Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
94.Duka


__ADS_3

Dua iring-iringan mobil jenazah memasuki area pesantren dan berhenti di lapangan nya. Jeritan duka dan tangis tak dapat terbendung lagi suaranya begitu memadati pesantren yang kemarin masih sunyi penuh ketenangan dan kenyamanan dan sekarang masa itu telah berubah.


Semuanya menjerit dengan tangis, menyambut kedua jenazah yang sudah mulai di turun kan dari mobil. Semua semakin histeris saat melihat dua peti mati yang mulai di jalankan mendekati mereka.


Ya. kabar kepulangan Aisyah dan Shelvia sudah mereka dengar. semuanya tak percaya akan kabar itu tapi semua itu begitu jelas setelah dua peti itu datang.


Keisha begitu histeris, air matanya tak dapat terbendung dan keluar bebas tanpa permisi.


Tangis nya semakin terisak, benar-benar belum percaya kalau anak bontot nya telah tiada, meninggalkan dirinya. " Aisyah nggak mungkin pergi ninggalin Mama, dia bukan Aisyah " Keisha belum percaya sepenuhnya. Anak nya masih hidup itulah yang menjadi kepercayaan di hati kecil nya.


Meskipun semuanya ciri-ciri dan juga bukti meyakinkan bahwa dia Aisyah tapi tidak pada Keisha, dia bukan lah anaknya tapi entah kenapa semuanya bisa menjelaskan bahwa itu adalah Aisyah bahkan semua tes menjelaskan bahwa itu adalah Aisyah dan juga Shelvia.


Akhsan dan Ikhsan benar-benar merasa gagal sekarang, tak bisa melindungi adiknya dia benar-benar teledor bisa sampai kecolongan seperti ini. Akhsan dan Ikhsan terus saja merutuki kebodohan nya sendiri dalam hati mereka. " benar-benar bodoh, tak berguna. "


Akhsan dan Ikhsan semakin terpukul dia semakin lemas tak berdaya melihat betapa sedihnya Keisha dan seluruh keluarganya. keduanya seakan tak mampu lagi untuk berhadapan dengan mereka semuanya.


" Ma, maafkan Akhsan. Akhsan telah gagal. " ucapnya sendu.


Keisha semakin terisak berhadapan dengan kedua anak kembar nya yang benar-benar terlihat kacau dengan penampilan yang berantakan. Siapa yang pantas di salah kan akan hal ini tidak ada. Hanya musuh yang belum mereka kenal sebenarnya itu lah yang menjadi sumber masalah.


Keisha memeluk keduanya dengan tangis yang kian pecah, tak mungkin dia akan membebankan kesalahan itu pada Kedua anak kembar nya kan, bahkan kedua nya sudah berusaha tapi takdir lah yang mengatakan berbeda.


" kalian tak salah.... " Ucapan Keisha terhenti dengan seiring tubuh Keisha yang luruh tak bertenaga di pelukan keduanya.


" Ma..!!!


" Ma..!!


Akhsan dan Ikhsan semakin bingung dan begitu panik. dengan cepat mengangkat tubuh Keisha dan membawanya ke dalam kamar.

__ADS_1


" Ma, bangun Ma, bangun. " Rayyan pun sama paniknya dia juga sama seperti Keisha tak percaya dan begitu sangat terpukul.


Semuanya berduka tak ada di antara mereka yang tak setetes saja tak mengeluarkan air mata, begitu pula Faisal, Fahmi dan terlebih lagi Tasya. Dalam angan-angan nya Aisyah lah yang benar-benar seperti dirinya dan paling dekat dengan nya. Aisyah cucu nya itu yang membuat dia mengingat masa kecilnya dulu keisengan, kenakalan nya mereka benar-benar mirip dan sekarang semuanya itu telah hilang.


" Kenapa kamu pergi dari Oma, sayang. " Tasya tak kuat menahan air mata nya, dia bukan lagi wanita yang begitu kuat yang tak mudah mengeluarkan air mata, sekarang hatinya begitu rapuh dan begitu lembut begitu mudah untuk tersentuh dengan namanya kesedihan.


" kenapa Aisyah, sayang. Kenapa.?


Fahmi merangkul Tasya menguatkan istrinya yang benar-benar rapuh, kehilangan dua cucunya sekaligus dalam waktu yang bersamaan. " Shelvia, kenapa kau Juga ikut-ikutan pergi. " rintih Tasya semakin terisak.


"Shelvia,, !!! shelvia,,!!! wanita yang sudah berumur berlari di ikuti laki-laki seusianya di belakang nya dan masih komplit mengenakan baju kebesaran nya yang berwarna putih.


" Bunda, ini tidak benar kan. Shelvia nggak mungkin pergi kan.? wanita itu adalah Airin dan laki-laki yang di belakang nya adalah David selaku orang tua shelvia.


Shelvia adalah anak tunggal dari Airin Ais Saputri dan David Candra, anak tunggal.


Tangan Airin menggenggam tangan Tasya menatap dengan penuh harap bahwa dia akan mendapatkan jawaban itu bukan Shelvia, tapi ternyata harapan nya salah " dia shelvia dan Aisyah kedua cucu perempuan Oma " terang Tasya lirih.


Airin terus menggeleng tak percaya, Airin tersenyum kecut dan terus meracau " dia bukan Shelvia dia bukan Shelvia, bukan. Shelvia ku masih hidup dia masih hidup dia bukan Shelvia"


Tak dapat di pungkiri lagi orang tua mana yang tak sedih melihat anak nya terbujur kaku tanpa nyawa bahkan itu adalah anak satu-satunya, karena setelah melahirkan Shelvia Airin sudah tak dapat lagi berkesempatan mengandung untuk mengandung lagi . " Yang, dia bukan shelvia kan. mereka semua pasti bohong kan. " Airin menoleh kearah David yang memegangi pundak nya dari belakang dia sama sedih dan terpukul dia pun juga menangis.


David mengangguk mengiyakan, karena dia juga tidak percaya " Ya dia bukan Shelvia kita dia buka Shelvia. " David semakin mengeratkan tangannya memeluk Airin.


" Dia bukan Shelvia " Airin semakin tak bertenaga lagi untuk bicara, ini benar-benar pukulan yang sangat berat untuk nya.


Akhsan dan Ikhsan yang baru keluar kamar Keisha langsung menghampiri Airin dan David memohon maaf karena mereka benar-benar teledor " Aunty, maafkan Akhsan " ucap Akhsan pilu.


" Aunty, Om. Ini yang kami temukan dari baju Shelvia dan ini juga yang melekat di leher Shelvia " sebuah Pin pemberian Tasya dan juga kalung kesayangan dari Shelvia yang selalu tak pernah terlepas dari lehernya meskipun Airin dan David meminta nya tak sedetik pun itu terlepas.

__ADS_1


Airin kembali menggeleng tak percaya, mana bisa ini terjadi dia benar-benar gak percaya mayat yang berada di depannya adalah anaknya tapi kenapa semuanya begitu jelas,, " tidak, tidak. ini tidak mungkin. dia bukan Shelvia, Shelvia ku masih hidup, Akhsan kamu pasti bohong kan kamu pasti lagi nge-prank Aunty kan. Hentikan Akhsan hentikan ini tidak lucu. "


" Aunty, maafkan Abang dan Ikhsan, maaf. " giliran Ikhsan yang angkat bicara. bagaimana pun ini adalah benar mereka berdua sudah tiada. " Aunty dia dia benar-benar Shelvia dan juga Aisyah, mereka datang di tempat itu. dan dan.... ledakan itu terjadi. " Ikhsan menjelaskan dengan pelan lalu menunduk setelah akhir kalimat.


" tidak tidak. ini tidak mungkin " Airin tersenyum pilu berdiri dan ingin berlari memastikan kalau perkataan mereka berdua salah, namun baru beberapa langkah saja Airin harus tersungkur dan tak sadar kan diri.


Suasana kembali panik, Akhsan, Ikhsan dan David berhamburan menubruk Airin untuk menangkap nya tak bisa di biarkan sampai kepala Airin terbentur dengan lantai itu akan berbahaya. " Ma..!! teriak David.


David terus menepuk-nepuk pipi Airin mencoba membangunkan nya namun seperti nya gagal tak bisa. " Ma, bangun ma bangun " teriak David tak kehilangan akal.


David mengangkat Airin dan membawa nya ke sofa merebahkan tubuh Airin di sana. David mengambil minyak dan mengoleskan nya di hidung Airin dan juga di sisi mata kanan dan kiri nya. " Ma, bangun Ma. " David semakin khawatir.


Duka yang begitu mendalam di rasakan oleh semua keluarga besar Akhsan, termasuk juga Airin dan David, tak bisa di bayangkan hidup mereka tampa anak satu-satunya yang sekarang sudah tiada dan lebih dahulu meninggalkan mereka berdua.


" Aunty, bangun aunty, bangun. " Akhsan dan Ikhsan pun ikut berusaha membangunkan Airin yang tak sadarkan diri.


🌾🌾🌾🌾🌾


Mobil sport berwarna merah berhenti di depan pesantren, Mata sang pengemudi pun sama mengeluarkan kesedihan nya dan menatap pintu gerbang namun tak berani masuk ke dalam.


"kak Faris, endong Aicahhh... "


Suara rengekan gadis kecil yang baru bisa berjalan itu begitu jelas di benaknya, pikiran nya terus menerawang jauh beberapa tahun yang lalu saat gadis kecil itu mengejarnya dengan terus merengek dengan tangan yang terlentang dan berlari mengejarnya untuk meminta gendong.


" aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh. dia tidak mungkin Aisyah ku dia bukan Aisyah yang aku gendong dengan kedua tangan ku tidak mungkin, aku tidak mungkin membunuh nya. tidak tidak... Argghhh...!!! tidak..!!!


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


😭😭😭😭😭😭

__ADS_1


πŸŒΎπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸŒΎπŸŒΎπŸŒΎπŸ€§πŸ€§πŸ€§πŸ€§πŸ€§


__ADS_2