Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
217.Apa mungkin Aisyah?


__ADS_3

____


Happy Reading,...


______________


Setelah menemui Aisyah kali ini Ikhsan bergerak pergi untuk menemui Faisal di asrama yang berbeda tujuannya adalah sama, memberi kabar duka perihal kepulangan sangat Opa tercinta.


Ikhsan sudah menunggu di tempat yang semestinya untuk dia menunggu, meskipun Asrama Faisal tidak seketat tempat Aisyah namun dia harus tetap mengikuti prosedur yang ada.


"Assalamu'alaikum, Bang." Faisal datang, dia langsung menghampiri Ikhsan, menyalaminya dan tak lupa keduanya juga berpelukan melepaskan kerinduan yang sama.


Entah apa yang membuat Ikhsan sampai di sana yang jelas kedatangannya menumbuhkan seribu tanya di benak Faisal, namu di sisi lain dia sangat bahagia karena kedatangannya yang seperti 𝘴𝘶𝘳𝘱𝘳𝘪𝘴𝘦 untuk nya.


"Wa'alaikumsalam, dek. Gimana kabarmu, Sehat? Kamu betah di sini? " Tanya Ikhsan seraya memeluk hangat adiknya itu.


Sesaat keduanya berpelukan kini mereka saling melepaskan dan duduk saling berhadapan.


"Alhamdulillah, Bang. Seperti yang abang lihat. Aku baik-baik saja dan yang pastinya aku juga betah berada di sini. Di sini tempatnya nyaman orang-orangnya juga sangat 𝘩𝘶𝘮𝘣𝘭𝘦 dan juga sangat baik. " Jawab Faisal menjelaskan.


Ikhsan tersenyum senang mendengarkan penjelasan dari Faisal. Alhamdulilah kalau dia baik-baik saja dan juga betah di sana, itu berarti dia tidak salah di kirim ke sana. Ya, meskipun delapan puluh persen Faisal sendiri yang menginginkannya.


"Alhamdulilah kalau begitu, Abang ikut seneng dengernya. " Ucap Ikhsan sembari mengelus bahu Faisal.


Beberapa saat hening, Ikhsan kembali menata hati untuk bisa menyatakan semua duka yang di alami semua keluarganya. Dia harus pintar-pintar menata hatinya sendiri sebelum dia mengatakannya pada Faisal.


Faisal menatap Ikhsan bingung, terlihat ada semburat duka yang terlihat dari wajah Ikhsan. "Bang Ikhsan baik-baik saja? " Tanyanya dengan mengerutkan keningnya.


Sontak Ikhsan menatapnya. Dia tersenyum kelu dari mana dia akan memulainya. "Kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi? " Tanya Ikhsan yang begitu bingung juga dengan masalah ponsel kedua adiknya yang sama sekali tak bisa di hubungi.


Kalau milik Aisyah dia sudah tau alasannya, alasannya karena Aisyah memang dengan sengaja memblokir semua nomor ordernya rumah termasuk dirinya, itu semua ingat dari kekesalan Aisyah karena ulah Rayyan yang mengirimnya ke sana tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Aisyah terlebih dahulu. Tapi untuk Faisal?.


Faisal juga merasa sangat bingung dengan nomornya sendiri, dari pertama dia datang ke dana sampai sekarang dia sama sekali tak mendapatkan kabar apapun ari rumah, bahkan dia sendiri juga sudah mencoba untuk menghubungi semua nomor rumah namun semuanya gagal. Seakan ada yang menghalangi komunitas di antara dirinya dan juga keluarganya.


"Aku sendiri juga nggak tau, Bang. Aku mencoba terus menghubungi orang rumah tapi tidak pernah bisa, bahkan aku sampai ganti ponsel dan juga ganti nomor namun tetap saja tidak bisa. Aku bingung, kenapa ini semua bisa terjadi? " Faisal begitu bingung akan hal itu.


Dari ke empat anak Rayyan dan Keisha hanya Faisal sendiri yang tak mempelajari ilmu tentang menotak-atik alat seperti itu, berbeda dengan Akhsan, Ikhsan dan Aisyah yang belajar secara sembunyi-sembunyi.


"Kok bisa! " Ikhsan terhenyak, bagaimana mungkin itu bisa terjadi. "Coba lihat ponselmu." Pinta Ikhsan.


Dengan gerakan cepat Faisal memberikan ponselnya pada Ikhsan entah apa yang akan dia lakukan pada ponselnya. "Sepertinya nggak ada apa-apa, Bang. Aku juga udah servis beberapa kali namun tetap saja tak ada masalah. "Terang Faisal.

__ADS_1


Ikhsan sudah langsung mulai mengoperasikan ponsel Faisal, sejenak dia belum melihat hal yang mengganjal, hingga akhirnya dia menemui sesuatu di ponsel Faisal.


" Apa kamu pernah meminjamkan ponselmu pada orang lain? " Tanya Ikhsan.


Faisal terdiam, mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Kayaknya nggak ada deh, Bang. " Ucapnya, namun sejurus kemudian. "Oh...! Ponsel ku hanya Aisyah saja yang pernah meminjamkannya, itupun saat kami belum sampai di sini. " Jelasnya.


"Aisyah? " Ikhsan mengernyit tak perca" 𝘔𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢, 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘍𝘢𝘪𝘴𝘢𝘭 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘰𝘮𝘰𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘰𝘯𝘴𝘦𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪? " 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘐𝘬𝘩𝘴𝘢𝘯.


"Emangnya kenapa, Bang? " Tanya Faisal bingung.


"Nggak apa-apa, hanya saja memang ad aku yang menghalangi komunikasi kita. Sepertinya pelakunya ini sangat ahli. Apa di sekitarmu sini ada orang-orang yang bertingkah aneh padamu? " Tanya Ikhsan, siapa tau ada mata-mata yang membantu pelaku untuk menghalangi komunikasi Faisal dengan orang rumah.


"Kayaknya nggak ada deh bang. " Faisal berfikir.


Semakin mencurigakan.


"Oh iya, Bang. Bang Ikhsan ada kerjaan di sini? Atau memang sengaja untuk menjenguk ku? " Tanya Faisal.


"Sebenarnya..? Sebenarnya ada hal yang ingin bang Ikhsan beritahu padamu, Faisal. Bang Ikhsan harap kamu bisa menerimanya dengan ikhlas dan juga lapang dada, semua yang terjadi memang sudah menjadi takdir darurat yang Maha Kuasa. " Ucap Ikhsan, kali ini dia benar-benar sudah memantapkan hatinya untuk menceritakan semuanya pada Faisal.


"Ada apa bang? " Tanya Faisal yang sudah mulai curiga.


"Sebenarnya... "


_______


"Iya, Bu. Jangan lupa makan yang banyak, Bu. Dan jangan lupa vitaminnya, kalau tidak nanti Ibu bisa sakit, Loh. " Imbuh Mirna.


"Benar itu, Bu. Kalau Bu Suci sampai sakit kan berabe. Mata berkantung, hitung terus meler karena ingus, dahi mengkerut kayak ombak pantai, ihh serem kan, Bu. " Ucap Santi menambahi.


Astaga, Suci benar-benar harus punya pelindung baja untuk menghadapi ketiga muridnya ini, hatinya harus benar-benar kuat kalau tidak bisa gila dia lama-lama begini.


Setiap hari Suci harus menghadapi ketiga bin onar ini, meskipun dia ingin sekali meremat dan menggetok tuh kepala mereka bertiga, namun dia tak bisa melakukannya karena dia harus menjaga nama baik nya.


"𝘚𝘢𝘣𝘢𝘳, 𝘊𝘶𝘤𝘪, 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘳𝘰𝘬 𝘪𝘯𝘪, 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘚𝘶𝘤𝘪. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪. " Batin Suci menguatkan hatinya.


"Kenapa, Bu. Bu Suci benar-benar tidak apa-apa kan? " Tanya Fatma.


Fatma maju dua langkah, mengikis jarak antara dirinya dan juga Suci. "Astaga..., tas branded! Wowww..., keren. " Mata Fatma berbinar melihat itu.


Mata wanita mana yang tidak akan berbinar saat melihat barang-barang branded dan tentunya barang limited, Fatma pun juga pasti akan seperti itu, bukan?. Tunggu..., sepertinya perkiraan ku salah.

__ADS_1


"𝘏𝘪𝘭𝘪𝘩..., 𝘣𝘶 𝘚𝘶𝘤𝘪 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪. 𝘐𝘩𝘩.. 𝘚𝘰𝘳𝘳𝘺 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘴 " Terlihat ujung bibir Fatma menyungging sinis.


"Coba lihat lihat! Waww keren.." Tak ketinggalan Mirna.


"Minggir, aku juga mau lihat. " Santi menyerobot cepat, dan akhirnya.


𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬𝘬....


Tas Suci jatuh di lantai.


"Astaga.. " Ketiganya melotot terang benderang, mulut yang menganga langsung di tutup dengan telapak tangan mereka masing-masing.


Geregetan, marah, jengah, itu semua pasti Suci rasakan. Ingin sekali dia menjambak habis mereka bertiga hingga botak, tapi...? Dia tidak akan menang melawan mereka bertiga.


Tangan Suci mengepal sempurna menatap tajam mereka bertiga yang kasih sibuk menatap tas branded nya yang berada di lantai.


Melihat tatapan itu Fatma tiba-tiba langsung berjongkok dan mengambil tas itu, namun tidak akan seru jika dia tidak melakukan apapun pada Suci. Masih harus ada kejutan lain kan?.


Saat Suci lengah Fatma merogoh tas milik Suci dan memasukkan sesuatu di dalam sana. Fatma beranjak setelah beres dan menyerahkan langsung pada Suci.


"Ini, Bu. Maaf ya, semua ini gara-gara Santi. Santi! Minta maaf cepat! " Perintah Fatma.


"Iya, Bu. Saya minta maaf ya, saya benar-benar tidak sengaja. " Ucap Santi dengan tampang yang menyesalinya.


"Hufff... , sudah saya maafkan, sebentar lagi masuk lebih baik kalian pergi ke kelas, aku akan ke ruangan ku sebentar. " Jawab Suci dengan angkuh.


"Iya, Bu. " Kompak mereka bertiga.


Suci lebih dahulu pergi meninggalkan mereka bertiga, setelah tak terlihat lagi ketiganya saling ber-tos ria untuk merayakan keberhasilannya.


"Rasain tuh Falakor ganjen! " Ucap Mirna.


"Hahaha... " Ketiganya begitu heboh.


Mata Fatma mendapatkan sesuatu di bawah sana. Ada sebuah wadah kecil yang sepertinya itu adalah obat, Fatma terdiam dan langsung mengambilnya. "Apa ini punya Bu Suci? Emang bu Suci sakit apa? " Gumam Fatma.


"Yuk miss, capcus. " Ucap Mirna.


Santi dan Mirna langsung merangkul Fatma, dan sebelum kedua temannya mengetahui tentang obat itu, Fatma lebih dulu menyembunyikannya.


____

__ADS_1


Bersambung....


__________________


__ADS_2