
Sudah hampir sebulan lamanya rombongan Hu Tao ini melakukan penyelidikan di lereng-lereng Pegunungan Tembok Surga. Akan tetapi belum juga mendapatkan hasil baik.
Selama itu, mereka tidak menemukan apapun selain pohon-pohon tinggi besar dan sungai beserta air terjun, atau tak jarang pula menemukan anak sungai dan danau besar.
Entah sudah berapa kalinya mereka naik turun gunung, mendaki bukit sampai memasuki goa-goa. Namun jejak dari pasukan manusia gunung itu sama sekali tidak diketemukan, seolah mereka memang tidak pernah hidup di sana.
"Sebenarnya dimana sih letak mereka? Kita sudah mencari dari lereng Timur hampir ke Tengah, namun belum juga menemukan mereka!" kesal Hu Tao.
"Menurut saya, mereka ada di Timur Pemimpin, karena jika mereka ada di Barat atau di Tengah, tentu mata-mata kita tak akan mampu pulang sampai kediaman dengan keadaan parah total seperti itu." tetua ketiga menyahut.
"Aku juga berpikir seperti itu. Namun hal yang membingungkan aku adalah ketika tujuh Keluarga Penguasa menggempur mereka di Barat daratan. Kalian tentu ingat bukan mereka lari kearah Utara. Apa mungkin markas mereka berada di daerah Barat Pegunungan Tembok Surga ini?"
"Tapi jika memang begitu, mengingat akan lamanya perjalanan dari Timur ke Barat, seharusnya mata-mata kita akan mati kehabisan darah di tengah jalan." tetua ketiga masih mencoba menyampaikan pendapatnya.
"Sudah kubilang, itu yang membingungkanku!!" balas Hu Tao kesal.
"Sudahlah, kita istirahat dulu di sini, kebetulan ada sungai kecil di sana. Besok kita akan kembali ke Timur, kita masuk ke Pegunungan Tembok Surga lebih dalam lagi." Hu Tao menunjuk ke salah satu tempat di bawah mereka. Dari tempat mereka berdiri saat ini yang sedang berada di atas bukit, terlihat di sana memang ada sungai kecil yang jernih sekali airnya.
Rombongan ini segera turun dan menyalakan api unggun, beberapa ada yang pergi mencari makan. Entah itu buah atau ayam hutan maupun kelinci.
Hari sudah senja, tidak patut untuk melakukan perjalanan di malam hari, terlebih di tengah hutan rimba seperti ini. Maka dari itulah Hu Tao memutuskan untuk beristirahat sampai besok.
Ketika malam hari dan semua orang sudah tertidur, menyisakan beberapa orang yang masih terjaga untuk mengawasi sekeliling, Hu Tao duduk termenung di depan api unggun seraya menatap api itu lamat-lamat.
"Pemimpin, lebih baik anda tidur dan istirahat. Biarkan kami yang menjaga." ucap salah satu pasukannya.
Hu Tao tersenyum sebelum berkata, "Tak apa, aku tidak mengantuk."
Pasukan itu menghela nafas panjang, maklum jika pemimpinnya itu adalah tipe orang yang selalu memegang perkataannya. Maka dibujuk pun tak akan mampu. Karena itulah, dia segera kembali ke bawah pohon tempat dimana dia sebelumnya duduk.
Hu Tao kembali termenung dan memandangi api unggun di hadapannya. Memandang api itu yang menari-nari mengikuti desir angin malam.
Sepuluh menit, dua puluh, tiga puluh, hingga satu jam lamanya, Hu Tao duduk diam bagai arca dalam keadaan seperti itu. Namun beberapa menit kemudian, matanya menajam dan refleks kedua belatinya sudah siap di tangan.
"Aaakhhh!!" pekik seseorang di sebelah kiri Hu Tao, ternyata dia adalah salah satu pasukan yang tadi menyarankan Hu Tao untuk tidur.
Teriakan ini juga telah membuat empat orang yang sedang berjaga mencabut senjata masing-masing dan memasang kuda-kuda.
__ADS_1
Pemuda ini terkejut, sebagai seorang sakti, jelas tadi matanya melihat kelebatan sinar putih yang menyambar ke kirinya. Sambaran itu juga telah menimbulkan angin halus yang berhasil membuat tarian api bergerak ke kiri, sedangkan kala itu angin sedang bergerak ke kanan. Tahulah ia bahwa ada sebuah penyerangan gelap.
Maka segera dirinya beranjak berdiri dan berteriak keras, "Semuanya...bangun!!!"
Serentak mereka semua terkejut dan leangsung melompat beridri. Seolah sebelumnya mereka sama sekali tidak pernah tidur, terlihat dari mata mereka yang mencorong tajam memandang waspada ke sekeliling.
Orang yang paling dekat dengan teriakan tadi lekas berjalan mendekat dan melihat kondisi temannya. Namun sayang, nyawanya sudah putus akibat jantungnya tertembus sebatang anak panah.
"Anak panah!! Ada seseorang yang mengintai kita dan menyerang dengan anak panah!!" teriak orang yang mengecek temannya itu kepada seluruh pasukan.
"Persiapkan diri!!" perintah Hu Tao. Sungguh hal inilah yang amat dibencinya ketika dia memutuskan untuk menyelidiki masalah manusia gunung ini.
Mendengar perintah itu, tiga puluh lima orang pasukan Hu itu serentak membalikkan badan dan menghadap hutan. Membentuk formasi lingkaran yang saling melindungi satu sama lain dengan Hu Tao dan dua tetua itu berada di tengah lingkaran.
Sedangkan tetua kedua dan ketiga sudah saling beradu punggung dengan Hu Tao, bersiap menghadapi segala kemungkinan.
"Siapapun kalian, keluarlah!!" teriak Hu Tao lantang. Sepasang belati andalannya sudah tergenggam erat, siap menebas siapa pun juga.
Sebagai jawaban, terdengan desir angin beberapa anak panah yang langsung mengarah ke api unggun. Agaknya para penyerang itu berusaha memadamkan satu-satunya sumber penerangan bagi keluarga Hu.
"Trang-Trang-Trang!!"
Terlihat bunga api berterbangan, dan tujuh batang anak panah jatuh ke bumi.
"Sialan!! Pengecut hina!! Dimana kalian!!" Hu Tao makin emosi.
Tak ada jawaban, hanya suara gemersak semak belukar dan rumput-rumput yang diinjak-injak orang. Menghasilkan suara berisik namun juga mencekam.
Ada lima belas menit mereka terus berada dalam keadaan seperti itu. Berdiri siaga sambil terus mendengarkan suara "krasak-krusuk" dari sekitar tempat itu. Membuat jantung mereka berpacu makin cepat, ketegangan sangat terasa hingga tanpa sadar membuat tubuh mereka mengucurkan keringat sungguhpun udara malam terasa amat dingin.
Tak terkecuali Hu Tao, pemimpin muda ini sedaritadi juga merasakan ketegangan luar biasa. Namun tidak sedikitpun tampak ada rasa takut di matanya. Dengan sikap gagah, dia bersama seluruh pasukan memasang kuda-kuda penuh untuk menghadapi serangan tiba-tiba.
Hingga kembali dua puluh menit berlalu dan masih belum ada perubahan. Sampai Hu Tao berinisiatif meloncat ke depan dan menebaskan belatinya yang berantai itu. Sehingga tebasan itu mampu mencapai jarak jauh.
"Aakhh!!" terdengar pekik tertahan di antara semak belukar. Begitu Hu Tao meraih kembali belatinya, dia melihat ada noda darah di atas bilah senjatanya.
"Berhenti main kucing-kucingan!! Cepat keluar dan hadapi kami!!" Hu Tao benar-benar sudah hilang sabar saat ini.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, terdengar gelak tawa yang sangat mengerikan.
"Hahahaha....hahahaha!!"
Sontak hal ini membuat pasukan Hu Tao terkejut dan makin bersiaga.
"Betapa lucunya!! Kau yang bertamu bukannya datang baik-baik, malah mengajak kita berkelahi. Pakai mengacung-acungkan senjata pula, hahahaha sungguh arogan!!" ucap suara misterius itu.
Detik berikutnya, berturut-turut muncul cahaya-cahaya merah di sekeliling mereka. Makin lama makin banyak, entah berapa itu. Namun pasukan Hu sadar, mereka sudah terkepung musuh.
Hu Tao memandang ke segala arah, kemudian mengerahkan tenaga dalam pada suaranya sampai membuat pohon-pohon sedikit gemetar.
"Siapa pun adanya dirimu atau kalian, kami datang ke sini untuk menumpas pengganggu-pengganggu kekaisaran Chu, yaitu para manusia gunung. Jika kalian memang manusia gunung yang kami maksud, maka keluarlah dan kita selesaikan malam ini juga!! Dasar para pengacau, kalian tak pantas menetap di tempat bersih seperti Pegunungan Tembok Surga ini!!"
"Hahaha memang benar kami adalah kelompok orang yang kau maksudkan itu. Tapi, tempat bersih? Apa maksudmu?"
"Pegunungan ini dari dulu selalu dianggap bersih dan suci!! Tak pernah ada manusia yang berani membangun pemukiman di pegunungan keramat ini. Kalaupun ada manusia, tentu dia seorang suci pula seperti pertapa-pertapa atau para pendekar sakti yang lelah dengan urusan dunia dan mengasingkan diri. Atau bisa juga para pedagang yang hanya lewat-lewat saja tanpa pernah berani mengusik ketenangan pegunungan. Namun kalian, berani sekali menetap di sini untuk membangun pemukiman, sejak kapan kalian berada di sini!??" bentak Hu Tao marah.
"Hahah, kami sudah bertahun-tahun berada di sini dan pegunungan ini sudah kami anggap sebagai rumah!! Lantas mengapa orang-orang keluarga Hu datang secara tidak sopan dan tak beradap sama sekali? Bukankah hal itu mampu mencoreng kehormatan daripada Keluarga Penguasa yang disegani semua orang?" jawab suara misterius tersebut.
Hu Tao mendecih, diam-diam dia sudah menduga siapa adanya orang tersebut.
Terdengar di sebelahnya tetua kedua berbisik, "Hati-hati Tuan, boleh jadi dia ini yang dijuluki sebagai Naga Emas."
Hu Tao mengangguk, memang itulah yang telah diduganya daritadi.
"Sudah, tak usah banyak basa-basi!! Aku sangat membenci ini, namun jika memang jalur kekerasan yang kalian inginkan, maka akan kami sanggupi!!" Hu Tao berkata tegas.
Dia juga tak pernah menyangka jika saat ini mereka semua berhasil dijebak pasukan manusia gunung itu. Tujuan awal yang hanya ingin pergi menyrlidik, tetapi sekarang malah harus dihadapkan dengan pertempuran mati-matian.
"Hahaha, mau tidak mau, sanggup tidak sanggup, kami tetap akan membasmi kalian semua!!!" setelah berkata kemudian, suara ini kemudian berkata dengan bahasa yang aneh. Setelah itu berbondong-bondong pasukan manusia gunung itu menyerbu. Bahkan ada juga yang menembakkan anak panah dalam jumlah yang tidak sedikit.
"Seraaaangg!!" perintah Hu Tao dibarengi dengan lesatan tubuhnya yang segera menyambut penyerangan lawan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1