Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
124.Maut tak mengenal siapapun


__ADS_3

Fatma menghentikan tawanya menatap keduanya bergantian. " kenapa? ada yang salah? " tanyanya polos.


" Bukan salah tapi.....


DOORRRRR......


Suara ledakan yang sangat keras menghentikan kata-kata Akhsan. ketiganya terkejut dan terjengkit kaget dan menyerukan takbir bersamaan.


" ALLAHU AKBAR..!! teriak ketiganya bersamaan.


ketiganya langsung panik, Akhsan dan Ikhsan beranjak dari duduknya dengan cepat dan berlari untuk segera keluar mengecek apakah yang terjadi di luar.


" Mass!! " teriak Fatma keras dan ikut berlari menaruh sendok nya di atas piring.


" Astaghfirullahalazim.!! pekik Akhsan dan Ikhsan setelah keluar dari rumah dan melihat ada api yang berkobar di salah satu bangunan kecil yang hanya di gunakan duduk-duduk santai oleh para santri.


" Akk,!!!! teriak Fatma tangan nya langsung menutup mulut nya dengan cepat, Fatma ikutan panik melihat si jago merah yang hampir menghanguskan keseluruhan bangunan itu.


"siapa yang tega melakukan ini? apa mereka kurang kerjaan? apa mereka pengangguran?. Mas,!! mulai besok kamu harus buka lowongan pekerjaan yang banyak biar nggak ada tangan-tangan nganggur dan malah bertindak kriminal lagi " spontan Fatma.


Ingin rasanya Ikhsan menangis sekarang. Dalam kondisi yang begitu genting seperti ini istrinya malah dengan mudah nya membicarakan tentang lowongan pekerjaan yang dia rekomendasikan, " Ya Allah kuatkanlah hatiku, limpahkanlah aku segunung kesabaran untuk menghadapi istri ku " keluh Ikhsan menghayati doanya.


" emangnya kesabaran bisa dilihat ya Mas? , dan kesabaran juga bisa di tawar? , " tanya Fatma polos, yang sudah berdiri tepat di belakang Ikhsan.


"huaaa.... huaaa....!! Ikhsan menyerukan tangis nya dalam hati.


Akhsan dan Ikhsan memilih tak lagi menghiraukan ocehan Fatma dan memilih berlari setelah menggelengkan kepalanya. bukan saatnya menanggapi pertanyaan Fatma, yang terpenting sekarang mereka harus memadamkan api itu dan mengambil pompa air yang terdekat.


" Lah,! aku di tinggal, Mas!! teriak nya yang di abaikan.


Satu persatu semua penghuni keluar dari tempat mereka masing-masing, terdengar jeritan-jeritan penuh keterkejutan dari mereka semuanya.


Semuanya sontak bahu membahu untuk segera memadamkan api itu dengan cepat sebelum merembet ke bangunan yang lain.


" apa yang terjadi, Fatma? " tanya Keisha yang benar-benar panik.


Fatma yang sedari tadi mondar-mandir kayak cacing kepanasan akhirnya menghentikan aktivitas nya dan berdiri tegak menghadap sang mertua dengan wajah paniknya.


" Fatma juga nggak tau, Ma. saat Fatma, Mas Ikhsan dan Bang Akhsan ngobrol kami mendengarkan ledakan yang sangat keras, dan setelah kami keluar bangunan itu sudah terbakar, Ma. " cerocos Fatma tak ada rem.


" Astaghfirullah, " jawab Keisha.


Entah siapa yang tega mengganggu ketenangan mereka semua, di tengah semua penghuni terlelap dalam tidur harus di kejutkan dengan kejadian itu.


Semua bernafas lega setelah berhasil memadamkan api yang besar, meskipun hanya dengan cara manual dan dengan alat seadanya tapi api berhasil di padamkan.


" Alhamdulillah " seru semuanya termasuk Akhsan dan Ikhsan.


" kita harus segera mencari tau apa yang sebenarnya terjadi Dek. Kita harus menyelidiki semuanya dengan cepat. Jika semua ini karena campur tangan manusia kita harus memberikan pelajaran pada orang itu " ucap Akhsan sembari melangkah.


" Iya, abang benar. kalau ini semua karena ulah manusia, akan Ikhsan potong tuh tangannya Bang " kesal Ikhsan.


" Astaghfirullah, ingat kata Opa, Ikhsan. tugas kita hanya mengungkap nya dan memberikannya pada pihak berwajib. menghakimi bukan tanggung jawab kita Ikhsan. Ingat itu baik-baik "'ucap Akhsan mengingatkan.

__ADS_1


" iya Bang, maaf. Khilaf aku" jawab nya menyesal.


" Hmm. "


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


" ehh,!! apa yang akan kalian lakukan,! tegur Marco, tidur nya harus terganggu karena perbuatan dari dua gadis yang kini tengah bersedekap dada di tengah-tengah pintu kamar nya.


Sebenarnya bukan Aisyah ataupun Shelvia yang melakukan nya melainkan anak buah Marco sendiri yang kini beralih patuh dan tunduk pada mereka berdua.


" maafkan kami tuan ini adalah perintah dari mereka, kalau tidak mereka akan membakar rumah ini kalau kami tidak menuruti permintaan mereka.


" What's.. !! kalian udah mulai berani patuh pada mereka dan membangkang ku. apa kalian benar-benar sudah tak membutuhkan pekerjaan kalian, atau kalian sudah bosan hidup lagi, hahh!! " sungut Marco tak habis pikir.


Bisa-bisanya anak buahnya sekarang beralih pada dua gadis si biang kerok di dalam rumah nya. Mereka benar-benar telah keterlaluan siapa tuan rumahnya dan sekarang siapa yang telah mengatur siapa " Ck" Marco hanya bisa berdecak kesal dengan tatapan penuh amarah.


Aisyah dan Shelvia berjalan perlahan tak mengubah posisi tangan nya yang ada di dada mereka. Keduanya nyengir kuda dengan mata yang terus menatap Marco yang terus dalam amarah.


" Sebenarnya apa sih yang kalian inginkan, saya sudah membiarkan kalian tinggal di rumah ku dengan gratis dan dan tak pernah saya berkomentar lagi dengan apapun yang kalian lakukan tapi? apa ini sekarang!!"


" mau kami ya? , mau kami adalah Bang jelek menjadi tampan " jawab Aisyah.


Mata Marco terbelalak, dari sisi mana dia terlihat jelek? bahkan dari segala arah dia nyaris sempurna, tapi bocah itu.


" mata kamu buta ya. apa kalian tidak bisa melihat orang setampan ini,! lihat!! " teriak Marco tak terima dan beranjak dari ranjang nya sendiri setelah mendorong anak buah nya yang lancang.


" Hm" senyum Aisyah dan Shelvia miris.


Marco berjalan dengan cepat membawa sejuta amarah dan berhenti di hadapan Aisyah dan Shelvia. " Lihatlah baik-baik,,!!


" ini memang tampan Bang. Tapi ini,? ini sangat jelek bahkan sangat sangat je-LEK. " jawab Shelvia dengan menurunkan jarinya dan pas menunjuk dada Marco , tepat di titik hati Marco.


Aisyah ikut maju, berdiri tepat di samping Shelvia. " Apakah Bang Marco tidak ingin membuat hati Abang juga setampan wajah Abang?, buat apa wajah tampan kalau hati Abang buruk. Wajah tampan hanya sebentar, Bang.mungkin beberapa tahun lagi akan hilang. Terus apa yang akan Abang banggakan?" imbuh Aisyah.


Hati Marco benar-benar tertampar hanya karena perkataan dari dua bocah itu. Benar kata orang bahwa umur tidak menentukan kedewasaan dan juga kebijaksanaan, kadang orang yang lebih tua pun belum tentu memiliki dua hal itu. Dan juga bukan berarti anak kecil tak bisa memiliki itu.


" Ayolah Bang, sampai kapan Abang akan seperti ini. hapus semua keburukan di hati Abang yang membuat hati Abang semakin tersesat. mumpung belum telat Bang, kita tidak tau kan kita akan mati kapan? bisa jadi detik, menit, jam, atau mungkin hari setelah ini" ujar ujar Aisyah terus membujuk.


Marco terdiam. Mungkin benar apa yang dikatakan kedua bocah itu, tapi hatinya masih begitu keras tak akan mudah untuk menerima semua itu dengan begitu mudah.


Marco mengerjap dari lamunannya, menatap keduanya dengan sinis. Ini hidupnya dan hanya dia sendiri yang bisa menentukan nya.


" berisik,!! " ucap Marco angkuh.


" ya elah Bang, seharusnya Abang bersyukur masih ada orang yang senang hati mengingatkan Abang. kalau sudah tidak ada baru Abang keok deh "'ucap Shelvia.


" keluar kalian!! saya masih mau tidur. Ini masih malam kan?, sana kalian juga tidur " usir Marco pada mereka berdua sedangkan kedua anak buah nya sudah keluar lebih dulu dan menunggu di depan pintu.


Aisyah dan Shelvia mendelik, bagaimana bisa ini masih malam? padahal sedari tadi adzan subuh sudah berkumandang dengan sangat jelas karena di kompleks itu juga ada masjid yang besar dan juga tak jauh dari rumah Marco.


" Bentar bentar " Aisyah berjalan dan beralih berdiri di samping Marco dan berjinjit hingga hampir mencapai telinga Marco. Ya, meskipun masih sangat jauh sih. " Abang jelek, " bisik Aisyah.


Marco menoleh dengan cepat, matanya melotot dan langsung kesal karena panggilan itu lagi-lagi dia dengar. " panggil apa loh barusan!! " sungut nya tak bersahabat.

__ADS_1


" hahaha,,!! tuh di panggil lirih aja denger. tadi pak muadzin adzan nggak denger, segitu nya ya bang " jawab Aisyah yang di dahului dengan tawa mengejek Marco.


Hati yang sudah tertutup, sekeras apapun suara Adzan itu berkumandang pasti tak akan dia dengar bahkan tepat di telinganya juga.


Hati itu tidak akan mungkin bisa terbuka lagi dengan mudah selama sang pemilik nya belum mau berusaha untuk membukanya sendiri, sedangkan kata-kata dari orang lain itu hanya untuk mengetuk nya, urusan membukanya tergantung sang pemilik hati, Yaitu sang Pencipta nya (Alloh SWT) dan juga yang di amanah kan untuk menjaga hati itu sendiri.


Uap kemarahan benar-benar telah keluar dari Marco, semua kata-kata yang keluar dari mulut Aisyah dan Shelvia tak bisa di toleransi lagi.


Dengan kasar Marco menarik tangan keduanya dan menarik keduanya keluar dari kamar. sudah cukup dia mendengarkan petuah yang tak dia inginkan, cukup sudah telinganya mendengarkan kata-kata itu lagi, semua sudah cukup!!.


" keluar kalian dari kamar ku, keluarr,!!! "


Marco mendorong keduanya hingga berhasil keluar dari kamar Marco, bahkan keduanya hampir saja terjatuh karena Marco begitu keras mendorong mereka berdua.


" Bangg,!! " teriak Aisyah tak terima.


Marco berdiri tegak di tengah-tengah pintu, tangannya menunjuk wajah Aisyah dan Shelvia bergantian.


" Kamu dan kamu, ingat ini baik-baik. Sampai kalian berani berbuat ulah di rumah saya lagi, saya akan pastikan kalian akan keluar dari rumah saya saat itu juga, Camkan itu baik-baik " ucapan Marco begitu tegas, dengan aura ancaman yang begitu mendalam.


Bukan Aisyah dan Shelvia kalau akan takut begitu saja dengan gertakan dari Marco, semua yang Marco katakan semakin menjadi tantangan untuk mereka berdua untuk bisa mengubah Marco.


Aisyah dan Shelvia bersedekap dada di hadapan Marco. Bukannya mereka bergidik ngeri tapi mereka malah menarik senyum begitu manis.


" Usir aja Bang, dan kita buktikan saja saat itu tiba siapa yang akan keluar dari rumah ini, kita atau Abang? " jawab Shelvia berhiaskan dengan cengiran khasnya.


" apa maksud mu, Hahh,!!.


Aisyah mengangkat tangannya ke atas mengibaskan nya di depan wajah nya sendiri.


" sudah lah Bang, jangan terlalu di pikir kan kata-kata kak Shelvia, dia kalau bicara selalu benar kok. jadi nggak usah di ambil pusing, oke Abang " ucap Aisyah.


Marco semakin bingung apa maksud dari kedua cecunguk di hadapan nya ini, apakah itu sebuah peringatan atau sebuah ancaman?.


" jelaskan padaku, apa yang kalian maksud. jelaskan,,!! sungut Marco yang emosi nya semakin memuncak.


" Bye Abang.. kita pergi dulu ya, mau menata hati supaya, menjadi lebih baik. Sebaik Abang juga ya. ingat Bang, Maut tak mengenal waktu, usia, dan juga jabatan."' ucapan terakhir Aisyah sebelum dia menggandeng lengan Shelvia untuk mengajaknya pergi.


" Bye Abang,, ingat ya Bang." imbuh Shelvia,


" Heyyy..!! saya belum selesai bicara!! kembali,,!! teriak Marco tapi tak mendapatkan apapun dari keduanya, jangankan jawaban menoleh saja mereka tidak.


" Sial. beraninya mereka mempermainkan ku. sial sial,,!! kesal Marco.


Marco memutuskan untuk masuk kembali ke kamar nya, menutup pintu nya dengan sangat kasar hingga membuat penjaga yang ada di depan pintu kamar nya terjangkit kaget dan mengelus dada.


" Astaghfirullahalazim. "'ucapnya bersamaan.


Perlahan-lahan penghuni rumah itu mulai menerima apa yang di anjurkan oleh Aisyah dan Shelvia, hanya tuan rumah saja yang masih menolak nya mentah-mentah.


" Semoga saja sebentar lagi tuan bisa berubah, dan hidup kita akan lebih damai ya. " ucap penjaga itu.


" iya. " jawab yang satunya sembari mengangguk. " Amin " imbuh nya penuh harap.

__ADS_1


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


__ADS_2