
Happy Reading..
______
Suara adzan berkumandang begitu keras masuk ke telinga khairi yang kini tengah tidur terlelap di kamarnya, perlahan-lahan matanya mulai terbuka tangannya langsung terangkat, menempel ke area mata dan bergerak kanan kiri untuk membuat matanya lebih jelas.
Seketika Khairi bingung karena dia sudah tidur di atas ranjang di kamarnya sendiri, seingatnya dia tidur di sofa ruang tengah kemarin malam, tapi kenapa sekarang bisa ada di kamar?.
Khairi duduk dan saat dia duduk itulah bersamaan dengan Akhsan yang keluar dari kamar mandi. Akhsan yang baru keluar langsung memandangi Khairi yang masih bingung.
"Kamu sudah bangun?" Akhsan berjalan mendekat, duduk di sebelah Khairi yang langsung menatapnya.
"Mas, sejak kapan mas pulang? Dan..., kenapa aku bisa tidur di sini? Bukankah..?" Tanyanya.
"Apa mas akan tega membiarkanmu tidur di sofa dalam keadaan duduk seperti itu, tidak kan?" Akhsan mengusap puncak kepala Khairi dengan sangat gemas, senang rasanya bisa melakukan itu.
"Jadi...? Mas yang membawaku ke sini? Maaf ya, Mas. Seharusnya aku tidak tidur. " Sesalnya.
"Kenapa minta maaf, seharusnya mas yang minta maaf karena pulang terlambat. Besok-besok kalau mas pulang terlambat lagi kamu langsung tidur saka di kamar, biarkan Mang irul yang menunggu mas pulang. "
"Iya, Mas."
"Ya sudah, sekarang ambil wudhu lalu kita sholat. Nih sudah masuk waktu subuh."
Khairi langsung beranjak setelah di minta oleh Akhsan untuk mengambil air wudhu, sebenarnya Khairi masih ingin bertanya kenapa Akhsan sampai pulang terlambat tapi itu dia urungkan karena masih ada waktu nanti setelah sholat.
"Maafkan mas, Khairi." Gumam Akhsan yang benar-benar menyesal.
Akhsan yang semalam pulang terlambat memang langsung memindahkan Khairi ke kamar tanpa membangunkannya, dia tau kalau Khairi pasti lelah karena menunggunya sampai-sampai dia tertidur di sofa dalam keadaan duduk.
Sementara di rumah sakit Ikhsan juga Fatma sudah selesai menjalankan sholat di musholla rumah sakit, mereka berdua tidak pulang dan menunggu Fans yang kemarin belum sadarkan diri.
__ADS_1
Fatma masih melipat mukena nya, sementara Ini kini sudah berjalan mendekatinya. Tak ada siapapun di sana selain mereka berdua, mungkin yang lain sudah lebih dahulu atau mungkin mereka menjalankan sholat di tempat lain.
"Setelah ini kita harus pulang, kamu harus ke sekolah sementara Mas harus ke kantor dulu baru ke sekolah." Ucap Ikhsan.
"Kenapa ke kantor dulu? Biasanya mas langsung ke sekolah? " Tanya Fatma heran.
"Mas ada meeting pagi, kemungkinan mas akan datang ke sekolah sedikit terlambat. Tapi mas masih bisa nganterin kamu dulu."
"Apa nggak ribet nantinya, kalau mas buru-buru lebih baik Fatma di antar pak Lukman saja. " Ucap Fatma.
"Nggak ribet kok. Yuk. " Ajak Ikhsan.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya Fatma juga Ikhsan bergegas untuk pulang. Meskipun masih ingin di sana namun kewajiban Fatma tetap tidak bisa di tinggalkan.
"Bu, Fatma pulang dulu ya. Nanti siang Fatma akan datang lagi ke sini, dan insyaallah Fatma akan ajak Aira juga." Ucapnya.
"Tapi, Fatma? Bagaimana kalau Aira...? " Nesa tertunduk lesu, dia masih sangat takut bisa saja Aira juga akan sangat membencinya sama seperti Fatma sebelumnya.
Bukan hanya Fatma yang menyalami kedua orang tuanya, namun Ikhsan juga sama. Ikhsan lebih bahagia karena bisa melihat Fatma bisa berbesar hati untuk memaafkan kedua orang tuanya, dan bisa ikhlas dari semua yang pernah mereka lakukan padanya.
"Saya juga pamit, Bu. Assalamu'alaikum. " Susul Ikhsan.
"Wa'alaikumsalam, ibu titip Fatma ya, Nak. Tolong bahagiakan dia. Dan maafkan Ibu yang selama ini selalu membuat masalah." Jawab Nesa.
"Pasti Bu, Fatma adalah kebahagiaan Ikhsan."
"Yuk, Mas! Ini sudah siang, takut terlambat." Seru Fatma dan Ikhsan mengangguk pelan.
Bisa memaafkan memang menjadi anugrah terbesar pada setiap orang, tak semua orang bisa melakukan itu bahkan terkadang banyak juga yang akhirnya menyimpan dendam hingga akhir hayatnya, tapi kali ini Fatma bisa memaafkan dan membuat hatinya lebih tenang dan damai.
Di dalam mobil Fatma terus tersenyum bahagia, kebahagiaannya terasa sangat lengkap, bisa kembali bersatu lagi dengan orang tuanya, mendapatkan suami yang benar-benar cinta dan sayang kepadanya, dan bisa mendapatkan semua yang dia inginkan.
__ADS_1
Menyesal Fatma sekarang, kenapa tidak dari dulu dia memaafkan orang tuanya. Mungkin jika sudah dari dulu sekarang Fatma lebih bisa bahagia lagi dan bisa berkumpul dengan mereka, tapi itulah perjalanannya, dan mungkin dengan cara itu jalan untuk dia memaafkan.
"Aku senang, Mas. Akhirnya aku bisa melihat Ibu lagi, melihat Ibu yang penuh dengan kasih sayang pada ku. Semoga ibu benar-benar berubah dan tidak lagi membesarkan egonya untuk mendapatkan harta." Ucap Fatma.
"Amin..., semoga apa yang kamu inginkan benar-benar bisa tercapai. Semoga kedua orang tuamu bisa benar-benar berubah. Dan kalian bisa hidup damai dengan kebahagiaan yang besar." Seni simpul keluar dari bibir Ikhsan seketika membuat Fatma juga ikut tersenyum.
"Makasih sudah selalu ada untuk Fatma, Mas. Terima kasih karena menuntun Fatma menjadi yang lebih baik dari sebelumnya." Fatma menelusupkan tangan di lengan Ikhsan, menyandarkan kepalanya di sana.
"Apa hanya kata terima kasih saja yang aku dapatkan? " Ikhsan melirik sejenak ke arah Fatma dan kembali fokus dengan jalan di depan. "Apa tidak ada imbalan lain gitu? "
"Imbalan lain, maksudnya? " Fatma terperanjat, memandangi Ikhsan yang tetap fokus.
"Ya, ya mungkin ada hadiah khusus yang ingin kamu berikan dengan suka rela."
"Hadiah apa sih? "
"Hadeuh... Kenapa istriku nggak paham juga sih, sudah berapa lama aku puasa, apakah aku tidak akan berbuka dalam waktu dekat ini? " Tanya Ikhsan.
"Lah..! Bukannya Mas sendiri yang berniat untuk puasa ya? Katanya mas akan puasa sampai aku selesai ujian. " Jawab Fatma mengingatkan.
"Nggak kuat sayang, hehehe... "
"Terserah situ lah, kuat nggak kuat harus di kuatin. Kan bukan aku yang larang. "
"Hadeh.., nasib nasib.. "
"Hahaha....! "
___
Bersambung...
__ADS_1
_______