
_______
Ikhsan mulai menggeliat saat sudah jam lima sore, Fatma kembali mengabaikannya setelah dia membangunkan nya lagi saat waktu salat Ashar tiba dan Ikhsan sama sekali tidak bangun.
Perlahan-lahan Ikhsan mengusap kedua matanya dengan punggung tangan mencoba memperjelas pandangannya samar-samar yang masih terlihat samar-samar. Ikhsan terlihat bingung saat mendapati dirinya sudah tertidur di sofa ruang tamu rumahnya sendiri. Dia masih ingat betul bahwa dia tadi berada di rumah Suci terus siapa yang membawanya pulang? .
Ikhsan menurunkan kakinya, dan beranjak dari sana untuk pergi ke kamarnya, apalagi saat dia melihat jam berapa sekarang dia sangat buru-buru karena dia sama sekali belum melaksanakan salat ashar.
" Aneh, kenapa Aku sama sekali tidak mendengar suara adzan? ." Ikhsan mengernyit bingung namun dia tetap melangkah dan mempercepat lajunya.
Ikhsan celingukan mencari Fatma yang sama sekali tidak terlihat tak seperti biasanya yang selalu ada ada saat dia di rumah dan selalu membangunkannya saat dia tertidur dengan pulas.
" Fatma di mana, apa dia ada di kamar? ." Tanya Ikhsan seorang diri.
Sampai di dalam kamar Ikhsan sama sekali tak melihat keberadaan Fatma, Dia sangat bingung karena rumah juga terlihat sangat sepi seolah tidak ada penghuni lain kecuali dirinya sendiri.
Karena waktu yang sudah sangat mepet Ihsan lebih dulu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera melaksanakan salat ashar yang sudah terlewat.
Dalam waktu setengah jam Ikhsan sudah menyelesaikan acara bersih-bersih nya dan juga sudah selesai melaksanakan salat dan kali ini tujuannya adalah mencari keberadaan Fatma dan semua penghuni lain di rumah itu.
Meskipun lapar melanda namun Ikhsan bisa menahan nya karena dia sangat mengharapkan bisa makan bersama dengan Fatma dan juga memakan masakannya, sekaligus dia ingin minta maaf karena dia telat pulang dan juga ingin menanyakan kenapa dirinya sudah ada di rumah saat ini.
Ikhsan terus berkeliling mencari-cari semua penghuni rumah itu namun tetap saja dia belum bisa menemukan keberadaan semua orang. Ikhsan berkacak pinggang, berdiri di tengah-tengah pintu belakang mereka semua juga tidak ada di sana, lalu mereka ada di mana? pertanyaan itulah yang terus terlontar di kepala Ihsan.
Ikhsan kembali lagi melangkah untuk cari di tempat lain, namun baru saja berapa langkah dia mendengar suara tertawa dari arah sebaliknya dan sepertinya suara itu adalah suara dari Fatma yang tengah dia cari.
Ikhsan bergegas pergi dengan cepat mendatangi ke tempat sumber suara yang semakin dekat terdengar semakin jelas bahwa tidak hanya Fatma saja yang ada di ruangan itu dan sepertinya semua penghuni rumah itu ada di sana juga.
"Fatma!. " Panggil Ikhsan Setelah dia benar melihat sang istri ada disana dan sedang bercanda gurau dengan para asisten rumah tangga menjaga dan juga sopir pribadi yang dipekerjakan oleh Ikhsan.
Semua terdiam saat mendengar suara teriakan dari Ikhsan, begitu juga dengan Fatma yang langsung menoleh ke arahnya dengan wajah yang datar.
"Kita lanjutkan nanti ya, Bi. Sepertinya ada sesuatu yang yang harus aku lakukan. Oh! Iya, tugas sekolahku begitu banyak jadi saya harus masuk masuk ya Bi. " Ucap Fatma yang sepertinya menghindar dari Ikhsan.
" Baik, Bu. " Jawab Bibi.
__ADS_1
Ikhsan tercengang saat dia melihat Fatma yang malah pergi begitu saja dari sana lewat arah lain dan seolah tak memperhatikan dirinya.
" Apa aku aku telah melakukan kesalahan? Fatma!. " Teriak Ikhsan dan berlari mengejar Fatma yang semakin jauh.
Para pembantu dan juga penjaga hanya bisa menatap kepergian mereka berdua dengan doa yang terus terpanjatkan dari dalam hati mereka semua. Mereka berharap perang tidak akan terjadi di rumah itu.
" Semoga saja bos kita baik-baik saja dan tidak berantem, Amin. " Ucap salah satu dari asisten rumah tangga itu, dan langsung di amini oleh semuanya. " Amiinnn.. " Ucap mereka bersamaan.
Bukannya pergi ke kamar sendiri Fatma malah pergi ke kamar tamu Sepertinya dia sudah mempersiapkan segalanya di sana tempat yang semula belum ada sprei dan bedcover saat ini semuanya sudah tersedia dengan manis di sana.
"Loh! Kenapa Fatma masuk sana? . " Ikhsan mengernyit bingung beri Berhenti sejenak menatap warna yang masuk ke dalam kamar tamu dan langsung menutup pintunya dengan sedikit keras. " Brakk!. "
"Sepertinya aku benar-benar melakukan yang sangat besar kalau tidak Fatma tidak mungkin semarah ini padaku, tapi apa?. " Ucap Ikhsan yang semakin bingung.
Ikhsan menyusul Fatma masuk ke kamar itu, dan Alhamdulillah pintunya sama sekali tidak di kunci, jadi Ikhsan bisa dengan mudah menerobos masuk tanpa dia harus meminta pada Fatma.
Ikhsan begitu kaget saat dia melihat tumpukan baju milik Ikhsan ada di sana. Kenapa semaunya bisa ada dua sana? Kenapa tidak ada di kamarnya sendiri? Jadi tadi Ikhsan sama sekali tak memperhatikan nya saat dia selesai mandi, jadi baju yang menggantung depan lemari dan sekarang sudah dia pakai itu memang sudah di Siapakah oleh Fatma.
" Fatma, kenapa semua barang-barang ku ada di sini?. " Ikhsan membuntuti kemanapun Fatma melangkah, dia butuh jawaban sekarang, kenapa Fatma memindahkan semuanya di sini.
" Fatma sayang, jelaskan padaku, apa aku melakukan kesalahan. " Ikhsan masih terus mengejar Fatma yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
" Fatma. " Ikhsan tak mau diam sebelum dia mendengar apa semua jawabannya, dia harus mendengarnya sekarang.
Ikhsan begitu frustasi karena Fatma tak kunjung bicara padanya, sepatah kata saja tak keluar dari mulutnya bagaimana mungkin Ikhsan akan mendapatkan penjelasan?.
Kesal tak mendapatkan respons Ikhsan berdiri menghadang Fatma, kedua tangannya menahan kedua bahunya supaya berdiri anteng di depannya. Ikhsan menatap wajah kusut yang tak pernah dia lihat dari wajah istrinya itu, dan juga tatapan penuh kekesalan dan kecewa yang begitu dalam.
" Oke! Mungkin aku melakukan kesalahan, aku mengaku salah dan aku minta maaf. Tapi tolong jelaskan padaku dan jangan diamkan aku seperti ini, Fatma. Aku tidak akan kuat, please.. " Ucap ikhsan yang begitu memohon.
Fatma masih acuh, dia melepaskan tangan Ikhsan dari bahunya dan kembali melangkah pergi tanpa kata.
" Fatma.. " Ikhsan mengacak rambutnya frustasi, dengan cara apa dia bisa meluluhkan hati Fatma yang saat ini begitu mengeras. Haruskah dengan rayuan atau kata-kata gombal? Tapi Ikhsan bukan ahli dalam bidang itu. Haruskah Ikhsan berkata ' Fatma kau begitu cantik, kau sangat manis dan bla.. bla.. bla.. ' Ikhsan tidak bisa.
" Fatma.. " Ikhsan kembali mengejar Fatma yang kini duduk dengan wajah tak bersahabat di atas ranjang.
__ADS_1
Ikhsan menyusul duduk di depan Fatma yang duduk miring, seketika Fatma melengos dan putar arah menghindari Ikhsan. Ikhsan berdiri lagi dan duduk di sisi lain namun Fatma kembali berbalik lagi. Kini Ikhsan berjongkok di depan Fatma, menatap wajah Fatma yang kecewa.
" Aku minta maaf. " Jari-jari Ikhsan sudah ada di kedua telinganya, dia sangat menyesal benar-benar menyesal. " Jika kamu memang mau pukul, pukul saja aku tapi jangan pernah diamkan aku seperti ini. Aku lebih baik kamu pukul dari pada kamu tak mau bicara padaku. " Ucap Ikhsan.
Fatma belum juga luluh dia masih kekeuh dengan kemarahan nya. Ikhsan meraih kedua tangan Fatma dan menamparkannya di kedua pipinya sendiri.
𝘗𝘭𝘢𝘬... 𝘗𝘭𝘢𝘬.. 𝘗𝘭𝘢𝘬.. 𝘗𝘭𝘢𝘬...
" Tampar aku, tampar terus jika itu membuat mu bisa memaafkan ku. Tampar terus. " Ikhsan terus menggunakan tangan Fatma untuk menyakiti dirinya sendiri, sepertinya dia benar-benar menyesal.
" Mas!.. " Bentak Fatma dan menarik kedua tangannya dengan cepat.
Ikhsan tertunduk tak memperdulikan apapun lagi, dia berani menjatuhkan harga dirinya sendiri untuk bisa mendapatkan maaf dari Fatma, perempuan yang menjadi istrinya semenjak setengah tahun yang lalu.
"Maafkan aku, aku salah. Aku tak mendengarkan kata-katamu untuk pulang tepat waktu, dan aku terlambat pulang karena keteledoran ku. " Ucap Ikhsan.
Mata Fatma melotot, mulutnya menganga lebar, kenapa hanya itu saja yang Ikhsan ingat, bahkan lebih dari itu yang berhasil membuat Fatma kesal pada Ikhsan, kalau hanya pulang terlambat mungkin Fatma bisa memaafkan dengan mudah, tapi ini? Ikhsan berada di rumah wanita lain dan yang paling parah adalah Ikhsan tidur di ranjang wanita itu.
" Maafkan aku yang terlambat pulang, maaf. " Ucap Ikhsan yang masih belum sadar, apa mungkin memang dia sama sekali tak mengingatnya.
Fatma mengambil ponselnya memutar Video yang telah dia rekam sebelumnya di rumah Suci tadi, di saat Suci dan Ikhsan ada di atas ranjang bersama-sama.
" Jelaskan ini padaku, Mas! Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu, jelaskan!. " Emosi Fatma memuncak dengan cepat. Sebenarnya itu Fatma lakukan hanya karena dia ingin Ikhsan bercerita padanya dengan jujur sejujurnya dari awal dia bisa ada di sana.
Ikhsan mengambil ponsel yang Fatma sodorkan, dia tak percaya dengan apa yang dia lihat, ini sungguh mustahil. " I- ini.. " Ikhsan tergagap stok kata-katanya seakan habis di telan oleh video yang jelas dia lihat.
" Iya! Mas dan juga Suci dalam satu rakyat berdua, BERDUA!!. " Fatma menegaskan.
Meskipun Fatma sendiri tau bahwa Ikhsan hanya di jebak tapi dia butuh penjelasan juga dari Ikhsan sebelum dia memaafkannya. " Aku kecewa sama Mas!. " Fatma beranjak dan ingin pergi dari sana, dia ingin tau reaksi apa yang akan Ikhsan lakukan sekarang.
" Fatma, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. " Ikhsan beranjak dan berlari mengejar Fatma lalu memeluknya dari belakang. " Semua ini tidak benar, aku tidak tau apapun tentang ini. Aku tidak ingat apapun. " Ucap Ikhsan.
____
Bersambung...
__ADS_1
_______________