Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 215. Adu Cepat


__ADS_3

Hening. Hanya keheningan saja yang ada dan menemani mereka bertiga setelah terdengar ucapan Lin Tian barusan. Dua orang tua dan muda ini saling pandang dengan intens, mengabaikan seorang gadis cilik yang melanjutkan makannya dengan lahap.


"Paman yang baik, siapa engkau?"


"Pemuda aneh, siapa dirimu?"


Lin Tian tersenyum sampai nampak gigi-giginya. Dia meletakkan tongkatnya di pangkuan dan menjawab singkat, "Aku duluan yang bertanya."


Pria peruh baya itu menghela nafas pasrah dan menepuk-nepuk satu kursi kosongnya, memberi isyarat kepada Lin Tian agar duduk di sana.


Tentu saja Lin Tian paham akan hal ini, maka segera dia bangkit dan beranjak dari tempat duduknya menuju tempat duduk di dekat orang tersebut.


"Yuan Fei, ini anakku Yuan Rouwei."


Mulut Lin Tian membentuk bulat sempurna dan dia mengangguk-angguk. Kemudian kembali tersenyum seraya berkata, "Lin Tian."


"Julukan? Pendekar macam engkau tak mungkin tidak ada orang kenal."


"Tak perlu kau tahu, nanti juga tahu sendiri."


Kembali terjadi keheningan di antara mereka. Yuan Fei memperhatikan anaknya yang masih belum juga menghabiskan makanan. Sedangkan Lin Tian memandang makanan Yuan Rouwei lekat-lekat karena jujur saja perutnya masih lapar.


"Kakak mau?" tanya Yuan Rouwei tiba-tiba sambil menyodorkan sesuap nasi lengkap dengan potongan ayam.


"Kau yakin?"


Yuan Rouwei hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu...terima kasih!" Lin Tian tanpa ragu-ragu segera membuka mulutnya lebar dan melahap makanan itu dari sumpit Rouwei. Melihat ini wajah Rouwei berseri senang.


"Lagi?"


"Terima kasih!" kenbali Lin Tian menerima suapan Rouwei dengan wajah gembira. Selain lucu menggemaskan, perutnya juga menjadi kenyang setelah beberapa kali suapan Rouwei.


"Pemuda, ada apakah kau datang kemari seorang diri? Awalnya aku khawatir saat melihat engkau masuk ke restoran ini, namun melihat kepandaianmu, sepertinya kekhawatiranku hanya kekhawatiran kosong belaka. Hei anak muda, tak tahukah sekarang kau berada dimana?" Yuan Fei yang merasa sebal karena pemuda itu bermain mesra dengan putrinya segera mengirimkan pertanyaan dengan tatapan sungguh-sungguh.


Lin Tian yang baru saja menerima suapan dari Rouwei pun menoleh dan tersenyum simpul.


"Memangnya apa yang akan aku lakukan ada hubungannya dengan paman?"


Orang ini sedikit kaget mendengar jawaban tak sopan itu, namun dia memaklumi karena pengembara-pengembara macam dirinya tidaklah terlalu mementingkan kesopanan dalam bercengkerama.


"Bukan begitu, aku hanya mengingatkanmu jika di wilayah ini adalah tempat kekuasaan Iblis Tiada Banding. Mungkin sebentar lagi teman-teman mereka akan datang memburumu." sambil tangan kanan menunjuk mayat-mayat itu, dia berkata.

__ADS_1


"Kau harus segera pergi dari sini nak..." lanjutnya kemudian.


"Aku sadar dengan apa yang aku lakukan, dan aku tahu jika di sini adalah wilayah Iblis Tiada Banding. Lalu jika aku sudah mengetahui itu semua, kau pikir aku juga tidak akan memperkiraan hal itu?"


"Teman-temannya datang? Untuk apa takut?" Lin Tian berkata acuh dan kembali memakan makanan suapan Rouwei.


"Anak muda, kau sungguh ceroboh. Tak mungkin kau kemari hanya untuk main pukul-pukulan dengan mereka kan?" Yuan Fei menggelengkan kepala perlahan.


"Mana mungkin begitu? Kalaupun memang benar, kau pikir mereka bisa mengalahkanku?"


Yuan Fei menghela nafas berat, terlalu percaya diri anak ini, pikirnya.


"Anak muda, bisa kau beritahu apa tujuanmu datang kemari? Melihat kesaktianmu, itu pasti bukanlah urusan sepele." tanyanya setelah Lin Tian mendapat tiga suapan lagi dari Rouwei sampai makanan di piring gadis cilik itu habis.


"Apa yang bisa membuatku percaya padamu sampai aku harus mengutarakan tujuanku kemari?" Lin Tian mengusap bibirnya yang sedikit berminyak akibat makanan.


Belum juga Yuan Fei menjawab, dari arah luar restoran, terdengar suara-suara seperti beberapa orang yang mengobrol. Dari tempat mereka duduk kebetulan dapat melihat jelas mereka itu ada sepuluh orang Iblis Tiada Banding yang saling bercengkerama.


"Ikut aku!"


"Kemana?"


"Kerumahku!"


Tanpa menunggu jawaban dari Lin Tian, pria ini menggendong anaknya dan dibawanya pergi dari sana dengan kecepatan kilat. Tak lupa pula dia melemparkan satu keping emas ke ruang dalam untuk membayar makanannya.


Sepuluh orang ini memasuki restoran dan melihat Lin Tian dengan heran. Sedangkan pemuda itu malah menghabiskan minumannya dan bangkit pergi dari sana tanpa sepatah kata pun.


Sepuluh orang itu berdiri kaku mamandangi mayat-mayat yang ada di sana. Saking terkejutnya, mereka bahkan tidak menghiraukan pengemis muda yang berjalan keluar tanpa rasa bersalah itu.


Sampai salah satu dari mereka ada yang sadar akan keanehan ini dan berseru keras. "Hei, pengemis itu!"


Serentak mereka menoleh ke belakang dan...


"Hilang...."


"Kemana dia!?"


...****************...


"Bisakah dia mengejarku?" gumam Yuan Fei memandang kearah dimana desa itu berada. Sambil tangan kanannya memondong gadis kecil itu.


Sambil memandangi yang dipandang ayahnya, Rouwei pun berpikir demikian. Dia memang belum terlalu pandai ilmu silat, akan tetapi dia cukup kenal dan paham dengan orang-orang jago silat. Dan menurut pengamatannya tadi, sungguh pun Lin Tian cukup hebat, namun sepertinya belum mampu menandingi ayahnya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, entahlah. Kalau pun dia tertinggal di desa, apa sukarnya menghabisi para kroco itu. Kakak itu tadi sangat kuat." Rouwei berkomentar.


"Oh benarkah?"


"Woah!"


Ayah dan anak ini kaget bukan main ketika mendengar suara orang ketiga yang menyahut. Sontak mereka berseru dan keduanya terperanjat. Karena mendengar suara itu dari atas sana, serentak mereka mendongak untuk menemukan seseorang yang sudah mereka kenal.


"Bagaimana caramu bisa sampai sini?" Yuan Fei bertanya dengan tatapan tak percaya.


"Bagaimana? Bukankah sebagai sesama pendekar, kau juga tahu akan hal itu? Tentu saja dengan ilmu meringankan tubuhku."


"Apa...tapi...kau bahkan lebih cepat dariku!"


"Memang benar..." Lin Tian duduk di salah satu dahan pohon besar dengan kedua kaki bergelantungan.


Dia lantas tersenyum karena melihat Rouwei yang tersenyum lebar dengan mata berbinar penuh kekaguman sesaat setelah keterkejutannya mereda.


"Gadis kecil, kenapa kau tersenyum begitu lebar saat memandangku? Ada apakah dengan diriku?"


Rouwei senyum makin lebar dan dirinya meronta-ronta, memaksa turun dari gendingan ayahnya. Ketika diturunkan oleh ayahnya dan berjalan mendekati pohon tinggi dimana Lin Tian duduk, dia berkata sambil kedua tangan diarahkan ke atas.


"Gendong aku, gendong aku! Aku ingin merasakan seberapa cepat engkau."


Lin Tian tak dapat menahan kekehannya, rambut yang sedikit berkibar tertiup angin dan kulit yang memucat itu menambah ketamapnannya.


"Kau yakin?" tanya Lin Tian.


"Yakin! Yakin! Apakah wajahku terlihat ragu-ragu?"


"Hahahaha....bagaimana paman, bolehkan aku mengabulkan permintaannya?" Lin Tian memandang Yuan Fei dan segera gadis itu menoleh pada ayahnya dengan tatapan memelas dan berharap.


"Ayah, sekali...saja."


Yuan Fei menarik napas berat lalu berkata pasrah. "Baiklah, baiklah...."


Senyum sumringah tercipta di mulut kecil Yuan Rouwei. Ketika dia hendak menoleh ke atas, gerakannya sudah didahului Lin Tian yang melompat turun dan memondongnya.


"Baiklah, ayo berangkat! Paman, kemana arahnya?"


Yuan Fei menunjuk ke salah satu arah sebelum berkata, "Ke sana."


"Ayo!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2