
Happy Reading...
____________________
Pukul 20:00...
Akhsan terbangun dari tidurnya yang begitu nyenyak, pergulatan mereka berdua begitu bergairah membuat mereka sangat lelah. Mereka hanya bangun untuk mandi dan sholat dan setelah itu mereka tidur lagi hingga sekarang mereka juga tidur dan kini dia bangun karena mereka juga belum melakukan sholat isya.
Akhsan duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang nya, membeli lembut pipi Kairi yang msih terlelap, Akhsan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Kairi lalu tersenyum bahagia menatap wanitanya.
Akhsan membungkuk, mengecup kening Kairi dan membangunkan perlahan dan dengan suara yang sangat pelan.
" Sayang, bangun yuk sholat isya dulu " ucapan Akhsan yang begitu pelan langsung membuat Kairi menggeliat.
Mata Kairi langsung terbuka dengan pelan, sayu-sayu dia langsung mendapati wajah sang suami yang begitu dekat dengan wajahnya. Kairi tersenyum dia juga mengangguk dan mulai bangun dengan pelan.
Sontak Akhsan langsung membantu nya, memudahkan Kairi untuk bisa duduk.
"Terima kasih, Mas " ucap Kairi pelan.
Kairi hendak turun dari ranjang namun Akhsan menghentikannya dengan menarik lengan nya. " ada apa? apa Mas masih menginginkannya? " tanya Kairi yang sudah kembali menatap Akhsan.
Akhsan menggeleng pelan, seandainya dia mau pun dia tak mungkin memintanya lagi, dia juga kasian jika terus membuat Kairi kelelahan karena kini Kairi tak hanya harus menjaga dirinya namun juga ada calon anak mereka yang harus di jaga juga.
" terus? " Kairi di buat bingung karena Akhsan masih enggan untuk melepaskan tangannya.
Akhsan menggeser duduknya semakin dekat dia langsung merengkuh tubuh Kairi dan memeluknya, membawanya ke dekapan nya yang begitu menenangkan untuk Kairi dan juga untuk dirinya sendiri.
Akhsan menghujani puncak kepala Kairi, dia merasa sangat egois karena dia seperti nya terlalu mementingkan keinginan nya sendiri tanpa memikirkan Kairi yang sedang mengandung anak nya.
" apa kamu kelelahan? " tanya Akhsan, kalau kamu kelelahan Mas tidak akan memintanya lagi sebelum kamu melahirkan. Mas tidak ingin kamu merasa tertekan karena Mas " ucap Akhsan.
" tidak, kenapa Mas berfikir seperti itu. Lagian Kairi mengizinkan nya dan Kairi juga tidak keberatan sama sekali. " jawab Kairi.
" apa kamu benar-benar tidak tertekan? " tanya Akhsan yang benar-benar takut.
Kairi melepaskan diri dari pelukan Akhsan, menggenggam tangan Akhsan dan menatapnya.
" Mas jangan pernah merasa seperti demikian ya, Kairi benar-benar tidak apa-apa lagian kita melakukannya juga dengan pelan kan dan dokter pun juga tidak melarangnya. Orang hamil bukan berarti tidak boleh melakukan itu kan Mas, asal kita melakukannya dengan pelan itu tidak akan menyakiti siapapun, iya kan " jawab Kairi.
Akhsan lega mendengar itu, memang dokter juga tidak melarangnya Akhsan hanya sedikit takut saja kalau Kairi berfikir yang berbeda dengan itu.
" Terima kasih, " Akhsan mengangkat tangannya dan tangan Kairi yang saling menyatu mengecupnya berulang-ulang Akhsan sangat lega sekarang.
" hem.. " angguk Kairi.
" berarti Mas masih tetap boleh memintanya kan kapanpun juga? " tanya Akhsan dan Kairi mengangguk malu. " Alhamdulillah, ya sudah sekarang kita sholat dulu, Ikhsan dan Fatma pasti sudah nungguin kita " ajaknya.
🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
Ikhsan, Fatma juga Aira duduk berkumpul di ruang tengah menunggu kedatangan Akhsan dan juga Kairi yang entah sedang apa mereka sekarang. Rumah mereka berdua berhimpitan tak mungkin Akhsan dan juga Kairi bisa selama itu untuk bisa kembali lagi ke sana.
Perut mereka sudah terus keroncong, cacing-cacing pada berdemo minta jatah mereka untuk makan. Tapi mereka tetap menunggu keduanya yang katanya akan makan malam bersama di sana.
Ikhsan terus. enakan pintu masuk, berharap Akhsan dan Kairi akan segera datang dan mereka bisa makan malam sekarang juga.
" Bi! Bi Siti! " panggil Ikhsan.
Dengan tergopoh-gopoh Bi Siti datang dan langsung menghadap Ikhsan yang telah memanggilnya. " iya Tuan" jawab Bi Siti.
" Bi. Tolong Bi Siti pergi ke rumah Abang dan bilang kami semua sudah menunggu untuk makan malam. Dan mintalah untuk cepat kami semua sudah kelaparan " ujar Ikhsan.
" Baik, Tuan. "
Bi Siti berjalan dengan cepat dari sana dan melangkah menuju pintu untuk segera memanggil Akhsan dan juga Kairi sesuai dengan permintaan ikhsan.
Tangan Bi Siti sudah berhasil memegang handle pintu menekannya dan secepatnya membukanya, tapi di saat pintu terbuka Bi Siti terkejut karena ternyata ada Akhsan yang juga ingin masuk bersama Kairi.
" Assalamu'alaikum, Bi. " sapa Akhsan.
" Wa'alaikumsalam, Tuan. Silahkan masuk, Tuan sudah di tunggu sedari tadi " jawab Bi Siti.
Akhsan dan Kairi masuk dengan ada sedikit rasa bersalah, mereka tidak akan semalam ini jika mereka tidak menjajal kasur mereka terlebih dahulu. Dan membuat mereka kelelahan hingga akhirnya mereka terus tertidur.
Akhsan dan Kairi masuk dengan bergandengan, mereka benar-benar tak ingin berjarak sedikit pun.
" Assalamu'alaikum, Dek " sapa Akhsan.
" maaf Dek. Biasa ketiduran. " jawab nya dengan santai. " sekalian nyoba kasur baru " Akhsan terkekeh mengatakan itu.
Ikhsan mengernyit namun tidak berangsur lama karena dia langsung paham apa yang di maksud oleh Akhsan. Ikhsan menggeleng, namun matanya menatap Aira yang seperti nya diam karena tak tau apa maksudnya.
" syukurlah " gumamnya lega.
Tapi tidak dengan Fatma, dia yang langsung tau apa maksudnya pipinya langsung memerah Akhsan yang mengatakan tapi Fatma yang merasa malu. Sedangkan Kairi dia juga malu dan terus menundukkan wajah nya menyembunyikan tomat rebus yang begitu merah.
" sudah, yuk makan sekarang! Fatma udah kelaparan. Cacing udah pada demo" ajak Fatma.
Semuanya mengangguk, mereka berjalan saling beriringan menuju meja makan yang sudah tersaji begitu banyak menu makan malam buatan Bi Siti dan juga Fatma yang membantunya.
Semuanya tampak menikmati makan malam ini, perut yang sama-sama kelaparan membuat mereka semua lebih lahap dalam makannya. Apalagi Fatma, dia yang paling lahap.
" Akhirnya makan juga " celetuk Fatma.
" Hati-hati Fatma nanti tersedak. " seru Ikhsan.
Fatma meringis mantap Ikhsan, dia sudah terbiasa makan banyak, tak seperti yang lain yang makan nya sedikit dan terkesan malu-malu. " jangan heran ya kak, Fatma makanya banyak soalnya lagi masa pertumbuhan " celetuknya lagi dan menghasilkan gelak tawa dari semuanya.
" lagi masa pubertas gitu ya? " ucap Kairi menimpali.
__ADS_1
" iya Kak, kata Mas Ikhsan aku harus makan yang banyak, kalau tidak nanti nggak akan tumbuh besar " jawab Fatma.
" apanya yang besar, Dek? " tanya Akhsan mengarah ke Ikhsan.
" tau? " jawab Ikhsan acuh.
" jangan mudah di tipu oleh suami mu, Fatma. Dia mengatakan itu supaya kamu kuat. Sebenarnya yang bisa bikin kamu cepat besar itu bukan makanan, tapi suamimu sendiri. Minta aja di tiup tiap malam di jamin langsung besar, percaya deh. " goda Akhsan.
" emangnya balon di tiup! " kesal Ikhsan.
" ya bayangan aja seperti itu. Fatma balonnya kamu pompa nya. Balon cepat besar kan tergantung sama pompa nya, hahaha..!! " tawa Akhsan keras.
" Bang! ada anak kecil " Ikhsan menoleh ke arah Aira yang kini ikutan tersenyum dan seperti nya mulai paham apa yang mereka bicarakan.
" ups.. sorry Aira. " Akhsan langsung tutup mulut setelah itu namun dia masih tak kuasa menahan tawa nya dan selalu terkikik di balik telapak tangan nya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Sudah hampir satu setengah bulan kepergian sang Opa, namun Atau masih belum juga dapat di hubungi. Semua keluarga nampak bingung mereka terus menghubungi pihak sekolah dan pihak asrama namun semua akses sepertinya tertutup begitu saja.
Bukan hanya Aisyah saja yang tidak bisa di hubungi tapi juga Faisal. Rayyan sadar mungkin Aisyah memang memblokir akses nya karena dia masih kesal dan marah padanya, tapi kalau Faisal? Faisal tidak ada hubungannya dengan kekesalan Aisyah kan? nggak mungkin juga Faisal juga ikutan kesal seperti Aisyah.
Bukan hanya Rayyan saja yang terus berusaha untuk menghubungi mereka berdua, ada Keisha dan juga semua tapi tetap saja tidak bisa semua merasa sangat frustasi.
Biar bagaimanapun mereka tetap harus tau akan kejadian yang menimpa opa mereka.
" Aisyah, kamu dimana sih Nak? " bingung Keisha.
" Mama yang sabar, Aisyah dan Faisal pasti akan segera bisa di hubungi. Seandainya tidak bisa entah Akhsan atau Ikhsan mereka harus datang ke sana dan memberi tahu semuanya " jawab Rayyan.
" Papa benar " jawab Keisha.
Sama seperti Rayyan dan juga Keisha, Saat ini Shelvia yang berada di lain tempat tengah berdiri di depan rumah orang tuanya, memegangi ponsel dan terus menghubungi nomor Aisyah.
" Ihh Aisyah kalau lagi marah mengerikan! semua nomor dia blokir, apa dia bener-bener tidak mau berhubungan lagi dengan semua keluarga nya? lagian dia marah sama paman Ray, kenapa aku juga di bawa-bawa? awas kamu ya Syah! aku aku bikin pergedel kalau ketemu lagi! " sungut Shelvia dengan sangat kesal.
Melihat anak tunggal nya marah-marah di depan rumah David keluar dan langsung merangkulnya.
" princess Papa kenapa nih? " tanya David.
" itu Pa! Via sangat kesal dengan Aisyah! dia juga blokir nomor ku Pa. Pa, hem.... bagaimana kalau Shelvia nyusul Aisyah juga! Via bosen di sini tanpa ada Aisyah! " seru Shelvia.
" sekarang kita masuk, dan bicarakan semua itu pada Mama. Kalau Mama setuju kenapa tidak, yuk " David merangkul Shelvia dengan lembut dan menuntun nya untuk masuk ke dalam rumah.
___
Bersambung...
_____
__ADS_1
🌾🌾🌾🌾🌾🌾