Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 68. Asal Bicara


__ADS_3

Begitu si brewok itu memberi perintah, majulah belasan orang itu dengan ganasnya. Mereka mengurung keempat orang itu dari depan, belakang, kanan dan kiri. Benar-benar tak ada jalan keluar bagi mereka.


"Hehe...ternyata putra-putri kaisar juga ada di sini. Kita mendapat tangkapan besar hari ini." ucap si brewok itu yang baru sadar jika di situ terdapat Chu Wei dan Chu Rou. Pria ini tidak terlalu memperhatikan Chu Wei, akan tetapi bola matanya itu selalu memandang kearah Chu Rou yang cantik jelita dengan tatapan liar dan kurang ajar.


Chu Rou yang sadar akan pandangan itu menjadi merah mukanya karena jengah dan malu. Maka secara refleks, gadis ini menyilangkan kedua tangan untuk menutupi dadanya.


Chu Wei juga merasa marah sekali melihat perlakuan brewok itu. Melihat betapa kini adiknya dipandangi oleh banyak pasang mata yang memandang penuh nafsu, pemuda ini cepat bergerak ke depan Chu Rou untuk menutupi tubuh gadis itu.


Lalu kemudian membentak, "Apa-apaan tatapan kalian itu hah?? Apa kalian tidak memandang muka padaku!? Ayo maju sini! Siapapun yang hendak menyentuh adikku, harus melewati mayatku lebih dulu!!"


"Hahaha....melewati mayatmu? Heh orang muda!! Asal kau tahu saja bahwa sesungguhnya tanpa kubunuh pun aku sudah bisa melewatimu dan memetik bunga segar itu hehe..." balas si brewok yang sedikit memiringkan kepala untuk mengintip Chu Rou yang masih bersembunyi di belakang punggung kakaknya.


Walau pria ini berkata kepada Chu Wei, akan tetapi matanya itu selalu tak lepas dari gadis cilik putri kaisar itu. Tentu saja hal ini membuat Chu Wei makin marah, maka sekali lagi dia membentak, "Cobalah kalau kau punya kemampuan!!!"


"Hoh...benarkah? Kalau begitu, awass!!!" teriak pria brewok itu yang sudah melemparkan tubuhnya kedepan, menubruk kearah Chu Wei.


Putra kaisar itu dengan sigap membacokkan pedangnya, berniat untuk membelah tubuh yang sedang melayang itu. Akan tetapi betapa terkejut hatinya ketika dia melihat pria brewok itu mampu dengan mudah memutar tubuh di udara untuk menghindari serangan, dan sedetik kemudian dia sudah tiba di belakangnya.


Sambil tertawa-tawa liar, orang ini sudah melanjutkan langkahnya untuk meraih Chu Rou yang wajahnya makin pucat.


"Hahaha....kena kau gadis manis!!!"


"Aaaahhhhh.....!!" teriak Chu Rou yang merasa takut setengah mati.


Detik berikutnya, terjadi fenomena yang membuat semua orang berdiri kaku saking terkejut dan heran. Tepat sebelum tangan si brewok itu menyentuh dada Chu Rou, terdengar suara nyaring yang berbunyi "kraaakk!!" dan sedetik kemudian brewok itu terhuyung ke belakang.


"Auughh!!" keluh si brewok yang merasa sakit luar biasa pada tangannya.


Ternyata suara tadi adalah suara patahnya tulang tangan si brewok yang secara aneh dan tiba-tiba, tangan itu bengkok sebesar sembilan puluh derajat dari ujung jari sampai ke siku. Tepat sebelum tangan itu berlaku lancang untuk menyentuh dada Chu Rou, terasa olehnya sambaran angin dahsyat yang langsung mematahkan sambungan lengannya.


Ternyata yang menyerangnya secara tiba-tiba itu adalah Lin Tian!! Begitu dia melihat tindakan kurang ajar dari si brewok itu, dengan gerakan yang amat cepat, pemuda ini mengayunkan tangan dan terciptalah angin dahsyat tersebut.


Chu Wei yang melihat musuhnya tidak berdaya, langsung menggerakkan pedang hendak menusuk jantung musuhnya dari belakang. Akan tetapi sayang sekali, pedang itu ternyata mampu terelakkan dengan amat mudahnya.


"Hahaha....dasar sombong. Apa kau lupa jika di sini juga ada kami berdua?" tanya Zhang Hongli yang sudah bangkit berdiri.


"Heh!! Memangnya kalian siapa? Jangan mentang-mentang karena sudah berhasil merobohkan Perguruan Tongkat Bambu Kuning, kalian menjadi begini sombong dan angkuh!! Asal kalian tahu, kalian dua orang sampah ini belum tentu mampu menghadapi barisan Pusaran Air milik kami!!"


"Persetan dengan Pusaran Air atau Pusaran Kentut, kami tak takut!!" jawab Zhang Hongli lantang.


"Sombong!! Semuanya, buat barisan Pusaran Air!!" perintah brewok itu dengan amarah yang semakin berkobar setelah mendengar nama barisan yang selama ini selalu dibanggakannya, diganti seenak jidat oleh Zhang Hongli.


Tanpa menunggu perintah dua kali, keempat belas orang itu langsung berlari-larian mengitari mereka berempat. Mereka terus berputaran dengan senjata di tangan masing-masing.


Keempat orang ini memasang kewaspadaan tinggi. Mata yang tajam itu selalu bergerak cepat memandang kesana-sini untuk mencari celah lawan.


Tiba-tiba, dari arah kanan dan belakang Lin Tian, melesat dua orang yang langsung menusukkan pedangnya ketitik vital. Pemuda ini cepat mengelak dengan berputaran kearah kiri.

__ADS_1


Menyadari serangannya meleset, dua orang itu tidak lanjut menyerang dan kembali kebarisan, ikut berlari berputaran seperti semula.


Detik berikutnya, dari belakang dan kiri Lin Tian meluncur tujuh buah senjata rahasia yang disambitkan oleh dua orang. Disusul dengan kedua orang itu yang sudah melompat maju menyerang Lin Tian.


Dengan gerakan cepat sekali, Lin Tian sudah mencabut pedang lalu memutarnya untuk menghalau senjata-senjata rahasia tersebut. Lalu dilanjutkan dengan gerakan menangkis sepasang golok musuh.


Masih sama seperti tadi, begitu serangan berhasi digagalkan Lin Tian, dua orang ini langsung mundur dan kembali berputaran.


"Hm...jadi begitu." batin Lin Tian yang sudah menyadari pola serangan musuh


Begitu pemuda ini masih memikirkan cara terbaik untuk mematahkan formasi musuh. Tiba-tiba terdengar suara gurunya yang nyaring mengguntur.


"Hahah....Lin Tian, tak usah banyak pikir-pikir lagi!! Ayo maju dan tendangi bokong mereka agar tahu rasa!!!" teriaknya sambil meloncat kedepan lalu menyerang dengan ganas. Seketika pecahlah formasi putaran itu.


"Rou'er, tetap di belakangku!" kata Chu Wei yang memegang pergelangan tangan adiknya erat-erat. Menyembunyikan gadis itu di balik punggungnya.


Gadis ini hanya menurut dan mencengkram pundak kakaknya erat-erat. Tanpa sadar, air matanya turun mengingat kejadian sebelumnya.


Lin Tian sudah tak terkejut dan heran lagi melihat watak gurunya yang ugal-ugalan. Maka tanpa berkata-kata lagi, dia pun langsung menyerang dengan ganasnya kearah empat belas pengeroyok itu.


Si brewok yang melihat guru dan muridnya itu sedang bertempur menghadapi anak buahnya. Dia tersenyum sinis begitu melihat peluang besar.


"Heheh...kena kau gadis kecil..."


Dengan tangan kiri lemas karena tulangnya telah berubah arah, dia menerjang hendak menangkap kembali Chu Rou yang saat ini sedang membelakanginya. Memang gila orang ini, sudah diberi ganjaran dengan patahnya tangan kiri, masih saja belum merasa puas sebelum berhasil mendapatkan tangkapannya.


"Aaahhhh....kakak!!!!" jeritnya yang sambil berusaha mencabut pedang, namun sayang, pedang itu sudah berhasil terampas oleh brewok itu.


"Hehehe...tenanglah manis.." ucapnya perlahan dengan air liur yang sudah menetes.


Chu Rou merasa sangat jijik sampai hampir muntah rasanya. Maka secara spontan, dia menggerakkan tangan untuk menusuk sepasang mata lebar itu.


"Crookk...aaahhhh!!" si brewok itu berteriak keras seraya memegangi kedua matanya yang mengucurkan darah. Chu Rou terlepas dari genggamannya dan dia terhuyung ke belakang.


Chu Rou yang sudah merasa sangat marah dan terhina itu, dengan secepat kilat sudah mengambil pedang yang tadinya terlempar, lalu langsung menusuk jantung si brewok sampai menembus punggung.


"Aaarrgghh!!!" kembali terdengar pekik keras yang menandakan putusnya nafas si brewok itu.


Akan tetapi ternyata Chu Rou belum juga berhenti. Begitu tubuhnya jatuh tak bernyawa, dia kembali menebas-nebaskan pedangnya kearah tubuh tak bernyawa itu. Sambil terus memaki dan mengumpat, gadis ini sama sekali tidak menghentikan tebasannya.


"Dasar anjing!! Setan!! Iblis!!! Mati kau dan pergilah jauh ke neraka sana!! Mati...mati...mati!!!" teriaknya dengan suara bercampur isak tangis, membuat semua orang di sana memandangnya dengan ngeri.


Saat ini, gadis putri kaisar itu seakan-akan telah menjadi gila. Bagaimana tidak, sudah dua kali dia hampir diperkosa dan jika seandainya kakak serta dua orang pendekar perkasa itu tidak ada di sana, tentu ketika pulang ke istana besar kemungkinan perutnya sudah "berisi".


Jika sebelumnya dia tidak sampai sebrutal ini, itu dikarenakan dia masih maklum dan sadar akan keadaannya yang memakai pakaian ketat. Tapi sesungguhnya dia memakai pakaian ketat bukan sekali-kali untuk menggoda atau merayu kaum pria. Hal itu ia lakukan adalah supaya memudahkan tubuhnya bergerak lebih leluasa ketika dalam pertarungan.


Tapi sekarang ini sudah berbeda!! Begitu menyadari dirinya hampir diperkosa waktu itu, dia menjadi kapok dan sadar. Maka ketika di kota Giok, Chu Rou sengaja membeli jubah tebal luar dalam berlengan panjang. Bahkan jika sebelumnya dia memakai celana, saat ini dia memakai rok lebar yang panjangnya sampai menyentuh mata kaki, di dalam rok itu pun juga masih ada celana panjang. Tangan yang kecil ramping itu tak terlihat sama sekali karena tersembunyi di balik lengan jubahnya yang panjang. Bahkan leher putihnya itu tertutup rapat dengan syal sutra berwarna hitam yang panjangnya sampai kepinggang.

__ADS_1


Jika sudah berpakaian tertutup rapat seperti itu dan masih ada yang bernafsu kepadanya, bagaiamana bisa dia tidak merasa marah dan murka?


"Rou'er cukup! Dia sudah mati!!" teriak kakaknya dengan panik yang melihat perilaku adiknya. Dengan gerakan cepat sekali, pemuda ini sudah berdiri di belakangnya dan menahan kedua tangan Chu Rou.


Gadis yang batinnya masih tertekan hebat itu kemudian membalikkan tubuh dan memluk kakaknya. Membenamkan wajah cantik itu di dada bidang Chu Wei yang mengelus-elus lembut rambut hitamnya.


Pertarungan sudah berhenti dan keempat belas orang itu mampu dibuat tak bernyawa oleh guru murid ini. Sedangkan orang kelima belas telah dibunuh oleh Chu Rou dalam keadaan marah hebat.


Kemudian, Zhang Hongli dan Lin Tian menghampiri kedua kakak beradik itu. Lalu Zhang Hongli berkata seraya menepuk pundak Chu Wei.


"Tuan muda..."


"Y-ya Tuan?"


"Kita harus bersyukur..." ucap Zhang Hongli sambil menggelengkan kepala.


"Apa!?" jawab Chu Wei sedikit berteriak yang terkejut akan ucapan Zhang Hongli. Dia benar-benar tak paham, apakah adiknya yang hampir dijadikan mainan orang itu patut disyukuri? Demikianlah pikirnya.


"Lihat adikmu...untung sekali kita ini, karena begitu keluar dari perut ibu, kita terlahir sebagai lelaki.."


"Jika seandainya kita terlahir sebagai perempuan, bukankah kita akan mengalamai penderitaan yang lebih hebat dari adikmu?? Haha...bukankah seorang pria lebih suka wanita cantik dan kuat??" kata Zhang Hongli yang tiba-tiba tertawa.


Sepertinya kakek ini berniat menghibur Chu Wei agar tidak terlalu merasa tertekan dan khawatir. Namun, ucapan ini agaknya bukan menghibur dan malah membuat perasaan kedua kakak beradik itu makin suram. Terutama sekali Chu Rou.


Jelas kata-katanya ini secara tidak langsung telah menusuk hati Chu Rou. Zhang Hongli berkata seolah-olah Chu Rou itu sangat tidak beruntung dilahirkan menjadi perempuan, juga dalam kalimat terkahir kakek itu, ucapannya seperti mengatakan bahwa Chu Rou itu adalah seorang lemah.


Begitu gadis ini mendengar ucapan guru Lin Tian itu. Tangis Chu Rou semakin kencang dan kakinya menendang-nendang tanah. Agaknya dia makin marah dan merajuk.


"Hwaaaaa!!!!" teriak Chu Rou dalam pelukan Chu Wei.


Sedangkan Chu Wei dan Lin Tian, dua orang muda itu memandang kepada Zhang Hongli dengan raut wajah datar.


"Hahahha....!!"


"Haha....."


"Haha....ha...ha........"


"......."


"Ekhm....!!" tiba-tiba Zhang Hongli berdeham untuk menutupi rasa malunya akibat lawakannya sama sekali tidak lucu.


"Kita akan segera melanjutkan perjalanan!!" lanjut kakek itu yang wajahnya masih memerah karena malu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2