
Happy Reading...
\\\\
Fatma terus sesenggukan saat dirinya berada di dalam mobil bersama Ikhsan. Dia tidak bisa menahan tangis setelah kehamilannya terbongkar di sekolah dan Ikhsan mengakuinya sebagai ayah biologis dari anak yang dia kandung sekarang.
Fatma terus menyalahkan dirinya sendiri bahkan Fatma merasa dirinya yang telah mencoreng nama baik Ikhsan, seandainya dirinya bisa menahannya kala itu semua tidak akan terjadi dan Ikhsan akan tetap menjadi guru seperti apa yang menjadi impiannya.
Sekarang Ikhsan harus kehilangan gelar juga pekerjaannya sebagai guru di SMA Tunas Bangsa, dan Fatma merasa ini semua karena kesalahannya.
"Maafin Fatma ya, Mas. Semua ini gara-gara Fatma. Kalau saja Fatma tidak hamil sekarang pasti Mas tidak akan di keluarkan dari sekolah. Mas akan tetap menjadi guru sampai kapanpun mas mau. Tapi sekarang? Bahkan sekolah lain tidak akan menerima mas untuk menjadi guru lagi. Semua ini karena salah Fatma."
Fatma semakin terisak, dia tak tahan menahan rasa bersalah yang kian besar.
Ikhsan menepikan mobilnya lebih dulu, dia ingin menenangkan istrinya dan tidak mau Fatma terus menyalahkan dirinya sendiri.
Dibelai kepala belakang Fatma, Ikhsan mencondongkan duduknya untuk semakin dekat dengan Fatma. Ikhsan menggeleng, semua yang terjadi bukan semata-mata kesalahan Fatma saja, tapi dia juga memiliki andil besar.
Jika dia bisa menahannya, Fatma juga tidak hamil sekarang. Tapi Ikhsan juga tidak menyesali semua yang sudah terjadi, Ikhsan malah merasa bahagia karena sekarang tak butuh di tutup-tutupi hubungannya dengan Fatma pada orang lain.
"Kamu tidak bersalah, Fatma. Kita tidak bersalah. Ini sudah menjadi jalan yang harus kita jalani. Ini jalan kita. Jangan pernah merasa bersalah lagi, jangan menyalahkan diri sendiri karena semua ini. Bukankah kita yang menginginkannya?"
Ikhsan berkata dengan sangat lembut, membuat Fatma mulai tenang dan lebih baik daripada yang tadi.
Mata Fatma terus memandangi, lekat wajah suaminya, begitu meneduhkan dan membuatnya sangat nyaman. Fatma merasa sangat damai setiap melihat wajah yang sangat dewasa itu.
"Tapi sekarang Mas harus di keluarkan dari sekolah. Mas tidak bisa jadi guru lagi. Bukankah itu adalah cita-citanya Mas?"
"Tidak masalah aku di keluarkan menjadi guru. Lagian aku juga sudah memikirkan sebelumnya kalau aku akan mengundurkan diri setelah kamu lulus. Mas ingin lebih serius menangani perusahaan."
"Aku bertahan selama ini juga karena kamu masih di sana, Sayang. Setelah kamu tidak ada di sana buat apa aku akan bertahan? Aku tidak akan bisa jauh-jauh darimu. Aku hanya ingin selalu menjagamu, menjaga anak kita."
__ADS_1
Tangan Ikhsan beralih mengelus perut Fatma, bahkan Ikhsan juga membungkuk untuk mencium perut Fatma yang sudah mulai sedikit membuncit.
Beralih Ikhsan mencium bibir ranum milik Fatma, sejenak dia menahan bibir mereka saling menyatu lalu Ikhsan tersenyum setelah melepaskannya.
"Jangan bersedih, jangan menangis lagi. Karena kesedihanmu adalah kesedihanku, air matamu adalah air mataku juga. Jadi bahagia lah dan biarkan aku bahagia juga. Kita bahagia bersama-sama, aku, kamu dan anak kita," ucap Ikhsan begitu tulus dan juga sangat lembut.
Hati Fatma semakin tenang, hati rasanya begitu adem mendengar penjelasan dari Ikhsan.
"Benarkan? Mas tidak marah kan?" tanya Fatma dengan sangat pelan.
"Hem," Ikhsan mengangguk. Mana mungkin dia akan marah, karena kini hatinya sangat plong. Seakan tak ada lagi beban. Beban berat di pundaknya sudah hilang dan terganti dengan kebahagiaan yang sangat nyata.
Dia tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk bisa menemui Fatma, dia sangat tersiksa kala dia terus melihat Fatma yang sangat bahagia namun dia tak bisa ikut andil dalam kebahagiaannya.
Fatma langsung memeluk Ikhsan dengan sangat erat, dia sangat senang.
"Kita pulang sekarang," tanya Ikhsan. Fatma langsung mengangguk dan kini Ikhsan tersenyum lega.
Senang rasanya Akhsan sekarang, seharian ini dia tidak merasakan mual sama sekali. Dia bisa bebas bermain dengan Alvaro tanpa ada kendala sama sekali.
Sudah dari tadi dia terus bermain dengan Alvaro sampai-sampai Khairi merasa heran karena suaminya tidak merasa mual sama sekali.
"Apakah sudah sembuh?" batin Khairi bingung. Tapi alhamdulillah dia ucapkan terus menerus, dia merasa senang karena tak tega juga melihat suaminya yang sangat tersiksa dengan keadaan yang tidak seharusnya dia rasakan.
Khairi mendekat dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir berisi teh. Sembari tersenyum penuh bahagia. Khairi juga langsung duduk di sebelah Akhsan sembari menaruh nampan di atas meja.
"Minum dulu, Abi," pinta Khairi. Tangan juga bergerak mengambil cangkir lalu menyodorkannya kepada Akhsan.
"Terimakasih, Umi," Senyum juga keluar dari bibir Akhsan dengan tangan yang menerima cangkir dari tangan Khairi, perlahan dia meneguknya hingga setengah lalu dia kembali menaruhnya lagi di atas meja.
"Alvaro lapar ya?" Tangan Khairi menyentuh pipi Alvaro yang terlihat mengeluarkan senyum yang begitu menggemaskan. Tangan bocah itu terus terulur untuk menggapai cangkir yang ada di atas meja. Sepertinya Alvaro juga menginginkan teh yang sama seperti Abi nya.
__ADS_1
Akhsan begitu gemas melihat Alvaro yang begitu aktif, dia yang berada di kereta dorong yang terus berusaha menggapai apapun yang ada di depannya.
Tawa Khairi juga Akhsan keluar bebarengan saat melihat Alvaro yang mulai menata-nata bibirnya karena ingin menangis sebab tak bisa mengambil apa yang dia mau.
"Hahaha...," tawa Khairi dan di sambung juga dengan Akhsan.
Kebahagiaan benar-benar sudah keluarga kecil itu dapatkan. Bahkan dari awal pernikahan sampai sekarang tak ada ujian besar yang selalu datang. Jika ada perdebatan-perdebatan kecil itu sudah terbiasa di dalam rumah tangga tapi keduanya bisa selalu menyelesaikannya sebelum keluarga mengetahuinya.
"Sini sayang. Itu bukan untuk mu itu untuk Abi. Sementara untuk mu, ada pada Umi," ucap Khairi yang langsung mengangkat Alvaro dengan perlahan.
"Abi boleh icip nggak, Umi?" Akhsan memasang wajahnya imut, dia berharap bisa menikmati apa yang sudah langsung di nikmati oleh Alvaro namun tidak terlihat karena langsung di tutup dengan hijab besarnya.
"Ini bukan untuk Abi. Ini khusus untuk Alvaro," jawab Khairi.
"Kan hanya satu, satunya untuk Abi ya?"
"Tidak, keduanya untuk Alvaro semua, Abi."
Wajah Akhsan cemberut, namun tidak lama karena Khairi langsung mencubit pipinya.
"Jangan merajuk, Abi. Abi sudah punya bagiannya sendiri."
"Benarkah? Kalau begitu nanti Abi akan minta bagiannya. Umi harus siap dan tak boleh mengeluh apalagi menolak," Mata Akhsan berkedip genit, dia sangat menggoda apalagi di tambah dengan bibir yang kian monyong dan mendekat ke arah Khairi.
"Apa sih, Abi," cepat Khairi mendorong bibir Akhsan menggunakan tangannya.
"Baiklah, mungkin memang bukan sekarang. Tapi nanti setelah Alvaro bobok. Alvaro sayang, cepat bobok ya. Setelah itu giliran Abi yang di manjain Umi."
Khairi menggeleng, tapi wajahnya masih saja tersipu. Malu juga kan?
__ADS_1
Bersambung...