
Happy Reading....
_________
Setelah mendapat kabar Fatma yang sedang sakit Khairi juga Akhsan datang ke kediaman Ikhsan. Mereka juga sangat khawatir dengan keadaan Fatma, tak pernah dia sakit sekalinya sakit semua orang menjadi sangat mengkhawatirkannya.
Meski Fatma tidak apa-apa karena hanya demam biasa tapi semua orang sungguh cemas, apalagi Ikhsan dia orang pertama yang paling mencemaskan nya.
Usaha Ikhsan memang sudah sedikit ada hasil demam Fatma sudah turun daripada yang tadi tapi dia masih merasa pusing dan begitu lemas untuk bangun.
"Assalamu'alaikum," Khairi masuk ke kamar Fatma juga Ikhsan tentunya ada baby Alvaro di gendongannya juga Akhsan yang membuntutinya.
Ikhsan yang baru menyuapi Fatma bubur langsung menoleh begitu juga dengan Fatma dia juga langsung menoleh, Fatma tersenyum dia sungguh bahagia bisa melihat baby Alvaro.
Tapi Fatma kembali cemberut karena dia tak akan bisa menggendongnya untuk sekarang, takut kalau baby Alvaro akan tertular nanti.
"Wa'alaikumsalam," Jawab keduanya, namun suara Fatma terdengar tak semangat sama sekali.
"Bagaimana keadaanmu, Fatma. Kamu sudah membaik kan? " tanya Khairi.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Kak. Hanya masih pusing saja," jawab Fatma.
"Apa sudah di periksakan ke dokter? "
Fatma menggeleng, dia tak mau ke dokter. "Belum," jawab Fatma dengan singkat.
"Fatma hanya pusing sedikit, Kak! Istirahat sebentar juga minum obat pasti akan sembuh. Aku biasanya seperti itu. Jadi tak harus ke rumah sakit juga,"
"Sebenarnya sudah aku bujuk dari tadi, Kak. Tadi dianya yang keras kepala, alasannya banyak sekali yang bau obat lah, perjalanan jauh lah juga dia bilang nanti dokternya hanya ada bilang banyak istirahat ya, begitulah dia," saut Ikhsan.
Ikhsan memang sedikit kesal, dari tadi dia membujuk Fatma untuk ke rumah sakit tapi dia sama sekali tidak mau.
Dan sepertinya sekarang yang merayu Khairi pun juga tidak bisa meluluhkan hatinya untuk mau di ajak ke rumah sakit.
"Sebaiknya di periksakan ke dokter deh, Fatma. Kakak takut ada hal yang serius padamu." Khairi begitu khawatir, wajah Fatma masih sangat pucat meski dia bilang tidak apa-apa.
"Bukannya ujian mu sebentar lagi, Fatma? kalau kamu sakit... "
"Besok Fatma akan sembuh, Kak. Ini hanya sakit biasa tidak ada yang harus di khawatirkan," jawab Fatma tetap kekeh.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi ingat ya? Kalau sampai besok kamu belum sembuh besok harus ke rumah sakit. Harus! Dan kamu tidak boleh menolak lagi," Khairi begitu menekankan dan kali ini Fatma mengangguk patuh.
Ikhsan kembali menyuapi Fatma dengan begitu telaten, bahkan bubur yang ada di mangkuk berhasil ludes tak bersisa.
Alhamdulillah, meski dalam keadaan sakit Fatma makannya tetap lahap dan dengan begitu Fatma akan cepat pulih.
"Minum obatnya," Ikhsan menyodorkan gelas air putih pada Fatma tentunya dengan satu butir obat juga.
"Terima kasih, Mas." jawab Fatma.
Obat yang begitu pahit membuat Fatma nyengir, rasanya sungguh tidak enak.
"Mas, besok belilah obat yang rasa jeruk atau anggur, strawberry juga boleh pokoknya yang rasanya manis. Ini sangat pahit, tidak enak sama sekali," keluh Fatma.
Permintaan yang membuat mereka bertiga yang ada di sana hanya mengernyit, masak iya Fatma sebesar itu minum obat demam yang sirup dengan rasa buah? Apa akan bisa menyembuhkan Fatma? Sungguh permintaan yang aneh.
Ketiganya yang mengernyit secara bersamaan membuat Fatma bingung, apakah ada yang salah dengan permintaannya?
"Kenapa? Ada yang salah? " tanya Fatma. Matanya memandangnya dengan bergantian dan ternyata ekspresi mereka sama.
Fatma begitu bingung dengan mereka sepertinya permintaan dia tak ada yang salah juga tak berlebihan juga tapi kenapa dengan mereka semua.
Sontak mereka bertiga menoleh ke arah Khairi, apa maksudnya ileran? Masak iya Fatma segede itu akan ileran, nggak mungkin kan.
Ada apa lagi nih dengan Khairi, kata-katanya sungguh tak mudah di mengerti oleh mereka bertiga.
Tapi itu tak lama untuk Akhsan dia paham sekarang.
"Dek, apakah kamu melakukan kesalahan? maksudku, apakah kamu pernah melakukannya tanpa pengamanan? " giliran Akhsan yang siap mengintrogasi Ikhsan.
Pasti pernah Ikhsan melakukan itu, tak mungkin tidak kan? Ya sekedar untuk memastikan saja kan? takutnya ketidaktahuan Fatma juga Ikhsan akan terjadi sesuatu nanti jika perkiraan Khairi juga Akhsan benar.
"Apa sih maksudnya, Bang? bisa di perjelas? " jawab Ikhsan. Tiba-tiba otaknya terasa tumpul begitu saja seperti tak ada kejeniusan sama sekali.
Bukan Ikhsan saja yang terlihat bingung tapi Fatma juga sama. Ya karena mereka berdua memang belum berpengalaman akan hal itu jadi mereka mana tau apa yang di maksud oleh Akhsan juga Khairi.
"Kak, bisa ngomong dengan jelas?" pinta Fatma. Dia benar-benar tak mengerti.
"Kapan terakhir kamu datang bulan?" tanya Khairi.
__ADS_1
Fatma juga Ikhsan saling lempar pandang, kenapa jadi datang bulan yang di tanyakan? Fatma hanya pusing saja juga tubuh terasa tidak enak ada apa dengan datang bulannya.
Fatma mengernyit untuk mengingat, bahkan dia juga lupa kapan terakhir dia datang bulan.
"Bukankah seharusnya dua minggu yang lalu kamu harus kedatangan tamu bulanan mu ya, Fatma?" ternyata Ikhsan malah yang lebih ingat.
"Atau jangan-jangan...? baik saya akan ke apotik sekarang juga. Kak Khairi titip Fatma sebentar ya. Jangan biarkan dia turun dari tempat tidur." Ikhsan cepat beranjak, dia buru-buru ingin pergi ke apotik entah benar-benar obat permintaan Fatma yang akan di beli atau ada yang lainnya, tunggu saja saat dia pulang nanti.
Ikhsan langsung tancap gas, dia berlari keluar kamar dengan membawa juga mangkuk juga gelas kotornya.
Fatma semakin tak mengerti. Sepertinya dia juga mulai ingat memang seharusnya dia datang bulan dua minggu yang lalu tapi kenapa sampai sekarang dia belum juga datang?
"Kak, ada apa sih! " ternyata Fatma masih tak mengerti.
"Sudah jangan banyak tanya, tunggu saja suamimu pulang. Bukankah kamu mau obat rasa buah? dia pasti akan membelikannya untuk mu," jawab Khairi.
"Baby Alvaro sayang, sini sama Abi dulu. Umi biar nemenin tante Fatma yang lagi sakit," Akhsan pun mengambil baby Alvaro dari Khairi.
"Aku akan keluar, sepertinya baby Alvaro sedikit bosan di sini," ucap Akhsan, "istirahat lah, Fatma. Jangan terlalu di pikirkan nikmati saja semuanya yang kamu rasakan."
"Assalamu'alaikum... " Akhsan benar-benar pergi keluar dengan Alvaro, bukannya dia takut Alvaro akan tertular tapi kalau benar Fatma butuh istirahat.
"Wa'alaikumsalam... " jawab Fatma juga Khairi yang bersamaan.
"Kak, sebenarnya kalian kenapa sih? Kenapa pada aneh gini tingkah kalian? "
Khairi tersenyum, ternyata Fatma belum juga mengerti apa alasannya mereka seperti ini. Apalagi Ikhsan? Tingkahnya sungguh aneh, setelah mendengar Fatma yang terlambat datang bulan kenapa juga harus ke apotik. Sebenarnya apa yang ingin dia beli.
"Kamu merasa ingin makan apa, gitu nggak? " tanya Khairi.
"Tidak?" jawab Fatma cepat.
Khairi mengangguk, mungkin belum ada yang ingin Fatma makan, mungkin secepatnya akan dia inginkan makanan yang aneh-aneh.
Semoga yang terjadi pada Fatma benar sesuai perkiraan Khairi. Maka dia akan sangat bahagia. Tapi ada rasa khawatir juga sebenarnya, bagaimana dengan ujiannya Fatma yang hanya tinggal satu bulan lagi?
____
Bersambung..
__ADS_1
_____