
_______________
Happy Reading......
_______________________
Semua keluarga pergi ke rumah sakit setelah semua urusan di pesantren telah selesai, semua para perusuh juga sudah di gelandang ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan mereka yang telah melanggar hukum, dan mereka semua harus mendapatkan ganjaran yang setimpal untuk kejahatan mereka.
Semuanya berbondong-bondong untuk segera mengetahui keadaan Tasya dan juga Joe, begitu juga dengan Marco dan juga Farel yang telah di beritahu sebelumnya.
Di ruangan VIP, di sanalah keduanya berada menjalani perawatan yang intensif, Keduanya sudah dalam keadaan yang baik keduanya juga sudah sadar setelah beberapa saat di tangani oleh pihak medis termasuk Airin anaknya sendiri.
Berbeda dengan Rico, karena ada pendarahan di dalam otaknya karena benturan yang sangat keras,Rico kini berada di ruang ICU dengan perawatan yang sangat sangat intensif, keadaan yang sangat lemah membuat Rico belum bisa di operasi hingga sekarang.
Semuanya begitu khawatir dengan keadaan Tasya dan juga Joe,semua menemui mereka dan alhamdulillah mereka sudah sadar, wajah mereka harus di balut dengan perban karena luka goresan yang begitu banyak.
" Bunda " lirih Rayyan sembari berjalan mendekati Tasya, dia sangat tak tega melihat keadaan Tasya sekarang.
Setetes butiran bening keluar dari sudut mata Rayyan, baru satu minggu dia kehilangan Fahmi dan sekarang bencana kembali terjadi dan membuat Tasya menjadi seperti ini.
Rayyan merasa sangat gagal, dia sedih karena tak bisa menjaga Tasya dengan baik seperti yang di wasiatkan oleh Fahmi kepadanya sebelum beliau pergi.
Rayyan duduk di sebelah Tasya, meraih tangannya dan mengecupnya berkali-kali dan tentunya dengan air mata yang terus mengalir dari mata tak berdayanya seorang Rayyan.
" maafin Rayyan, Bunda. Rayyan tidak berguna " lirihnya di sela isak tangis.
Meskipun dalam lemah Tasya masih bisa tersenyum, dia tersenyum begitu manis mencoba membuat anaknya tenang dan fakta menyalahkan dirinya sendiri. Satu tangan Tasya mengusap puncak kepala Rayyan yang menunduk di hadapannya.
" ini bukan salahmu, Ray. Ini semuanya sudah menjadi takdir " ucap Tasya.
" Oma.. "
Akhsan dan Ikhsan pun mendekati Tasya memeluk Tasya dari dua sisi nya, Tasya pun beralih mengusap pipi kedua cucunya itu lalu kembali tersenyum.
" Oma baik-baik saja, kalian jangan terlalu khawatir." ucapnya. " Semua ini karena anak itu, dia yang menyelamatkan Oma. Oh Iya..! dimana anak itu, Oma pengen bertemu dengan nya " ucap Tasya yang jelas dia mencari orang yang telah menyelamatkan nya, siapa lagi kalau bukan Rico. Karena hanya Rico lah yang dia lihat sebelum dia hilang kesadaran.
" Rico maksud Oma? " tanya Akhsan, dan Tasya hanya mengangguk pelan. " Dia.. dia berada di ICU, Oma. Sampai sekarang dia belum sadar karena ada pendarahan di dalam otaknya, dan dia juga belum bisa di operasi karena tubuhnya ya sangat lemah. " terang Akhsan.
Tasya begitu terkejut mendengar penjelasan dari Akhsan, separah itukah Rico sekarang? Demi menyelamatkan nya dia berani dan rela mempertaruhkan nyawa. Hubungan seperti apa? bahkan mereka sama sekali tak punya hubungan apapun.
__ADS_1
" Oma mau menemuinya, Oma harus melihat keadaan nya! " ucap Tasya yang bersikeras.
Tasya menyibak selimut nya dan ingin bergegas turun dari ranjang, sontak membuat semuanya panik dan ingin menghalangi Tasya.
" jangan Oma, Oma masih butuh istirahat" seru Ikhsan sembari tangannya mencegah Tasya.
" tidak, Ikhsan. Oma harus melihatnya sendiri. Oma tidak akan tenang sebelum melihat nya, " jawab Tasya.
" tapi, Oma.. " lirih Ikhsan mencoba memberikan pengertian pada Tasya namun semua itu tetap tak berguna karena Tasya tetap kekeuh.
" Oma harus tetap melihat nya! " kekeuh Tasya.
Mereka pun akhirnya pasrah, mengizinkan Tasya untuk menemui Rico ya berada di ruang ICU. Dengan bantuan kursi roda, Tasya pun di bawa ke sana dan tentunya semua akan ikut menemaninya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Susan terus menangis di depan ruang ICU, menangisi keadaan Rico anak satu-satunya yang kini harus menderita karena bencana ini. Susan dan Marno sama sekali tak menyangka kalau Rico akan mengalami semua ini. Rico hanya pamit keluar sebentar karena dia bilang ada masalah, namun Rico tak mengatakan semuanya dengan jelas masalah yang dia hadapi.
Marno begitu kuat, meskipun dia juga sedih namun dia sama sekali tak mengeluarkan setetes pun air mata. Marno terus berusaha menenangkan Susan yang terus menangis tiada henti.
" Bunda harus sabar, ini adalah ujian untuk kita dan juga Rico. Ayah percaya Rico pasti kuat, Rico adalah anak yang sangat kuat dan tak mudah menyerah, Rico pasti akan baik-baik saja dan akan segera berkumpul di tengah-tengah kita lagi, Bun " ucap Marno menenangkan.
" Tapi, Yah. Bunda sangat takut, bagaimana kalau Rico.... " kata-kata Susan berhenti karena dia tak sanggup untuk meneruskannya.
Marno merengkuh pundak Susan dan membawanya ke dekapan nya. Memberikan. kehangatan pada hati yang kini sangat rapuh.
" Rico pasti akan baik-baik saja, saya akan pastikan sendiri kalau dia akan baik-baik saja! " seru Tasya yang datang dengan bantuan kursi roda dan di dorong oleh Ikhsan.
Susan dan Marno spontan langsung menoleh, dan mendapati semua keluarga Tasya yang datang termasuk Rayyan yang sama sekali tak sudi sebenarnya.
Marno dan Susan langsung beranjak, dia berdiri secara bersamaan menyambut kedatangan Tasya.
" Saya adalah orang yang telah di selamatkan oleh anak kalian, saya sangat menyesalkan kejadian ini. Tapi saya akan pastikan kalau Rico akan baik-baik saja. Saya janji. Saya akan bertanggung jawab untuk semua yang di butuhkan Rico hingga dia sembuh, termasuk semua biaya pengobatan nya. Jadi kalian tidak usah khawatir dengan semuanya " ucap Tasya begitu banyak.
" Terima kasih, Nyonya. " ucap Susan.
Tak ada rasa benci atau dendam di hati orang tua Rico, mereka sangat ikhlas dan menyadari bahwa ini semua adalah takdir yang harus di jalani oleh Rico dan juga keluarga nya, Tuhan pasti memiliki rencana yang terbaik setelah ini.
" Boleh saya menemui Rico? " tanya Tasya dan Kedua orang tua Rico mengangguk dan mengiyakan.
__ADS_1
" apa perlu Ikhsan temani, Oma? " tanya Ikhsan.
" tidak, Oma hanya mau sendiri " jawab Tasya tegas.
Perlahan-lahan kursi roda bergerak dengan sekali tekan, meskipun tidak ada yang mendorong tapi kursi itu berjalan karena ada tombol pengendali nya yang Tasya sendiri yang mengendalikan.
Pintu tertutup setelah Tasya masuk, semuanya pun menunggu di luar. menunggu dengan harap-harap cemas entah apa yang akan Tasya lakukan dan akan dia katakan pada Rico.
Begitu banyak selang selang yang menempel pada Rico, semua itu adalah alat bantu yang Rico butuhkan untuk saat ini.
Wajah pucat, bibir sedikit membiru tubuh yang terkulai lemah itulah yang Rico alami sekarang. Matanya pun sama sekali belum ada reaksi Rico masih di bawah kesadaran nya.
Tasya terus mendekati Rico, dia berusaha kuat meskipun akhirnya air mata lolos begitu saja dari matanya.
Tasya memastikan semua alat terpasang dengan benar dan memastikan semuanya juga berfungsi dengan baik. Seandainya dulu , mungkin Tasya bisa menangani pasien seperti Rico dengan cepat, tapi sekarang? bahkan dia tidak bisa melakukan apapun karena dia juga terlalu sangat lemah.
" maafkan aku, nak. Maafkan aku. Semua ini tidak akan terjadi bila kamu tidak ada di sana untuk menyelamatkan ku. Seharusnya kamu tidak usah datang ke sana, Nak. " ucap Tasya.
" siapa sebenarnya kamu, Nak. dan ada hubungan apa diantara kita kenapa setiap melihat mu aku merasa sangat begitu dekat, kenapa aku merasa ada sebuah ikatan. "
Jujur Tasya memang merasa sangat dekat dengan Rico, dan semua itu terjadi setelah Rico mencium kening Tasya waktu itu. Padahal di dalam tubuh Rico terdapat jiwa orang lain yang memang Tasya sangat mengenalnya, mungkin karena itu Tasya merasa sangat dekat dengan Rico. Apalagi Fahmi yang masih terus datang di dunianya Rico tanpa sepengetahuan orang lain termasuk Tasya sendiri.
" Setiap melihat matamu, aku seringkali merasa ada Abi di dalam sana. Aku merasa sangat nyaman menatap mata itu, mata yang begitu meneduhkan, mata yang selalu menatap dengan penuh cinta. "
" Kau harus kuat, dan kau juga harus bangun secepatnya. Aku ingin bisa melihat mata itu lagi. Mata orang yang selalu ada di hidup ku. Meskipun itu bukan dirinya tapi aku yakin aku akan merasa senang saat kembali melihat nya. Bukan berarti aku berharap itu adalah orang lain, karena didalam dirimu hanya akan tetap menjadi dirimu, bukan Abi ataupun orang lain. "
" Cepat lah bangun, Nak. Dan jangan buat aku merasa berhutang budi padamu. " Tasya membelai puncak Kepala Rico. Meskipun bukan cucunya tapi Tasya memberikan belain itu sama seperti cucunya yang lain.
Apapun yang Tasya katakan sama sekali belum membuat Rico bereaksi, hanya saja ada butiran-butiran bening yang terus mengalir dari sudut mata Rico. Karena mungkin Rico bisa mendengarkan dan ikut merasakan apa yang Tasya rasakan saat ini.
Dengan tangan nya Tasya menghapus air mata itu. Namun di saat itu malah Tasya sendiri yang terisak.
" Aku tau kamu dapat mendengarkan semua yang aku katakan, entah ada tujuan apa dan maksud apa kau melakukan ini, semoga Allah membalasnya dengan berjuta-juta kebaikan. " Ucap Tasya sedih.
________________
Bersambung.....
_________________________
__ADS_1
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾