Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
195.Palang merah


__ADS_3

____


Happy Reading..


_________________


Fatma tersenyum bangga, matanya terus menatap lekat wajah suaminya yang masih tertidur pulas dengan menghadap ke arah nya. Wajah tampan, putih, bibir seksi, rambut hitam lebat semuanya begitu sempurna dan pas sesuai takaran nya, Allah begitu sempurna menciptakan pria tampan yang kini menjadi miliknya.


Meskipun jam sudah jam empat pagi dan biasanya dia sudah bangun namun Fatma masih sangat enggan untuk bangun dari kasurnya dan membangunkan Ikhsan suaminya. Dia masih ingin mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang begitu indah dan sempurna.


Fatma menyentuh hidung Ikhsan dengan gemas ingin sekali dia menyapitnya dengan jari-jarinya tapi dia tidak mau menanggung konsekuensi nantinya.


Rasa syukur bergema begitu keras di dalam hatinya, kehadiran Ikhsan di dalam hidupnya benar-benar bisa mengubah nasib hidupnya.


Kebahagiaannya berangsur menjadi haru, air matanya terjatuh dan langsung membasahi bantalnya dengan cepat Fatma pun menghapus dan menghentikannya sebelum Ikhsan bangun dan melihat nya.


Satu persatu semua Fatma sentuh dengan satu jarinya, mata, alis, pipi, hidung dan terakhir bibir Ikhsan semuanya tak ada yang terlewat.


" Apakah istriku begitu mengagumi ku. " Ucap Ikhsan dengan mata yang masih tertutup.


Fatma terkejut, dia menarik tangan dari depan wajah Ikhsan namun dengan cepat Ikhsan sudah menyambarnya.


" Kamu bisa menyentuh semuanya yang aku punya, bukankah semuanya juga punyamu?. " Ucap Ikhsan yang perlahan-lahan mulai membuka mata dan menatap Fatma yang tercengang.


" Apa sih, Mas. " Fatma berusaha menarik tangan yang di genggam oleh Ikhsan dan ingin kabur saja ke kamar mandi, tapi itu tak akan semudah itu. Masih ada rintangan yang harus dia lalui yaitu Ikhsan.


" Kenapa buru-buru, belum subuh juga kan?. " Ucap Ikhsan menghentikan.


" Ya, ya... Kita sholat sunah kah Mas, biasanya juga gimana. " Jawab Fatma.


" Tadi udah jam dua. Bagaimana kalau kita lakukan hal lain saja, masih ada waktu setengah jam sampai subuh. " Ucap Ikhsan menyeringai.


" Melakukan apa?. "


" Apalagi? Ya,, melakukan hal yang tadi malam belum jadi. " Ucap Ikhsan.

__ADS_1


" A- apa?. " Gugup Fatma.


" Sini aku kasih tau, sekalian kita praktekan sekarang juga." Dengan cepat Ikhsan menindih Fatma menatap lekat wajah nya yang begitu cengo.


" A- ap... "


Ucapan Fatma terputus karena Ikhsan sudah menyatukan bibirnya dengan milik Fatma, Ikhsan begitu menikmati rasa manis yang keluar dari bibir Fatma.


Semakin lama keduanya saling menikmati, keduanya semakin bergairah dan mengharapkan lebih. Mulut keduanya sudah menganga menyatukan lidah keduanya dan berdansa begitu mesra, keduanya saling bertukar saliva dengan gelora yang kian mendalam.


Keduanya sudah mulai mengerang penuh kenikmatan, suara demi suara mulai keluar manis dari bibir keduanya. Sudah satu bulan keduanya tak melakukan itu, pasti akan membuat gairah begitu menggelora di darah muda mereka.


Satu persatu Ikhsan mulai melepas kancing milik Fatma, dan bibirnya tak pernah berhenti menikmati setiap lekuk yang mulai terbuka.


Kedua gundukan kenyal dan kembar menjadi bulan-bulanan untuk pelabuhan dari Ikhsan, matanya semakin berbinar dan tubuhnya kian meradang karena dia sudah tak sanggup untuk berlama-lama dalam kedinginan yang selalu dia tahan.


Peluh mulai bercucuran bersamaan dengan gairah yang menggelora di antara mereka berdua. Suara des*han dari Fatma sudah muncul hingga beberapa kali, dia sudah terbuai dengan sentuhan dari tangan ajaib milik Ikhsan.


" Maaassss... " Fatma semakin meradang, tapi dia ingin menghentikan aktivitas itu. Tapi dia sendiri terasa tak bisa karena dia juga sudah terbuai.


Perut Fatma sangat keram, semakin lama semakin kerasa itulah kenapa Fatma ingin menghentikan aktivitas mereka berdua.


" Mass,, perutku keram. " Fatma menggeliat ke atas saat Ikhsan mencumbu di bagian perutnya, dan hanya sebatas mengelusnya karena belum bisa berharap akan tumbuh buah hati di dalam rahimnya.


Dahaga yang benar-benar sudah di ujung tombak tiba-tiba loyo kembali saat mata Ikhsan melihat bercak merah di atas spray berwarna putih.


" Fatma, kamu datang bulan!?"


__________


Ikhsan berjalan dengan tak semangat saat keluar dari rumahnya, wajahnya di tekuk seakan kehilangan semangatnya untuk hidup. Sedangkan Fatma yang berjalan di belakangnya dia terus merasa menyesal tapi dia juga terus menahan tawa.


Semuanya yang terjadi bukan kehendak dari Fatma kan? Itu tamunya datang memang setiap bulan sekali dan itu sudah menjadi kodratnya, jadi mau bagaimana lagi.


" Maaf Mas, Fatma kan juga nggak tau kalau Fatma kedatangan tamu bulanan hari ini. " Ucap Fatma menyesal.

__ADS_1


Ikhsan mengeluarkan nafas beratnya, tak sepantasnya dia cemberut dan merasa kesal seperti ini, karena itu bukan keinginan dari Fatma juga.


Keduanya sudah siap untuk masuk ke dalam mobil untuk pergi ke sekolah, tapi beli juga masuk ada suara bariton yang menggelegar keras menertawakan Ikhsan, siapa lagi kalau bukan Abang nya.


" Sabar dek. Semua akan indah pada waktunya, hahaha..!! " Tawanya benar-benar tak berperi-peri.


Akhsan sudah ada di dalam mobil bersama Kairi, dia lebih dulu menjalankan mobilnya namun Akhsan berhenti saat melihat wajah miris milik Ikhsan.


" Diam kau, Bang!. " Sungut Ikhsan sebal.


Sejenak Ikhsan merasa menyesal, kenapa mereka harus menjadi tetangga. Seandainya tidak menjadi tetangganya mungkin tidak akan ada yang meledek nya meskipun dalam keadaan apapun dirinya, apalagi ini hanya karena tak mendapatkan jatahnya. " Menyebalkan sekali. " Lirihnya.


" Sudah, jangan terlalu ngoyo kalau udah saatnya jangankan satu babak saja, dua, tiga babak juga oke! Iya kan, Fatma. " Akhsan melirik ke arah Fatma yang malu.


" Sana pergi! Datang hanya bikin darah mendidih saja. Pergi! Pergi!. " Usir Ikhsan keras.


" Sudah lah Mas, jangan ledekin Ikhsan terus. " Ucap Kairi.


" Hahaha... Ada yang lagi galon nih. Hahaha..! " Akhsan berlalu dengan seiring tawa yang masih menggelegar. Akhsan juga takut, dia sudah mendapatkan peringatan dri Kairi kalau dia tetap berlanjut mung dia juga akan mendapatkan hal yang lebih dari Kairi.


Ikhsan menggeleng lalu masuk ke dalam mobil bersama dengan Fatma.


" Maaf. " Ucap Fatma lagi, " Semua ini gara-gara Fatma, kan?. " Fatma tertunduk sedih secara tidak Fatma juga bersalah karena dia tak bisa memberikan haknya karena Palang merah yang melintang.


" Tidak, ini bukan kesalahan mu. Jadi kamu jangan berfikir seperti itu, oke. " Ikhsan membelai wajah Fatma depan lembut dia tak mau Fatma sedih dan merasa bersalah.


Fatma mengangguk pelan, namun wajahnya tetap saja belum berubah. Dia sangat kasian dengan Ikhsan sudah lama mereka tak melakukan aktivitas itu karena kesibukan masing-masing dan saat Ikhsan mau memintanya palang mereka telah mengacaukannya.


" Maafkan aku, Mas. Fatma janji, setelah selesai Fatma akan memberikan semuanya pada Mas. " batin Fatma sedih.


_____


Bersambung..


_______________

__ADS_1


__ADS_2