
Malam semakin larut. semua penghuni sudah ke kamar masing-masing, tak lagi terdengar riuh keramaian para santri seperti biasa semua tempat dan sudut sudah sangat sunyi.
Namun berbeda dengan Akhsan dan Ikhsan, keduanya masih terduduk di luar pendopo mereka dengan secangkir kopi yang ada di tangan mereka masing-masing.
" Udah sepi " ucap Akhsan lalu kembali menyeruput kopinya.
Ikhsan hanya mengangguk membenarkan semuanya memang nampak sepi hanya terdengar suara hewan malam yang terus menyerukan nyanyian yang indah.
Setelah mendapatkan peringatan dari Rico dua hari yang lalu keduanya menjadi lebih waspada jangan sampai mereka berdua lengah dan ada penyusup yang masuk dan melakukan kejahatan pada keluarga mereka.
Mulut Ikhsan menguap matanya juga sudah memerah karena kantuk nya meskipun sudah meminum kopi ngantuk tetap lah ngantuk dan hanya tidurlah yang menjadi obat paling mujarab untuk nya.
" Tidur yuk Bang " ajak Ikhsan yang benar-benar sudah tak dapat menahan matanya.
" Hm " Akhsan mengangguk, dia juga sama sudah ngantuk berat.
keduanya langsung beranjak dan masuk, menutup pintu dan tak lupa mengunci nya demi keamanan, mereka pun pergi ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh nya yang lelah.
🌾🌾🌾🌾🌾
Dua gadis kecil dengan penampilan ala santri perlahan-lahan turun dari mobil yang mengantarkan mereka berdua.
keduanya terus celingukan mengamati semua tempat barang kali masih ada yang terjaga meskipun ini sudah sangat larut malam.
" pak Jon makasih. Tapi tetap pak Jon harus di sini nungguin kita berdua. " seru gadis yang lebih kecil.
" benar pak Jon, awas kalau sampai kabur" imbuh gadis yang lain nya.
Untung mereka berdua adalah gadis yang cerdas kalau tidak mereka hanya akan kebingungan bagaimana untuk bisa masuk ke sana.
Satu bulatan besi kecil ada di tangan Aisyah, dengan begitu banyak kunci yang sudah dia kasih tanda untuk pintu di mana saja.
klik...
Pintu gerbang berhasil terbuka, keduanya kembali berjalan dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri.
" Tak ku sangka kita akan masuk ke rumah sendiri seperti seorang pencuri " lirih Shelvia dengan tangan membawa kantong kresek yang entah apa isinya, yang pasti itu dia beli sebelum mereka datang ke sana dan katanya khusus untuk Mama nya, Airin.
" Seperti nya apa yang di katakan Abang Rico itu benar, seharusnya aku pulang dan memberitahu mereka semua jadi aku nggak perlu datang seperti seorang maling kayak gini"Batin Aisyah membenarkan nasehat Rico beberapa hari yang lalu.
" Hati-hati Kak " bisik Aisyah sembari menoleh ke belakang ke arah Shelvia.
" iya, aku juga tau" sinis Shelvia.
Tujuan utama bukanlah kamar Aisyah melainkan kamar di mana Airin berada dan untungnya Shelvia dapat kabar kalau Papa nya ada jam malam di rumah sakit jadi dia bisa bebas bertemu dengan Mama nya.
Baru saja masuk di pendopo Opa nya, tanpa sengaja Aisyah menyenggol kursi maklum sinar yang terbatas jadi tidak lihat.
Brakkk....
Suara terdengar begitu keras mereka berdua langsung bersembunyi takut ada yang datang dan memergoki mereka berdua.
Clikkk...
Pintu kamar sang Opa terbuka, sebuah tangan menyalakan lampu untuk menerangi tempat itu.
" Tak ada orang " gumam Fahmi matanya terus mengelilingi tempat itu namun nampak nya tak ada orang.
" Mungkin hanya tikus " gumam nya lagi dan kembali mematikan lampu dan masuk ke kamar nya lagi.
Aisyah dan Shelvia bernafas lega akhirnya mereka tidak ketahuan. " makanya hati-hati " ucapan Shelvia sedikit menekankan pada Aisyah yang ceroboh.
Aisyah hanya meringis tanpa dosa. " Hehehe,, maaf Kak, nggak sengaja kok sungguh " jawab Aisyah. " yuk kak, mumpung Om David belum pulang " ajak Aisyah.
__ADS_1
Pintu kamar Airin terbuka oleh tangan Aisyah dan kembali tertutup setelah keduanya masuk.
" Assalamu'alaikum," ucap keduanya mengucapkan salam.
Air mata Shelvia luruh di hadapan Airin yang berbaring dengan mata terpejam dan terdapat selang infus yang tertempel di tangan nya.
Langkah nya gontai, seakan tak ada tenaga melihat Airin yang terlihat sangat kurus dengan mata yang bengkak karena terus menangis.
Shelvia ambruk di lantai dengan duduk dan pas di sisi kaki Airin yang tertutup dengan selimut.
" Ma" lirih Shelvia tak sanggup lagi untuk menahan air mata nya dan di biarkan berjatuhan bebas begitu saja. " maafkan Shelvia, Ma"
Shelvia setengah berdiri, menompang tubuh nya dengan lutut. Shelvia memeluk kaki Airin membuka sedikit selimut nya dan mencium kaki Airin seraya meminta ampun atas apa yang dia dan Aisyah lakukan dan membuat Mama nya menjadi menderita seperti ini.
Hiks hiks hiks...
Tangis begitu pecah dari mata Shelvia menyesali semua yang telah terjadi.
" maafkan Shelvia, Ma. Shelvia janji tidak akan pergi lagi, Shelvia janji" ucapnya di sela-sela tangis.
Aisyah pun sama air mata nya juga berjatuhan karena menyesali keputusannya. Seandainya dia tidak terlalu gegabah mungkin Aunty Airin nya tidak akan semenderita seperti sekarang.
" Maafkan Aisyah, Aunty. maaf " ucapnya duduk di ranjang Airin dan mengelus kaki Airin yang masih memejamkan mata.
Shelvia menggeser lebih ke atas, memeluk tubuh kurus Airin dengan terus sesenggukan lalu membelai pipi Airin dengan lembut " Ma, Shelvia pulang. Mama harus bangun dan juga harus cepat sembuh " ucapnya.
Shelvia kembali memeluk Airin memiringkan wajahnya di dada Airin " Ma, maafin Shelvia. Mama bangun " ucapnya.
Airin menggeliat. Merasakan ada seseorang yang memeluk nya dan membuat bajunya basah karena air mata Shelvia.
Tangan nya perlahan terangkat memastikan yang ia dengar itu tidak salah, Airin mengelus kepala Shelvia dengan pelan namun matanya belum juga terbuka masih mengira bahwa semua itu adalah mimpi.
" Ma" kepala Shelvia terangkat mengambil tangan Airin dan mencium nya berulang-ulang. " Ma, bangun. Shelvia sudah pulang " ucapnya.
" Ma,, ""
Air mata Shelvia semakin deras dengan kepala terus menggeleng, mengisyaratkan bahwa ini bukan mimpi.
" Kenapa kau hanya hadir di mimpi Mama Via. kapan kamu akan pulang "'ucapnya yang masih tak percaya.
Hati Shelvia begitu sakit, bahkan Mama nya hanya mengira ini semua hanya mimpi belaka.
" Ma, Mama tidak mimpi. Shelvia beneran pulang, Ma" ucap Shelvia meyakinkan dan kembali mencium tangan Airin lalu membelai pipi nya juga. " Ma. Hiks hiks hiks...
Airin masih tak percaya dan hampir memejamkan matanya lagi. namun Shelvia kembali memeluk Airin dan menangis sejadi-jadinya di atas dada Airin.
" Ma-ma...
Mendengarkan semuanya yang seakan nyata, Airin memberanikan diri kembali membuka matanya menatap kepala Shelvia yang masih setia di dadanya dengan tangis yang sesenggukan.
" Shel-vi-a.... " lirih Airin dengan gugup juga.
" Ma,! " Shelvia kembali mengangkat tubuhnya menatap Airin yang terus menatap nya dengan penuh keraguan.
" Shelvia " panggil Airin dan shelvia mengangguk. Tangan Airin memastikan nya memegang pipi anak tunggal nya itu untuk memantapkan hatinya. " kamu benaran sudah pulang, Nak. " tanya Airin dan Shelvia kembali mengangguk dengan tangis.
Sesekali Shelvia mengusap air matanya yang membasahi pipi nya, berusaha tersenyum dan menguatkan hatinya di depan Mama nya.
" Shelvia " Airin berusaha bangun dari tidur nya dengan sigap Shelvia dan Aisyah membantunya. " Shelvia " Airin langsung memeluk anaknya itu dengan tangis yang tak terbendung lagi.
" kamu dari mana, Nak. kenapa kamu tinggalin Mama " ucap Airin.
Pertemuan yang begitu mengharu biru untuk mereka. kamar yang tadinya kering kini terasa basah karena air mata mereka bertiga.
__ADS_1
Airin melepaskan pelukan nya dan beralih menangkup wajah Shelvia dan meratakan ciuman di wajahnya.
" Mama, maafin Shelvia. Shelvia bersalah sama Mama, dan membuat Mama menjadi sakit begini, maafkan Shelvia "
Airin mengusap air mata Shelvia, dan kembali memeluk dan menciumnya.
" sudah sudah, yang penting Shelvia udah pulang kan untuk Mama. dan Shelvia tidak akan pergi lagi kan? " tanya Airin.
Miris. Shelvia tak bisa mewujudkan keinginan Mama nya untuk sekarang, karena dia harus pergi lagi setelah ini untuk menuntaskan segala tujuan nya.
" Coba Mama lihat, Shelvia bawain makanan kesukaan Mama. "' Shelvia membuka kantong kresek dan mengeluarkan wadah yang terbuat dari styrofoam yang berbentuk kotak kecil, mengganti pembicaraan nya untuk sebentar.
" Mama harus makan, ini Shelvia khusus belikan buat Mama " Shelvia begitu antusias dan secepatnya menyendokkan makanan itu dan menyuapi Airin.
Tanpa kata-kata Airin langsung menerima suapan demi suapan dari Shelvia masih dengan sesekali air mata kebahagiaan nya jatuh karena bisa melihat anak nya lagi.
Shelvia juga sudah menyediakan minum air putih botol sekaligus tadi, jadi nggak perlu pergi ke dapur untuk mengambil minum.
" Alhamdulillah " Syukur Shelvia panjatkan setelah Airin menghabiskan makanan nya dengan ia suapi. Shelvia pun mengambilkan obat yang sudah David sediakan sebelum berangkat di rumah sakit yang ia letakkan di atas nakas" Ma, obatnya "
Obat pun langsung di minum oleh Airin, dan dengan telaten Shelvia melayani Airin. " Mama udah kenyang? " tanya nya dan Airin hanya mengangguk.
" Sebenarnya kalian pergi ke mana? " tanya Airin dengan suara yang masih lemas.
" Ma, kemanapun kami pergi itu demi kebaikan semuanya, dan apapun yang kami lakukan itu juga demi kebaikan jadi Mama jangan sedih lagi ya. Mama harus sehat, setelah semuanya selesai Shelvia akan pulang dan kita bisa berkumpul dengan Mama dan semuanya " terang Shelvia.
Airin kembali bersedih, benarkah dia akan berpisah lagi dengan anaknya? " kalian mau kemana lagi? apa kamu tega ninggalin Mama, Via." ucap Airin ngilu.
" tunggu beberapa hari lagi Ma, Shelvia janji akan pulang secepatnya. Shelvia boleh minta tolong sama Mama? " tanya Shelvia.
Airin terdiam, pertolongan apa yang bisa dia lakukan untuk anak dan keponakannya itu?
" Ma, tolong rahasiakan semua ini ya, Ma. jangan bilang pada siapapun kalau Via dan Aisyah pulang jenguk Mama. " ucap Shelvia memohon " Dan, setelah ini Mama harus semangat untuk sembuh untuk Via. Via nggak mau kalau saat Via pulang Mama masih sakit. pokoknya di hari itu Via mau Mama sendiri yang menjemput Via di depan pintu " imbuh Shelvia begitu panjang.
Airin tau sekarang. Ada hal yang memang mereka harus lakukan dan harus secepatnya mereka berdua selesaikan, meskipun Airin tidak tau pasti apa tujuan mereka sebenarnya seenggaknya dia sudah tau kalau Shelvia dan Aisyah masih hidup dan sedang ada misi sama seperti apa yang selalu dia lakukan dulu.
Airin mengangguk mengerti, dan kembali memeluk Shelvia dengan sangat erat " selesaikan misi kalian secepatnya, Mama akan doakan semoga kalian berhasil "ucap Airin.
" Aunty, maafin Aisyah ya, sebenarnya ini adalah inisiatif dari Aisyah." ucap Aisyah begitu menyesal.
" Hm. " Airin mengangguk, merentangkan satu tangan nya meminta Aisyah masuk ke pelukan nya juga sama seperti Shelvia. " Aunty sudah maafkan Aisyah. besok-besok kalau ada misi lagi ajak-ajak Aunty juga ya. "
" Iya, Aunty " jawab Aisyah dan memeluk Airin sangat erat.
" Mama istirahat ya, kami harus pergi. ingat Mama harus sehat Shelvia akan selalu hubungi Mama " ucap Shelvia.
" benar ya. " mata Airin kembali berkaca-kaca dengan kata pamit yang Shelvia lontarkan, belum juga puas bersama nya sekarang sudah mau pergi lagi." ingat jangan lama-lama. "
" iya Ma, kalau Papa masuk malam lagi Shelvia akan datang, "
" emang kenapa?
" karena Papa selalu tidak bisa jaga rahasia, jadi Via nggak mau sampai itu terjadi. lagian beberapa hari lagi Papa ulang tahun anggap saja sebagai surprise buat Papa " jawab Shelvia.
" baiklah, semoga kalian berhasil. Hati-hati dalam setiap langkah, jangan sampai kalian salah jalan "
" Iya Ma, "
" Iya Aunty. "
keduanya pergi setelah menyalami tangan Airin dan mencium punggung tangan nya dan mendapatkan pelukan hangat dari Airin sebelum mereka pergi.
" Makasih ya Allah, kau telah mengembalikan mereka untuk ku. Jaga mereka dimana mereka berada, dan berikan lah keberhasilan dari semua yang menjadi tujuan mereka berdua, Amin. " ucap Airin dalam doa.
__ADS_1
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾