
__
Happy Reading..
____
Beberapa Bulan kemudian...
Kehamilan Khairi sudah membesar sekarang, hanya beberapa minggu lagi sudah sampai di hari persalinan. Khairi sudah mengambil cuti dari Kampus, sementara Akhsan juga semakin siaga sekarang.
Akhsan hanya akan pergi jika benar-benar mendesak, jika urusan kantor dan juga kampus tidak bisa di tinggalkan baru dia akan keluar dari rumah, Akhsan tidak tega meninggalkan Khairi di rumah meskipun sudah ada para asisten di sana.
Hari ini Akhsan ada meeting pagi, dan meeting ini sama sekali tidak bisa digantikan oleh Ardi jadi dia sendiri yang harus berangkat. Dengan malas Akhsan memakai dasi dengan bantuan Khairi, "Mas tidak usah khawatir, kan ada bibi di rumah, Fatma hari ini juga libur kan? Sebentar lagi dia pasti akan datang kesini menemaniku."
"Tapi..? "
"Nggak apa-apa, Mas. Pekerjaan Mas juga sangat penting." Selesai memakaikan dasi Khairi langsung membantu Akhsan memakai jasnya juga. Khairi sungguh pintar melakukan itu.
"Janji ya kamu tidak akan melakukan apapun."
"Iya, Khairi janji, Mas. Mas yang tenang kerjanya biar cepat selesai dan bisa kembali pulang, " Jawab Khairi.
"Iya," Akhsan membungkuk tangannya langsung mengelus perut Khairi dengan lembut, "Jagoan Abi jangan nakal ya, jaga Umi dengan baik. Jangan biarkan Umi bekerja yang berat-berat, oke jagoan! " ucap Akhsan seolah berbicara dengan anaknya yang masih ada di dalam perut Khairi.
"Iya, Abi, " jawab Khairi.
Akhsan mendongak lalu tersenyum, lalu kembali ke arah perut Khairi, mengecupnya dan kembali mengelus nya,"ingat baik-baik ya, jangan bikin Umi kelelahan."
"Iya iya, Abi... " Khairi merasa geli sendiri, namun hatinya sungguh-sungguh bahagia karena perlakuan Akhsan yang sangat membuatnya merasa spesial.
"Ya sudah, sekarang kita sarapan. Setelah itu Mas harus berangkat, takut telat, " Ajak Akhsan.
Khairi mengangguk, keduanya langsung berjalan menuju ke tempat makan. Semua sudah di persiapan untuk sarapan, dari makanan kesukaan Akhsan juga Khairi sudah tertata tapi.
Akhsan duduk di salah satu kursi, dengan telaten Khairi mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk Akhsan lalu dia mengambil untuk dirinya sendiri.
"Nih, Mas." Khairi menyodorkan piring yang sudah penuh untuk Akhsan.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang," Jawab Akhsan yang sangat berterima kasih pada Khairi. Meskipun sedang hamil besar namun Khairi tetap memanjakannya dan tidak melupakan tugas-tugasnya sebagai istri.
"Sama-sama," Khairi menyusul duduk di samping Akhsan keduanya pun langsung sarapan bersama.
Di rumah yang lain, Fatma juga Ikhsan juga sedang sarapan bersama. Kini rumah itu sangat ramai karena kedua orang tua Fatma juga Jio sekarang tinggal di sana.
Sungguh lengkap kebersamaan mereka hanya tinggal Aira saja yang tidak ada di sana, katanya Aira juga akan tinggal bersama mereka setelah lulus dari SMP tahun ini.
"Mas, Mas beneran beneran ada meeting?" tanya Fatma seraya menoleh ke arah Ikhsan yang tengah serius dengan sarapannya.
Ikhsan mengangguk, menoleh juga ke arah Fatma, "Iya, emang kenapa? Apa kamu mau memesan sesuatu?" tanya balik Ikhsan.
"Tidak, Mas. Hanya..., jangan lembur lagi, jaga kesehatan, Mas." ucap Fatma memperingatkan.
"Oh, kirain kamu melarang ku supaya tidak berangkat, ternyata.. " Begitu kecewa hati Ikhsan, dia berharap Fatma akan merengek melarangnya supaya tetap tinggal dalam rumah, tapi ternyata hanya mengingatkannya supaya tidak lembur lagi seperti beberapa hari kemarin.
"Memang kalau di rumah mas juga mau ngapain? Pekerjaan Mas kan juga banyak." jawab Fatma tak habis pikir, tumben saja hari ini Ikhsan terlihat sangat malas untuk berangkat.
"Di rumah pun banyak pekerjaan, Fatma. Kalau di rumah ada kamu yang akan bantuin, kalau di kantor? "
"Kan ada pak Anton yang akan membantu, Mas."
"Kenapa kamu tidak ikut saja, Nak. Kamu bisa membantu suamimu kan di kantor. Lagian kamu kan hari ini libur," Ujar Fans.
"Tidak, Yah. Fatma sudah ada janji untuk menemani kak Khairi di rumah. Kasian kalau nggak ada teman ngobrol." Jawab Fatma.
"Teman ngobrol atau teman gosip?" tanya Ikhsan dengan mengernyit.
"Fatma bukan penggemar gosip, Mas." Elak Fatma.
"Iya, bukan penggemar gosip, tapi kalau lagi nggak kumat " Sindir Ikhsan lagi.
"Hehehe..., itu beda jalur, Mas." Meringis Fatma di lanjutkan dengan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Ikhsan buru-buru menyelesaikan sarapan karena waktu yang semakin siang, setelah benar-benar habis dia langsung tancap gas untuk pamit ke semua orang.
Kini tanggung jawab Ikhsan bertambah setelah kedatangan kedua orang tua Fatma, namun itu tidak menjadi masalah untuknya. Orang tua Fatma adalah orang tuanya juga jadi dia tetap menghormatinya.
__ADS_1
"Mas berangkat dulu, Fatma," Pamitnya, tangannya sudah terangkat, mengulur ke arah Fatma yang langsung di sambut oleh tangannya.
Bukan hanya menyalami saja, tapi Fatma juga mengecupnya dan langsung mendapatkan hadiah kecupan di keningnya dari Ikhsan, "Hati-hati, Mas. Ingat, cepet pulang dan jangan lembur lagi."
"Iya iya, atau..., Mas nggak usah berangkat saja?" tanya Ikhsan yang seketika membuat Fatma menggeleng.
"Tidak, Mas. Pekerjaan juga sangat penting kan?" jawab Fatma.
Selesai pamit pada Fatma, Ikhsan beralih ke pada kedua mertuanya dia juga menyalaminya dengan hormat selayaknya dengan orang tuanya sendiri.
"Assalamu'alaikum,Yah, Bu.., titip Fatma ya, kalau ada apa-apa hubungi secepatnya," ujar Ikhsan.
"Iya, Nak. Wa'alaikumsalam.. " jawab keduanya bersamaan.
Belum juga selesai sarapan Fatma terlebih dahulu mengantarkan Ikhsan sampai di luar rumah, itu sudah menjadi kebiasaan untuknya yang tak bisa di tinggalkantinggalkan jika saat dirinya libur sekolah.
Dan dalam perjalanan menuju luar pasti mereka berdua akan selalu berangkulan seolah tak mau melepaskan.
"Mas berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa secepatnya hubungi, Mas." ujarnya.
"Iya, Mas."
Sekali lagi kecupan di kening kembali Fatma dapatkan. Tapi itu belum membuat Ikhsan puas setelah melihat ceri yang begitu manis di hadapannya, ya bibir Fatma lah yang seperti ceri.
Ikhsan mengangkat dagu Fatma, mendekatkan bibirnya pada Bibir istrinya yang membiarkannya. Baru berhasil menyentuhnya keduanya di buat terkejut karena bunyi klakson.
𝘛𝘪𝘪𝘯𝘯𝘯𝘯......
Keduanya terperanjat dan saling melepaskan, menoleh dengan cepat siapa pelaku yang tega mengganggu kemesraan mereka di pagi hari.
"Kalau tadi malam belum puas puasin dulu sana! Nggak usah ke kantor! Dan ya, jangan melakukan itu di luar, takut ada bocil ya lihat...!"
Teriak Akhsan.
"Parah kau, Bang! " Sungut Ikhsan.
__
__ADS_1
Bersambung...
_______________