
Happy Reading....
...----------------...
Beberapa bulan kemudian....
Semua orang dari keluarga Saputra tengah menanti dengan rasa was-was di depan ruang persalinan. Ya, hari ini adalah hari dimana Fatma akan melahirkan anak pertamanya.
Bukan hanya keluarga inti saja yang datang tapi juga dua sahabat gesrek Fatma yang tidak sabar ingin bertemu dengan keponakan mereka yang entah laki-laki atau perempuan. Semua belum tau karena Fatma ataupun Ikhsan memang tidak ingin tau sebelum anak itu lahir ke dunia.
Semua tampak mondar-mandir, tapi ada juga yang duduk.
"Ya Allah, sampai kapan bocil itu akan lahir dan tidak membuat kita hampir berhenti bernafas seperti ini." celetuk Mirna.
"Benar-benar kayak emaknya deh. Seneng banget bikin orang jantungan." saut Santi.
Semua langsung tertuju kepada keduanya. Sadar menjadi bahan penglihatan keduanya hanya meringis dengan gagu.
"Astaga, kita tidak sadar telah membicarakan menantu mereka. Untung pak Ikhsan nya nggak ada, kalau ada bisa-bisa kita di tendang sampai planet Venus." bisik Mirna.
"Nasib kita memang tak pernah mujur, selalu saja ancur," jawab Santi.
"Hehehe..." keduanya meringis memperlihatkan deretan gigi mereka kepada semua keluarga Saputra juga keluarga Fatma. Dan itu hanya di tanggapi dengan gelengan oleh mereka semua.
Sementara di dalam kamar bersalin Fatma berkali-kali menjambak dan mencakar tangan Ikhsan. Sakit yang katanya luar biasa membuat dia tak sadar telah membuat suaminya meringis dan hampir botak.
"Mas, ini sakit sekali!" keluhnya.
__ADS_1
"Iya sayang. Sabar ya, Mas tau kok." jawab Ikhsan.
"Sabar sabar, Mas mah enak. Mas nggak ngerasain sakitnya. Lah aku!" Fatma kesal rasanya.
"Iya iya, Mas yang enak. Besok di tambah lagi yang enak ya." celetuknya.
"Ih, ini aja belum beres mau main tambah-tambah saja. enak di mas nggak enak di Fatma dong!"
"Ya sudah, besok kamu yang enak."
"Bagaimana ceritanya? emang mas bisa gantiin posisi Fatma!" jelas Ikhsan menggeleng karena dia tak akan pernah bisa.
Mendengar pasangan ini berdebat para medis hanya bisa menahan tawa. Ada-ada saja pasangan somplak seperti mereka berdua.
"Akk! Sakit Mas!" pekik Fatma saat merasakan dorongan yang sangat luar biasa. Tangannya kembali mencakar dan menjambak rambut Ikhsan dengan kuat. Benar-benar akan botak setelah anaknya lahir.
"Ini pasti bandel kayak bapaknya ini. Bikin emaknya pusing, akk!"
Astaga, bawa-bawa bapaknya kalau ada yang menyimpang. Giliran yang baik-baik pasti di akuin sendiri nih, Fatma.
"Kapan aku bandelnya?" Ikhsan mengernyit.
"Akk, sakit Mas..." bukannya menjawab tapi Fatma malah menjerit mungkin memang benar-benar sangat sakit kali ya.
Berkali-kali Fatma mengikuti arahan dokter, mengambil nafas dan membuangnya perlahan. Semua instruksi dia lakukan dengan baik. Hingga akhirnya dia bisa mendengar suara jerit tangis pertama kali dari buah hatinya.
Oe... oe... oe.....
__ADS_1
"Alhamdulillah," lemas sudah Ikhsan sekarang. Rasa sakit akibat ulah tangan Fatma hilang seketika setelah mendengar suara tangis bayi yang sudah sangat dia tunggu selama sembilan bulan.
Air mata bahagia luruh begitu derasnya di mata keduanya.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menjadikan hidup Mas sempurna. Terimakasih sudah menjadikan Mas seorang ayah. Terima kasih," hujan kecupan Fatma dapatkan dari Ikhsan. benar-benar keduanya larut dalam kebahagiaan dan hilang sudah rasa sakit yang barusan mereka rasakan.
"Selamat ya, Pak, Bu. Anaknya Laki-laki, dan sangat sempurna. Tampan seperti Papanya." ucap dokter.
"Alhamdulillah, anak kita laki-laki, Sayang." kecupan kembali Salma dapatkan.
Fatma juga sangat bahagia, akhirnya keinginan untuk memiliki bayi yang imut sudah Allah berikan dengan begitu cepat. Tak menyangka kalau akan secepat ini.
Dari pertama datang sampai akhirnya anaknya lahir Ikhsan sama sekali tak pernah berpaling sedikitpun dari Fatma. Dia ingin melihat dan menemani detik demi detik jalannya persalinan.
Rasa sakit telah terbayar dengan hadirnya sang Ikhsan junior dengan selamat juga dengan sempurna. Tak ada kebahagiaan yang lebih indah dari ini.
"Terimakasih, Sayang." sekali lagi Ikhsan ucapkan.
Selesai di bersihkan dan sudah di pakaikan baju-baju mungil Ikhsan langsung mengadzani anaknya. Tentu itu adalah tugas pertama seorang ayah untuk anaknya.
Setelah mengadzani Ikhsan juga memiliki kewajiban untuk memberikan nama yang terbaik.
"Alvino Rendra Saputra."
...**************...
...Bersambung.... ...
__ADS_1