
___
Happy Reading..
_________________
Akhsan terus menahan tawa, dia cengengesan tiada henti. Dia pernah merasakan juga bagaimana dia gagal mendapatkan jatah, itu sangat membuat nya kesal.
Melihat itu Kairi menggeleng dan langsung menepuk pundak Akhsan. " Mas! Belum puas menertawakan adikmu? Bagaimana jika itu terjadi juga pada Mas. " Ucap Kairi yang sontak membuat Akhsan langsung terdiam kelu, menelan saliva nya sendiri. Amit-amit, semoga dia tak akan lagi mendapatkan hal yang seperti itu, harapnya.
" Hehehe, maaf sayang. Hanya tak bisa menahan saja, lucu banget soalnya melihat wajah Ikhsan yang kusut banget. " Jawab Akhsan yang lagi-lagi cengengesan tak bisa menahannya.
" Mas!. " Mulut Kairi monyong tak suka, Kairi membuang muka dengan kasar, dia sangat kesal dengan tingkah Akhsan yang di anggapnya seperti anak kecil.
" Hab... " Akhsan menutup mulutnya seketika setelah melihat istrinya yang sedang kesal. Jika dia tak cepat-cepat menghentikannya mungkin Kairi akan semakin kesal padanya.
" Maaf. " Sesekali Akhsan melirik, tangannya menjewer telinganya sendiri mungkin dengan itu dia mendapatkan maaf dari Kairi dengan cepat. " Please, maaf. " Akhsan benar-benar menyesal.
" Jangan ulangi lagi. " Ucap Kairi yang langsung di angguki oleh Akhsan.
" Siap.. " Jawab Akhsan girang.
_____
Akhsan dan Kairi turun dari mobil bersama-sama setelah mobilnya sudah terparkir manis di depan kampus. Mereka mulai melangkah berdampingan, namun baru saja beberapa langkah mereka berhenti karena ada Kamila yang datang dan menghadang mereka berdua dengan membawa kotak bekal.
" Assalamu'alaikum, Pak. " Sapa Kamila begitu antusias.
" Wa'alaikumsalam. " Jawab Akhsan dan Kairi bersamaan, keduanya saling lempar pandang untuk sesaat dan kembali lagi menatap Kamila. " Ada apa, Mila?. " Tanya Kairi.
Kamila hanya melirik sebentar lalu beralih lagi ke arah Akhsan, bahkan dia melangkah mendekat Akhsan dengan wajah yang sangat berbinar begitu menyala.
" Ini untuk Bapak. " Kamila menyodorkan kotak bekal di tangannya untuk Akhsan dan tangannya terus mengudara sebelum Akhsan menerimanya.
Kairi mengernyit sejenak, mungkin Kamila hanya ingin memberikan bekal itu pada Akhsan sebagai tanda terima kasihnya.
Akhsan menoleh ke arah Kairi seolah meminta persetujuan padanya, seketika Kairi mengangguk meskipun di hatinya mulai tumbuh rasa panas yang mulai menyala.
Melihat wajah Kairi yang tersenyum hambar membuat Akhsan tak jadi menerima itu dari Kamila, meskipun dia harus menghargai orang lain tapi dia lebih mengutamakan perasaan istrinya dan tidak membuatnya kecewa nantinya.
__ADS_1
" Terima kasih, Mila. Tapi maaf saya nggak bisa. " Ucap Akhsan yang sebenarnya tak enak hati.
Wajah Kamila langsung kecewa, dia sudah bersusah payah untuk membuat itu untuk Akhsan sebagai rasa terima kasihnya tapi ujungnya tidak di terima oleh Akhsan.
" Please, Pak. Saya sudah berusaha keras untuk ini. Kalau Pak Akhsan tidak menerimanya berarti Mila masih berhutang budi sama Bapak. " Ucap Kamila.
" Apa yang saya lakukan kemarin itu memang sudah seharusnya, Mila. Dan saya tidak pernah mengharapkan apapun dari kamu atau siapapun. " Jawab Akhsan.
" Tapi Pak, kalau Pak Akhsan tidak mau menerimanya berarti selamanya Kamila akan selalu berhutang pada Pak Akhsan. " Kekeuh Kamila yang terus berusaha supaya Akhsan mau menerima bekal itu darinya.
" Terima saja, Mas. " Kairi menyentuh bahu Akhsan dan tersenyum manis setelah Akhsan menoleh ke arahnya.
" Baiklah, terima kasih Mila. " Dengan tangannya sendiri Akhsan pun menerimanya bekal itu dan membuat Kamila girang.
" Terima kasih, Pak. " Ucap Kamila.
" Iya. " Jawab Akhsan singkat.
" Kalau begitu saya permisi Pak, jangan lupa di makan. Pak Akhsan pasti akan menyukainya. " Ucapnya begitu percaya diri.
" Hem. " Akhsan mengangguk kecil.
______
" Nggak kenapa-napa. " Jawab Fatma meyakinkan.
" Oh... Mis, kemarin saya lihat Bu Suci terus mepet Pak Ikhsan loh. Mis harus hati-hati sama dia, jangan sampai Bu Suci genit-genit sama Pak Ikhsan. " Ucap Santi yang terus dengan pelan karena tak mau sampai ada yang mendengarkan percakapan pribadi Fatma.
" Kapan!. " Fatma terhenyak.
" Kemarin, Mis. Sepertinya ya, Mis. Bu Suci itu punya perasaan deh sama Pak Ikhsan, kalau tidak nggak mungkin dia terus mepet dan bicara sok manis. " Jelas Santi.
" Iya deh, Mis. Santi benar, waktu itu aku juga lihat kalau Bu Suci terus bergelagat aneh saat di depan Pak Ikhsan. " Imbuh Mirna.
" Bergelagat seperti apa maksudnya?. " Fatma semakin penasaran.
" Ya, Bu Suci seperti ingin menaruh sesuatu begitu di minuman Pak Ikhsan, tapi untungnya sebelum terjadi Pak Ikhsan sudah mengambil gelas itu. Kalau tidak entah apa yang terjadi, karena nggak mungkin kan itu racun? Bisa jadi...? "
" Obat perangsang gitu ya, kan banyak yang begitu tuh. Aku baca-baca di novel-novel biasanya seperti itu untuk menjebak seseorang. " Saut Santi.
__ADS_1
" Kekenyangan novel sih kamu. Mana bisa Bu Suci seperti itu?. " Ucap Fatma tak percaya.
" Ya kan bisa jadi, hati orang siapa yang tau. " Jawab Santi.
"Iya juga sih. " Lirih Fatma.
" Aku punya ide, bagaimana kalau kita pantau terus bu Suci kalau dia macam-macam bisa lah kita melakukan sesuatu padanya. Pokoknya, kita nggak boleh kalah dari bu Suci, dia maju selangkah kita harus maju dua langkah. Pokoknya kita nggak boleh kalah saing dengan nya. Bagaimana?. " Ucap Mirna.
" Boleh tuh. Kita harus menang dari pelakor yang mulai bergerak. Kalau dia dia hanya ular Sanca kita harus menjadi ular Kobra, kita harus lebih berbahaya dari nya. " Fatma menyeringai setelah mengatakan itu. Sepertinya akan sangat menarik sekarang, bagaimanapun juga dia harus menjaga Ikhsan sepenuhnya dan tak membiarkan ular-ular liar mengganggu nya.
" Kayaknya asyik banget lagi ngomongin apa sih? Cius amat nih para emak-emak. " Rico langsung duduk begitu saja, tangannya langsung menyambar kacang yang ada di depan para sahabatnya itu.
" Ini urusan emak-emak, kamu bapak-bapak nggak usah ikutan deh ya. Takut terkejut entar. " Ceplos Mirna.
" Hilih.. Tanpa di beri tau pun saya akan tau. " Sinis Rico.
" Sinis amat, Ric? Obatnya habis? Atau ini pengaruh jomblo yang kelamaan?. " Cerca Santi.
" Bukan urusan kalian juga." Jawab Rico yang semakin sinis namun terus mengunyah kacang gratis dari mereka bertiga.
" Oh iya, Ric? Menurutmu bagaimana dengan Bu Suci itu? Apa ada hal yang mencurigakan padanya?. " Tanya Fatma yang seketika membuat kedua sahabatnya melongo.
Mirna dan Santi yang terkesan menutupi semuanya, eh.. Ternyata Fatma malah bertanya langsung pada Rico. Keduanya langsung tepok jidat tak habis pikir.
" Dia baik, kenapa?. "
" Benarkah?. "
" Iya, tapi bukan berarti Mis mengabaikannya. " Jawab Rico.
" Maksudnya?. " Fatma tercengang.
" Kepo, udah aku mau ke perpus. Nggak baik gosip sama emak-emak!. " Seru Rico dan langsung beranjak pergi.
" Ric! Rico!. " Teriak Fatma namun tak di hiraukan oleh Rico yang sudah berlalu.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶" Batin Fatma.
_____
__ADS_1
Bersambung...
________________