
___
Happy Reading....
____________________
Pagi-pagi yang begitu indah, namun sepertinya tak seindah apa yang terjadi pada Akhsan. Waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh namun dia malah kembali lagi mengurung dirinya di bawah selimut.
Dia meriang bahkan perutnya eror dan terus bolak-balik ke kamar mandi untuk buang hajat. Kairi yang melihat begitu kasian, sudah minuman hangat dia berikan pada Akhsan yang kesekian kalinya, dan tentunya juga sudah ada bubur yang masih ada di atas nakas dan sama sekali belum di sentuh olehnya.
Kairi pun juga sudah memberikan obat untuk Akhsan namun sepertinya dia belum juga baikan. "Mas, aku nggak berangkat aja dulu ya? Kasihan kamu kalau harus di rumah sendiri dan tidak ada yang mengurus. " Ucap Kairi yang begitu kasihan pada Akhsan.
Sebenarnya Akhsan bisa di rumah sendiri, lagian juga ada pembantu di sana namun rasanya dia tak ingin Kairi pergi dari rumah dan meninggalkan nya.
"Hem." Akhsan mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu Mas istirahat saja, aku akan buatkan minuman herbal untuk Mas, siapa tau cocok. " Kairi beranjak dam pasti akan segera meluncur ke dapur untuk membuat apa yang dia katakan.
Akhsan menyambar lengan Kairi dan menghentikannya. "Ingat, jangan sampai kamu kelelahan. Mas tidak mau gara-gara Mas kamu kecapean juga. " Ucap Akhsan.
"Mas tenang saja, kan ada bibi yang akan membantuku. " Jawab Kairi seraya tersenyum manis kepada Akhsan.
"Hem.. Baiklah. " Jawab Akhsan yang akhirnya membiarkan Kairi melakukan apa yang dia katakan.
Baru saja beberapa saat Kairi keluar Akhsan kembali merasakan perutnya error, dia pun langsung beranjak dengan cepat dan lari tunggang langgang untuk pergi ke kamar mandi.
____
"Bi, tolong bantuin aku bikin minuman herbal untuk bapak ya?" Ucap Kairi kepada pembantu yang kini juga ada di dalam dapur untuk membuat sarapan.
"Baik Bu. " Jawabnya.
Beberapa perlengkapan yang di minta oleh Kairi sudah di siapkan, semua sudah tersedia di hadapannya. Dengan telaten Kairi langsung meraciknya sesuai takaran yang yang dia ketahui.
Sementara di dalam kamar Akhsan sudah berkali-kali keluar masuk ke kamar mandi, minuman hangat yang tadi di beri oleh Kairi sama sekali tak bisa membantunya untuk menjadi lebih baik.
Akhsan membungkuk di depan kasurnya memegangi perutnya yang masih terus menerus terasa. "Sepertinya aku tidak salah makan, kenapa bisa seperti ini. " Gumam Akhsan.
Akhsan kembali merebahkan tubuhnya di kasur mungkin semua ini terjadi karena cuaca yang terlalu dingin.
"Mas, nih aku bawakan minuman herbal nya. Di minum yuk. " Kairi masuk sembari membawa minuman herbal buatannya.
Kairi duduk di depan Akhsan membantu Akhsan untuk minum. Keduanya berharap ini adalah minuman yang benar-benar bisa membantu Akhsan.
Setelah minum Akhsan merasa sedikit baik, meskipun belum total namun bisa membantu meringankan nya. Kairi yang sangat kasian meminta Akhsan untuk istirahat saja karena itu akan lebih cepat menyembuhkan.
Pukul sepuluh Akhsan baru bangun, obat buatan istrinya benar-benar manjur perutnya tak sesakit yang tadi dan sepertinya diare nya juga bisa di kendalikan. Akhsan duduk dan di lihatnya sang istri yang terlihat fokus dengan tugas kampus nya.
"Kairi." Panggil Akhsan.
Kairi menoleh, Kairi langsung beranjak dan mendekat. "Gimana Mas, sudah lebih baik? " Tanya Kairi yang duduk di depan Akhsan yang duduk di ranjang dan menyandarkan punggungnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sudah lebih baik. " Jawab Akhsan.
"Alhamdulillah kalau begitu. " Kairi pun juga ikutan senang melihat suaminya sembuh.
𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...
Mendengar pintu di ketuk Kairi langsung beranjak dan menghampiri, saat pintu terbuka ternyata pembantunya yang datang dan berdiri di sana. "Ada apa Bi?" Tanya Kairi.
"Bu, di depan ada tamu. Katanya mencari bapak. " Ucapnya.
"Suruh masuk saja, Bi. Sebentar lagi saya turun. " Ucap Kairi yang begitu ramah.
Bibi mengangguk dan langsung pergi. Sementara Kairi menutup pintu dan kembali mendekati Akhsan.
"Mas, kata bibi ada tamu. Saya sudah suruh bibi mengajaknya masuk, apa Mas mau menemuinya? " Tanya Kairi.
"Siapa? "
"Kairi juga tidak tau, Mas. Kalau Mas masih kurang baik biar Kairi saja yang menemuinya. "
___
"Silahkan masuk, Mbak. " Ucap bibi dengan hormat, berkata dengan lembut kepada tamu dari majikannya yang meskipun dia sendiri tidak mengenalnya.
Tamu yang ternyata seorang gadis cantik dengan hem putih dengan celana panjang berwarna hitam dan ketat, dengan rambut panjang yang di biarkan tergerai indah dan terdapat capit rambut di satu sisi.
"Makasih, Bi." Jawab nya.
Dia duduk menunggu tuan rumah datang, parsel pun dia letakan di atas mejanya. Sedangkan bibi langsung ke belakang setelah tadi sempat mengarahkan nya.
𝘛𝘢𝘬.. 𝘛𝘢𝘬.. 𝘛𝘢𝘬...
Terdengar langkah dari sendal turun dari tangga, sontak gadis itu menoleh. Gadis itu berdiri tersenyum ramah menyambut kedatangan tuan rumah.
"Mbak." Panggilnya.
Kairi mengernyit melihat siapa yang ada di hadapan nya sekarang, gadis yang beberapa hari selalu mengganggu suaminya dan berusaha untuk mendekatinya.
"Kamila, kamu! " Kairi begitu terkejut.
"Hehehe.. Iya, mbak. " Kamila meringis malu.
"Silahkan duduk. " Pinta Kairi dan Kamila pun duduk Kairi oun juga. "Ada yang bisa di bantu? "
"Tidak ada hal yang penting kok, Mbak. Tadi aku dengar dari bu Mega dosen pengganti, katanya pak Akhsan sakit jadi saya mampir untuk jenguk pak Akhsan. " Jawab Kamila menjelaskan.
Kairi tersenyum hambar mendengar itu, dia senang karena suaminya di jenguk dan juga yang pasti akan mendapatkan doa untuk kesembuhannya, tapi kenapa harus Kamila, kenapa tidak orang lain.
"Gimana keadaan pak Akhsan sekarang, Mbak? Beliau udah baikan kan? Memangnya pak Akhsan sakit apa? Apa sudah di bawa ke rumah sakit? Apa sudah minum obat? " Tanya Kamila yang begitu banyak, memberondong pertanyaan untuk Kairi begitu saja tanpa pikir panjang.
"Suami saya sudah lebih baik. " Jawab Kairi.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau begitu, ini mbak! Saya bawakan buah untuk pak Akhsan, dengan makan buah pasti akan lebih mempercepat penyembuhan untuk pak Akhsan. " Kamila begitu sumringah, meskipun dia belum bisa melihat Akhsan.
"Hem.. " Lagi-lagi Kairi hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Kamila. Kairi heran darimana dia bisa tau alamat rumahnya?.
Di saat Kairi merasa mulai merasa tidak nyaman Akhsan datang dia berjalan begitu pelan karena tubuhnya gemetar. Akhsan terus berpegangan dengan pagar tangga dia sempoyongan dan hampir jatuh.
Kamila yang melihat terlebih dahulu langsung berlari, "pak Akhsan! " Teriak Kamila.
Kairi menoleh, dan langsung mendapati Akhsan yang sudah ada di tangga. Kairi juga beranjak dengan cepat namun tetap saja dia kalah cepat. "Mas? "
Kamila langsung memegangi lengan Akhsan dia begitu cepat melakukan iri tanpa berpikir apapun terlebih dahulu, bahkan dia tidak memikirkan hati Kairi sama sekali.
"Pak Akhsan harus hati-hati, bagaimana kalau sampai jatuh. " Ucap Kamila.
Akhsan yang melihat tangan Kamila langsung melepaskan nya pelan. Dengan terpaksa Kamila pun juga melepaskannya.
"Ma- maaf. " Ucap Kamila.
"Mas." Kairi langsung menghampiri berjalan pelan namun pasti dan langsung menggandeng lengan Akhsan.
Menyesal Akhsan keluar dari kamar, kalau dia tau siapa yang menjadi tamunya maka lebih baik dia tidur di kamar saja.
"Pelan-pelan, Mas. " Ucap Kairi dengan pelan menggandeng Akhsan.
"Makasih, Sayang. " Jawab Akhsan.
Akhsan berjalan lebih dahulu meninggalkan Kamila yang kecewa. Namun mau gimana lagi Kamila bukan siapa-siapanya tak lebih dari mahasiswanya saja.
Kairi menuntun Akhsan hingga sampai di sofa dan duduk di sana dan Kairi pun langsung duduk di sebelahnya.
"Gimana keadaan Pak Akhsan, baik? " Tanya Kamila yang juga sudah duduk di depan mereka berdua dan tersekat meja.
"Baik, terimakasih sudah menjenguk. Lain kali tidak usah repot-repot saya hanya sakit biasa. " Ucap Akhsan.
"Tidak kok, Pak! Saya tidak merasa di repot kan sama sekali. " Jawab Kamila.
Kamila terus memasang wajah sumringahnya meskipun dia sempet kecewa karena Akhsan tak memperbolehkan dia membantunya.
"Ini Pak! Mila bawakan buah."
"Terima kasih. "
"Pak Akhsan mau memakannya? Biar Kamila kupasin? "
"Tidak usah, saya sudah makan. " Jawab Akhsan menolak.
____
Bersambung...
________________
__ADS_1