
____
Happy Reading....
___________________
Wajah berseri-seri terlihat dengan jelas di wajah Suci, senyum manisnya terus mengukir indah tak luntur sedikitpun meskipun ada mata-mata yang memandanginya dengan sedikit tak suka.
Semua itu tak mungkin tanpa adanya alasan, dan alasannya adalah kedatangan Ikhsan di sekolah. Satu minggu Suci tak melihat Ikhsan dan sekarang dia melihat wajah yang sangat dia rindukan itu.
Suci begitu percaya diri, menghampiri Ikhsan yang tengah turun dari mobilnya. Laju dari langkah Suci terhenti saat dia melihat Ikhsan membukakan pintu penumpang di sebelah pengemudi, dan keluarlah Fatma dari sana.
"Mas Ikhsan dengan Fatma! " Pekik Suci tak percaya.
Bagaimana ini mungkin bisa terjadi, Ikhsan sendiri yang bilang kalau dia sudah menikah kenapa sekarang Ikhsan malah datang ke sekolah bareng dengan Fatma. Apa mereka hanya kebetulan saja bareng, atau mungkin rumah mereka berdekatan jadi Fatma numpang di mobil Ikhsan? Tapi kenapa perlakuan Ikhsan begitu spesial?.
Suci begitu bingung dengan apa yang dia lihat saat ini, otaknya terus menerka-nerka apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin. Tapi apapun itu tak akan menjadi masalah untuk Suci, meski Ikhsan sudah menikah dia tetap tidak peduli, dia hanya ingin bisa mendapatkan Ikhsan, dia tak akan membiarkan Ikhsan terlepas lagi dari genggamannya untuk yang kedua kali.
Suci kembali melajukan langkah menghampiri Ikhsan.
Fatma keluar dari mobil setelah Ikhsan membukakannya, senyum nya begitu lebar moodnya begitu baik lagi ini. Dia sangat sangat bahagia bisa kembali melihat, bersama dan menjalani hidupnya dengan Ikhsan suaminya.
"Terima kasih, Pak. " Ucapnya dengan nada yang begitu manja.
"Sama-sama, Fatma. " Jawab Ikhsan.
"Hehehe..., hanya Fatma doang nih? Nggak ada embel-embel nya apa gitu? " Goda Fatma.
"Iya, Fatma Sa..."
"Pagi, Pak Ikhsan. " Sapa Suci mengacaukan kata-kata yang akan keluar dari Ikhsan, kata yang sangat di tunggu-tunggu oleh Fatma.
Ikhsan dan juga Fatma langsung menoleh dengan begitu cepat, Fatma menatap kesal bin tak suka ke arah Suci. Tuh kan, falakor itu kembali gencar untuk bergerak lagi, sepertinya Fatma harus lebih ekstra untuk menjaga suaminya dari guru yang mendapat julukan Falakor itu dari Fatma.
"Pagi, Bu. "Jawab Ikhsan dengan begitu formal.
Mata Fatma melotot karena Ikhsan yang menjawab kata dari Suci, dia sangat tak menyukai itu. Dia tak mau suaminya berhubungan dengan Suci meskipun hanya sekedar menjawab pertanyaannya saja.
__ADS_1
" Pak Ikhsan kemana saja, kenapa lama sekali tak masuk, pak Ikhsan baik-baik saja kan? Pak Ikhsan tidak sakit kan? " Tanya Suci.
"Alhamdulillah saya baik-baik saja, Bu. Maaf saya permisi ada sesuatu yang harus saya kerjakan. " Pamit Ikhsan.
"I- iya, silakan pak. " Jawab Suci dengan gagap.
Suci tak bisa berkata apapun lagi karena Ikhsan sudah pergi dari hadapannya, sebenarnya Ikhsan hanya menghindar saja, dia sangat tau apa yang Fatma pikirkan sekarang, dia marah, dia cemburu, dia tak suka dengan Ikhsan yang tengah berbicara dengan Suci.
"Fatma, ada hubungan apa kamu dengan pak Ikhsan? " Tanya Suci menegaskan.
Fatma yang hampir pergi langsung berhenti dan seketika menoleh ke arah Suci dengan malas.
"Apapun hubungan ku dan pak Ikhsan, seharusnya tidak menjadi masalah dong dengan Bu Suci. "Jawab Fatma ketus.
"Tapi Fatma, pak Ikhsan sudah menikah, jangan dekati dia, kasihan dengan istrinya. " Jawab Suci.
Ingin sekali Fatma tertawa terbahak-bahak , mulut Suci sungguh licin untuknya. Seandainya dia tau apa dia akan menanyakan hal ini padanya? Sungguh. Lagian kenapa dia mencoba untuk melarang Fatma sedangkan dirinya sendiri terus ingin menempel sama Ikhsan, sungguh terlalu bukan?.
"Saya tau pak Ikhsan sudah menikah dan saya juga sudah tau dengan istrinya, tapi sepertinya itu tak bakal menjadi masalah untuk ku. Tapi akan menjadi masalah jika itu Anda." Jawab Fatma.
"Kenapa bisa seperti itu?. " Bingung Suci.
"Kamu jangan berbohong, ya Fatma. "
"Buat apa saya berbohong bu Suci. Itu tidak akan ada untung nya untuk ku. " Jawab Fatma. "Sudah ya bu. Fatma mau ke kelas dulu, mau belajar dengan rajin, dan bisa menjadi kebanggaan...,𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘺 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢, 𝘱𝘢𝘬 𝘐𝘬𝘩𝘴𝘢𝘯. " Ucap Fatma dan di sambung dengan membatin.
"Kebanggaan siapa? "
"Ihh..., bu Suci kepo. Jangan kepo ya bu Suci, kepo itu berat, bu Suci tak akan kuat." Fatma langsung melaju setelah itu meninggalkan Suci yang terperangah melihat Fatma yang begitu berani dengan nya.
"Ihh." Tangan Suci mengepal dia begitu geram dengan tingkah Fatma, kenapa anak itu sama sekali tak ada takut-takutnya sama sekali padanya, bahkan sepertinya dia sama sekali tak menghormatinya. "Sebenarnya apa yang membuat mu seberani ini pada ku, Fatma. Kamu itu hanya murid saja, kenapa kau begitu berani pada gurumu, apa kamu tidak takut jika aku melakukan sesuatu padamu supaya kamu tidak lulus nantinya? " Gumamnya.
Setelah kepergian Fatma Suci pun juga ikutan pergi dari sana. Hatinya penuh dengan curiga dan penuh dengan kekesalan karena Fatma, kenapa dia selalu kehilangan mood saat berada di hadapan bocah itu.
Suci masuk ke dalam ruangannya, dia mengingat sesuatu setelah sampai di sana. Suci menaruh tas dan juga beberapa buku di atas meja. Suci langsung beraksi untuk mencari sesuatu.
"Di mana obat itu jatuh. Kenapa aku bisa begitu ceroboh seperti ini. Obat itu ada dua macam, dan harganya juga tidak murah, aku harus bisa menemukannya. " Gumamnya.
__ADS_1
Suci terus celingukan, dia menunduk mencari di seluruh sudut bahkan di setiap lorong juga tak ketinggalan, semua telah di jangkau oleh mata nya.
"Kenapa tidak ada? Apa sudah ada yang menemukannya? " Sudi begitu bingung.
𝘛𝘦𝘵... 𝘛𝘦𝘵... 𝘛𝘦𝘵...
Belum juga Suci menemukan apa yang dia cari bel sudah berbunyi itu tandanya semua harus masuk, tanda aktivitas ngajar dan belajar akan segera di mulai.
"Lebih baik aku pergi mengajar dulu, aku bisa mencarinya lagi nanti. " Suci kembali mengambil buku yang tadi, dia mendekapnya di depan dada dan membawanya untuk menemaninya ke kelas.
Di dalam kelas Fatma dan komplotannya tengah melakukan perundingan meja persegi, mereka begitu semangat membicarakan sesuatu yang tak bermakna, ya, mereka tengah ngerumpi foto lagi hari.
Arisan gosip itu memang sangat menyenangkan bagi para mulut emak-emak, tapi tidak untuk satu cowok yang tetap harus bergabung di sana, Rico lah orangnya. Miss nya benar-benar keterlaluan bahkan para para cowok juga harus ikut serta dalam perundingan non berfaedah itu.
Rico hanya diam mendengarkan, dia ogah kalau harus ikut seperti Fatma dan yang lainnya yang tak ada lelahnya untuk bicara. Entah gosip Artis Korea, entah artis Hindi entah artis Indo, semua artis manca negara bisa menjadi topik untuk pagi ini.
Bukan sibuk belajar mereka malah asik dengan cerita artis favorit mereka masing-masing. Benar-benar bisa botak kepala Rico kalau setiap hari selasa seperti ini.
Fatma adalah ratu bagi kelas itu, semuanya harus ikut dengan peraturannya. Kalau tidak kalian pasti tau lah apa yang akan dia lakukan, dia bisa mengeluarkan pembangkang dari organisasi gosip pagi harinya, sungguh terlalu emang miss mereka.
"Kapan selesainya sih, Miss? " Tanya Rico malas.
"Bentar lagi, Ric. Ini lagi asyik nih, tanggung kali. " Jawab Fatma.
"Hadeuh.. " Terpaksa Rico menjatuhkan wajahnya dia atas meja, lebih baik memejamkan mata dari pada harus mendengar obrolan unfaedah dari para sobat ambyarnya.
"Benar-benar akan ambyar otakku." Keluh Rico.
"Assalamu'alaikum, pagi anak-anak. " Suci masuk dan langsung menghentikan obrolan mereka.
Ngobrol ya ngobrol, belajar ya belajar, semua ada waktunya sendiri-sendiri. Meski Fatma adalah pengendali kelas itu tapi dia juga tau waktu, dia juga tak akan mungkin menjerumuskan teman-temannya, sebentar lagi mereka ujian mereka harus bisa belajar dengan baik kan.
"Wa'alaikumsalam , pagi Buuu...! " Seru semua murid sembari berhamburan ke kursi mereka masing-masing.
____
Bersambung...
__ADS_1
________________