
Iqbal mendongak setelah berhasil membuka helm nya menatap gadis di hadapan nya yang masih setia membungkuk di hadapan nya.
Bola mata mereka saling bertemu dan saling tersentak kaget.
"Kamu,,!! ungkapnya bersamaan dengan tatapan bengis satu sama lain.
Dengan usaha keras Iqbal berdiri dengan menenteng helm nya di tangan, menyibak rambutnya ke belakang dengan gayanya yang sok cool di hadapan Shelvia.
" Ihh.. "' satu kata yang keluar dari mulut Shelvia itupun dengan mulut nya yang nyengir sadis dan kedua tangan nya yang langsung bersedekap dada dan jangan lupakan matanya yang menatap Iqbal tak suka.
Iqbal mengernyit bingung, ada yang salahkah dengan apa yang ia lakukan sehingga dia mendapatkan expresi yang tak enak di pandang dari wajah Shelvia untuk nya? .
" kenapa kamu seperti itu?! " tanyanya dengan ketus.
" Nggak!! " jawab Shelvia acuh.
Iqbal berjalan angkuh mendekati sepeda motor nya yang masih tidur manis di aspal. jalan nya sempoyongan bahkan kakinya pun pincang, mungkin ada cidera yang tak bisa Shelvia lihat karena tertutup dengan celana seragam nya, meskipun begitu tapi terlihat dengan jelas ada noda darah yang tercetak begitu jelas di celananya.
Shelvia berlari menyusul Iqbal, meskipun dia jengkel dan tak suka dengan Iqbal tapi semua ini terjadi karena kesalahan nya juga yang menyebrang jalan tanpa menoleh dulu dan langsung lari.
" Ehh.!! kamu mau ngapain? " tanya Shelvia berdiri di samping Iqbal yang sedang berusaha mendirikan kembali motornya nya dengan susah payah.
Iqbal kembali menjatuhkan motor nya karena benar-benar tidak ada kekuatan yang tersisa Iqbal butuh duduk sebentar dan istirahat untuk mengembalikan tenaganya karena terjatuh tadi.
" Berisik !! " Iqbal membalikkan badan dengan cepat meninggalkan Shelvia yang terus menatap pergerakan Iqbal bahkan sampai Iqbal duduk di trotoar pun Shelvia masih melihat nya.
Shelvia kembali menoleh ke arah sepeda motor Iqbal yang belum juga berdiri. Shelvia menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya berfikir bagaimana dia akan mendirikan motor Iqbal yang begitu besar, yang pasti dia tidak akan kuat.
" Bagaimana aku mendirikan nya. bahkan aku dan motor nya saja besar motornya. " gumam Shelvia bingung.
Shelvia melihat ke seluruh penjuru tapi tak ada orang di sana, tumben-tunbenan jalan itu sepi biasanya akan selalu ramai di setiap saat tapi hati ini?, sungguh berbeda.
Shelvia maju tiga langkah dan pas di sisi motor Iqbal, ragu-ragu Shelvia membungkuk kedua tangan nya mulai memegangi dua stang motor Iqbal.
Shelvia meringis bukan karena tertawa atau tersenyum, melainkan tengah berusaha dengan keras untuk membuat motor Iqbal berdiri.
" ayo shelvia kamu pasti bisa, ihh...!! serunya dengan usaha empat lima yang keluar dari tubuh nya yang kecil.
Iqbal hanya tak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum. apa yang dilakukan shelvia dan bagaimana bentuk wajah nya sekarang sangat membuat nya geli sendiri. " Hhmm.. " senyum nya yang berusaha dia tahan namun tetap saja keluar bahkan sampai juga di telinga Shelvia.
Shelvia menoleh karena terasa ada suara yang begitu menohok telinga nya, apa lagi kalau buka senyum Iqbal yang kian lama berubah menjadi tawa, namun mata Iqbal tak melihat ke arah shelvia kadang dia menunduk dan kadang juga dia menoleh ke arah kanan dan kiri sebagai pelarian dari mata tajam Shelvia.
" Kenapa kamu tertawa,!! mau ngetawain aku.? ketus Shelvia dan mengurungkan untuk membuat motor Iqbal berdiri dan kembali menjatuhkan motor Iqbal dengan kesal
Brakkk...
motor kembali tertidur manis di aspal membuat Iqbal sedikit kesal karena yang pasti Shelvia akan memperparah kerusakan pada motor kesayangannya.
Iqbal menghentikan tawanya berubah memelototi Shelvia yang berwajah kesal.
__ADS_1
" apa yang kau lakukan dengan motor ku? apa kau mau merusak nya, hahh..!! teriak Iqbal tak terima.
Tenaga yang juga terasa habis membuat Shelvia juga duduk di trotoar dengan wajah kesal dan bibir yang terus mengerucut tentunya. " Bodo " ucapnya acuh.
Iqbal kembali tersenyum, menatap Shelvia yang tak bisa dia lihat wajah nya karena berpaling di lain arah. " cewek ketus amat loh. " ucap Iqbal lagi-lagi di sambung dengan tawa yang mana membuat Shelvia semakin kesal.
Untung saja tangan Shelvia sekarang kosong tak membawa apapun kalau saja ada sesuatu yang di tangan nya pastilah akan langsung di lempar ke wajah Iqbal yang sangat menyebalkan.
" Biarin, bukan urusan situ juga. gue mau ngapain juga bukan hak situ untuk berkomentar"
" dasar bocah! " seru Iqbal ikutan sebal juga akhirnya.
Meskipun keduanya duduk berjauhan tapi keduanya tetap berada di satu tempat. Wajah mereka yang saling memunggungi seakan mereka tengah berkelahi.
Dan di saat mereka tengah berada dalam keadaan yang seperti itu ada dua ibu-ibu yang lewat dan langsung menatap mereka berdua mengatakan sesuatu hingga membuat keduanya langsung ternganga dan melempar pandangan sinis satu sama lain.
" Lihatlah pemuda jaman sekarang, masih kecil pada pacaran dikit-dikit berantem dan saling diam, aneh ya. " ucap Ibu yang satu.
" Halah,,, palingan bentar lagi juga baikan setelah itu mereka jalan berduaan lagi" jawab yang satunya.
Tanpa melihat keadaan motor dan keadaan Iqbal, kedua ibu-ibu itu hanya berkomentar sesuai apa yang dia lihat dan berlalu pergi seperti angin lalu namun meninggalkan badai untuk mereka berdua.
" amit-amit,, " celetuk Iqbal dengan spontan sembari memukuli kening nya sendiri dengan jari nya.
"Na'uzubillahiminzalik" seru Shelvia tak mau kalah dengan kepalanya yang geleng-geleng dan juga telapak tangan nya yang mengelus dada.
" Jangan salah sangka dulu! aku di sini sama dia karena lagi mau menenangkan jantung. dia itu hampir saja menabrak kakak, gila kan tuh orang, tau jalan raya milik umum mengendarai motor kayak kesetanan. " Sinis Shelvia.
" enak saja, siapa juga yang kesetanan? situ aja yang nyebrang nggak lihat-lihat "'sungut Iqbal begitu dongkol di sebut kesetanan.
" jangan ngeles deh loh. ngaku aja napa sih, !!
" ogah,,!!
" STOP.!! kalian ini sudah besar, bukan lagi anak TK yang berebut mainan jadi bisa pada akur nggak sih? " seru Aisyah menengahi.
" NGGAK,,!!! kompak Iqbal dan Shelvia.
Plakk...
Aisyah menepuk jidatnya sendiri pusing, bagaimana bisa menengahi antara Tom and Jerry yang selalu saja berebut keju.
" Teruskan aja masalah rumah tangga kalian, Aisyah moh ikut campur " ketus Aisyah. Aisyah melenggang pergi begitu saja dari hadapan Iqbal dan Shelvia.
" Aisyah,,!! loh mau kemana?! " teriak Shelvia dan ikut beranjak membuntuti Aisyah langsung.
" mau ngundang pak penghulu, biar sekalian menikahkan Kak Shelvia dan kakak itu. " Aisyah menoleh sembari terus berjalan ucapan angkuh nya membuat Shelvia begitu kesal dan berlari mengejarnya.
"'ehhh!! gimana tanggung jawab nya,!! teriak Iqbal dengan tangan naik ke atas dan melambai-lambai.
__ADS_1
" Tanggung aja sendiri.! " jawab Shelvia lagi-lagi dengan khas nya yang selalu ketus.
Aisyah semakin mempercepat langkahnya membuat Shelvia harus berlari untuk bisa mengejar. " Aisyah, tunggu,,!! teriak nya.
" dasar cewek sialan, udah salah main kabur aja tanpa bertanggung jawab, awas saja kalau ketemu lagi aku cincang kau, " gumam Iqbal kesal.
🌾🌾🌾🌾🌾
" Assalamu'alaikum. " Faisal mendatangi Aira yang tengah terduduk seorang diri di belakang ponpes, menatap indahnya bintang dan bulan yang nampak tersenyum padanya.
Aira menoleh sejenak, tersenyum melihat Faisal yang tersenyum padanya dan masih setia berdiri menatap Aira " Wa'alaikumsalam, kenapa kak Faisal kesini? apa ada yang bisa Aira bantu? " tanya Aira dengan ramah, tak biasa nya Faisal mendatangi Aira dengan khusus apa lagi di malam hari seperti sekarang.
" tidak ada" Faisal menggeleng beralih menatap bintang-bintang di atas sana seperti yang Aira lakukan. " boleh ikut duduk " imbuhnya melirik ke arah Aira memohon persetujuan dari gadis kecil itu.
Aira mengangguk runtut tanpa menoleh lagi pada Faisal yang masih menatapnya " boleh, " jawab nya.
Malam yang begitu indah dengan pancaran sinar bulan dan bintang juga sejuknya semilir angin malam yang membuat hati begitu damai juga begitu menenangkan.
Hening....
Hening sejenak di antara mereka berdua kecanggungan pun terjadi di antara keduanya, meskipun belum ada rasa yang hadir dengan jelas di antara mereka berdua tapi keduanya hanya saling mengagumi dalam diam.
" Dua minggu lagi aku akan pergi, aku harus menimba ilmu di negeri orang dan yang pasti kita tidak akan bertemu dalam waktu yang lama" ucap Faisal mengawali.
Aira terkejut menoleh perlahan ke arah Faisal, sebenarnya Aira juga bingung aoa hubungan nya dengan Aira kalau Faisal pergi, bukankah Aira bukan siapa-siapa nya Faisal, terus?
" maukah kamu tetap di sini hingga aku pulang nanti? " Faisal menoleh juga ke arah Aira membuat Bola mata mereka saling bertemu. " tunggu lah aku pulang, dan jangan pergi dalam hal apapun, apa kamu bisa lakukan itu untuk ku? "
" Hmm? " Aira semakin bingung, permintaan yang seperti apa ini sebenarnya. haruskah Aira menjawab Ya tanpa tau maksud sebenarnya? atau Aira harus menjawab tidak karena dia juga tak mungkin berlama-lama di sana dan menyusahkan kakak dan kakak iparnya?. " maksudnya Kak Faisal? "
" aku ingin saat aku pulang nanti kamu lah orang pertama yang aku lihat. aku juga menginginkan kamu akan selalu menemani ku hingga kelak " jawab Faisal.
" Hm" Aira termenung akan kata-kata Faisal barusan, bukan kah itu berarti Faisal mengharapkan dirinya lah yang akan menjadi pendamping nya kelak? atau malah apa yang Aira pikir itu telalu berlebihan untuk seorang Aira.
Sangat tak percaya jika seorang Faisal mengharapkan Aira sebagai pendamping bya kelak, tapi dengan kata-kata barusan? Aira harus mencerna lagi dan lagi akan kata-kata itu.
" InsyaAllah, Kak. jika Allah memang berkehendak aku akan tetap berada di sini untuk kakak " jawab Aira dengan mengurai senyum manis pada Faisal.
" Semoga saja Allah akan selalu menghendakinya , Amin. " ucap Faisal tulus, mata Faisal dan Aira kembali menatap langit keduanya merasakan ketenangan dan kebahagiaan di bawah keindahan malam.
" Bintang nya bagus ya" ucap Faisal.
Aira mengangguk tanpa menoleh dan menjawab sekilas saja " Hmm" ujarnya tak mau panjang lebar lagi.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
🌾🌾🌾🌾
Amin....
__ADS_1