADS_1
...Pendekar Hantu Kabut...
...TAMAT...