
Hingga larut malam Ikhsan baru pulang dari kantor, dengan wajah lelah nya dia masuk ke rumah dengan menenteng tas kerjanya dan juga jas nya yang sudah dia lepaskan dari tubuhnya.
Ikhsan membuka pintu seorang diri, dia memang tak berniat untuk mengetuk pintu dan mengganggu Fatma yang mungkin sudah tidur karena ini memang sudah sangat malam.
" Assalamu'alaikum.. " ucapnya dengan lirih lalu menutup pintu setelah dia masuk.
Ikhsan mengedarkan matanya dan sudah sangat sepi bahkan lampu-lampu utama sudah di matikan.
" gara-gara kerjaan yang menumpuk aku harus lembur sampai malam begini " ucapnya lagi.
Ikhsan terus mengayunkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai di lantai dua, Ikhsan pun dengan cepat melangkah menuju kamarnya.
" mungkin Fatma sudah tidur " ucapnya pagi mengada-ngada.
Cklek....
Tangan Ikhsan pun meraih handle pintu dan membukanya perlahan. Ikhsan mengernyit karena tak melihat Fatma di atas tempat tidur bahkan tak ada di sudut manapun di dalam kamar nya.
" Fatma dimana? " tanyanya sembari melangkah dan mata terus menelisik setiap sudut.
Ikhsan menaruh tas dan juga jas nya, melepaskan kancing kemejanya yang ada di lengan nya. Ikhsan berjalan menuju kamar mandi mungkin Fatma ada di sana, pikirnya.
" tak ada bunyi apapun" Ikhsan semakin bingung karena suara gemericik air pun tak ada di sana.
Ikhsan membuka pintu kamar mandi dengan pelan, di lihat nya di dalam sana. Senyumnya seketika merekah mendapati istrinya yang dia cari.
kemeja putih lengan pendek yang memperlihatkan siku, rok hitam ketat di atas lutut, sepatu tinggi yang menambah tinggi Fatma, dan jangan lupakan rambut panjang nya yang di gerai indah, dan juga riasan wajah yang belum selesai.
Ikhsan menutup pintu kamar mandi, menyandarkan punggungnya di pintu itu, menyilang kan kedua tangan di depan dadanya sembari menatap Fatma dengan senyum yang tak pernah pudar.
" ah tidak tidak!, ini terlalu menor. Dan ini juga, lipstik nya terlalu merah ini tidak cocok dengan ku " ucap Fatma menghapus riasan wajah nya dan juga lipstik nya yang terlalu merah untuk nya.
" aku akan seperti badut kalau seperti ini " ucapnya lagi.
Fatma terus heboh dengan kegiatannya, mendandani wajahnya sendiri di depan cermin yang begitu besar dan tak menyadari kedatangan Ikhsan yang ada di sana dan terus memperhatikan nya.
" aku memang tak sepandai wanita itu, aku tak bisa semolek dia dan tubuhku pun juga tak seindah dia. " ucapnya sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam kemejanya di bagian atas.
Fatma membalikkan badannya karena ingin membuang tisu yang dia jadikan tambahan untuk gunung kembar nya supaya terlihat besar. Namun begitu terkejutnya saat dia melihat Ikhsan yang tengah menganga tak percaya sembari menahan tawa melihat tingkah istrinya barusan. Astaga gunung kembar nya di sumpal pakai tisu.
" Mas Ikhsan!! " pekik Fatma dengan tangan yang sudah di atas siap melemparkan tisu yang ada di sana.
" apa itu? " tanya Ikhsan pura-pura tak tau seraya melangkah mendekat kepada Fatma.
Sontak Fatma menyembunyikan tisu itu di belakang punggungnya, menggeleng dan tak mungkin dia akan mengakuinya. " bukan apa-apa. " ucapnya.
Ikhsan semakin mendekat sedangkan Fatma melangkah mundur, Ikhsan terus mengikis jarak mereka berdua hingga Ikhsan berhenti karena Fatma sudah terpojok dan tak bisa mundur lagi.
__ADS_1
Ikhsan melihat penampilan Fatma kali ini, dari kaki hingga kepala tak ada yang terlewatkan dari mata Ikhsan. Ikhsan mengunci Fatma dengan kedua tangannya menatap intens wajah Fatma yang sudah memerah.
Fatma menunduk dia sangat malu berdandan seperti ini. Dia menyesalkan kebodohannya yang iri pada penampilan seorang wanita yang baru dia temui tadi di sekolah.
" kamu sangat cantik, Fatma " bisik Ikhsan pas di telinga Fatma.
Tangan Fatma terus menggenggam rok ketat yang ia kenakan antara malu dan takut campur aduk dia rasakan kali ini. Bagaimana kalau Ikhsan sampai marah padanya, bayangan itulah yang terlintas di otak Fatma.
" a-aku? " bingung Fatma ingin memulai darimana, dan alasan apa yang akan dia berikan.
Ikhsan mengambil tisu yang masih ada di tangan Fatma dan membuangnya dengan asal. "aku tak melihat besar dan kecil nya punyamu, dan aku tak melihat seksi dan tidak nya dirimu. Karena bagiku bukan itu yang aku butuhkan, yang aku butuhkan hanyalah cinta mu saja Fatma. Bukan yang lain " ucap Ikhsan.
" jika kamu mengira aku hanya butuh itu dari seorang wanita, maka kamu salah besar Fatma. sebuah hubungan hal yang seperti itu bukanlah hal yang utama, tapi di sini lah letaknya. Hatimu lah yang yang membuat aku memilih mu. " tunjuk Ikhsan tepat di titik hati milik Fatma.
" ma'maaf" sesal Fatma.
Ikhsan mundur dua langkah dari Fatma dan kembali melihat penampilan Fatma. sementara yang di lihat hanya diam karena menyesal.
" Hmm... boleh juga. Sepertinya kamu memang lebih cantik dari wanita tadi.. siapa namanya?? hmm.... "
" Bu Suci." lirih Fatma.
" ya,, Bu Suci! dia memang cantik tapi tetap kamu yang paling cantik. Apalagi sekarang.. Astaga.. istriku bagaikan bidadari, istri ku sangat sempurna " puji Ikhsan.
Ikhsan tau kenapa Fatma melakukan ini, ini semua dia lakukan karena kedatangan Suci tadi dan pastinya rasa cemburu itu masih ada di hati Fatma.
Ikhsan kembali mengikis jarak mereka menarik pinggang Fatma hingga kedua nya tak memiliki jarak sedikitpun.
" kau boleh berpakaian apapun Fatma. Tapi ketika di hadapan ku saja. bahkan mau tak pakai baju sekaligus juga boleh, aku akan sangat senang dengan itu." ucap Ikhsan.
Mulut Fatma menganga, matanya melotot, tangannya langsung mendorong Ikhsan dengan cepat. " itu mah maunya Mas Ikhsan! " ucap Fatma.
" iya dong!, mana mungkin aku rela kamu pakai baju seperti ini keluar dari kamar! Jangankan mata-mata nakal yang melihat nya, nyamuk pun aku tak rela. "
" ihh... dasar!, "
Fatma berusaha melepaskan diri dari Ikhsan namun itu tak semudah yang dia bayangkan karena Ikhsan terlalu kuat memeluk pinggang Fatma. " Mas,, lepasin! "
" Kau sudah menggodaku, jadi kau harus bertanggung jawab " jawab Ikhsan.
" menggoda apanya? "
" ya.. pokoknya menggoda. "
" nggak! "
__________
__ADS_1
Ternyata bukan hanya Ikhsan yang terlambat pulang, melainkan Akhsan pun sama, dia juga terlambat dan kini juga baru pulang setelah larut malam.
Bukan hanya pekerjaan saja yang menjadi alasan mereka berdua terlambat pulang, namun juga berunding dengan apa yang akan mereka lakukan esok.
Perencanaan akan perkembangan perusahaan mereka berdua dan juga perencanaan untuk melindungi semua keluarga besarnya.
Akhsan masuk ke kamar nya, senyum pun terpancar saat melihat istrinya yang masih setia menunggu kepulangan nya. " Assalamu'alaikum " sapa Akhsan dan terus melangkah masuk.
Kairi yang sedang membaca buku langsung beranjak dan menyambut Akhsan, meraih tangannya mencium punggung tangan nya dan juga mengambil tas dan juga jas yang Akhsan bawa. " Wa'alaikumsalam, Mas. Tumben baru pulang? " tanya Kairi.
" maaf, pekerjaan Mas banyak sekali jadi harus lembur deh. Maaf ya" Akhsan membelai lembut puncak kepala Kairi dengan sangat lembut, membuat Kairi merasakan limpahan kasih sayang dari Akhsan.
" Mas mau mandi dulu atau mau makan dulu?" tanya Kairi.
" Mas mandi dulu aja" jawab Akhsan.
Kairi membalik dia ingin pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air panas untuk Akhsan, namun belum juga terjadi Akhsan sudah menghentikan nya. " biar Mas sendiri saja. Kamu pasti lelah " ucap Akhsan.
" tapi Mas? "
" sudah, biar Mas saja. " Akhsan pun langsung berlalu, meninggalkan senyuman untuk Kairi.
Kairi tak mau hanya diam saja di saat Akhsan berasa di kamar mandi, Kairi menyiapkan pakaian Akhsan dan menaruhnya di atas ranjang. Kairi langsung keluar setelah itu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Akhsan.
Tak berapa lama setelah Kairi pergi, Akhsan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar kembali. Akhsan melihat baku yang sudah di siapkan oleh Kairi, diapun bergegas memakainya dan pergi keluar menyusul Kairi yang sepertinya ada di sapu.
Ternyata benar, Akhsan melihat Kairi yang tengah sibuk di dapur menghangatkan semua masakan nya yang sudah dingin.
" jangan banyak bekerja, Sayang. Jangan sampai kamu kelelahan " Akhsan memegangi kedua bahu Kairi dari belakang dan berhasil mengejutkannya dan juga menghentikan aktivitas nya sesaat.
Kairi menoleh, dia tersenyum. Tak ada rasa lelah untuk setiap pengabdian bagi Kairi. Semua yang dia lakukan dengan ketulusan dan juga dengan ikhlas pasti akan di permudah dan juga tak akan merasa lelah.
" tidak kok, Mas. ini hanya pekerjaan yang ringan " jawab Kairi lalu kembali dengan wajan yang ada di atas kompor.
Selama Kairi menghangatkan semua masakan nya Akhsan menyiapkan dua piring dan dua gelas jus yang dia ambil dari dalam kulkas dan dia letakkan di atas meja makan.
Akhsan membantu Kairi setelah itu, menaruh satu persatu masakan yang sudah di hangatkan oleh Kairi. " biar saya bantu " ucap Akhsan sembari mengangkat mangkuk yang berisi dengan sayur yang sudah hangat.
Makan malam yang sederhana Akhsan dan Kairi lakukan, dengan sesekali mereka tersenyum dan sesekali Akhsan menyuapi Kairi dan memanjakan nya.
" makan yang banyak, biar kamu dan anak kita selalu sehat " ucap Akhsan sembari menyuapkan sesendok nasi kepada Kairi dan dengan malu-malu Kairi pun menerimanya.
" Terima kasih, Mas. " jawab Kairi.
" Hem.. " Akhsan mengangguk dan kembali menikmati makan malam dengan Kairi. Menikmati masakan Kairi yang begitu lezat.
🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾