Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
85.Masa lalu


__ADS_3

Keheningan yang begitu terasa kental di pemakaman umum kota X. Hanya desiran angin yang sepoi-sepoi begitu lembut membangunkan bulu kuduk yang terasa tergerak karena terpaksa.


Pria yang begitu tampan namun terdapat kegelapan di dalam mata dan hatinya tengah menangis meratapi nasib nya yang terpisah jauh dari kedua orang tuanya dan hanya bisa menemui mereka lewat dua gundukan tanah yang sudah berhiaskan dengan batu nisan yang berwarna hitam.


" Ma, Pa. Maafkan Marco, Marco belum bisa membalaskan dendam Mama Dan juga Pada. Tapi Marco Janji meskipun nyawa Marco sendiri yang menjadi taruhan nya Marco akan tetap meminta keadilan dari semua yang menimpa Mama dan Papa. "


Marco begitu lemah di hadapan makam kedua orang tuanya. Air mata nya merembes keluar begitu saja dari kedua matanya. Air mata yang selalu dia sembunyikan dari siapapun dan hanya di depan makam kedua orang tuanya lah air mata itu bisa keluar dengan bebas.


Ingatan ingatan Marco akan saat itu benar-benar telah membuat hatinya terkunci untuk bisa memahami dan menerima kenyataan. Dendam yang sebenarnya tak pantas terjadi itu pun begitu membutakan mata hatinya hingga sekarang.


" Ma, kenapa Mama harus pergi meninggalkan Marco, Ma. Marco masih sangat membutuhkan Mama dan Papa. " Tangis Marco semakin pecah.


" Seandainya Semuanya tak terjadi maka kita masih bisa berkumpul bersama kan Ma, Pa. Bukankah semua ini gara-gara keluarga mereka. bukankah tak apa kalau Marco meminta keadilan karena kepergian Mama dan Papa. " Marco semakin terisak.


Flashback......


*Penyekapan di alami oleh Tasya dan juga Joe dari musuh yang tau kebenaran akan geng Hantu yang di pimpin oleh Tasya. Musuh yang begitu kuat dan juga tak kalah cerdiknya dari Tasya dan juga Joe kala itu.


Penyiksaan terus di dapatkan oleh Tasya dan juga Joe. musuh begitu sadis menyiksa mereka berdua dikala tau kalau perusahaan nya berhasil terjatuh karena di kalahkan oleh Tasya.


Rayyan yang mengetahui itu pun tak tinggal diam, Rayyan berjuang penuh untuk bisa melepaskan mereka berdua tentu saja dengan bantuan dari Arka dan juga Riska selaku anak dan menantunya dari Joe, dan juga sebagai asisten nya Rayyan yang menggantikan Tasya.


Penyelamatan sudah di pikir kan dengan matang, semua regu penyelamat sudah berdiri di tempat masing-masing mengintai di tempat dimana Tasya di sekap.


" Bunda tunggu Rayyan datang, Bunda " lirih Rayyan, matanya terus melihat pergerakan semua orang yang mengawasi tempat itu.


Rayyan berdiri di sisi lain sementara Arka dan Riska pun ada di sisi yang tak sama. Semua membagi tugas untuk bisa menyelamatkan mereka berdua dengan mudah.


Di saat semua orang tengah lengah semua orang yang di pimpin Rayyan berhamburan lari masuk dan memporak-porandakan tempat itu dengan begitu brutal dan juga membekuk semua orang dari lawan.


Semuanya terasa begitu mudah dengan penyelamatan itu. Tak ada rintangan yang berarti dan luka yang menimpa dari anak buah dari Rayyan semua dalam keadaan baik-baik saja.


Syukur alhamdulillah mereka semua panjatkan saat mereka berhasil membawa Tasya dan Joe keluar dari ruang penyekapan. Namun di saat itu Arka dan juga Riska belum juga keluar dari sana membuat Rayyan harus kembali masuk dan memeriksa semuanya memastikan semua dalam kondisi baik.


" Riska,, Pak Arka,,,!! teriak Rayyan berkali-kali, matanya terus mencari keberadaan mereka berdua namun tak kunjung dia temukan.


Hahaha,,,!!!


Tawa seseorang begitu menggema keras memasuki telinga Rayyan. Rayyan berlari ke sumber suara, matanya tajamnya melotot saat mendapati Arka dan Riska yang sudah di bekuk dan berlutut memunggungi orang itu dan jangan lupakan Senjata api yang di arahkan ke kepala mereka berdua.


" Lepaskan senjata mu.!! perintah orang itu begitu bengis melihat Rayyan yang membawa dua senjata api di kedua tangan nya.


Rayyan berfikir sejenak seandainya dia lepaskan bagaimana dia bisa melindungi dirinya dari orang itu, namun jika tidak di lepaskan nyawa Arka dan Riska akan berada dalam bahaya.

__ADS_1


Rayyan mengangguk patuh. Melepaskan kedua senjata yang ada di dua tangan nya ke lantai.


Rayyan mengikuti arahan orang itu dan berlutut menghadap pada orang itu dengan kedua tangan nya di angkat hingga ke atas telinga.


" Hahaha,,, kalian pikir bisa mengalahkan ku dengan mudah, tidak. Kalian akan selalu kalah dariku, Hahaha,,, "" tawa orang itu dengan girang.


" ternyata hanya segitu saja kemampuan kalian, hahh,,,. tak ku kira komplotan rahasia yang selama ini bekerja diam-diam ternyata begitu lemah juga, hahaha,,,, ""


Rayyan, Riska dan Arka saling memberi kode untuk bisa melumpuhkan orang itu. meskipun tak mudah mereka harus tetap melakukan nya ya meski tak ada senjata di tangan nya namun masih ada yang mereka sembunyikan di dalam saku mereka masing-masing kan.


Begitu banyak para anak buah dari orang itu yang mengelilingi mereka dan itu akan menjadi penghalang mereka untuk bisa selamat tentunya. Perlahan-lahan mereka bertiga melemparkan benda-benda yang ternyata senjata beracun pada semua anak buah, seketika mereka langsung jatuh tersungkur dan sudah di pastikan tak lagi bernyawa tentunya.


Bos nya begitu marah dan geram dia karena anak buah nya satu persatu berjatuhan di depan matanya " bedebah,, !! kurang ajar kalian,," Dorr,,,,


Satu tembakan menggema dan ternyata di arahkan pada Riska namun dia bisa lolos dari maut, Tembakan kedua di arahkan pada Arka namun sama dia bisa lolos. Dan yang ketiga pada Rayyan namun tetap sama tembakan itu meleset.


" Bedebah kalian semua,,!!


Adu tembak terjadi di tempat itu. suaranya begitu terdengar jelas dari luar, Tasya dan Joe merasa sangat takut namun mereka tak bisa berbuat apapun karena mereka sendiri sudah tak berdaya.


Dor...


dor...


dor....


Arka dan Riska berlari keluar lebih dulu karena permintaan dari Rayyan, dan Rayyan masih di dalam seorang diri melawan semuanya menaruh kan nyawa nya untuk keselamatan Arka dan Riska.


Ternyata musuh sudah menyiapkan hal yang sangat menakutkan di sana. Sekali saja tembakan terjadi dan mengenai benda rakitan nya maka tempat itu akan langsung hancur bersamaan dengan semua orang yang berada di dalam nya.


Rayyan yang sudah tau itu langsung berlari keluar, dan mengira Arka dan Riska sudah keluar terlebih dahulu namun ternyata belum mereka berdua masih tertahan di dalam entah tersesat lewat jalan yang mana tapi Rayyan tak tau.


Dor.....!!


satu tembakan berhasil mengenai kaki Rayyan yang sudah berhasil keluar. Rayyan ambruk seketika di sana dengan luka di kaki.


Ini lah kesalahan sebenarnya yang membuat Marco membenci Rayyan yang dulu dia puja. Tanpa menoleh-noleh terlebih dahulu Rayyan menembak tempat itu sebenarnya sasaran nya musuh yang sudah dekat namun karena dia menembak saat dia juga terjatuh tembakan itu meleset dan menembak benda rakitan dari musuh dan tempat itu meledak dengan cepat, menghancurkan semua nya bahkan semua yang ada di dalamnya termasuk Arka dan Riska yang Rayyan kira sudah keluar.


" Papa, Mama,,,,!!! teriak Marco histeris dengan air mata yang tak dapat terbendung lagi.


Rayyan yang mendengarkan teriakan itu langsung tak berdaya senjata yang ada di tangan nya terjatuh begitu saja ke tanah. Matanya kosong menatap betapa dahsyatnya ledakan itu. dan dapat di pastikan yang berada di dalamnya tak mungkin bisa selamat.


Marco berlari ke arah Rayyan memukuli tubuh Rayyan dengan begitu brutal, menyalahkan semua kejadian itu pada Rayyan yang melakukan nya tanpa sengaja sebenarnya. Dan pundi-pundi dendam berhasil tumbuh dari hati Marco.

__ADS_1


" Om jahat,,!! Om telah membunuh Mama dan Papa,, Om jahat..!! teriak Marco histeris.


" maafkan Om, Marco. Om tidak tau kalau Papa dan Mama mu masih di dalam, maafkan Om " Rayyan begitu lemah hatinya hancur, meski tanpa sengaja mungkin yang di katakan Marco benar, Rayyan yang menyebabkan kedua orang tuanya Marco meninggal. " maafkan Om Marco, maaf. "


" Om jahat, Marco benci Om. Om pembunuh,! "


" Om harus membayar semuanya, Om harus merasakan apa yang Mama dan Papa rasakan, Om jahat,,,!! Om pembunuh. "!


Normal.....


Mengingat semua itu membuat hati Marco lagi-lagi terasa teriris. Kenangan akan kebersamaan dengan kedua orang tuanya masih tertata rapi di dalam benaknya.


" Ma, apa Marco bersalah. "


" Pa, tunggu keadilan yang baru Marco perjuangkan Pa. kalian akan secepatnya mendapatkan keadilan itu. Marco berjanji "


Menabur bunga mawar merah dan putih menjadi ujung kunjungan Marco pada kedua orang tuanya. Marco beranjak memakai kacamata hitam dan berjalan pergi meninggalkan makam kedua orang tuanya.


Mobil sport meluncur dengan kecepatan tinggi meninggalkan pemakaman umum di sana.


Setelah kepergian Marco ternyata Akhsan dan Ikhsan datang ke sana, dengan keranjang bunga di tangan mereka. " Bang, bukankah tadi mobil Marco .? tanya Ikhsan.


" sepertinya memang iya. " jawab Akhsan.


Keduanya berjalan beriringan mendatangi kedua makam yang tadi di datangi oleh Marco. Ya makam Arka dan Riska lah yang menjadi tujuan mereka berdua.


Bunga dari Marco masih segar belum layu sedikitpun. Bahkan air mata Marco pun belum kering di rumput kecil dan juga Nisan di sana.


" Benarkah ini air mata Marco,? benarkah Marco masih bisa menangis.? bingung Akhsan dan Ikhsan hanya menaikan bahunya tanda tak tau.


Doa Akhsan dan Ikhsan panjatkan untuk kedua orang tua Marco. Secercah harapan muncul dari mereka berdua bahwasanya Marco masih bisa kembali seperti dulu lagi. Sekeras apapun Marco ternyata masih ada sisi lemah nya juga terlihat dari Marco yang masih bisa mengeluarkan air mata. itulah kesimpulan dari mereka berdua.


" Om, Tante. Jika Papa kami benar-benar salah di mata kalian maka kami mohon kalian bisa mengampuni Papa kami. Namun jika di mata kalian Papa tidak bersalah karena tak sengaja melakukan itu, kami mohon tuntun kami untuk bisa membawa Marco kembali ke jalan yang benar dan kembali seperti dulu lagi. " ucap Akhsan dengan tangan menyentuh Nisan dari Arka.


" Seperti apapun Marco saat ini. dia tetap saudara kami Om, tante. dan akan tetap seperti itu. kami tak akan mungkin bisa menyakiti dia jadi kami mohon tuntun kami. " saut Ikhsan.


Bunga segar Akhsan dan Ikhsan taburkan setelah selesai dengan doa mereka. dan juga Air dua botol juga membasahi makam itu dari mereka berdua.


" kami permisi Om, tante. kami pasti akan kembali lagi. " pamit Akhsan.


" Assalamu'alaikum, " ucap mereka berdua.


Akhsan dan Ikhsan beranjak pergi. memasuki mobil yang terparkir di depan pemakaman umum.Keduanya menatap sekejap makam yang ia tinggal kan lalu mereka benar-benar pergi dari sana dengan menancap pedal gas dengan kuat.

__ADS_1


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


__ADS_2