
" aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh. dia tidak mungkin Aisyah ku dia bukan Aisyah yang aku gendong dengan kedua tangan ku tidak mungkin, aku tidak mungkin membunuh nya. tidak tidak... Argghhh...!!! tidak..!!!
Marco berujar penuh penyesalan, dia sama-sama tak percaya seperti yang lain. Jika benar maka Marco lah orang pertama yang paling di salah kan akan semua kejadian ini. Dia juga ikut merencanakan untuk menghancurkan bangunan itu hanya saja Marco terlalu bodoh dan ikut begitu saja saran dari orang lain untuk menghancurkan tempat itu. Namun Marco benar-benar tak tau kalau ternyata akan ada korban.
Dan kenapa korban itu adalah gadis kecil yang selalu dia sayang dulu, yang selalu dia gendong dengan kedua tangannya dan gadis kecil yang selalu saja bisa membuat nya tertawa.
Sejak dendam itu ada Marco sudah tak lagi pernah bertemu dengan gadis kecil nya itu tak tau seperti rupa dan wajahnya, entah dia jelek, cantik, kurus, gendut, atau imut-imut dia benar-benar tidak tau.
" Argghhh,,,!!! aku bukan pembunuh aku bukan pembunuh,,!!!
Marco begitu frustasi matanya terus mengeluarkan air mata, hatinya begitu hancur, dan tangannya terus memukuli setir di depan nya." tidak tidak,,, aku bukan pembunuh,, hiks hiks hiks.. " suara Marco melemah seiring dengan wajah nya yang ia sandarkan di setir mobil " aku bukan pembunuh, " lirih nya begitu pilu.
Penyesalan yang tak bisa di ubah lagi. sebesar apapun Marco meratapi nya, selama apapun Marco menangis tak akan mengubah takdir, bahwa secara tidak langsung dia juga ikut bersalah dalam hal ini.
Marco mengusap air mata nya kasar, memakai kacamata hitam untuk menutupi mata nya yang bengkak, dia harus menyingkir dari tempat itu dia bisa melihat semua runtutan acara dari jauh sampai gadis kecil nya itu benar-benar di kebumikan nantinya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Sedikit demi sedikit tanah mulai di masukkan ke liang lahab setelah Akhsan dan Ikhsan naik di masing-masing lubang yang bersebelahan. Keduanya naik ke permukaan setelah selesai mengadzani dan iqomah sebagai akhir acara.
Kuat tidak kuat tapi mereka harus tetap lakukan, karena ini adalah sebuah keharusan tidak boleh tidak.
Tangis kembali pecah saat jasad Aisyah dan Shelvia sudah mulai tertutup dengan tanah, semua nampak histeris tak terkecuali Keisha dan juga Airin. Semua mencoba ikhlas tapi itu tak semudah apa yang di katakan semua itu begitu berat.
Meskipun mereka tau semua hanya tinggal menunggu giliran saja karena semua yang bernafas pasti akan menemui ujung nya dengan cara yang tak sama dan pastinya berbeda-beda. Tapi duka ini tak akan mungkin mudah untuk hilang begitu saja.
" Ma, Mama harus ikhlas " Akhsan mengusap bahu Keisha yang masih terus menangis dengan mata yang tak pernah lepas dari lubang yang kian penuh dan mulai berbentuk gundukan tanah Merah yang masih basah.
Keisha tersenyum pilu, kepalanya terus menggeleng "Tidak, dia bukan Aisyah. "
" Ma...!! dia Aisyah Ma. " ucap Ikhsan sedikit keras, Keisha harus bisa menerima semua ini.
" sudah mama bilang, dia bukan Aisyah kita, Aisyah kita masih hidup dia bukan Aisyah,,,!! Keisha tetap kekeuh, hati kecilnya tetap dalam pendirian nya bahwa dia bukan Aisyah.
" Ma...!!!
"mama tidak perduli apapun yang kalian katakan dia bukan Aisyah,,,!! Keisha beranjak dan berlari meninggalkan proses pemakaman yang belum selesai. Keisha benar-benar tak mau menganggap yang di dalam itu anaknya karena anaknya masih hidup itulah yang ada di hatinya.
Fatma dan Kairi mengusap bahu suami mereka masing-masing, mengedipkan matanya sekali dan tersenyum seakan-akan mereka mengatakan biar aku saja yang mengejar Mama, dan keduanya pun benar-benar berlari mengejar Keisha. " Ma..!!
Hati yang hancur pun di rasakan dari Ibu yang lain, dia tak mampu untuk berdiri dia terus menangis Terduduk lemas di sebelah lubang sang putri yang telah pergi, mulut nya terus maracau tapi tatapan nya tetap lurus kedepan dengan kosong " dia bukan shelvia ku, bukan. " dua Ibu yang sama pilunya dan juga tak percaya bahwa mereka adalah anaknya.
__ADS_1
David terus memeluk Airin dengan sabar, bohong kalau David kuat bahkan dia sangat rapuh dan tetesan air mata nya pun tak pernah lepas dari mata nya. " Ma... " lirih David.
" Pa, dia bukan Shelvia kita kan. yuk pa, kita pergi cari shelvia, shelvia pasti sedang terluka di sana dia butuh bantuan kita. " Airin mulai beranjak namun kakinya terasa kaku.
" Ma.. "
Dua gundukan tanah telah rampung semua sudah tertutup rapat dengan tanah, semua menabur kan bunga setelah dia selesai di bacakan.
" Ma, ini. " David menyodorkan bunga pada Airin dan langsung di tolak mentah-mentah oleh nya.
Tangan Airin mengibas dan keranjang bunga itu jatuh di tanah dengan bunga yang ikut berserakan, " dia bukan Shelvia, aku tidak mau mengakui nya dia bukan Shelvia,,,!! tolak Airin tak mengakui nya.
Pendirian dan kepercayaan seorang Ibu terkadang benar, namun terkadang karena saking ter butakan nya karena kasih sayang nya dan membuat tak meu menerima semua keburukan atas anaknya apalagi tentang kematian nya.
" Ma,!! sadar ma, Shelvia kita sudah pergi " meskipun tertusuk sakit David tetap mengatakannya. meskipun dia juga belum percaya seratus persen namun kata-kata itu tetap keluar dari bibir nya.
" dia bukan Shelvia, pa. Bukan..!!!
" dia bukan Shelvia,, " suara Airin melemah seiring dengan ambruknya tubuh nya ke tanah pas dulu gundukan makam Shelvia.
Kenyataan yang begitu pahit. yang kembali menggoreskan luka di keluarga besar mereka.
Semua telah pergi hanya tinggal Akhsan dan Ikhsan lah yang masih di sana. keduanya duduk berjongkok saling memunggungi Akhsan menyentuh nisan Aisyah sedangkan Ikhsan dengan nisan Shelvia.
Sama dengan Akhsan, Ikhsan pun mengubah janji yang sama pada Shelvia. janji untuk memberi kan mereka keadilan dan akan menghukum semua orang yang ada di balik kejadian itu dan merenggut nyawa mereka berdua.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Adzan subuh berkumandang namun Akhsan belum juga membuka matanya, ini sangat aneh gak seperti biasanya. Akhsan yang selalu bangun untuk menjalankan sholat malam bahkan sekarang dia tak mendengarkan ada seruan adzan yang memanggilnya.
" Abang,,!!! bangun, sudah subuh,,,!!!!!
" Aisyah,,,!!!! Akhsan tersentak mengangkat tubuhnya dengan cepat, kakinya langsung melompat turun dari ranjang berlari keluar mencari-cari suara yang begitu nyata dia dengar. " Aisyah,,!! Aisyah,,,!! teriak Akhsan berulang-ulang dengan mata terus celingukan kesana kemari.
Kairi yang keluar dari kamar mandi langsung berlari mengejar Akhsan sangat di luar, " Mas,, istighfar Mas. " tangan Kairi mengusap bahu Akhsan pelan menatap wajah suaminya yang terlihat kebingungan.
Akhsan menoleh ke arah Kairi, seketika dirinya langsung kembali teringat bahwa adiknya telah tiada. " Astaghfirullahalazim,, " sebut Akhsan lirih.
Kebiasaan yang selalu Aisyah lakukan saat dirinya terlambat bangun, bahkan terkadang Akhsan membunyikan alarm pun dia masih saja terlambat dan Aisyah lah yang akan datang dengan bantal atau guling di tangan nya, memukuli kedua Abang nya dengan sadis.
" Astaghfirullahalazim,, " Lagi-lagi Akhsan hanya bisa ber istighfar. kebiasaan itu masih belum bisa hilang hanya dengan sekejap mata saja.
__ADS_1
" Yuk Mas, " Kairi menarik Akhsan mengajak nya kembali masuk ke dalam kamar untuk melaksanakan shalat di kamar saja. Akhsan benar-benar masih terpukul akan kepergian Aisyah dan juga Shelvia tak mungkin Kairi mengizinkan Akhsan keluar jauh-jauh dulu dalam keadaan seperti itu apalagi wajah Akhsan terlihat sangat pucat.
Seusai sholat Akhsan tak lupa mendoakan Aisyah, dia terdiam sejenak saat mulut nya mengatakan Aisyah, bayangan nya kemvali berkelana akan candaan dan kejailan Aisyah.
"Bang, aku punya sesuatu untuk Abang kembar, besok kalau Aisyah nggak keburu ngasihnya ambil sendiri ya di kamar Aisyah. itu khusus untuk Abang kembar "
Memori Akhsan kembali memutar lagi kejadian dua hari yang lalu. sebenarnya apa yang ingin Aisyah berikan pada kedua abangnya, kenapa tidak langsung saja dia berikan kemarin.? dan kenapa Aisyah mengatakan itu apa mungkin sejatubya utu adalah sebuah kata salam perpisahan.?
" Alhamdulillah " Akhsan menyudahi doanya dengan mengusap kan kedua telapak tangan ke wajah nya. "aku harus cari tau apa yang sebenarnya Aisyah ingin berikan "
Akhsan memutar tubuhnya mengayunkan tangan nya dan langsung di sambut oleh Kairi yang mengecup punggung tangan nya. dan tentunya Kairi mendekat dan menunduk di depan Akhsan dan mendapatkan balasan kecupan di kening.
" aku akan ke kamar Aisyah sebentar " Akhsan beranjak dengan cepat, di saat Kairi masih sibuk melepaskan mukena nya dan melipat nya.
Kairi menoleh dan mengangguk " iya Mas, tapi Mas benaran nggak apa-apa kan. " Kairi ikut beranjak menaruh mukena nya di ujung ranjang.
" Aku baik-baik saja. aku hanya sebentar. "
" Hm.. "
Akhsan keluar masih komplit dengan sarung dan peci hitam yang ia kenakan berjalan terburu-buru ke kamar Aisyah mencari apa yang sebenarnya akan di berikan oleh Aisyah padanya.
Pintu terbuka perlahan dan Akhsan masuk dan kembali menutupnya. matanya terus menelisik semua penjuru sebelum memutuskan dia akan pergi kemana. matanya menangkap foto Aisyah yang terpajang tapi di meja rias nya. foto yang seolah tengah tersenyum bahagia menyambut kedatangan Akhsan di sana.
satu bulir dari matanya kembali keluar setelah tangan Akhsan mengangkat foto Aisyah dan tersenyum pilu melihat nya. " kenapa harus secepat ini Aisyah,, " lirihnya.
Akhsan kembali menaruhnya dan memutar menatap semua isi kamar itu yang sebagian besar semua adalah pemberian nya dan juga Ikhsan. Kenangan yang terlalu singkat mereka buat, seandainya mereka tau akan secepat ini maka mereka akan membuat nya lebih banyak lagi. dan pastinya Akhsan tak akan membiarkan Aisyah yang mengalami semua kejadian ini.
Satu foto begitu mengejutkan Akhsan. Sebuah foto mawar merah yang penuh dengan duri di bawah nya. tak seperti biasanya foto mawar yang hanya satu atau dua duri saja tapi ini begitu banyak duri yang tertempel di sana.
Tangan Akhsan menggapai foto itu. dahinya mengernyit sempurna dan mulut nya bergumam " Mawar berduri.? tulisan yang berhasil tertangkap dari matanya. tulisan yang tepat di bawah foto bunga tersebut.
Akhsan semakin di buat bingung, bukan hanya foto itu saja yang ia dapatkan tapi ada pin juga yang bentuk nya sama dengan foto itu. gak mungkin ini kebetulan dan tak mungkin itu hanya lambang yang sembarangan.
" apa ini hadiah yang Aisyah maksud, tapi apa maksudnya.? Akhsan kembali ke sisi yang lain dan melihat ada sebuah mab besar di sana, " Untuk Abang kembar " dan ternyata mab itulah hadiah yang sebenarnya, bukan lambang yang lebih dahulu Akhsan dapatkan.
🌾🌾🌾🌾🌾
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Kira-kira apa ya isinya..?????.
__ADS_1
Aisyah akan selalu banyak teka-teki....