
Tempat itu sudah cukup berantakan bahkan sebelum pertarungan mereka dimulai. Dan kali ini, menjadi jauh lebih tidak karuan setelah kurang lebih sebanyak empat puluh jurus keduanya adu ilmu.
Lin Tian, sosok itu tak pernah berhenti menyeringai semenjak awal pertarungan. Berkat ilmu silat tangan kosongnya, gabungan antara ilmu silat Ketenangan Batin dan ilmu silat Halimun Sakti, dia mampu membikin repot lawannya yang tak lain adalah raksasa berjuluk Naga Emas.
Sedangkan orang yang dijuluki Naga Emas itu, selalu nampak marah sejak awal dimulainya pertandingan. Entah marah karena tak pernah bisa mendesak Lin Tian ataukah marah karena dia telah dikhianati bocah itu.
"Bocah keparat, beraninya kau mengkhianati kami?" dengan penuh perasaan geram, Naga Emas membentak marah. Wajahnya yang penuh tato itu nampak memerah sekali.
"Mengkhianati? Justru aku ini setia kepada organisasi ini. Apa kau pikir aku dan A Yin datang tanpa perintah? Ketua sendirilah yang memerintah kami!" tukas Lin Tian.
Mendengar penuturan itu, seluruh tubuh Naga Emas gemetaran, tangannya terkepal sampai kuku-kukunya menembus telapak tangan dan mengucurkan darah. Naga Emas memandang Lin Tian dengan berang karena merasa telah dihina oleh bocah itu.
"Keparat.....kau bohong...Mana ada murid yang memusuhi gurunya!!" Naga Emas berkata penuh penekanan dan mencoba membantah.
Sedangkan Lin Tian, melihat gelagat Naga Emas yang hendak keluar kendali, tersenyum ringan dan merasa senang sekali bisa membakar hati lawan. Dia melompat-lompat kecil untuk semakin memanas-manasi Naga Emas. Tindakannya ini ditambah dengan setiap kalimat yang sangat mengejek dan menghina sekali.
"Haha, tak perlulah kau pikirkan apakah ini perintah dari ketua atau bukan. Yang jelas, kutanya kau, jika pertarungan ini berlanjut apakah kau yang memiliki tubuh macam raksasa itu mampu merobohkan aku? Tak perlu merobohkan, cukup buat punggungnya menyentuh lantai saja maka kau menang."
"Bajingann!!! Makan ini!!!"
"Syut–wuss–wuss!"
Naga Emas yang sudah marah sekali itu menggerakkan kedua lengan dengan gerakan mendorong secara bergantian. Angin yang ditimbulkan sungguh dahsyat, berpusingan dan seolah mengurung Lin Tian dari empat penjuru. Menghimpit pemuda itu dan memaksanya untuk diam di tempat.
Tapi Lin Tian tak kehilangan akal, dia lekas menggerakkan tubuhnya menurut ilmu silat Ketenangan Batin yang dimana kaki maupun tangan, melakukan gerakan mencorat-coret sajak-sajak yang ada dalam kitab tersebut.
Hasilnya sungguh di luar perkiraan Naga Emas, tubuh Lin Tian seolah menyatu dengan angin pukulannya dan meliuk-liuk bagaikan naga menari. Angin yang menghimpitnya dari kanan kiri itu mampu ia kendalikan dan kakinya perlahan tapi pasti mulai melangkah dekat padanya. Naga Emas melotot, setengah kagum setengah jeri.
"Ilmu silat apa-apaan itu?" pekiknya sambil terus mengirim hawa pukulan dengan tinjuan kanan dan kiri.
__ADS_1
"Hahaha, ilmu ini sangat sempurna bila dimainkan dengan tangan kosong. Bersyukurlah dirimu karena mampu melihat ilmu ini di tingkat maksimal!" ujar Lin Tian sambil terus mainkan ilmunya itu.
Lin Tian terus mendekati Naga Emas yang mulai membentak-bentak marah dan serangannya makin ganas. Begitu tiba dekat, Lin Tian memutar tubuhnya sambil memasang kuda-kuda rendah, kemudian dia menghentakkan kedua tangan mengarah dada kanan dan kiri Naga Emas yang dengan tepat mampu mengenainya telak.
"Buagh!!"
"Aauugghh!!" lenguh Naga Emas ketika merasakan dada kanan dan kirinya dirasuki sebuah hawa sakti yang berbeda unsur. Di kanan dingin dan di kiri panas. Membuatnya kebingungan untuk menolak tenaga tersebut.
"Uhukk..." dia terjengkang dan muntah darah banyak sekali. Lin Tian melihat itu dengan seringaian yang makin lebar.
"Semoga saja A Yin tak lihat yang barusan. Aku mengerahkan hawa saktiku, itu sangat berbahaya jika A Yin sampai tahu dan hal itu bisa membongkar sandiwaraku." hati Lin Tian berkata.
Pemuda itu berjalan perlahan mendekati Naga Emas yang masih sibuk dengan batuk-batuknya itu. Pedang Dewi Salju belum juga tercabut semenjak pertama kali dia masuk ke rumah ini. Saat tiba dekat, dengan kasar kakinya menginjak kepala Naga Emas yang segera merasa pening sekali.
"Nah, kalimat terakhir?" dengan dingin pemuda itu berkata.
"Uhuk....bajingan....kalian berdua...kalian semua....!!"
Pemuda itu menoleh cepat untuk menemukan A Yin yang duduk bersila di lantai, bersandar pada sebuah patung yang sudah kehilangan kepalanya akibat kena hantam tangan Lin Tian tadi.
"Ada apa?" tukas pemuda tersebut yang merasa curiga kepada A Yin. Dia menduga-duga apakah A Yin telah melihat gerakan terakhirnya barusan. Jika nenek itu telah melihatnya, maka mau tak mau dia harus membunuhnya!
"Cepat akhiri dia, aku mau istirahat."
Lin Tian menajamkan pandangannya. Sedikit menghela nafas gusar, tapi juga lega karena agaknya A Yin sama sekali tak tahu dengan kejadian terakhir tadi.
Tanpa menjawab, dia lantas mengangkat kakinya dan seperti perlahan saja, kakinya turun mengarah pelipis Naga Emas. Tapi sejatinya kaki itu sudah terisi oleh tenaga yang bisa membuatnya seberat batu seukuran kerbau. Sehingga walau hanya menginjak perlahan, tapi secara perlahan pula kepala Naga Emas peyok dan melesak ke dalam.
"Aaaarrgghhh!!" teriak Naga Emas mengiringi nyawanya yang melayang.
__ADS_1
Lin Tian memandang sejenak kearah Naga Emas dan berbalik menuju A Yin yang masih duduk tak mempedulikan cara membunuh Lin Tian itu. Kemudian saat sudah berada di sampingnya, Lin Tian berkata padanya.
"Ayo pula–Aahhh!"
Belum selesai ucapannya, tiba-tiba A Yin sudah menggerakkan tangan cepat sekali yang dengan telak menghantam dadanya. Awalnya serangan itu ingin dia hindari, tapi teringat akan suatu hal, dia menerimanya seolah memang tak ada waktu menghindar.
"Uhuk...uhuk..." seteguk darah segar mengalir di sudut bibir pemuda itu.
"Ah...hanya perasaanku saja? Hei Lin Tian, ilmu apa yang kau gunakan untuk melawan himpitan angin puyuh Naga Emas tadi?"
"Sialan!" Lin Tian kaget sekali karena ternyata A Yin telah melihatnya. Tapi dengan tenang dia memutar otak untuk mendapat jawaban paling tepat. Bagaimana pun juga, jika A Yin ia bunuh di sini tentu sangat tidak logis dan apa alasan yang akan diungkapkannya kepada Zhang Heng, mengingat wanita itu adalah yang terkuat di bawah kedua kakak dan Zhang Heng sendiri.
"Ah....ilmu itu? Aku sudah lupa dengan namanya, tapi aku selalu melatihnya setiap hari." jawab pemuda itu seraya bangkit duduk.
"Lagipula, mengapa kau memukulku secara tiba-tiba? Nenek muka licin!" lanjutnya diselingi umpatan.
"Hahaha, tak apa-tak apa...mungkin kau memang sudah lupa dengan nama ilmu itu dan kau tadi bergerak menurutkan naluri. Aku hanya terkejut saja dan ingin mencoba kepandaianmu, eh...ternyata kau masih sama seperti biasanya." jawab A Yin dengan tertawa yang ditutupinya menggunakan sebelah tangan.
"Nenek ini, masih memikat macam gadis saja!"
"Keparat kau!! Bagaimana jika aku mati?"
"Tak akan mati, pukulan itu ringan saja dan tak akan melukaimu sama sekali. Benar kan?"
"Cih, sudahlah. Ayo lekas pulang dan melapor. Bakar rumah ini sesuai perintah!" Lin Tian bangkit dan berjalan pergi.
"Hei, kenapa jadi kau yang memerintah!?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG