Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
218.Murid teladan


__ADS_3

___


Happy Reading...


___________________


"Permisi pak, izin gabung ya? " Baru saja ngomong dan kata-katanya belum selesai namun Kamila sudah menyerobot duduk begitu saja di Akhsan dan juga Kairi.


Dia begitu percaya diri bahkan senyumnya terus terpancar tanpa ada rasa canggung atau takut sama sekali. Nyalinya begitu besar, tingkat keberaniannya patut di acungin empat jempol sekaligus dengan jempol kaki juga kalau bisa.


Kairi dan juga Akhsan yang sedang enak makan langsung menoleh begitu saja. Meja yang ada empat kursi dan tadinya hanya ada mereka berdua kini bertambah satu lagi dengan Kamila.


"Hemm." Terpaksa Kairi tersenyum namun senyumnya pastilah tidak akan lepas begitu saja, terasa ada yang mengganjal hingga membuat senyumnya terlihat aneh.


Mungkin Kairi merasa terganggu dengan kedatangan Kamila, dia tak suka Kamila dekat-dekat dengan Suaminya, tapi dia juga tak bisa mengusir Kamila begitu saja dari sana. Bagaimanapun juga tempat itu adalah tempat umum, dia takkan ada jalan lain kecuali membiarkan Kamila begitu saja di sana.


"Kenapa berhenti, Pak, kak. Ayo di makan lagi! " Ucap Kamila dengan begitu tenang nya.


Keduanya tidak menjawab ataupun tidak mengangguk hanya tersenyum kecil karena terpaksa.


Keduanya langsung kembali makan tanpa menoleh lagi ke arah Kamila. Keadaan tempat itu menjadi hening tadi ada obrolan hangat datu Akhsan dan juga Kairi tapi tidak untuk sekarang, mereka lebih memilih diam saja.


Tak ketinggalan Kamila juga, dalam diam nya dia terus menyuapkan makanan yang ada di hadapannya. Namun beberapa saat kemudian, dia menoleh menatap keduanya yang terus saling tatap dalam diam.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘦𝘴𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘪𝘩? 𝘈𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘱𝘢? " Gerutu Kamila dalam hati.


"Hemm..., makanan di sini enak ya, Pak. " Ucap Kamila memecat keheningan.


Keduanya kembali menoleh kearah Kamila dan mendapatkan dirinya yang tengah tersenyum dengan begitu manis.


"Aku sangat senang makan di sini. Di samping enak makanan di sini juga harganya terjangkau. " Ucapnya lagi.


"Hem.. " Lagi-lagi Kairi dan Akhsan hanya bisa tersenyum kecut.


"Oh iya, Pak. Katanya saat ulang tahun kampus akan ada kegiatan yang menarik ya, Pak. Kalau boleh tau apa saja ya? Siapa tau Kamila kan bisa ikut berpartisipasi. "


"Lebih baik kamu tanyakan saja pada panitianya. Saya tidak tau apa-apa mengenai acara ini. " Jawab Akhsan.

__ADS_1


Kecewa sedih, itulah yang Kamila rasakan sekarang, alih-alih ingin bisa mendapatkan perhatian dari Akhsan, namun kini dia hanya kecewa karena terus di acuhkan oleh Akhsan.


Namun itu tak akan membuat Kamila menyerah begitu saja, meskipun terlihat seperti orang bodoh sekaligus dia tak perduli, bahkan jika ada yang mengatakan seperti pengemis cinta itu tak akan menjadi masalah untuk nya, karena tujuan nya lebih besar daripada apa kata-kata dari para netizen.


"Tapi saya malu untuk bertanya dengan mereka semuanya, Pak. Jadi saya tanya langsung sama, bapak. Saya kira pak Akhsan mengetahui semuanya. " Jawab Kamila dengan wajah yang kecewa.


"𝘈𝘱𝘢? 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘪𝘵𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳. " Gerutu Kairi dalam hatinya.


Sebesar apapun dan sekuat apapun Akhsan menolaknya itu tak akan mempengaruhi tekat dari seorang Kamila. Sekali maju dia tak akan mundur untuk bisa menggapainya.


"Kamu tenang saja, Mila. Saya akan bicarakan masalah ini pada panitia, supaya mereka bisa memberikan informasi yang sedetail-detailnya." Jawab Akhsan.


Bukan jawaban itu yang Kamila inginkan, dia ingin Akhsan yang mengatakannya atau seenggaknya Akhsan akan membantunya untuk mencari tau dan menanyakannya berdua saja bersama Kamila sendiri.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘢𝘬 𝘈𝘬𝘩𝘴𝘢𝘯 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘴𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘤𝘰𝘸𝘰𝘬. 𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘢𝘤𝘶𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘒𝘢𝘪𝘳𝘪. " Batin Kamila.


Ya iyalah Kamila masak Akhsan akan acuh ataupun sampai angkuh pada istrinya sendiri, hello kamu sadar dong Mila.


"I- iya pak. Terima kasih. " Ucapnya dengan senyum kecut.


"Hem." Akhsan mengangguk sebentar.


Tak mau berlama-lama di sana Akhsan dan Kairi mempercepat makannya, dan segera menghabiskannya. Mereka ak ingin lebih lama lagi dan melihat Kamila yang terus mencari kesempatan untuk bisa mencari perhatian pada Akhsan.


"Aku sudah selesai, Mas. Kita bisa pergi? " Tanya Kairi yang benar-benar sudah tak sabar berada di sana.


Makin lama Kairi semakin kebaikan saja melihat tingkah Kamila yang tak tau malu itu, dia diam bukan berarti dia rela begitu saja suaminya di goda, tapi dia hanya tak mau nanti akan terjadi keributan kalau dirinya marah-marah di depan umum, di samping itu tidak baik untuk akhlaknya yang selalu dia jaga, itu juga tidak akan baik untuk Akhsan. Orang pasti akan membicarakan Akhsan yang memiliki Istri yang emosian.


"Mas juga sudah selesai. " Akhsan dan Kairi langsung beranjak.


Sebelum benar-benar pergi Kairi berhenti sejenak untuk pamit pada Kamila, tak seharusnya juga kan dia akan membalas dengan perbuatan yang tidak menyenangkan, kompor tak harus dilawan dengan api, karena akan semakin mempercepat kobaran nya. So..., lawan dengan air maka kompor itu tidak akan pernah menyala.


"Kami permisi, Mila. Nikmatilah acara makanmu. Assalamu'alaikum.. " Ucap Kairi begitu lembut.


"I- iya Mbak. Terima kasih. Wa'alaikumsalam. " Jawab Kamila.


Kairi dan juga Akhsan pergi setelah itu dengan bergandengan, seolah Kairi sengaja memperlihatkan pada Kamila, ini loh status kami berdua yang sebenarnya, dan kamu harus segera menyadarinya. Mungkin itulah yang menjadi pikiran Kairi sekarang.

__ADS_1


______


" Sudah hari ke lima, tinggal dua hari lagi Mas Ikhsan bakal pulang, Kira-kira aku dibawain oleh-oleh apa ya? Hemmm.. Aku harus masak apa ya untuk menyambut kedatangan mas Ikhsan. " Fatma begitu bingung.


"Nanti aja deh aku mampir ke supermarket untuk belanja. Aku harus siapkan hal yang paling spesial untuk mak Ikhsan. " Ucapnya lagi begitu antusias.


Fatma berjalan di Koridor sekolah seorang diri, entah kemana kedua ajudannya itu berada hingga kini dia sendiri saja.


"Fatma! Apa kamu kan yang telah menaruh tikus di tas saya! " Bentak Suci begitu tiba-tiba, menghentikan langkah Fatma dan membuatnya terkejut.


"Tikus apaan, Bu? " Tanya Fatma santai.


"Kamu jangan berlagak nggak tau deh, kamu kan yang sengaja melakukan itu? " Sepertinya Suci begitu murka sekarang.


"Tidak, mana mungkin Fatma berani melakukan itu, Bu. Fatma kan murid teladan. Jadi nggak akan berani lah. " Jawab Fatma.


"Kalau di pikir-pikir sih? Hem..., mungkin tikusnya ya datang sendiri dan masuk ke dalam tas Ibu. Iya kan? Itu bisa saja terjadi kan? " Fatma berusaha terus mangkir dari tuduhan Suci.


"Apa kamu pikir aku percaya begitu saja? Jangan mimpi. "


"Mimpi itu penting, Bu. Orang tanpa mimpi hidupnya tidak akan semangat dan akan terasa hambar. "


" Diam kamu! Beraninya kamu menasehati ku! "


"Mana Fatma berani sih, Bu. Kan Fatma udah bilang. Fatma ini murid teladan. Jadi mana aku berani "


"Ihhh..., capek Ku ngomong sama kamu. "


"Kalau capek duduk dulu, Bu. Tuh ada bangku kosong. "


"Ihhh.... " Suci semakin geram dan kabur begitu saja menjauhi Fatma, kalau tidak segera pergi bisa saja nanti kepalanya menjadi botak.


"Selamat tinggal, Bu Suci. Jangan emosi mulu ya. Entar gampang kesambet deh. " Jawab nya.


___


Bersambung...

__ADS_1


_________


__ADS_2