
Happy Reading..
______
Semua keluarga tengah bersuka cita menyambut kepulangan baby Alvaro di kediaman Akhsan juga Khairi. Semua nampak antusias bahkan sudah tak sabar ingin bertemu dan menggendong bayi kecil yang tampan itu.
"Tak terasa, sekarang aku sudah menjadi nenek buyut. Sebentar lagi aku akan menimang buyut ku yang katanya tampan," Ucapan Tasya berhasil mengalihkan semua yang tengah asyik sendiri-sendiri.
Rayyan yang tadinya berdiri di ambang pintu langsung berjalan menghampiri Tasya, duduk di sebelahnya dengan senyuman yang penuh kebahagiaan juga, "Tak terasa ya, Bun? ternyata Ray juga sudah tua. Ray sudah menjadi kakek sekarang," jawab Rayyan.
"Semoga dengan gelar yang kamu dapatkan ini membuatmu semakin bijaksana, Ray. Dan selalu adil dalam urusan apapun, entah itu urusan keluarga atau urusan umat," Tasya menyentuh pundak Rayyan harapannya sangat besar untuk anaknya.
Gelar kakek yang Rayyan dapatkan itu semoga menjadikan Rayyan menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan menghapus hati yang berbau-bau keegoisan yang akhir-akhir ini mulai muncul di hati Rayyan.
"Amin, Bun. Semoga Ray bisa mewujudkan permintaan dari Bunda, dan bisa menjadi kebanggaan Abi serta bunda," jawab Rayyan yang juga mengharapkan hal yang sama.
"Amin..., sekarang bersiaplah, sebentar lagi mereka pasti pulang," Tasya sedikit mendorong Rayyan untuk kembali beranjak dan menunggu Akhsan beserta keluarga kecilnya di pintu, sementara Tasya tetap duduk di sofa karena dia tak kuat untuk berlama-lama berdiri.
Sementara di meja makan Keisha juga Fatma tengah kembali asyik menyiapkan makan untuk semua, tentunya di bantu para asisten rumah tangga yang juga sangat cekatan dalam menjalankan pekerjaannya.
"Ma, memang ciri-ciri orang yang hamil itu seperti apa sih?" tanya Fatma yang masih penasaran.
"Memang kenapa? apa kamu juga sudah ada tanda-tanda itu? kalau iya, Mama seneng dengernya," jawab Keisha yang hanya menebak saja.
"Belum, Ma! Fatma hanya ingin tau saja. Lagian mana bisa Fatma hamil sekarang, Mas Ikhsan saja belum izinin karena Fatma masih sekolah," ucap Fatma.
"Ikhsan benar, Fatma. Kamu masih sangat muda, resikonya akan lebih besar. Juga masih sangat rentan keguguran,"
"Benarkah?! " Pekik Fatma dan Keisha langsung mengangguk. Tak pernah dia kira kalau resikonya akan sampai keguguran juga Fatma langsung bergidik mendengar kata itu.
"Iya, tapi nggak semuanya juga bisa berisiko seperti itu, karena banyak juga yang hamil muda dan juga baik-baik saja sampai hari persalinan," Ucapan Keisha kembali membuat Fatma lega seenggaknya tidak semua yang hamil muda akan mengalami keguguran.
__ADS_1
Fatma manggut-manggut mengerti, seperti dia harus benar-benar menyiapkan diri untuk beberapa bulan ke depan, karena setelah dia lulus dia dan Ikhsan akan melakukan program sesuai keinginannya.
"Assalamu'alaikum... " Seruan dengan keras dari tuan rumah yang sudah di tunggu-tunggu.
Fatma juga Keisha langsung berjalan menuju depan dan melihat apakah benar itu mereka. "Wa'alaikumsalam..! " Jawab semuanya serentak, ya meskipun masih berada di tempat yang berbeda-beda.
Akhsan juga Khairi langsung masuk, senyum mereka begitu lebar melihat mereka di sambut oleh semua keluarga, apalagi ada Tasya juga yang ada di sana.
"Oma.. " Akhsan bergegas menyalami Tasya begitu juga dengan Khairi yang juga menggendong Alvaro.
"Iya sayang," Tasya tersenyum lebar saat menyambut mereka bertiga, matanya langsung terfokus pada Alvaro yang tampak nyenyak dalam tidurnya.
"Tampan sekali buyut ku. Sini, oma buyut gendong," Ucap Tasya.
"Oma buyut?" Semuanya mengernyit.
"Iya, oma buyut! Siapa lagi emangnya," Jawab Tasya ketus,"Uluh uluh.., sini sayang," Tasya langsung mengambil Alvaro dari gendongan Khairi, yang jelas Khairi juga langsung memberikannya.
"Eyang saja lah, Oma. Biar keren gitu," ucap Akhsan memberikan saran.
"Terserah oma saja deh," Akhsan pasrah saja dengan kemauan Tasya apapun yang membuat Tasya senang kenapa tidak?.
Kring... Kring... Kring...
Ponsel Rayyan berdering dengan cepat dia mengambilnya tapi dia juga mengernyit, "Marco?" ucapnya namun dia langsung berfikir mungkin Marco ingin mengucapkan selamat pada Akhsan atau dirinya yang sudah menjadi kakek sekarang.
"Assalamualaikum, Co.. "
"𝘞𝘢'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘖𝘮.. 𝘖𝘮.. 𝘖𝘱𝘢...? "
"Opa kenapa, Marco?! "
__ADS_1
"𝘖𝘱𝘢, 𝘰𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭... "
Terdengar suara Marco yang parau, sepertinya dia benar-benar tengah sedih sekarang.
"Innalillahi wai inna illahirroji'un..."
Mendengar kata itu dari Rayyan semua langsung terdiam sembari menoleh, mereka penasaran siapa yang meninggal sampai-sampai Rayyan begitu terkejut.
"Ray, siapa yang meninggal?" tanya Tasya.
"Bun..., Hem... Yang meninggal.. Hem...??"
"Siapa, Ray? kenapa wajahmu juga begitu syok seperti itu, kasih tau bunda cepat! Siapa tau bunda kenal," tanya Tasya yang sudah tak sabar.
"Yang meninggal,,? O.. Opa Joe,"
"K-kak Joe? " air mata mulai luruh perlahan, lagi-lagi Tasya harus merasakan kehilangan orang yang begitu berharga dalam hidupnya.
"Kak Joe.. Kak Joe meninggal.. " Tangisan Tasya semakin pecah.
"Oma, oma yang sabar. Ini semua sudah takdir," Akhsan yang duduk di sebelah Tasya langsung merengkuhnya mendekap tubuh tua itu yang semakin lemah.
"Kak Joe, Akhsan. Kak Joe meninggalkan Oma juga seperti Opa Fahmi. Kenapa bukan Oma lebih dulu yang pergi,"
Melihat kesedihan Tasya membuat semuanya juga ikutan bersedih. Tak pernah terlintas di benak mereka kalau kebahagiaan hari ini akan menjadi hari kesedihan juga untuk semua keluarga.
Meskipun Joe bukan keluarga inti namun Joe sudah seperti keluarga inti bagi mereka semua. Seseorang yang memiliki tempat yang paling berharga dalam hati mereka semua.
"Bunda yang sabar. Bunda juga harus ikhlas," ucap Rayyan.
____
__ADS_1
Bersambung...
______