
__________
Kembali lagi di dunia halu Author...
Happy Reading, Semoga selalu suka dan selalu bisa menghibur.
Yuk like dulu takut kelupaan, untuk komen bisa selesai baca, yuk yuk capcus..
Terima kasih semuanya..
πππππ
_____________
Ikhsan tengah duduk bersantai di teras belakang, sembari memegang camilan dan juga teh hangat yang di buat oleh Fatma barusan.
Setelah memastikan semua pekerjaannya selesai Fatma ikut duduk bersama Ikhsan, Fatma mengernyit bingung bukannya makan atau minum Ikhsan malah melamun sampai-sampai tak sadar kalau Fatma sudah ada di sana beberapa saat.
" Mas" panggil Fatma namun Ikhsan masih tak mendengarnya.
" Mas!! " Panggil Fatma yang kedua kalinya dengan suara yang lebih keras.
Seketika membuat Ikhsan tersadar, dan langsung menoleh ke arahnya. " ya, ada apa?" tanya Ikhsan.
" Mas yang ada apa, ngelamunin apa sih sampai-sampai tak melihat Fatma datang dan tak mendengar panggilan Fatma " tanya Fatma heran.
" bukan apa-apa "jawab Ikhsan yang tak mau ngaku sama sekali dengan Fatma.
" O " jawab Fatma hanya ber 'O' saja.
Sesaat keduanya diam saling sibuk dengan pikirannya masing-masing.
" Fatma.. " panggil Ikhsan dan duduk mengarahkan dirinya ke Fatma.
" Hem.! " Fatma pun menoleh dan menatap nya.
" Mas... Mas bingung terhadap Rico, dia tau semua hal bahkan sesuatu yang mustahil pun dia tau segalanya. Apa kamu mengetahui sesuatu tentang Rico? " tanya Ikhsan yang benar-benar sangat penasaran dengan Rico.
" Uhuk... uhuk... " Fatma tersedak air liurnya sendiri.Kenapa tiba-tiba Ikhsan bertanya soal Rico? apa yang harus dia katakan coba. Fatma sudah berjanji pada Rico untuk tidak mengatakan keahliannya pada siapapun termasuk Ikhsan.
Di samping itu adalah hal yang sangat pribadi, juga tak semua orang percaya akan hal yang seperti itu. Bagaimana kalau seandainya Ikhsan juga dalam golongan yang demikian, tidak percaya akan keahlian yang tak sembarangan orang miliki seperti Rico.
Fatma terdiam, dia malah melamun sembari menggigit bibir nya sendiri karena bingung.
" Fatma, apa kamu mengetahui sesuatu? apa ini benar-benar rahasia sampai-sampai Mas saja tidak boleh tau? " Ikhsan menatap Fatma dengan penuh harap, berharap Fatma akan luluh dan mau mengatakan semuanya tentang Rico. Ikhsan hanya takut jika sampai dia mencurigai orang yang salah.
Fatma tak mau mengingkari janji, tapi Fatma juga tak mau melihat Rico sahabatnya selalu di salahkan atau di tuduh yang tidak tidak oleh keluarga Ikhsan, apalagi Rayyan, sepertinya dia sudah sangat membenci Rico dengan alasan Rico yang ingin berbuat jahat pada Tasya kemarin.
" Hemm... Apa Mas percaya dengan istilah indigo? " tanya Fatma.
" Indigo? Hem,.. percaya. Emangnya kenapa?" tanya balik Ikhsan.
" Sebenarnya.. sebenarnya Rico memiliki hal itu, Mas. Rico bisa melihat sesuatu yang tak bisa kita lihat. Bahkan dia juga bisa mendengar apa yang kita katakan di dalam hati, dia juga bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada orang-orang di sekitarnya dan dia juga bisa memberikan kita petunjuk untuk kita bisa terhindar dari hal yang tidak baik. Itu sebabnya kemarin aku percaya kalau yang di katakan Rico benar. Tapi, aku hanya bingung kenapa Opa sampai kini masih tertahan dan selalu menemui Rico, apa ada hal yang yang membuatnya harus tetap tinggal? " jawab Fatma panjang lebar.
Antara percaya dan tidak itulah Ikhsan sekarang, dia selalu mendengar kata itu namun dia sama sekali tak bisa melihat nya apalagi mempelajarinya.
__ADS_1
" apa semua itu benar? " tanya Ikhsan memastikan.
"iya" jawab Fatma tegas dan jelas.
" berarti... "
Kring... kring... kring...
Ponsel Ikhsan berdering dan menghentikan percakapan mereka berdua. Ikhsan buru-buru melihat layar ponsel nya dan tertera nama Akhsan di sana. Bergegas Ikhsan pun mengangkatnya.
" Assalamu'alaikum, Bang "
" Wa'alaikumsalam. Dek, sekarang kita harus selamatkan Oma dan Opa Joe! mereka dalam bahaya! " tugas Akhsan.
" Oma kenapa Bang? " Ikhsan tersentak dan langsung panik.
" Tak ada waktu lagi , Dek! hanya lima belas menit! pergi ke markas ular berkepala tiga sekarang, Oma di sekap di sana! "'
Tut... tut.. tut...
Ponsel terputus, dan sepertinya Akhsan yang mengakhirinya.
" Ada apa Mas!" Fatma pun juga ikut panik mendengar nama Oma.
" Oma dalam bahaya, Mas harus pergi. Kamu di rumah saja dan hati-hati. Jangan pergi sebelum Mas pulang "
" Fatma mau ikut" rengek Fatma.
" tidak Fatma, ini sangat berbahaya "
" pokoknya Fatma harus ikut. Fatma janji akan menunggu Mas di mobil dan tidak akan kemana-mana. Janji " ucap Fatma dengan wajah yang memelas.
" Hem... "
πΎπΎπΎπΎπΎ
Motor Rico berhenti di belakang pohon besar yang ada di depan sebuah bangunan besar yang terdiri dari beberapa lantai. Terdapat pagar dinding yang menjulang tinggi yang akan mempersulit dirinya untuk bisa masuk ke sana, bahkan di atas dinding itu di tata Kaca-kaca yang begitu tajam.
" Bagaimana bisa masuk? " bingung Rico.
Rico melangkah maju, menatap tempat itu dan mencari jalan untuk dirinya bisa masuk dengan mudah. Rico melihat gerbang yang begitu rapat dan sama tingginya dengan dinding itu dan juga terdapat penjaga yang terus mondar-mandir di sana.
" waktunya tinggal lima menit, bagaimana ini. Ya Allah.. tolonglah hamba-Mu ini. Dan untuk mu Tuan, apa Anda tidak bisa mencarikan cara untuk ku supaya bisa masuk ke sana. " ucap Rico seorang diri.
Rico melongok ke atas dan di lihat nya dahan pohon yang sampai tepat di atas dinding itu. " Yah.. Itu dia" ucap Rico girang.
Rico mencari cara supaya bisa memanjat pohon besar itu, hingga akhirnya Rico berhasil manjat dan sampai di dahan itu setelah beberapa kali dia gagal.
Tak berapa lama Rico bisa masuk ke sana rombongan Dari Akhsan, Ikhsan dan juga Marco datang. Begitu banyak anak buah mereka yang dikerahkan.
Mereka bertiga sampai di sana secara bersamaan, begitu juga dengan Ikhsan. Semuanya turun dari mobil namun tidak dengan Fatma yang benar-benar ikut, Mereka berunding sebentar sebelum akhirnya mereka bisa melumpuhkan satu persatu penjaga yang ada di depan pintu gerbang.
Mereka semua pun bisa masuk dengan mudah, Mereka benar-benar seperti orang-orang yang tengah menggerebek suatu tempat yang sudah lama di incar.
Setelah semuanya keluar Fatma memberanikan diri keluar dari mobil dia sangat cemas dengan keadaan semuanya terutama dengan Suaminya. Meskipun Fatma hanya seorang diri di sana namun dia di bekali beberapa alat yang canggih dari Ikhsan, yang mungkin akan Fatma butuhkan jika dia ketahuan oleh orang-orangnya lawan.
__ADS_1
Fatma melihat Kepala motor yang ada di balik pohon, dengan pelan-pelan dan waspada Fatma pun mendekatinya dan melihat nya.
" ini kan motor Rico? jadi Rico sudah lebih dahulu datang kesini? Jangan-jangan semua ini Rico yang pertama kali mengetahuinya" gumam Fatma.
πΎπΎπΎπΎπΎ
Suara tawa begitu menggelegar di salah satu ruangan yang minim akan cahaya, semuanya hanya terlihat remang-remang di lihat oleh mata, bahkan wajah satu ke wajah lainnya sangat susah untuk di kenali.
Satu pria yang sangat kejam dan dengan wajah yang sangat puas kini tengah berbahagia dengan keberhasilannya telah membawa orang yang menjadi incarannya hingga sekarang.
Satu tangannya memegangi sebuah alat yang akan mengeluarkan aliran listrik yang dia gunakan untuk menyiksa dua orang yang menjadi sanderanya. Dan tangan yang satunya memegangi belati yang dia gunakan untuk menggores kulit dari keduanya.
" hahaha.... kali ini kalian akan mati di tanganku, dendam ku akan terbalas dan Papa akan tenang di surga sana, hahaha!! " tawanya begitu gembira.
Dua sandera yang tak lain adalah Tasya dan Joe kini sudah terkulai lemas dalam ikatan yang sangat kuat, keduanya sudah tak mampu untuk bangun dan keduanya hanya tergeletak tak berdaya di lantai dengan tangan dan kaki di ikat dan juga mulut yang di tutup kain.
Keduanya sudah kehilangan darah begitu banyak karena goresan-goresan luka dari belati itu yang begitu dalam. Bahkan wajah keduanya sudah begitu banyak goresan yang mengeluarkan darah.
" apa kalian tau? gara-gara Papa ku kalian bunuh aku jadi yatim piatu, aku hidup tidak jelas di jalanan, hingga aku susah payah bekerja mencari uang untuk makan. Hingga sampai sekarang aku berhasil aku kaya raya! tapi apa? tapi kedua cucu mu juga menghancurkannya!! kalian dan cucu-cucu kalian semuanya sama saja! kalian semua kejam kalian jahat! kalian tak punya hati nurani sebagai manusia! kalian pantas mati dengan cara seperti ini! kalian pantas..!! " teriak pria itu yang tak lain adalah Bryan.
Joe merasa sangat gagal sekarang, dua tak bisa menjaga Tasya dengan baik seperti dulu lagi, begitu juga dengan Tasya dia juga menyesalkan kemampuannya yang kini tiada arti lagi karena termakan usia.
Air mata mengalir bersamaan dengan darah yang keluar dari wajah mereka, menambah rasa perihnya. Namun rasa sakit itu malah membuat Bryan semakin menggila untuk pagi dan lagi menyiksa mereka.
"ya Allah, jika ini sudahlah waktunya maka ambil saja nyawaku sekarang dengan mudah tanpa harus merasakan rasa sakit ini. Aku ikhlas yang Allah. " batin Tasya pilu.
" Ya Tuhan, terserah Engkau mau apakan aku, tapi aku mohon jangan biarkan adikku menderita seperti ini " batin juga Joe yang sudah tak tega melihat Tasya yang semakin lemah seperti dirinya.
Bryan kembali melangkah maju mengulurkan satu tangannya yang terdapat alat yang ada listriknya dan dia tempelkan ke tubuh Tasya dan Joe secara bergantian, hingga kedua harus menderita karena tersengat listrik.
" emm... emm... " berkali-kali Joe ingin melepaskan ikatan nya namun dia sama sekali tak berhasil. Tenaganya tak lagi sekuat baja seperti dulu.
" kenapa tuan.. mau melepaskan diri? atau tidak tiga melihat wanita tua ini menderita. Ck ck ck... " Bryan geleng-geleng kepala meremehkan Joe.
" lihatlah ini, satu dua tiga! hahaha... " tawa Bryan dengan girang setelah berhasil melakukannya lagi kepada Tasya. " Anda juga mau, tenang saya akan berbuat adil kepada kalian berdua " Bryan pun melakukan hal yang sama terhadap Joe.
Sungguh puas Bryan menyiksa mereka, mereka seperti sebuah permainan baru untuk Bryan sebelum dia benar-benar membunuh keduanya.
" Dua menit lagi, dua menit lagi kalian akan mati di tanganku. Kenapa harus dua menit lagi? karena detik itu juga adalah detik yang sama ketika kalian membunuh Papa saya. Bertaubatlah mumpung masih ada waktu, karena saya yakin Tuhan pun tak akan menerima tobat dari seorang pembunuh seperti kalian! "
Lagi-lagi Bryan menyiksa keduanya dengan belati nya. Baginya Tasya dan Joe harus benar-benar merasakan sakit yang luar biasa terlebih dahulu sebelum mereka mati.
Hingga sampai waktu habis keduanya sudah terkulai tak berdaya dengan begitu banyak luka dan kehilangan banyak tenaga akibat sengatan listrik yang terus menerus Bryan berikan.
" Sekarang saatnya kalian harus tiada! ucapkan selamat tinggal pada dunia! " tenaga Bryan sudah keluarkan, mengangkat belatinya begitu tinggi dan dia arahkan pada perut Tasya tersebut dahulu.
" Emm... emm... " Joe begitu panik.
Sedangkan Tasya sudah pasrah, dia memejamkan matanya dan berharap dia tak akan merasakan sakit dalam tusukan itu dan dia langsung pergi menghadap sang Pencipta.
" akk....!! "
Bugh....
πΎπΎπΎπΎπΎπΎ
__ADS_1
Udah dulu ya. Aku merinding sendiri nih
π€£π€£π€£π€£