
Fatma membuka matanya perlahan. Sekujur tubuhnya terasa sangat sesak dan juga sangat sakit. Fatma hendak menarik tangan nya untuk mengusap keringat yang terus mengalir membasahi pipinya namun ternyata tidak bisa.
" ada apa ini? " Fatma terus mencoba nya namun ternyata tak semudah itu karena tangan Fatma di ikat di belakang kursi kayu yang ia duduki.
" ihh.. ihh.. " Fatma terus berusaha menarik nya dengan sekuat tenaga nya dan juga dengan sangat kesusahan, namun itu malah semakin membuat dirinya kesakitan.
Fatma menghentikan nya saat dia sudah tak kuat lagi karena ikatan nya malah semakin kuat dan seperti nya telah melukai tangan nya.
Fatma mengedarkan pandangan nya, menatap sekeliling tempat yang seperti nya adalah sebuah gudang tua yang sudah lama tak terpakai.
" siapa yang melakukan ini padaku? Mas Ikhsan pasti sangat khawatir. Bagaimana pun caranya aku harus bisa terlepas dari sini dan segera pulang. "
Fatma kembali berusaha untuk bisa terlepas dari kursi itu, bukan hanya tangan nya saja namun Kakinya juga di ikat, untung saja mulutnya tidak di tutup juga jadi dia bisa sedikit lega meskipun dia tak bisa berteriak.
Fatma berkali-kali menoleh mencari sesuatu yang mungkin bisa membantunya.' Brak.... Brak.... ' Fatma terus menggoyangkan kursi dan tubuh nya berharap akan bisa terlepas dengan mudah.
" susah banget sih " ucap Fatma dengan kesal.
'Brakk... Brakk.....
" suara apa itu! " terdengar suara teriakan dari luar pintu saat mendengarkan suara kursi yang Fatma gerakkan.
Orang itu dengan cepat membuka pintu dan melihat tawanan nya.
" Gawat " batin Fatma. Fatma kembali menutup matanya menyandarkan Kepalanya seolah-olah dia masih belum sadarkan diri.
" tidak ada apapun " orang itu begitu bingung, tidak ada apapun yang disana yang berpindah tempat, bahkan Fatma yang dia ikat masih tak sadarkan diri, pikirnya.
Orang itu menggeleng lalu kembali keluar.
" ada apa? " tanya salah satu dari teman nya.
Orang itu menaikan kedua bahunya dan juga menyunggingkan bibirnya dengan acuh, lalu melewati teman nya itu dan kembali duduk.
Sedangkan teman nya yang tadi masuk ke ruangan di mana Fatma di sekap karena dia sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi. " Tidak ada apa-apa? " gumamnya lalu kembali keluar dan tak lupa menutup pintu dan menguncinya.
Fatma bernafas lega akhirnya usahanya yang belum juga membuahkan hasil tidak di ketahui oleh kedua orang yang menjaganya nya di luar ruangan, atau kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada nya.
Fatma kembali mencari akal, bagaimana dia bisa terlepas dari ikatan itu dan bisa keluar dari ana tanpa di ketahui oleh kedua orang itu.
Fatma kembali mengedarkan pandangan nya menatap sekitar. " aku harus bisa lepas dan keluar dadu sini bagaimana pun caranya? " gumam Fatma.
Fatma melihat ada kaca yang bersandar di dinding, dengan itu lah Fatma bisa terlepas dari ikatan itu.
Fatma mengangkat kursi itu dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk dan mulai mendekati kaca depan kaki yang bergerak sangat pelan.
" susah banget sih?, tapi aku harus tetap bisa. Aku harus semangat "
Meskipun hanya pergerakan kecil namun Fatma akhirnya bisa sampai juga di tempat kaca itu berada. Sejenak Fatma istirahat untuk bernafas panjang sebelum dia kembali berusaha untuk yang lebih keras lagi.
__ADS_1
" aku harus bisa " ucapnya yang entah ke sekian kali nya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Penculikan Fatma sudah terdengar oleh semua anggota keluarga nya yang ada di rumah, semuanya begitu khawatir dengan keselamatan nya. Meskipun Ikhsan sudah menjanjikan bahwa akan membawa pulang Fatma dengan keadaan baik-baik saja namun naluri keluarga tidak bisa di anggap begitu enteng.
Semuanya tampak gelisah memikirkan Fatma yang sekarang entah dimana dia berada entah bagaimana keadaan nya juga.
Keisha tiada henti mondar-mandir dengan jari-jari ya saling bertaut. " Kamu dimana sih, Fatma. Cepat lah pulang jangan buat semuanya khawatir. " gumam Keisha.
" Tenang lah, Kei. Fatma pasti akan baik-baik saja. " seru Tasya yang duduk tak jauh di sana yang tak mampu berdiri untuk berlama-lama karena usianya yang tak pagi muda.
" aku sangat khawatir, Bunda. " Keisha menoleh dan berjalan lalu bergabung duduk di sebelah Tasya. " kenapa selalu ada-ada saja masalah yang menimpa keluarga kita, Bunda. "
Tasya terdiam. Dia merasa semua yang terjadi hingga sekarang adalah kesalahan nya, kalau saja dulu dia adalah orang yang baik mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi pada anak dan cucunya.
Melihat Tasya yang terdiam membuat Keisha merasa tak enak hati. Tak ada maksud untuk membuat nya sedih Keisha hanya berkata dengan asal tadi.
" bun-bunda. Maaf. " lirih Keisha dengan menyesal.
" kamu tidak salah, Kei. Semua ini mungkin memang ada sangkut pautnya dengan masa lalu Bunda. " jawab Tasya.
Sementara Rayyan yang baru saja masuk dia langsung duduk dengan wajah yang tak bisa adik artikan, entah marah atau apa tak ada yang tau lebih jelas nya selain dirinya sendiri.
Rayyan membungkuk memijat kepalanya dengan kedua tangan nya, dia sangat bingung dengan kejadian yang terjadi hari-hari ini.
Rayyan mendongak menatap Tasya, " belum" jawab nya dengan singkat.
" bagaimana ini Bunda. " tanya Keisha yang semakin khawatir.
" kamu tenang, semuanya pasti akan baik-baik saja. " jawab Tasya.
Rayyan kembali menghubungi Ikhsan namun tidak ada di angkat sama sekali. Kemudian Rayyan menghubungi Akhsan untuk membantu adiknya yang kini sedang ada masalah.
" Assalamu'alaikum, Pa. " Jawa Akhsan dari seberang.
" Wa'alaikumsalam. Akhsan, kamu dimana? tolong bantu Ikhsan mencari Fatma, Fatma di culik " ucap Rayyan.
" diculik? " terkejut Akhsan. " baik Pa. Akhsan akan pergi sekarang. Assalamu'alaikum. " imbuh Akhsan dengan tergesa-gesa lalu menutup telfon nya.
" Wa'alaikumsalam. " jawab Rayyan.
Do depan pintu terlihat Aira yang sudah meneteskan air mata saat mendengar bahwa kakak nya di culik. Aira sangat takut.
" kakak di culik? " lirih nya.
" aku harus bagaimana? apakah aku harus mencari Kak Fatma? tapi..... " ucapan Aira terhenti karena ada yang menyentuh bahunya dari belakang. Aira pun langsung kaget dan menoleh dengan cepat. " kak Kairi"
Kairi menatap mata Aira yang sudah basah, Kairi sangat terkejut pastinya. " ada apa? " tanya Kairi dengan cepat tentunya.
__ADS_1
Hiks... hiks... hiks....
Aira masih saja terdiam.
" Aira! ada apa? " Kairi memegangi kedua lengan Aira, menatapnya dan semakin khawatir. " jawab Aira, ada apa? " cerca Kairi tak sabaran.
" Kak, kak Fatma..... "
" iya! kenapa dengan kak Fatma? Kak Fatma baik-baik saja kan? tidak ada hal buruk yang menimpa nya kan? " tanya Kairi begitu banyak.
Hiks... Hiks... Hiks...
" Aira.. katakan Aira, katakan! "
" Kak Fatma.. Kak Fatma di culik. " lirih Aira bahkan suaranya hampir tak terdengar oleh Kairi.
" di culik? " Kedua tangan Kairi merosot perlahan dari lengan Aira, dia begitu syok dengan kabar ini. Kabar yang begitu buruk baginya. " di culik? " gumam nya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Rico menepikan motor nya agak jauh dari tempat penyekapan Fatma. Rico turun sembari memikirkan jalan yang seperti apa yang akan dia lakukan untuk menyelamatkan Fatma.
" penjagaan sangat ketat, ini akan sangat susah " gumam Rico, matanya melihat begitu banyak orang-orang yang terus berjalan mondar-mandir di depan tempat itu.
" aku harus menghubungi pak Ikhsan " Rico mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Ikhsan, namun belum juga ponsel nya menempel di telinga nya mobil Ikhsan ternyata sudah datang dan menepi di hadapan nya membuat nya langsung mengurungkan niatnya.
Rico berjalan mendekati Ikhsan yang sudah turun dari mobilnya dengan buru-buru. " pak!" panggil Rico.
" kamu tidak salah kan,? mereka bener-bener membawa Fatma kesini? " tanya Ikhsan dan Rico langsung mengangguk." kita harus menolong nya sekarang juga "
" tapi pak. Mereka sangat kuat, kita tidak akan bisa melawan mereka semua dengan otot, kita harus menggunakan kecerdikan, pak! " ucap Rico.
" kau meragukan ku? "
" bukan begitu Pak? tapi bapak harus percaya dengan ku. Mereka sangat kuat dan juga sangat berbahaya. " terang Rico.
" Hm.. kamu mungkin benar. Apa kamu punya ide.? " tanya Ikhsan.
" begini saja pak.... " Rico membisikkan sesuatu pada Ikhsan dan membuat bya langsung mengangguk setuju.
" baiklah, tapi jika ini gagal maka kamu yang akan menanggung nya. "
" mana mungkin gagal pak. Aku masih ingin hidup. Bagaimana aku akan menjadi adik ipar Bapak kalau aku mati. "ucapan Rico melirih di ujung.
" apa maksud mu? " sontak Ikhsan yang samar-samar mendengar nya.
" hehehe.. bukan apa-apa pak. Hanya sedikit kepleset saja lidahnya tadi. " meringis Rico.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1