Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
233. Alvaro Faruq Saputra


__ADS_3

Happy Reading....


____


Suara adzan dari Akhsan tengah berseru di samping telinga bayi kecil yang baru saja lahir, bayi kecil itu diam saja seolah mendengarkan lagi pertama yang dia kenal. Selesai mengadzani Akhsan berpindah ke telinga sebelah kiri dan menyerukan iqamah juga, dan bayi mungil itu terus diam.


Bayi kecil yang sangat tampan kini sudah berada di gendongan Akhsan, air mata kebahagiaan itu ngalir begitu saja di kala mata kecil itu menatapnya seolah mengenalnya.


Rasa yang campur aduk Akhsan rasakan, senang, sedih, dan haru menjadi satu melihat bayi itu tersenyum seolah tengah menyapanya.


"Assalamu'alaikum, tampan.. " Sapa Akhsan untuk yang pertama kalinya pada anaknya, dan bayi itu masih saja tersenyum seolah mengerti dengan apa yang Abi nya ucapkan.


"Ma, lihatlah! Dia tersenyum padaku! " Seru Akhsan memperlihatkan si Akhsan junior.


Keisha mendekat, dia ikutan tersenyum melihat Akhsan dan bayi itu yang sama-sama tersenyum dengan terus saling bertatapan, "Dia sangat tampan, sama seperti mu," Puji Keisha.


"Iya dong, Ma! Akhsan kan Abi nya," Jawab Akhsan.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Keisha dan Akhsan langsung mengangguk, namun matanya tak pernah lepas dari bayi mungilnya, "Siapa? "


"Alvaro Faruq Saputra, Ma. Bagaimana? Cocok tidak?" Tanya Akhsan seraya melirik kecil ke arah Keisha.


"Alvaro, bagus," Keisha manggut-manggut mengerti, nama yang sangat cocok dengan bayi tampan itu, "Assalamu'alaikum, Alvaro. Ini nenek ya.. " Sapa Keisha.


"Wah..., Alvaro, nama yang indah, Bang." Ikhsan mendekat melihat Alvaro yang entah kenapa bayi itu juga melirik ke arah Ikhsan.


Oe... Oe... Oe...


Akhsan langsung menatap tajam ke arah Ikhsan bingung saja kan bagaimana bisa Alvaro langsung menangis setelah melihat wajah Ikhsan. Apakah wajah Ikhsan begitu menakutkan? Bukannya wajahnya sebelas dua belas dengan bapaknya.


"Kenapa abang melotot seperti itu? Ikhsan tidak ngapa-ngapain, Alvaro saja yang sensi sama aku. Atau mungkin dia marah karena aku lebih tampan dari abang," Protes Ikhsan.


"Mana mungkin marah, kalau dia marah dia nggak akan nangis! Dia takut saja lihat wajahmu! " Ketus Akhsan.


"Wah wah..., sepertinya akan ada satu lagi yang akan selalu membully ku, bapak sama anak kayaknya akan menjadi komplotan yang kompak menindas ku," Keluh Ikhsan.

__ADS_1


"Terserah aku dan Alvaro mau bagaimana, dia anakku, bebas bisa sama seperti ku! "


"Jangan sensian, Bang. Nanti nular loh ke Alvaro, iya kan tampan, " ucap Ikhsan tangan mengelus pipi bayi itu yang sangat lembut.


Oe... Oe... Oe....


"Beneran sensi nih anak," Cepat-cepat Ikhsan melepaskan tangannya karena tak mau sampai Alvaro terus menangis.


"Anak pintar," ucap Akhsan.


"Dasar! " Kesal Ikhsan.


"Hahaha..., nggak pengen juga, Dek? Buruan di gas pol supaya Alvaro cepat punya adik yang bisa di bully, hahaha... "


"Astaghfirullah.., niatnya buruk amat sih, Bang! Belum apa-apa sudah ngajarin yang nggak bener. Kalau aku punya anak nanti akan aku jauhkan sejauh-jauhnya dari abang juga Alvaro, takut ketularan nggak normal! " Ikhsan berlalu dari hadapan Akhsan, dia sangat kesal dengan abangnya itu, di tambah lagi bayinya yang sepertinya mulai tidak menyukainya.


"Maaf, Pak. Anak bapak harus di kembalikan di inkubator. Anak bapak masih sangat lemah, tidak baik jika berlama-lama berada di luar," ucap salah satu perawat yang datang.


"Baik, Sus," Jawab Akhsan lalu memberikan Alvaro pada suster.


___


Ya, kini Fatma berada di ruangan Khairi, setelah di pindahkan ke ruang rawat Khairi sama sekali belum membuka matanya entah karena pengaruh obat atau memang karena masih aa masalah dengan keadaannya.


"Ayo dong, Kak! Kakak harus bangun," Pinta Fatma yang terus berharap.


"Assalamu'alaikum," Akhsan juga Ikhsan masuk, langsung menghampiri Khairi juga Fatma.


"Belum bangun?" Tanya Akhsan dan Fatma langsung mengangguk.


Fatma berdiri, dia minggir dari tempat itu dan membiarkan Akhsan yang berada di sana.


"Mas, kenapa kak Khairi belum bangun juga? Kak Khairi tidak kenapa-napa kan? " Tanya Fatma paa Akhsan.


"Tidak apa-apa, kak Khairi masih dalam pengaruh obat , dia akan bangun sebentar lagi," Jawab Ikhsan.

__ADS_1


Perlahan-lahan jari jemari Khairi mulai bergerak, matanya pelan-pelan mulai terbuka, "A-aku di mana?" Ucapnya yang sontak membuat mereka semua menyerukan hamdalah secara bersamaan.


"Alhamdulillah... "


"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Akhsan.


Khairi menoleh mendapati suaminya yang terlihat sangat lega, "Mas, kenapa aku di rumah sakit? " Tanyanya, sejenak Khairi mengingat apa yang terjadi saat dia masih ada di rumah sontak dia menyentuh perutnya yang sudah kembali kempes, "Mas, di mana anak kita, Mas!" Khairi terlihat sangat panik.


"Tenang, Sayang. Anak kita baik-baik saja, dia ada di ruang sebelah," Jawab Akhsan membuat Khairi bernafas lega.


"Dia tidak apa-apa kan, Mas! Dia baik-baik saja kan?" cerca Khairi.


Akhsan mengangguk dia juga tersenyum, "Dia baik-baik saja, apa kamu tau? Anak kita sangat tampan, dia sama seperti ku. "


"Benarkah?! "


"Hem.. "


"Dan maaf, mas sudah memberitahukan pada semuanya nama anak kita, Alvaro Faruq Saputra, "


"Tidak apa-apa, Mas. Yang penting dia baik-baik saja, aku tak sabar ingin bertemu dengan Alvaro. Kapan aku bisa bertemu dengannya? "


"Setelah keadaannya membaik maka kamu bisa bertemu dengannya."


Khairi terdiam, dia sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan Alvaro. Benarkah dia sama persis dengan Akhsan? Dia yang mengandungnya dengan susah payah apakah tidak ada sedikit saja yang sama seperti dirinya?.


"Siang Pak, maaf saya mau memeriksa keadaan pasien." Seorang dokter datang dan langsung mendekat.


Ikhsan juga Fatma keluar sementara Akhsan tetap tinggal menemani Khairi di sana.


__


Bersambung...


_____

__ADS_1


__ADS_2