
______________
Assalamu'alaikum...
Kembali lagi di cerita halu si author yang ecek-ecek ini...
Terima kasih selalu mengikuti.
πππππ
Happy Reading....
_____________
Sudah tujuh hari Ikhsan dan juga Fatma tidak pulang ke rumahnya, mereka masih berdiri di pesantren karena setiap malam akan diadakan doa bersama untuk mendiang Fahmi.
Namun di hari yang kedelapan sekarang ini Fatma sudah tak sabar ingin pulang, dia merasa sangat merindukan rumahnya yang seolah-olah terus ad di depan matanya.
Sebenarnya acara doa terus di lakukan sampai hari keempat puluh, maklum karena Fahmi adalah pemilik pesantren itu, ya meskipun yang melakukan kebanyakan dari para santri saja.
Saat ini mereka berdua tengah berasa di perjalanan, mereka baru pulang dari sekolah dan tujuan utama masih tetap ke pesantren.
Sedari tadi Fatma terus diam, dia belum berani mengatakan keinginannya pada Ikhsan yang sepertinya masi adem ayem aja tinggal di pesantren.
Ikhsan merasa heran dengan diam nya Fatma, tak biasa siapa selalu diam seperti ini. Dia pasti akan selalu cerewet di setiap saat, atau mungkin Fatma ada masalah lagi dengan guru nya, Suci? atau mungkin ada hal lain yang Ikhsan tidak tau.
" Fatma, kamu kenapa? " tanya Ikhsan yang akhirnya tak tahan terus di diamkan oleh Fatma tanpa sebab dan tanpa tau apa alasannya.
Fatma menoleh lalu tersenyum kecil ke arah Ikhsan.
" ada apa? " tanya Ikhsan lagi.
Fatma kembali menatap jalan raya, " Mas, aku kangen rumah " rengek nya dengan tiba-tiba.
" kangen pulang, atau kangen berduaan saja dengan ku di rumah? kan kalau di pesantren kita tidak bisa berdua-duaan, apalagi bermesraan. " jawab Ikhsan.
Fatma menganga, semakin hari mulut Ikhsan semakin lemes seperti dirinya, atau ini yang namanya virus cinta. Semuanya bisa nular bebas ke pasangannya.
Fatma menghadap Ikhsan, lalu memukuli bahu Ikhsan dengan kesal.
" Ihh.. Mas Ikhsan keterlaluan! Fatma kan beneran kangen rumah, kalau sama Mas sih sama sekali nggak kangen tuh, tapi bosan! " celetuk Fatma.
" beneran bosan? berarti bolehlah aku cari Bu Suci. " goda Ikhsan dengan senyum jail.
Mulut Fatma semakin menganga, matanya pun melotot terang, bahkan hatinya udah mencak-mencak pengen mengeluarkan kekesalannya, hingga akhirnya keluar juga dari mulut Fatma.
__ADS_1
" cari saja sana Bu Suci nya! dan nggak usah pulang sekalian! lagian Bu Suci kan lebih cantik, lebih seksi dan lebih bahenol. Fatma mah kalah telak kalau dibandingkan dengan Bu Suci! " sungut Fatma.
Ikhsan terkekeh mendengar amarah Fatma, niatnya hanya ingin membuat Fatma cemburu dan akhirnya yang dia dapatkan adalah kata-kata dari Fatma yang bersungut-sungut dengan amarah.
" kenapa ketawa, beneran udah niat mau mencari Bu Suci, dan mendua? " tanya Fatma. " silahkan saja, tapi setelah semua harta Mas berpindah atas nama Fatma! " ucap Fatma dengan judes.
" hahaha... sejak kapan Fatma ku jadi matre begini? "
" sejak detik ini. Sejak Mas Ikhsan berniat untuk menduakan Fatma! "
Percakapan keduanya yang tak ada henti membuat Fatma tak sadar kalau mereka berdua sudah sampai di parkiran rumahnya sendiri, bahkan sekarang mobilnya sudah berhenti di sana.
" mau turun atau mau ngoceh? " tanya Ikhsan sembari melepaskan seatbelt yang mengikat dirinya dan kursi mobilnya. " kita sudah sampai rumah, jadi kita bisa berduaan dengan puas."
Fatma menoleh dari wajah Ikhsan, menatap sekeliling dan ternyata benar kalau mereka sudah sampai di rumahnya.
" lah... bukanya tadi? " bingung Fatma.
" iya, tadi memang kita melalui jalan menuju pesantren, tapi Mas belokin ke sini. Katanya kangen pengen pulang. Ayuk.. atau perlu aku gendong masaknya? " gurau Ikhsan.
" tidak tidak!! " tolak Fatma.
Namun Ikhsan sudah keburu keluar dari mobil dan memutari mobil, bergegas membuka pintu Fatma dan mengulurkan kedua tangannya untuk membopong Fatma.
" sini tuan putri, biar pangeran yang mengantarkan tuan putri untuk masuk istana " ucap Ikhsan dan langsung mengangkat Fatma.
Berbeda dengan Ikhsan, Akhsan sekarang tengah sibuk di pesantren setelah pulang dari kampus bersama Kairi. Buka sibuk dengan urusan pesantren melainkan sibuk dengan urusannya sendiri dengan Kairi.
Kairi yang tengah hamil, membuat dirinya gampang lelah dan juga tak mudah untuk sekedar memejamkan matanya saja. Janin yang mulai bergerak dan perut yang mulai membuncit sedikit membuat Kairi kesusahan untuk melakukan apapun, membuat Akhsan tak tega dan jika dia dalam waktu luang dia akan dengan senang hati menggantikan semua pekerjaan Kairi termasuk memasak ataupun mencuci.
Sebenarnya Kairi masih bisa untuk melakukannya sendiri dengan pelan-pelan, namun Akhsan yang sangat over protective tak akan membiarkan Kairi untuk melakukan itu dan membuatnya kelelahan.
Akhsan yang melihat Kairi membawa setumpuk baju kotor langsung mengambilnya dan dia yang mencucinya di mesin cuci.
" Mas, biar aku saja. Aku masih bisa kok melakukan ini. Lagian ini juga bukan pekerjaan yang berat " tolak Kairi.
" biar aku saja " jawab Akhsan dan berlalu dengan membawa baju kotor yang dia ambil dari Kairi.
Kairi hanya mengikuti Akhsan, melihat dengan hikmat bagaimana Akhsan melakukan semua itu, pekerjaan yang seharusnya dilakukan seorang perempuan namun Akhsan tak malu melakukannya, membuat Kairi merasa tersanjung.
" Mas, biar aku yang lakukan " Kairi merebut sabun yang sudah ada di tangan Akhsan, dan langsung menuangkan nya ke dalam mesin cuci.
Akhsan merasa bangga pada Kairi, dia sedang hamil namun sama sekali tak malas melakukan apapun.
Akhsan dan Kairi selalu bekerja sama dalam menyelesaikan semua pekerjaan mereka, karena mereka masih tinggal di pesantren jadi mereka belum memakai jasa asisten rumah tangga seperti yang dilakukan Ikhsan.
__ADS_1
Sebenarnya sudah ada rencana untuk mereka pindah rumah, bahkan rumahnya pun sudah ada. Perumahan yang dekat dan satu komplek dengan rumah yang di tinggali oleh Ikhsan dan Fatma sekarang. Hanya saja mereka masih menunggu waktu yang tepat untuk pindah ke sana.
" makasih ya, Mas.Sudah selalu membantu Kairi " ucap Kairi dengan senyum yang begitu bahagia.
Akhsan tersenyum, dan tanpa aba-aba Akhsan mengangkat Kairi dan membawanya masuk kembali ke pendopo nya. " itu sudah kewajiban ku, istriku " jawab Akhsan.
" Mas.. aku bisa sendiri! malu jika ada santri yang melihat nya" ucap Kairi yang ingin menolak.
" tidak akan, tempat ini tertutup jadi mana bisa mereka melihat kita " jawab Akhsan.
Kairi hanya bisa pasrah sekarang membiarkan Akhsan membawanya ke manapun dia pergi. Akhsan menurunkan Kairi di kasurnya dengan pelan, lalu dia duduk di depan Kairi dan juga mengelus perut Kairi yang sudah mulai membuncit.
" Jagoan Abi, jangan nakal ya di sana. Jaga Umi dan jangan buat Umi kelelahan, oke jagoan " ucap Akhsan.
" tidak Abi " jawab Kairi yang menirukan suara anak kecil.
Senyum kebahagiaan pun keluar dari keduanya, kebahagiaan yang sangat besar tentunya.
πΎπΎπΎπΎπΎ
Sesuai perjanjian Tasya dan Joe pergi bersama-sama ke makam Fahmi, meskipun setiap hari Tasya akan ke sana namun dia selalu dengan keluarga inti saja tidak dengan Joe, dan sekarang mereka berdua dengan di temani sopir dan beberapa penjaga mereka sudah memasuki area pemakaman.
Tak lupa Tasya akan selalu membawa buket bunga dan juga bunyi mawar yang akan dia tabur untuk memenuhi dan memperindah makam Fahmi.
Tasya dan Joe duduk dengan tenang di pinggir makam Fahmi, mereka berdua berdoa dengan begitu khusuk, mendoakan ketenangan Fahmi yang seperti belum dia dapat hingga sekarang, karena Fahmi masih terus menemui Rico.
" abi yang tenang ya di sana. Suatu saat Bunda pasti akan datang " tak terasa air mata keluar dari. atau Tasya, mengingat lagi semua kenangan akan dirinya dan juga Fahmi. Semuanya begitu sangat sempurna bahkan tak ada sedikitpun kekecewaan di antara keduanya dan mereka juga saling menerima satu sama lain.
Tasya mengusap air matanya lalu menaburkan bunga yang beruntung banyak ke atas makam Fahmi.
" Terima kasih sudah selalu menjaga dan membahagiakan Putri, pak Fahmi. Terima kasih.. " ucap Joe.
Joe pun melakukan hal yang sama menaburkan bunga ke atas makam Fahmi dan juga menyiramkan sebotol air doa di atasnya.
Selesai dengan kunjungannya mereka bergegas untuk kembali pulang, takut kemalaman atau mungkin hujan karena saat ini mendung telah tiba.
Baru juga mobil mereka berjalan beberapa meter mereka di hadang oleh beberapa mobil dan juga sepeda motor.
" siapa mereka? " tanya Tasya bingung.
πΎπΎπΎπΎ
" gawat, inilah yang aku takutkan" gumam Rico lalu menyambar jaketnya dan kunci yang ada di atas mejanya.
Rico pun melajukan motornya dengan cepat, berharap di bisa tepat waktu sampai di tempat yang menjadi tujuannya sekarang.
__ADS_1
πΎπΎπΎπΎπΎπΎ