Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
226. Bertemu lagi


__ADS_3

Happy Reading..


________


Sampai di rumah sakit, Fatma langsung buru-buru turun dari mobil. Dia berlari setalah matanya melihat mobil dari suaminya yang terparkir manis dan bergabung di deretan mobil-mobil yang lainnya.


Bukannya berlari masuk ke rumah sakit namun Fatma berlari ke arah mobil suaminya, memastikan keberadaannya yang mungkin ada di sana.


Fatma mengecek mobil itu dengan mengintip lewat kaca yang berwarna hitam itu, dan hanya terlihat samar-samar. Tak ada siapapun di dalam mobil itu, hanya ponsel Ikhsan saja yang tengah tertidur manis tanpa pemiliknya.


"Pantesan nggak di jawab, ponselnya aja di abaikan begitu! " Gumamnya.


Fatma memandangi pintu masuk rumah sakit, Fatma mengernyit mungkinkah suaminya ada di dalam sana? Tapi mungkin memang iya, nggak mungkin kan hanya mobilnya saja yang berjalan sendiri ke rumah sakit.


Fatma masuk ke dalam rumah sakit, bertanya pada pihak informasi apa mungkin ada pasien yang bernama Ikhsan, namun sana sekali tidak ada. "Maaf mau tanya, apa ada pasien atas nama Ikhsan? " Tanya Fatma.


Petugas itu tersenyum, "Sebentar, saya lihat dulu." Jawabnya.


Fatma mengangguk, menunggu hingga dia bisa mendapatkan jawaban dari petugas. Sejenak Fatma terdiam, namun pikiran nya tetap gelisah.


"Maaf, Mbak. Tidak ada pasien yang bernama Ikhsan. Mungkin tidak ada dua rumah sakit ini." Jawabnya dengan sangat ramah.


"Tidak ada?" Pekik Fatma, "๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด-๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข. " Batin Fatma.


Fatma mengeluarkan ponselnya mencari foto Ikhsan dan langsung menunjukkan keadaan petugas setelah dia mendapatkan. "Apa mbak pernah lihat orang ini di sini? Dia adalah suami saya. Tolong lihat baik-baik."


Petugas itu melihatnya, sepertinya dia pernah melihat, "Sepertinya tadi saya melihatnya, Mbak. Oh iya! Tadi mas ini mengantarkan seseorang yang sakit ke sini. " Jawabnya.


"Terus, sekarang di mana ya, Mbak? "


"Pasiennya harus segera di operasi, mungkin suami mbak ada di sana." Jawabnya.


"Oh begitu ya, Mbak. Terima kasih. " Fatma berbalik badan, namun dia kembali berbalik lagi, "Oh iya, ruang operasi di sebelah mana ya, Mbak? "


"Mbak jalan lurus, setelah di ujung Mbak ambil sebelah kiri, ruang operasi ada di sana. " Jawab petugas seraya menunjukkan dengan tangannya.


Fatma terus mengangguk mengerti, sembari memandangi petugas dan berganti ke arah yang di tunjukkan oleh Petugas. "Oh di sana? Terima kasih, Mbak. Kalau begitu saya permisi." Pamit Fatma.


"Sama-sama, Mbak."


Fatma berjalan setengah berlari, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan suaminya. Fatma juga ingin tau siapa yang di tolong oleh suaminya sampai-sampai dia melupakan dirinya yang terus menunggu di rumah.

__ADS_1


Tak lama menempuh jarak akhirnya Fatma bisa sampai di mana suaminya berada, di lihatlah suaminya dan juga Akhsan dan juga anak laki-laki kecil juga seorang ibu-ibu yang duduk memunggungi di mana dia berdiri.


"Mas Ikhsaaann.. " Panggil Fatma dengan suara yang sedikit berteriak.


Akhsan juga Ikhsan langsung menoleh secara bersamaan, keduanya juga langsung beralih memandangi Nesa yang seketika terdiam sembari menghapus air mata nya.


"Fatma.. " Gumam Nesa begitu lirih dan tak berani bergerak apalagi menoleh ke arahnya.


Ikhsan yang semula duduk menghadap Nesa kini dia mulai berdiri dengan perlahan, matanya kini terus memandang Fatma yang sangat senang bisa melihat dirinya baik-baik saja.


Sekali lagi Ikhsan memandangi Nesa yang menggeleng, dia tidak siap untuk bertemu dengan Fatma.


"Mass." Fatma berlari ke arah Ikhsan.


Karena tak mau Fatma melihat Nesa, Ikhsan berjalan ke arah Fatma, menyambut kedatangan istrinya yang sangat berbinar.


"Mas! Kenapa Mas nggak pulang-pulang sih! Fatma khawatir mikirin Mas! Kalau mau bantuin orang itu boleh tapi jangan lupakan istrinya juga yang menunggu di rumah." Omel Fatma.


"Iya, Fatma. Mas minta maaf." Jawab Ikhsan.


"Mas gitu, sekarang minta maaf tapi selalu saja di ulangi lagi." Penyakit itulah yang selalu membuat Fatma kesal, berkali-kali Ikhsan minta maaf namun tetap saja selalu dia mengulanginya lagi dan lagi.


"Enggak, kali ini nggak akan." Jawab Ikhsan.


"Iya-iya."


Fatma menengok perempuan yang ada di belakang Ikhsan, dia merasa iba juga dengan apa yang ia kenakan. Sepertinya itu bukan salah satu dari karyawan Ikhsan ataupun Akhsan, karena tidak mungkin saja seorang karyawan berpakaian seperti itu.


Di saat Fatma melihat ke arah Nesa, secara bersamaan Jio juga pas menoleh ke arahnya. Karena mereka berdua pernah bertemu dan Jio pernah meminta bantuan dengan Fatma pastilah Fatma sangat terkejut.


"Jio, kamu Jio waktu itu kan?!" Tanya Fatma yang langsung berjalan melalui sebelah Ikhsan.


"Fatma." Panggil Ikhsan sembari menoleh, dia takut kalau sampai Fatma akan tau mengetahui Nesa di sana.


Namun sepertinya panggilan dari Ikhsan tak di dengar oleh Fatma yang sudah terlebih dahulu menghampiri Jio yang kini menghadap ke arahnya.


Fatma yang semakin dekat dengan Nesa membuat tubuh Nesa gemetar, dia terus menundukkan wajahnya dia tak akan sanggup melihat mata yang penuh kebencian dari Fatma jika berhasil melihatnya, apalagi sekarang Ayahnya sendiri yang menyia-nyiakannya yang di tolong oleh suaminya.


"Kakak, kakak kenapa ke sini? " Tanya Jio.


"Hemm, kakak nyariin suami kakak yang nakal itu. Hehehe.. " Jawab Fatma lalu meringis saat dia menoleh ke arah Ikhsan.

__ADS_1


"Jadi, kakak tampan itu suami, Kakak cantik?" Tanya Jio dan Fatma mengangguk cepat. "Wah, kalian serasi sekali. Satu tampan satunya cantik. Kakak memang pasangan yang serasi." Puji Jio.


"Hemm, " Fatma hanya tersenyum kecil menanggapi celoteh pria kecil yang ada di hadapannya itu. "Oh iya! Siapa yang sakit? Apa ayahmu yang waktu itu kamu ceritakan pada kakak? " Tanya Fatma.


"Iya, " Jawab Jio lesu.


"Kamu yang sabar ya, ayah kamu pasti segera sembuh. " Fatma mengelus pundak Jio penuh dengan kasih sayang, seolah ada kedekatan khusus namun belum di sadari oleh Fatma sendiri.


"Iya kak, " Jawab Jio. "Bu, Bu! Ini kakak yang kemarin memberikan uang pada Jio saat akan membeli obat ayah, Bu! Kenalin ini kakak cantik." Jio terus menarik-narik lengan Nesa, meminta ibunya itu untuk menghadap ke arah Fatma dan mau berkenalan dengan kakak cantik yang Jio katakan.


Fatma terdiam, menunggu reaksi dari Nesa, karena tak kunjung ada respons membuat Fatma mengernyit, namun dia juga maklum mungkin ibunya Jio tidak mau melihatnya karena ada beberapa alasan.


"Bu, kenalan dulu sama kakak cantik. " Jio terus menarik lengan Nesa.


Akhsan terdiam, berfikir apa yang akan terjadi jika Fatma melihat siapa wanita yang ada di hadapan itu, mungkinkah Fatma akan menerimanya atau mungkin malah sebaliknya.


Sementara Ikhsan kini berjalan mendekati Fatma, merangkul pundaknya dan tersenyum tipis saat Fatma menoleh ke arahnya.


Ikhsan harus bisa mempersiapkan semua hal yang mungkin akan terjadi, mungkin Fatma tidak akan menerima begitu saja, tapi Ikhsan hanya bisa berharap jika Fatma melihat Nesa dia bisa menerimanya, dan bisa memaafkan ibu serta ayahnya.


"Ibu, kenalan dulu dengan kakak cantik! " Teriak Jio karena dari tadi Nesa hanya diam.


Kesal karena Jio terus memaksanya membuat Nesa akhirnya berdiri namun tetap belum menoleh ke arah Fatma, mata yang masih mengalirkan air mata menatap tajam ke arah Jio. "Jioo!! " Bentak Nesa.


"๐˜š๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ...?" ๐˜šuara yang sangat Fatma kenal, meskipun sudah lama tidak bertemu namun suara seorang Ibu tidak akan mungkin di lupakan begitu mudah oleh anaknya.


Meskipun tak yakin namun Fatma tetap harus memastikannya, Fatma menyingkirkan tangan Ikhsan dari pundaknya, dia melangkah memutari Nesa untuk memastikan kalau ingatan akan suara itu tidak lah salah.


Meski lukanya kembali terbuka namun Fatma tidak akan seegois itu dan mengabaikan semuanya.


"Fatma." Tubuh Ikhsan mematung namun matanya tetap melihat pergerakan dari istrinya.


Begitu juga dengan Akhsan yang terperangah menunggu reaksi yang akan terjadi selanjutnya dari Fatma.


Kristal bening mengalir perlahan-lahan saat Fatma melihat dengan jelas wajah yang kini sangat tirus kering karena tak terawat. Fatma tidak percaya akan melihat keadaan Nesa yang seperti sekarang ini.


"I- ibu... " Lirih Fatma.


Matanya terbelalak namun langkahnya kini berubah menjadi mundur dan menjauh dari Nesa.


___

__ADS_1


Bersambung..


______________


__ADS_2