Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
189.Harus memaafkan


__ADS_3

___________


Kabar Akhsan yang membantu Kamila langsung terdengar ke semua isi kampus termasuk Kairi, Kairi langsung khai kepada Akhsan dan bergegas untuk menemuinya. Kairi yang di temani Nara langsung datang ke ruangan Akhsan.


Sesampainya di sana Kairi sama sekali tak melihat Akhsan, Kairi terus celingukan dan masuk untuk mencarinya, namun nihil Akhsan tidak ada di sana.


" Apa Mas Akhsan sudah berangkat ke kantor? kan dia sedang buru-buru karena ada meeting. " ucap Kairi seraya berfikir mungkin memang begitu.


" Mungkin iya, Kai. Atau mungkin Pak Akhsan ikutan pergi ke ruangan Dekan juga?. " ucap Nara, Karena Akhsan yang menjadi saksi kejadian itu tak menutup kemungkinan Akhsan juga pergi ke sana untuk menjadi saksi.


Akhsan dan Kairi langsung bergegas ke sana. Kairi benar-benar tak sabar ingin secepatnya bertemu dengan Akhsan dia sangat khawatir pada suami tercinta nya itu.


" Semoga Mas Akhsan tidak kenapa-napa. " racau Kairi tiada henti.


Tepatnya di dalam ruangan Dekan kini tengah ramai, para Dosen semua hadir di sana, semua saling berunding hukuman apa yang pantas untuk di berikan kepada pria yang memiliki moral yang sangat sempit itu.


" Keluarkan saja dia dari sini, Pak. Mahasiswa seperti dia hanya akan mempermalukan kampus kita ini! " seru salah satu Dosen yang sedari tadi sudah emosi mendengar melakukan yang tak senonoh dari pria itu.


" Benar, Pak. Mengeluarkan dia adalah hukuman yang pantas dia dapatkan. Saya hanya takut kalau di tetap ada disini dia akan kembali melakukan hal itu entah pada mahasiswa yang sama atau pada mahasiswa yang lain. " saut Dosen yang lain.


Dekan nampak diam, dia masih menimang pendapat yang di serukan oleh semua dosen. Memang benar, jika pria itu masih tetap di sana mungkin akan menjadi ancaman, dan akan menumbuhkan ketakutan dari mahasiswi yang lain. Tak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal yang sama terhadap yang lain juga.


" Baik, kita akan keluarkan dia dari kampus ini. Kesalahan sangat fatal, kelakuan yang bisa membuat kampus kita tercoreng bisa saja itu ajat menimbulkan ketakutan dari para mahasiswi lainnya. " jawab Dekan yang akhirnya menyetujui semua pendapat yang lain.


" Bagaimana menurut Anda, Pak Akhsan. " Pak Dekan menoleh ke arah Akhsan yang terus diam mendengarkan. Semua yang ingin dia katakan sudah di wakili oleh semuanya jadi gak perlu dia memang menyerukan pendapat kan? tapi sekarang sepertinya dia juga harus bicara.


" Semuanya benar, Pak. Ini bukan masalah yang sepele. Kalau menurut saya, bukanya itu sangat pantas dia dapatkan pak, bahkan seharusnya masalah ini harus di tangani oleh pihak kepolisian, karena ini juga termasuk kejahatan yang ingin melecehkan seorang wanita. " jawab Akhsan.


Semua mengangguk, apa yang di katakan oleh Akhsan memang benar.


Keputusan telah di putuskan bahwa pria itu akan di keluarkan dari kampus sekaligus akan di laporkan ke polisi untuk menanggung semua kesalahannya.


_________


Kairi berdiri tidak tenang dia bersama Nara kini berdiri di depan ruangan Dekan yang tengah tertutup. Lama mereka menunggu akhirnya Akhsan keluar Kairi pun langsung berlari menghampirinya, mengamati dari ujung kaki sampai ke kepala milik Akhsan.


" Mas, Mas tidak apa-apa kan?. " tanya Kairi khawatir.


Akhsan malah tersenyum melihat Kairi yang begitu panik, dia mengelus pundak Kairi dan menatap nya. " Mas tidak apa-apa, kamu tidak usah khawatir. " jawab Akhsan.

__ADS_1


" Mas beneran nggak apa-apa kan? nggak bohong kan?. " cerca Kairi masih tak percaya sama sekali dengan Akhsan.


" Mas tidak apa-apa, sungguh. " jawab Akhsan menekankan.


" Mas harus ke kantor sekarang, sepertinya Mas sudah sangat terlambat. Kamu baik-baik di sini nanti Mas jemput. " ujarnya dengan sangat lembut.


" Hem. " Kairi mengangguk meraih tangan Akhsan dan mencium punggung tangannya. " Hati-hati Mas. " imbuhnya.


" Iya, Assalamu'alaikum. " Akhsan langsung melangkah pergi.


" Wa'alaikumsalam. " jawab Kairi. Kairi masih diam sejenak di sana, menatap punggung Akhsan yang semakin menjauh. Setelah beberapa saat Kairi dan Nara hendak kembali ke kelas namun suara seseorang menghentikannya.


orang itu tidak memanggil dirinya melainkan memanggil Akhsan yang sudah sangat jauh.


" Pak Akhsan!. " teriak nya.


Kairi kembali menoleh, matanya menyipit melihat gadis yang tangannya membawa jas milik Akhsan suaminya. Kairi kembali ke tempat semua dan mendekati gadis itu.


" Maaf, mbak siapa ya? ada perlu apa Anda memanggil suami saya. " tanya Kairi.


Gadis itu menoleh menatap Kairi dengan mengernyit, " suami? , jadi pak Akhsan sudah menikah? " batin gadis itu yang tak lain adalah Kamila. " Sa- saya mau mengembalikan jas ini pada pak Akhsan. " ucap Kamila dengan canggung.


" Kamu, kamu yang di gadis yang...?. " ucapan Kairi terputus karena dia gak mampu untuk melanjutkannya, dia tak mau membuat Kamila kembali mengingat kejadian tadi dan kembali bersedih.


Kairi langsung memeluk Kamila memberikan kekuatan padanya, dia sangat iba dan merasa sangat kasihan dengan apa yang telah menimpanya. " Kamu yang sabar ya, semua pasti akan baik-baik saja. " Kairi mengelus punggung Kamila dengan sangat lembut.


" Terima kasih, Mbak. " jawab Kamila yang kembali sedih. Kamila merasa terenyuh meskipun hanya dukungan kecil membuat nya sangat tenang.


" Iya. " Kairi melepaskan pelukannya dan kembali mengulum senyum, " Untuk jas Mas Akhsan berikan saja padaku. Biar aku yang membawanya pulang. " ucap Kairi.


" Hem. " Kamila sedikit tersentak namun tak berlangsung lama karena dirinya langsung sadar dan memberikan jas Akhsan pada Kairi. " Ini, mbak. Tolong sampaikan terima kasih saya pada Pak Akhsan. " Kamila mengulurkan tangannya dan memberikan jas itu pada Kairi yang juga langsung menerimanya.


" Akan saya sampaikan. " Kairi melipat jasnya di tangan dan kembali menyentuh bahu Kamila. " Kamu yang kuat ya. Kami semua bersamamu, jangan sungkan untuk meminta bantuan pada kami, kami pasti akan bersedia menolong mu. " ucap Kairi.


" Iya, mbak. " angguk Kamila.


" Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum. " pamit Kairi.


" Wa'alaikumsalam. " jawab Kamila dengan senyum tipis yang terkesan sangat terpaksa.

__ADS_1


Kamila menatap Kairi dengan diam, " Dia sangat baik, sangat cocok dengan pak Akhsan. " gumamnya.


______


" Astaga, ini kita di suruh ngerjain tugas atau kerja rodi. Soal segini banyak nya masak harus selesai harus ini juga! Bu Suci memang luar biasa. " ucap Fatma tak habis pikir.


Begitu banyak lembar kertas foto copy yang ada di setiap depan para murid. Semua itu adalah lembar soal untuk latihan mereka.


Bukan hanya Fatma saja tentunya yang akan mengeluh tapi juga semuanya. Ini sudah sangat siang mereka semua sudah lelah hati lelah pikiran, dan sekarang mereka masih harus berfikir untuk menyelesaikan semua tugas yang Suci berikan.


" Kalau begini mending kita tidur aja. " celetuk Santi.


" Iya, kalau begini setiap hari yang ada kita akan stress saat ujian tiba. Sebenarnya ini bukan seperti latihan sih tapi memeras otak kita. " saut Mirna.


Semuanya saling tatap menatap, mereka sudah sangat lelah. Seharusnya setengah jam lagi waktunya mereka akan pulang namun mengingat semua tugas mereka seperti nya mereka akan pulang hingga sore nantinya.


" Aku tidak mau pulang sore lagi. " Fatma menaruh wajahnya dengan sedikit keras di mejanya sehingga menghasilkan bunyi yang. " Emakk! aku ingin pulang!. " teriak nya menghayati.


" Emak mu tidak akan mendengar keluhan mu, Miss!. " seru Rico.


" Jelaslah, lagian siapa juga yang punya emak, aku kan memang sudah tidak punya emak!. " jawab Fatma dengan ketus.


" Istighfar, Miss. Bagaimanapun juga kamu harus tetap menghormati emak mu meskipun seperti apapun dia. Bukannya kalau tidak ada dia Miss juga tidak akan ada? jadi, sebisa mungkin balas budi itu sebelum terlambat, dan jangan sampai menyesal kemudian hari. " seloroh Rico.


" Diam kamu, sekarang mulutmu kenapa jadi seperti emak-emak begini. ? " kesal Fatma.


" Ya elah, Miss miss!. Benci ya benci tapi nggak segitu nya juga kali, Miss. Ingat, memaafkan itu akan sangat mulia. "


" Kenapa malah jadi bahas ini sih?, udah ah! aku mau ke toilet dulu!. " Fatma segera beranjak. Sebisa mungkin dia harus menghentikan percakapan ini karena di hati Fatma belum juga bisa memaafkan kedua orang tuanya yang sekarang entah dimana dan bagaimana keadaannya.


Rico hanya bisa geleng-geleng kepala, sikap keras kepala nya Fatma memang patut di acungin sepuluh jari. Tak akan mudah meluluhkan hati yang sudah keras karena kekecewaan.


" Kamu pasti bisa Miss, bagaimanapun kamu harus bisa berbahagia dengan keadaan dan harus memaafkan mereka. Kamu tidak akan tenang jika terus menyimpan kekesalan seperti ini. " gumam Rico.


Fatma terus berjalan menuju toilet dengan diam, otaknya terus mencerna kata-kata Rico yang mungkin memang benar.


" Aku juga ingin, tapi kenapa rasanya sangat susah. " gumamnya dengan sedih. "


__

__ADS_1


Bersambung..


_______________


__ADS_2