Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
224.Menolong Fans


__ADS_3

____


Happy Reading....


________________


Malam sudah semakin larut, namun Akhsan dan Ikhsan baru saja selesai dengan meeting nya, tak biasanya yang selalu selesai dengan cepat namun kali ini mereka harus selesai telat dan itu juga akan mempengaruhi kepulangan mereka tentunya.


Jalan raya juga sudah agak sepi dari semua kendaraan yang lalu lalang di jalanan itu, hanya hiruk pikuk malam yang ramai karena begitu banyak akan pedagang asongan di pinggir jalan dan juga para pelancong kuliner yang menikmati tengah padatnya trotoar.


Tiba di tempat yang sepi dari para penjual asongan dan sampai di pohon-pohon rindang di pinggir jalan keduanya yang diam di kejutkan dengan suara teriakan berkali-kali dan terdengar begitu menyedihkan.


Toloonnnggggg....


"Bang, kayaknya ada yang minta tolong deh?" Ucap Ikhsan yang mendengar suara itu.


Akhsan mengangguk, dia juga mendengarnya dengan sangat jelas bahkan suara itu seperti sangat dekat."Iya, Dek. Abang juga mendengarnya." Jawab Akhsan.


Mata keduanya langsung menatap sekeliling tempat itu, bahkan Ikhsan sudah menghentikan mobilnya karena dia sangat penasaran dengan suara yang dia dengar.


"Semoga saja beneran orang yang minta tolong, Bang. Bukan orang yang berniat tidak baik." Ucap Ikhsan.


Tak heran Ikhsan mengatakan itu, karena beberapa hari ini banyak sekali berita tentang begal yang selalu beraksi di malam hari dengan berpura-pura sebagai orang yang lemah ataupun kesakitan untuk bisa mendapatkan mangsa.


Sebenarnya mereka sangat buru-buru untuk pulang, bukan hanya karena sudah sangat malam saha melainkan para istri mereka yang seharusnya tadi sudah ngedumel karena mereka berdua tidak kunjung pulang.


Tapi rasa kemanusiaan mereka tidak akan hilang begitu vs aja hanya karena para istri mereka, mereka harus tetap menolong orang yang sedang membutuhkan.


"Lebih baik kita periksa dulu, Dek. Yuk kita turun." Ajak Akhsan.


"Hem.." Jawab Ikhsan singkat.


Pintu mobil sudah terbuka dengan tangan mereka sendiri, pelan-pelan mereka keluar dan tentunya dengan kewaspadaan yang sangat ekstra. Pintu langsung mereka tutup lagi, tak lupa Ikhsan menguncinya dengan tombol yang ada di kuncinya.


Meskipun ada barang-barang berharga didalam mobil itu namun mereka tidak was-was karena mobil iyu tidak akan bisa di buka tanpa kuncinya, bahkan kacanya tidak akan bisa di pecahkan dengan cara apapun.


Tolooonnnggg.....


Suara itu terdengar lagi dan kini semakin jelas. Akhsan dan Ikhsan yang sudah tidak sabar ingin mengetahuinya langsung berlari ke arah sumber suara.


"Ke sana, Bang! " Tangan Ikhsan menunjuk ke arah itu dengan cepat Akhsan pun mengangguk.


Sementara di tempat yang tidak jauh dari sana, Nesa dan anak laki-lakinya Jio

__ADS_1


tengah menangis dan terus berteriak minta tolong setelah apa yang terjadi dengan Fans.


Keadaan Fans semakin memburuk, demamnya tak turun-turun karena infeksi yg ada di kakinya tak kunjung kering apalagi sembuh.


Tubuh Fans terus menggigil, giginya terus beradu antara atas dan bawahnya sehingga menghasilkan bunyi karena gesekan itu. Matanya terpejam dan seakan tak sanggup lagi untuk terbuka.


"Mas, mas harus kuat, mas harus sembuh demi Nesa demi Jio! " Ucap Nesa di sela-sela tangis.


"Ayah, ayah harus sembuh." Jio pon sama, dia tak bisa terlepas dengan kesedihan itu, rasa sakit yang di derita oleh Fans seperti mereka juga merasakannya.


"Bagaimana ini, Bu. Kita akan minta tolong sama siapa? Apa tidak sebaiknya kita minta tolong dengan Kak Fatma atau kak Aira? Mereka orang baik, Bu! Mereka pasti akan menolong ayah! " Ucap Jio.


Meski belum mengenal Fatma namun hanya Fatma saja lah yang menjadi orang pertama foto pikiran Jio, Jio hanya tau kalau Fatma telah menikah dengan orang kaya jadi hany dia dia yang bisa membantu mereka.


Nesa menggeleng, dia tidak mau minta tolong apalagi menyusahkan kedua putrinya itu setelah apa yang dia lakukan pada mereka, Nesa tidak mau menjadi beban untuk mereka. Nesa takut jika nanti kedatangan tidak di sambut dengan baik oleh kedua putrinya, itu akan sangat membuatnya lebih sakit karena penyesalannya.


"Tidak, Jio. Kita tidak bisa meminta bantuan pada mereka. Kita tidak pantas untuk meminta belas kasih pada mereka, apalagi setelah...?"


"Setelah apa, Bu? "


Nesa terdiam, dia masih belum mau menceritakan pada Jio apa yang sudah dia lakukan kepada kedua kakaknya, Nesa masih sangat takut jika Jio akan membencinya jika di sudah menceritakannya.


"Pokoknya kita tidak bisa meminta tolong dengan kak Fatma, Jio. Kira tidak bisa.. " Nesa kembali terisak.


"Kak Fatma tinggal di mana, Bu. Katakan pada Jio! " Tangan Jio terus menarik lengan Nesa, Jio terus bersikeras untuk bisa mendapatkan jawaban ini dari Nesa.


"Tidak! Jio. Tidak!! Kita tidak bisa minta tolong dengan Kak Fatma! " Bentak Nesa.


Tangan Jio perlahan mulai lepas dari lengan Nesa, dia takut akan mendapatkan bentakan yang lebih lagi dari Nesa.


Jio hanya bisa semakin terisak karena itu, dia tak bisa melakukan apapun.


"Toloonngggg.....! " Nesa hanya bisa berteriak minta tolong dan mengharapkan akan ada orang yang datang dan menolongnya.


Di teriakan yang terakhir di saat biru juga bersamaan dengan datangnya Akhsan dan Ikhsan di sana.


"Tolonggg! "


Ikhsan memandang mereka dengan sangat terkejut, susah sangat lama Ikhsan tidak mendengar kabar tentang Nesa dan Fans setelah kejadian itu, dan sekarang dia kembali melihat nya dah dengan keadaan yang sabar memprihatinkan.


Nesa yang dulu terlihat cantik, dan juga glamor sekarang wajahnya tak lagi terawat lagi, pakaian nya compang-camping, dan jangan lupakan badannya yang terlihat sangat kurus dan kering.


Begitu juga dengan Fans, Fans yang dulu terlihat gagah berani sekarang kurus dan kering, dan kini hanya tergeletak tak berdaya sama sekali.

__ADS_1


"Bukannya mereka orang tuanya Fatma? " Siapapun pasti akan pangling dengan mereka begitu juga dengan Ikhsan.


"Sepertinya memang iya." Jawab Akhsan.


Keduanya mendekat , dan langkah mereka foto sadari oleh Nesa dan juga Jio. Nesa yang memang sudah sangat mengenal siapa yang ada di hadapannya ini menggeleng dan meminta mereka berdua u pergi.


"Siapa kalian, pergi dari sini! Kamu tidak membutuhkan bantuan dari kalian! " Teriak Nesa histeris.


Jio terbelalak, bukannya tadi Nesa yang meminta tolong? Tapi kenapa setelah ada orang yang datang Nesa malah mengusirnya.


"Bu, ibu kenapa?" Tanya Jio.


"Tidak, mereka tidak boleh membantu kita! "


"Tapi, Bu? Ayah harus segera di tolong! "


"Kakak-kakak tolong ayah Jio ya, Jio mohon. Sudah lama Ayah terus kesakitan seperti ini." pinta Jio yang sangat tidak tega melihat ayahnya yang semakin menderita karena sakit yang dia derita.


Tanpa di minta mereka pun pasti akan menolongnya, bukan karena dia ayah dari Fatma tapi karena rasa kemanusiaannya.


"Apa yang terjadi dengan ayah kamu? " Tanya Ikhsan yang kini sudah duduk berjongkok di sebelah Jio.


"Kaki ayah terluka, tapi sudah di obati terus belum juga sembuh. Tolongin Ayah, Kak."


"Tidak! Kalian tidak usah menolong kami, kalian lebih baik pergi dari sini! " Tolak Nesa yang terus bersikeras.


"Apa Anda ingin melihat suami anda seperti ini selamanya? Apa anda tidak ingin suami Anda sembuh? " Tanya Akhsan.


Sejenak Nesa terdiam, siapapun pasti ingin suaminya sembuh dari sakit yang di derita, tapi Nesa tidak mau mereka yang menolongnya.


"Pokoknya kalian tidak boleh menolong kami! Ka-kalian akan kehilangan uang kalian! " Teriak Nesa yang menjadikan uang sebagian alasannya untuk mereka tidak boleh menolongnya.


"Lebih baik kamit kehilangan uang kami dari pada kami harus kehilangan rasa kemanusiaan kami! " Tukas Ikhsan.


"Bang, ayo kita bawa ke rumah sakit. " Kekeuh Ikhsan.


"Tidak, kalian tidak boleh? Membawanya! Tidak boleh! " Teriak Nesa.


Akhsan dan Ikhsan mengangkat Fans dan membawanya untuk ke mobil mereka tanpa rasa jijik sama sekali, sementara Nesa dia harus berlari mengejar mereka berdua karena masih tak ingin mendapatkan bantuan mereka.


__


Bersambung...

__ADS_1


_______________


__ADS_2