Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
159.Kejutan


__ADS_3

Akhsan mengayunkan kakinya dan bergegas pergi ke dalam kamarnya. Pikiran nya terus melayang jauh tentang masa lalunya Oma, Tasya. Segitu kah masa lalu Tasya hingga Oma nya begitu banyak musuh.


Bahkan dulu Akhsan sempat tak percaya jika Oma nya ternyata adalah mantan dari seorang mafia yang begitu sangat mengerikan. Perubahan Tasya benar-benar tak dapat mudah di percaya untuk sekarang.


Perjalanan hidup memang tak bisa di tebak, bahkan mantan seorang yang begitu mengerikan sekarang bisa berubah menjadi orang yang begitu taat dan juga lemah lembut meskipun di dalam jiwanya masih tetap ada kewaspadaan yang sangat besar selayaknya seorang mafia.


" tak mudah di percaya " gumam nya begitu lirih.


" aku harus bisa lebih peka seperti Oma. Pola pikir ku pun seharusnya bisa seperti Oma, meskipun aku juga tetap mengikuti Opa. "


Akhsan membuka pintu kamar nya dengan pelan lalu kembali menutupnya dengan pelan tak mau mengganggu Kairi yang tengah istirahat sekarang.


Akhsan berjalan menuju ranjang, duduk di sisi Kairi yang tertidur dengan lelap. Akhsan menatap istri nya dengan sangat lekat.


" jika semua itu benar, bukan hanya aku dan Ikhsan yang menjadi sasaran mereka, tapi semua keluarga ku termasuk istriku. Aku harus bisa lebih waspada. " ucapnya.


Akhsan mengusap kepala Kairi begitu lembut. Keselamatan keluarga nya akan menjadi prioritas utama untuk sekarang.


" aku akan selalu menjaga kalian, tak akan pernah aku biarkan kalian terluka atau mengalami masalah meskipun itu hanya masalah kecil sekaligus, tidak akan pernah. " ucapnya lagi.


Kairi menggeliat karena merasa terganggu, matanya perlahan-lahan terbuka dan mendapati Akhsan yang mengulas senyum ke arahnya.


" Mas " Kairi bangun dengan pelan sembari mengumpulkan nyawanya yang belum kembali seutuhnya. Akhsan pun dengan sigap membantu Kairi duduk.


" udah tidur nya? " tanya Akhsan pelan.


" Mas kenapa? apa ada masalah? " tanya balik Kairi. Wajah gelisah Akhsan benar-benar terlihat di mata Kairi. Dan Kairi pun akan sangat peka akan semua yang di alami Akhsan suaminya.


Akhsan menggeleng pelan dengan senyum yang tak pernah pudar dan sekarang semakin lembut.


" tidak, Mas hanya begitu bahagia bisa melihat kamu yang tidur begitu lelap. " jawab Akhsan dengan berbohong karena tak mungkin dia akan berkata dengan jujur begitu saja kalau kini hatinya tengah gelisah memikirkan masalah yang begitu rumit.


" oh. " Kairi pun bernafas lega karena perkiraan nya ternyata salah.


" sudah minum vitamin nya? " tanya Akhsan mengingatkan sekaligus sebagai cara untuk mengalihkan pembicaraan mereka supaya Kairi tak berpikir yang macam-macam.


Kairi mengangguk dia tak akan mungkin lupa akan kesehatan nya sendiri dan juga janinnya.


" alhamdulillah "


" Apa Mas butuh sesuatu? biar aku ambilkan? "


Lagi-lagi Akhsan menggeleng, dia tak membutuhkan apapun sekarang, dia lebih membutuhkan senyum Kairi yang tak pernah pudar di hadapan nya sekarang. " tidak" jawab nya.


🌾🌾🌾🌾🌾


Di lain tempat, Fatma kini tengah sibuk di dapur meskipun tangan nya masih sakit dia tetap paksakan memasak untuk makan dirinya dan juga Ikhsan.


Sejatinya Ikhsan sudah melarang nya namun itulah Fatma, dia terus mengatakan semua yang ia lakukan sebagaimana bentuk pengabdian nya pada suaminya, rasa sakitnya yang dia tahan pastilah akan tergantikan dengan pahala yang begitu banyak yang dia dapatkan.


Ikhsan datang dan langsung melihat Fatma yang terus sibuk dengan kegiatannya, Ikhsan berdiri di belakang nya mengontrol kerja Fatma dengan diam.


Ikhsan tersenyum kecil saat melihat Fatma yang terus kekeuh melakukan nya meskipun dia selalu meniup tangannya yang merasa panas karena terkena panasnya api.

__ADS_1


" aww! " keluhnya saat tiba-tiba perbannya terbuka sedikit dan terkena garam. " perih sekali " Fatma mengibaskan tangannya dan kembali meniup nya berulang-ulang.


Ikhsan yang melihat itu langsung panik sontak menarik tangan Fatma dan meniupnya. " aku kan sudah bilang, kalau sampai terbuka dan terkena garam akan sangat perih " ucapnya dan terus meniup nya lagi.


Fatma sempat terkejut dengan pergerakan Ikhsan yang begitu tiba-tiba, kini Fatma malah melongo melihat Ikhsan yang terus meniup tangan nya.


Perih yang Fatma rasakan kini berangsur-angsur hilang sejalan dengan Ikhsan yang masih terus meniup nya. Fatma merasa sangat bersyukur mendapatkan Ikhsan sebagai suaminya.


Tak pernah terfikir oleh nya bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seorang laki-laki secepat ini. Ingatan Fatma kembali di saat pertama pertemuannya dengan Ikhsan dan itu membuatnya selalu tersenyum tak habis pikir. Bagaimana pertemuannya" astaga " celetuknya laku terkekeh geli.


Bagaimana Fatma menabrak Ikhsan dengan sepeda bututnya saat pertama kali pulang dari negeri orang dan membuat ikhsan kesakitan di bagian junior nya.


" hahaha!! " tawa Fatma menggelegar karena sudah tak bisa dia tahan lagi.


Ikhsan terjengkit kaget, menatap Fatma dengan begitu banyak kerutan di keningnya.


" kenapa? " tanyanya bingung.


" nggak apa-apa " jawab Fatma dengan ketus namun dia kembali tertawa terpingkal lagi.


Ikhsan semakin penasaran sebenarnya apa yang membuat Fatma begitu bahagia. " kamu menertawakan ku? " tanyanya.


" tidak "


" terus? "


" Hemm...?" ucapan Fatma berhenti sejenak namun setelah itu kembali lagi berucap " aku hanya teringat saat Mas tertabrak sepeda dulu. Dan saat itu Mas bilang kalau aku telah menghancurkan masa depan Mas. Dan lihatlah sekarang, sekarang bahkan aku yang menjadi masa depan Mas "


Ikhsan ternganga, dia pun juga berdecak kesal karena Fatma benar-benar telah menertawakan nya. Ikhsan cemberut membuat Fatma salah tingkah bagaimana untuk merayunya, menghilangkan kekesalan suaminya sekarang.


" Mas.. " tetap tak ada jawaban dan Ikhsan malah melangkah pergi meninggalkan nya.


Fatma mematikan kompor nya, secepat kilat dia mengejar Ikhsan untuk merayunya menghilangkan mood buruk dari suaminya yang telah dia buat." Mas... " Fatma berlari.


Ikhsan duduk di ruang tengah menyandarkan punggung nya di sofa, menyilang kedua tangannya di depan dadanya dengan wajah yang masam.


Fatma duduk di sebelah Ikhsan menarik tangan Ikhsan dan terus meminta maaf padanya " Mas, maafin Fatma. Mas..! "


bukannya menjawab Ikhsan malah memalingkan wajah nya dari Fatma, sepertinya dia benar-benar tengah merajuk sekarang.


Fatma meraih dagu Ikhsan, berusaha membuat Ikhsan melihat nya namun Ikhsan lagi-lagi memalingkan nya. " Mas.. " ucapan Fatma semakin lirih sepertinya dia hampir kehilangan akal untuk merayu suaminya.


" Mas beneran marah dengan Fatma. Fatma rela di hukum, yang penting Mas mau maafin Fatma. Mas... jangan diemin Fatma begini. " Fatma sudah tak tahan lagi.


Mata Fatma mulai berkaca-kaca air mata nya hampir lolos begitu saja dari kelopak matanya yang indah." hiks... hiks... " terdengar Fatma mulai sesenggukan.


" Mas.. hiks hiks hiks.. " Fatma semakin terisak.


Ikhsan masih acuh dia beranjak dan mulai menaiki anak tangga untuk pergi ke atas dan menghindar dari Fatma.


Fatma tak kuat lagi di diemin seperti ini, sepertinya dia tak begitu kelewatan tadi tapi kenapa Ikhsan sebegitu marah padanya. " apa Mas Ikhsan tak lagi sayang padaku? apa Mas Ikhsan sudah mulai bosan dengan ku? tidak tidak.. Ini tidak boleh terjadi, aku nggak mau kehilangan Mas Ikhsan. "


Fatma menghapus air mata nya dengan kasar, dia beranjak dan langsung berlari mengejar Ikhsan ke lantai dua.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu kamar nya Fatma berhenti sejenak dia menata hatinya lebih dahulu dia harus bisa sabar jika Ikhsan masih marah padanya nanti.


Fatma membuka pintu perlahan dia masuk namun tak melihat Ikhsan di manapun.


Klek....


Fatma terkejut, dia membalikkan tubuhnya dengan cepat, dia melihat pintu yang tiba-tiba tertutup. " kenapa di tutup " ucapnya pada Ikhsan yang ternyata dialah pelakunya.


Ikhsan membalikkan tubuhnya dan seketika membuat Fatma ternganga. " Mas, ini....? "


" Selamat tujuh bulan pernikahan "


Ikhsan menyodorkan kue kecil yang di atasnya terdapat lilin kecil yang menyala akan api.


Fatma kembali menangis, namun kini terganti dengan tangis haru dan bahagia. Kejutan yang membuat Fatma menangis.


" ini nggak lucu " rengek Fatma.


" Hehehe... maaf sayang. " jawab Ikhsan.


Sebenarnya tak tega juga Ikhsan membuat Fatma menangis namun ini adalah kejutan pertamanya setelah menikah.


Fatma menarik kue itu dari tangan Ikhsan menaruhnya di atas nakas lalu dia menubruk Ikhsan untuk memeluk nya.


" jangan seperti ini lagi. " ucapnya.


" maaf sayang. " Ikhsan membalas pelukan Fatma lalu mengecup kening Fatma berulang-ulang.


Ikhsan mengapit pipi Fatma dengan kedua tangan nya menatap nya dengan lekat. " selamat tujuh bulan pernikahan, Sayang. Terima kasih sudah menemaniku sampai sekarang. Dan teruslah di sisiku untuk selamanya. " ucap Ikhsan.


Fatma mengangguk.


Ikhsan menyatukan bibirnya dengan bibir Fatma dengan sangat lembut dan penuh dengan kasih sayang, hingga kecupan itu semakin dalam dan keduanya begitu menikmati nya.


Fatma melepaskan tautan nya, mengambil oksigen yang sudah menipis di paru-paru nya.


Ikhsan terkekeh melihat wajah Fatma yang yang kini cemberut. Ikhsan ingin lagi mendekatkan bibirnya namun di dorong oleh Fatma. " jangan sekarang, Mas. Aku lapar. " ucapnya.


" Aku lebih lapar " jawab Ikhsan.


" ya sudah, aku akan memasak lagi supaya kita bisa makan " Fatma ingin pergi.


Fatma melangkah ingin keluar namum baru saja tiga langkah Ikhsan menarik tangan Fatma dan membuatnya kembali. Ikhsan memeluk pinggang Fatma dengan kuat tak akan dia biarkan Fatma pergi sekarang.


" aku memang lapar, tapi perutku masih bisa di tahan daripada hasrat ku. Aku menginginkan mu sekarang. "


" tapi Mas.. "


Ikhsan mendorong Fatma hingga terjatuh di ranjang yang begitu empuk, Ikhsan pun langsung mengunci tubuh Fatma supaya tak bisa kabur lagi.


" Mas a.... " belum juga Fatma selesai bicara Ikhsan sudah menutup mulut Fatma dengan mulutnya sendiri membuatnya Fatma kini hanya bisa pasrah sampai akhirnya penyatuan mereka terjadi lagi dan masih tetap sama, dengan pengamanan yang sangat ketat.


🌾🌾🌾🌾🌾

__ADS_1


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


__ADS_2