Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
214. Karma itu ada


__ADS_3

____


Happy Reading...


____________________


Ya, perempuan yang datang meminta-minta di rumah Kairi adalah Nesa, ibu kandung Fatma yang kini nasibnya begitu berubah drastis. Dulu dia begitu berkecukupan, makan enak, rumah bagus, penampilan menarik namun sekarang? Dunia telah berputar kepada dirinya dan menempatkannya di tempat paling dasar.


Mungkin inilah karma yang dia dapatkan karena telah membuang Fatma dan juga Aira. Dia rasa ini belum sebanding dengan kesusahan yang di alami Fatma dan juga Aira.


Bahkan dengan tak sadarnya, Aira yang sempat bersamanya selalu mendapatkan penyiksaan olehnya dan juga Fans suaminya.


Nesa berjalan dengan tertatih, memegangi dua kantong kresek dan juga satu amplop yang dia pegang begitu erat. Dia bahagia karena mendapatkan semua itu, namun hatinya terasa teriris hingga air mata nya terus berderai kala dia mengingat kelakuan buruknya pada Fatma dan juga Aira.


"Ibu pantas mendapatkan ini semuanya, ibu memang pantas. " Ucapnya dengan sesenggukan.


"Allah telah menunjukkan kebesaran pada Ibu, kamu pernah mengalami seperti ini dan dan sekarang ibu juga harus merasakannya. Dulu Ibu tidur dan tinggal di tempat yang enak, dan sekarang semuanya telah berputar. Kamu berhak bahagia Fatma, Aira. Ibu tidak akan menggangu kebahagiaan kalian. Tidak akan lagi Ibu menyusahkan kalian. " Ucapnya yang terdapat penyesalan yang begitu besar.


Langkah Nesa berhenti di gubuk kecil yang terbuat dari barang-barang bekas, dia menghapus air matanya sebelum masuk ke dalam sana.


Apa yang di alami Fatma dulu benar-benar berbalik kepada Nesa dan juga Fans, bahkan sepertinya mereka lebih parah.


"Assalamu'alaikum." Ucapnya seraya masuk di gubuk yang sama sekali tak ada pintunya itu, hanya ada kain saja yang menjadi penutupnya.


"Wa'alaikumsalam, ibu sudah pulang? Bu, bapak semakin demam, Bu. Panasnya semakin tinggi." Ucap Jio memberitahu Nesa.


Semenjak mendapatkan di hajar oleh anak buah Marco waktu itu Fans tak bisa berjalan, tanpa tongkat sebagai bantuan, kakinya cidera karena mendapatkan pukulan yang sangat keras dan tentunya dengan tongkat yang tidak enteng.


Nesa cepat berlari, mendekati Fans. Matanya terus berderai namun bibirnya dia usahakan untuk terus tersenyum. "Mas, lihatlah, Nesa bawa makan kita bisa makan sekarang. Nesa juga mendapatkan uang nanti aku akan belikan obat untuk Mas, mas hari cepat sembuh." Ucapnya begitu pilu.


Uhuk... Uhuk...


"Sekarang Mas harus makan. " Nesa membantu Fans untuk duduk.


Tau tak menjawab dengan kata-kata dia hanya mengangguk saja dengan malas. Nesa langsung mengeluarkan makanan yang di beri oleh Kairi tadi, nasi, sayur, dan juga beberapa lauk pauk yang begitu menggugah selera makan mereka.

__ADS_1


"Ayam goreng, Bu! Jio beneran akan makan ayam goreng?" Senyum sumringah keluar dari bibir anak laki-laki berusia sebelas tahun itu. Sudah sangat lama sekali dia tak lagi merasakan apa yang namanya Ayam goreng dan sekarang dia begitu senang karena akan bisa memakannya lagi.


"I- iya. Kita akan makan ayam goreng lagi. Kamu suka ayam goreng kan? " Ucap Nesa dengan sendu. Tangannya membelai lembut pipi Jio dengan penuh kasih sayang.


"Asyik..., akhirnya Jio bisa makan ayam goreng lagi. " Jio begitu gembira kali ini, ini adalah rezeki yang tak bisa di nyana-nyana dan datang tanpa mereka harus bekerja keras mencari barang-barang bekas.


"Sekarang Jio makan yang banyak ya, biar Jio sehat dan cepat besar. "


"Iya, Bu. " Jawab Jio begitu antusias.


Dengan alat makan seadanya nasi, sayur dan lauk itu di bagi menjadi tiga oleh Nesa. Mereka terlihat begitu lahap memakannya, apalagi Jio? Dia yang paling semangat.


"Ini enak sekali, Bu! " Teriak Jio.


"Iya ini sangat enak." Jawab Nesa.


Meskipun sedang sakit namun Fans masih bisa makan sendiri, Fans merasa senang karena akhirnya bisa makan setelah tiga hari perutnya kosong, namun dia juga sedih karena tak bisa membahagiakan Nesa dan juga Jio.


Semua ini adalah kesalahannya, kalau dia tidak tamak akan harta dan tidak menyiksa dan akan menjual Aira dulu mungkin penderitaan ini tidak akan pernah mereka alami. Tapi, ibarat 'Nasi sudah menjadi bubur' apa yang mereka tanam dan kini mereka tengah menuai nya.


Baru beberapa suap saja, Nesa kembali teringat akan Fatma tadi. Dia diam, menghentikan makannya dan melamun. Dia malu dengan anak-anaknya yang kini mendapatkan kebahagiaan dan kenyamanan. Dulu dia malu karena miskin hingga dia membuang dan menelantarkan kedua anaknya, dan sekarang dia lebih malu lagi, namun dia malu kepada anaknya sendiri karena nasibnya tak seindah yang mereka dapatkan.


Nesa masih tetap diam, sepertinya dia sama sekali tak mendengar kalau Fans tengah berbicara padanya. Sementara Jio kini juga menghentikan makannya dan ikut menatap Nesa sang ibu yang terdiam.


"Nes." Pangggil Fans lagi, namun Nesa masih tetap diam.


"Bu, Ibu... " Jio pun ikut serta memanggil Nesa dengan suara yang lebih keras di banding dengan Fans. Mungkin karena suara Fans begitu lirih membuat Nesa tak mendengar nya.


"Ya! " Nesa gelagapan, langsung menatap Jio dengan cepat.


"Di panggil bapak, Bu." Jawab Jio dan kini dia kembali makai lagi setelah Nesa sudah tersadar.


Nesa langsung menoleh, memandang Fans yang terlii bingung menatapnya. "Kenapa, Mas. Apa Mas membutuhkan sesuatu? " Tanya Nesa dengan sangat sabar.


"Kamu yang kenapa? Apa yang kamu pikirkan sehingga kamu tak mendengar aku memanggilmu, hem..? " Tanya Fans heran.

__ADS_1


"Ti-tidak apa-apa Mas, sungguh."


" Apa aku juga tidak bisa mendengar keluh kesah mu lagi? Apa kamu sudah lelah merawat ku? Atau kamu..." Ucapan Fans terhenti.


"Tidak, Mas. Bukan seperti itu." Sambar Nesa, menyela perkataan Fans yang merasa menjadi beban saja. "Tadi... Tadi Nesa bertemu dengan Fatma, Mas. " Nesa tertunduk lesu.


"Fatma! Bagaimana kabar dia, Nes? Dia baik-baik saja kan? Dia bahagia kan sekarang? Dia tidak menderita lagi kan?" Cerca Fans.


Mungkin berbulan-bulan seperti ini, membuat Fans dan juga Nesa benar-benar berubah dan peduli dengan Fatma ataupun Aira. Meskipun dia tak mau lagi merepotkan anak-anaknya lagi dan tak mau bertemu mereka, namun mereka akan bahagia jika mendengar kedua anaknya bahagia.


"Alhamdulillah, Mas. Sekarang Fatma bahagia, dia juga mendapatkan seseorang yang benar-benar perduli padanya dan bisa membahagiakannya."


"Kita berada di antara keberuntungan dan juga tidak dalam keberuntungan, Mas. Kita beruntung karena kita bisa mendapatkan anak-anak yang kuat, anak-anak yang dewasa dan peduli dengan orang lain. Anak-anak yang menjadi kebanggaan kedua orang tuanya. "


"Tapi..., ternyata keberuntungan itu juga tidak kita dapatkan karena kita tidak pantas menjadi orang tua mereka, kita tidak pantas berbahagia dengan kebanggaan itu, kita tidak pantas Mas." Nesa mulai terisak karena ucapannya sendiri.


"Sudah lah, Nes! Ini memang sudah menjadi menjadi takdir kita. Semua sudah terjadi dan kita tidak bisa memutar kembali kejadian di masa itu. Kini kita hanya bisa menyesalinya, Nes. Dan kita hanya bisa berdoa semoga mereka selalu bahagia, dan kita hanya bisa berharap suatu saat kita bisa mendapatkan maaf dari mereka berdua. " Jawab Fans.


Harapan itulah yang kini menjadi impian bagi mereka berdua, bisa mendapatkan maaf dati Fatma dan Aira adalah mimpi terbesar mereka. Mereka tak lagi bermimpi akan bisa di terima atau di anggap sebagai orang tuanya lagi, mereka hanya memiliki harapan bahwa kelak dia akan mendapatkan maaf.


"Mas, benar. Semoga kita bisa mendapatkan maaf dari mereka." Jawab Nesa, menghapus pipinya yang basah akan air matanya sendiri.


"Bu, apakah suatu saat Jio bisa bertemu dengan Kak Aira dan Kak Fatma? Apakah Jio bisa memanggil mereka kakak?" Tanya Jio sendu.


Nesa merengkuh Jio, ini semua kesalahannya, karena ketamakannya dulu kini Jio juga merasakan Imbasnya, dia kehilangan haknya sebagai Adik, dan tak mendapatkan kasih sayang dari kedua kakaknya.


"Kamu berdoa saja ya, Nak. Semoga suatu saat kamu bisa memanggil mereka kakak dan kamu bisa mendapatkan hak mu sebagai seorang adik. Maafkan ibu dan bapak yang telah merenggut semua itu darimu, Nak. Maafkan Ibu."


"Iya, Bu. Jio akan selalu berdoa semoga Jio bisa bertemu dan bersatu dengan kak Aira dan kak Fatma. " Jawab Jio yang masih berada di dekapan Nesa.


"Maafin Ibu, Nak. Maafin Ibu. " Nesa begitu menyesal semua ini karena perbuatannya. Nesa mengecup berkali-kali puncak kepala Jio dan kembali menghapus pipinya yang lagi-lagi harus basah.


"𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘕𝘦𝘴𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. 𝘈𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶, 𝘠𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪. 𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶..." Sesal Fans dalam hati.


___

__ADS_1


Bersambung...


_________________


__ADS_2