
______________
Assalamu'alaikum...
Kembali lagi di cerita halu si author yang ecek-ecek ini...
Terima kasih selalu mengikuti.
πππππ
Happy Reading....
_____________
" gawat, inilah yang aku takutkan" gumam Rico lalu menyambar jaketnya dan kunci yang ada di atas mejanya.
Rico pun melajukan motornya dengan cepat, berharap di bisa tepat waktu sampai di tempat yang menjadi tujuannya sekarang.
Dengan kecepatan tinggi Motor Rico terus melaju, mungkin inilah yang membuat Fahmi bener-bener belum bisa tenang, keluarga nya yang selalu ada teror dan juga bahaya membuat Fahmi masih tertahan dan selalu menemui Rico, apalagi di saat akan ada bahaya pasti Fahmi akan selalu hadir dan belum pergi sebelum Rico pergi.
Rico sudah berjanji akan selalu membantu keluarga Fahmi entah apa yang akan dia dapatkan dia sama sekali tak perduli, dia ikhlas dan juga tak mengharapkan balas kasih dari siapapun.
Sepuluh menit Rico dalam perjalanan, dan kini dia sampai juga di jalan dekat dengan makam. Rico menghentikan motornya lalu turun, memastikan semua dalam keadaan baik-baik saja.
Rico terus bejalan, tak ada siapapun di sana kecuali dua mobil hitam yang terparkir tanpa penghuni di dalamnya.
" mereka semua dimana? " bingung Rico. Rico mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling namun seorang pun tak bisa dia temukan ada di sana.
" nggak mungkin mereka di culik kan? Meskipun mereka pintar tapi ternyata mereka tak sepintar yang aku bayangkan. Jika mereka pintar, pastilah mereka juga akan membawa kedua mobil ini dan menghancurkannya untuk menghilangkan jejak. " Gumam Rico.
Rico kembali berlari, menuju motornya dan kembali melajukan nya entah kemana sekarang tujuannya yang jelas dia harus segera mencari cara untuk menyelamatkan Tasya dan juga Joe yang entah di bawa kemana sekarang.
Hanya satu teman tempat ya menjadi tujuan dari Rico sekarang, pesantren dimana tempat tinggal Tasya, Rico bukanlah superhero yang akan bisa menyelamatkan mereka berdua seorang diri.
πΎπΎπΎπΎπΎ
Kegiatan seperti biasa sudah lagi di jalankan di pesantren, semuanya beraktivitas dan belajar mengajar pun sudah berjalan.
Namun kali ini semua para santri dan juga para Ustadz tengah mengadakan kajian bersama-sama di dalam masjid tak terkecuali dengan Rayyan dan juga Akhsan.
Semuanya tampak fokus mendengarkan dan juga semangat merangkum semua ilmu yang di katakan oleh salah satu ustadz sekarang.
Di saat semuanya tengah fokus, Marco datang lebih sana. Dia ingin mencari Joe yang tak kunjung pulang karena pergi dengan Tasya untuk ke makam Fahmi.
Melihat Marco yang ada di depan masjid, Rayyan langsung pamit keluar dan menemuinya.
" Assalamu'alaikum, Om. " sapa Marco sembari menyalami Rayyan.
" Wa'alaikumsalam. " jawab Rayyan. " Maaf, ada perlu apa ya? " tanyanya.
Rayyan mengajak Marco untuk pergi menjauh dari sana, dan mengajaknya pergi ke Pendopo nya, mereka akan lebih leluasa berbincang-bincang di sana.
__ADS_1
" ada apa, Marco? " tanya Rayyan setelah kedua sampai dan dadi dulu Pendopo.
" saya mau jemput Opa, Om" jawab Marco.
Rayyan baru sadar sekarang, bahkan Tasya bundanya juga belum pulang sejak tadi. Padahal biasanya mereka akan pergi sebentar saja untuk ke makam, namun kali ini sudah berjam-jam dan mereka belum pulang dan sama sekali tak memberi kabar.
Rayyan sedikit tenang tadinya, membiarkan Tasya pergi karena dia juga pergi tidak hanya sendiri, ada Joe dan juga beberapa orang kepercayaannya untuk menemaninya.
" Mereka belum pulang " jawab Rayyan yang seketika langsung khawatir.
" belum pulang? " Marco mengernyit bingung.
Rayyan hanya menggeleng lalu beranjak dan pergi ke kamar nya sebentar untuk mengambil ponselnya. Rayyan pun balik lagi ke tempat itu setelah mengambil ponselnya.
Rayyan dan Marco langsung sibuk dengan ponselnya, berusaha menghubungi Tasya, Joe dan juga orang kepercayaan nya secara bergantian.
" kenapa nggak bisa? " Rayyan semakin khawatir.
Beberapa kali Rayyan menghubungi mereka dan mengirimkan pesan singkat. Namun panggilan nya sama sekali tak di jawab bahkan chat nya tidak di balas, di baca pun juga tidak.
" mereka kemana? " Rayyan semakin bingung.
" saya juga tidak bisa menghubungi mereka, Om. Apa mungkin terjadi sesuatu pada mereka? " insting Marco langsung mengarah ke sesuatu yang tidak di inginkan namun bisa saja terjadi pada mereka berdua.
Apalagi saat Marco kembali mengingat kalau Joe juga menjadi sasaran empuk oleh para musuh nya.
Marco mencoba menepis akan hal itu, semua itu tak mungkin terjadi pada Opa nya. Karena para musuh belum tau akan Joe tapi entahlah mungkin Marco yang terlalu meremehkan lawan.
Joe hanya satu-satunya orang tua yang di miliki oleh Marco, orang yang menggantikan kedua orang tuanya yang selalu memberikan limpahan doa dan kasih sayang padanya dan juga Farel, adiknya.
Rayyan mengangguk, pastilah di setuju karena dia juga sangat khawatir akan keselamatan mereka berdua.
Kedua bergegas keluar, namun baru sampai di pintu ada Akhsan yang datang.
" ada apa, Pa? " tanya Akhsan bingung, melihat ekspresi Rayyan dan Marco yang begitu panik dan khawatir.
" Oma kamu belum pulang, Akhsan. Dan Papa dan Marco berencana untuk menyusul mereka ke makam. " jawab Akhsan.
Akhsan pun langsung heran, tak seperti biasanya Tasya pergi dengan waktu yang molor begitu lama, biasanya hanya satu jam atau satu jam setengah paling lama, tapi sekarang. " Oma kemana? " bingung Akhsan juga. " kalau begitu Akhsan juga ikut, Pa. " pinta Akhsan dan langsung mendapatkan anggukan dari Rayyan.
Baru saja mereka bertiga hendak masuk ke mobil ada motor yang masuk ke sana dan langsung memarkirkan nya di depan mereka. Mereka menatap motor dan pengendaranya kira-kira siapa yang datang. Namun di liga dari motor nya Akhsan dan Rayyan sangat mengetahuinya.
" Rico! " ucapan keduanya bersamaan setelah melihat Rico melepaskan helm nya dan menaruhnya di bagian stang.
Rayyan yang masih sangat marah pada Rico langsung bergegas menghampiri nya dengan wajah yang sangat menyeramkan.
" kenapa kamu kesini? belum puas membuat kekacauan di sini! iya?! " ketus Rayyan.
" maaf, Om. Bukan seperti itu maksud saya." Rico tertunduk, dia bukan sengaja untuk membuat kekacauan saat itu hingga sekarang, semua yang dia lakukan semata-mata karena Fahmi dan juga untuk kebaikan Tasya dan semua anggota keluarganya.
'' Terus seperti apa maksudmu? apa kamu kurang kerjaan! hingga kamu datang ke sini? atau kamu punya maksud lain untuk mempermalukan keluarga saya?! " Ucap Rayyan yang penuh curiga.
__ADS_1
Akhsan yang melihat itu langsung mendekat, semua ini tidak akan baik jika sampai berlanjut. Semuanya pasti akan berdampak buruk untuk semuanya.
" sudah lah, Pa. Semuanya sudah selesai, dan kenapa Rico datang kesini bisa di tanyakan dengan baik-baik kan, Pa. " ucap Akhsan.
" Ternyata anak anda lebih bijak dari Anda, Om. Ternyata usia tidak menjadikan seseorang bisa bijak dan lebih dewasa. Contohnya ANDA." ucap Rico menekankan di ujung kalimat.
Bukan maksud Rico mau lancang, dan berani atau tidak hormat pada orang yang lebih tua, tapi kali ini Rayyan begitu keterlaluan. Disaat semuanya dalam keadaan genting dia hanya mementingkan amarahnya yang belum juga berujung.
" apa maksudmu! " tanya Rayyan dengan melotot.
" maaf Om. Saya datang bukan untuk mengajak Om berantem, karena saya sadar saya pasti akan kalah dengan Om! Marah aja sesuka hati Om jika bisa membuat hati Om tenang! tapi saya pastikan sebelum amarah Om reda, Om sudah kehilangan Nyonya Ana dan Tuan Joe untuk selamanya!" ucap Rico dengan geram.
Semuanya tersentak mendengar kata-kata Rico, mata mereka seolah ingin menusuk Rico saking tajamnya.
" kau apakan, Bunda!! pasti kamu berencana melakukan kejahatan untuk mereka! dimana Bunda! dimana! " Rayyan semakin emosi.
" Ternyata aku salah datang kesini. Seharusnya aku mendengarkan perintah Abi ANDA... untuk tidak datang kesini dan meminta bantuan pada orang yang tepat! "
Rico kembali melaju ke motornya, menunggangi nya dan langsung mengenakan helm. waktu yang sudah mepet harus Rico gunakan dengan semaksimal mungkin, dia tidak mau berhutang karena janji yang tidak bisa di tepati nantinya pada Fahmi.
Marco yang sedari tadi diam akhirnya bertindak, dia mematikan mesin motor Rico sebelum Rico benar-benar pergi dari sana.
" maaf, mungkin Anda belum mengenal saya dan saya pun juga demikian. Tapi saya akan bertindak jika itu menyinggung soal Opa saya. " ucap Marco.
" Anda memang tidak mengenal saya, tapi saya sangat mengenal Anda! jika Anda memang perduli pada Opa Anda maka kerahkan orang-orang Anda sekarang juga. Saya tau Anda bukan orang sembarangan, Orang-orang Anda juga demikian. Saya datang kesini bukan berniat untuk melakukan kejahatan yang di tuduhkan tapi saya datang kesini untuk meminta bantuan pada kalian untuk keluarga kalian sendiri "
" apa maksud Anda? "
" kerahkan semua anak buah kalian dan pergilah ke markas geng Ular berkepala tiga, kalian akan menemukan Nyonya Ana dan Tuan Joe di sana. Waktunya tidak banyak hanya lima belas menit dari sekarang, itupun jika kalian masih mau melihat mereka masih hidup " jawab Rico.
Semuanya ternganga dengan penjelasan dan permintaan Rico, seribu pertanyaan muncul di otak mereka. Siapakah Rico sebenarnya, apa mungkin orang kiriman dari geng itu? hingga Rico mengetahui segalanya.
" kamu pasti bohong! ini semua pasti hanya alibi yang kamu katakan untuk menutupi kegagalan mu saja " teriak Rayyan yang masih tak percaya.
Rico menyingkirkan tangan Marco dengan pelan dan kembali menyalakan motor nya. " jika kalian tidak percaya bukan masalah, tapi saya akan tetap berjuang meskipun hanya seorang diri, meskipun saya sendiri tidak yakin saya akan bisa menyelamatkan mereka. Ingat baik-baik, hanya lima belas menit dari sekarang " Rico pun melajukan motornya dengan cepat setelah dirinya mengucapkan salam perpisahan, " assalamu'alaikum! "
Akhsan kembali teringat apa yang di ceritakan oleh Ikhsan waktu itu, bahwa mereka harus hati-hati dan juga waspada, kejadian yang kemarin belumlah akhir tapi masih akan ada hal yang lebih besar dari itu.
" apakah ini yang anak itu maksud? "
" Marco!! waktu kita tidak banyak, cepat!!"
Akhsan berlari masuk ke mobil dengan cepat semuanya tidak boleh terjadi sekarang atau kapanpun.
Marco pun mengikuti arahan Akhsan dia masuk ke mobilnya sendiri. Sedangkan Rayyan yang masih tak percaya disuruh tetap tinggal di rumah oleh Akhsan untuk mengawasi rumah.
Dalam perjalanan Marco dan juga Akhsan saling menghubungi para orang-orang nya, begitu pula dengan Ikhsan, Ikhsan adalah orang pertama yang Akhsan hubungi.
πΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Geregetan aku sama si Rayyan...
__ADS_1
π€π€π€π€π€