
Kairi terus bebenah, memasukkan semua barang-barang Akhsan dan juga punya dirinya di koper. Meskipun mereka masih mau tinggal di sana namun itu tak mungkin karena mereka harus kembali ke rumah orang tua Akhsan, ya meskipun tak tau untuk masa depan.
Akhsan keluar dari kamar mandi tersenyum senang melihat istrinya yang begitu tekun dalan hal apapun. semua Kairi kerjakan dan semua pun dengan sempurna.
Akhsan berjalan mendekat dan duduk di belakang Kairi" kamu pasti lelah " Akhsan memijat pundak Kairi pelan berusaha untuk memanjakan istri nya meskipun dengan hal kecil saja.
Kairi menoleh " nggak kok, ini kan hanya kerjaan biasa dan nggak berat juga. " Jawab Kairi dengan senyuman manis dan kembali dengan koper nya.
Akhsan memeluk Kairi dari belakang. betapa bahagianya Akhsan sekarang, memiliki istri yang sangat sempurna menurut nya, meskipun mereka berdua masih terbilang muda namun mereka sama-sama sudah dewasa dan saling mengerti satu sama lain. " makasih ya. "
" untuk apa.?
" karena telah menjadi istri ku. " jawab Akhsan.
Bukan hanya Akhsan yang merasa beruntung bahkan Kairi lebih beruntung lagi bisa menikah dengan pria yang ia cintai dan juga sangat sayang dan begitu perhatian padanya. " Terima kasih juga karena sudah menjadi suami ku. " jawab Kairi.
" Hmm. gimana semua sudah beres. " tanya Akhsan.
" sebentar lagi " Kairi melepaskan diri dari Akhsan dan mengambil barang-barang nya yang berada di meja rias memasukkan nya ke dalam koper lalu menutup nya. " sudah. "
" sini biar aku saja. " Akhsan menurunkan koper nya dan mulai menariknya.
Kairi ikut berjalan di sisi Akhsan dengan tas kecil di bahunya. Mereka keluar dari kamar itu dan berjalan beriringan untuk pergi dan segera pulang.
Mobil melaju perlahan meninggalkan hotel, kebahagiaan begitu terasa untuk Akhsan hingga dia berkali-kali menoleh kearah Kairi dan tersenyum. Akhirnya dia akan pulang membawa Nyonya Akhsan sekarang.
Akhsan membelai lembut pipi Kairi dan membuat nya kembali tersipu "apa yang kamu rasakan sekarang.? apa kamu senang.? tanya Akhsan pada Kairi dan hanya senyum dan anggukan kecil sebagai jawabannya " Alhamdulillah. "
" Hmm. Pak Akhsan, di rumah bapak ada siapa saja..?
" ada Oma Opa, Mama Papa, Faisal, Aisyah kita dan juga Ikhsan dan Fatma, dan juga begitu banyak lagi yang ada di sana. " jawab Akhsan menyebutkan semua penghuni tetap di rumahnya.
" maksudnya banyak. ?
" Hmm, kamu akan tau secepatnya. " jawab Akhsan yang masih enggan untuk mengatakan pada Kairi biarlah Kairi tau nanti dan Akhsan ingin mengetahui reaksi dari Kairi.
Sedikit kecewa sih, tapi tak menjadi masalah selama itu tak menimbulkan masalah.
Prokk..
Dua telur mendarat di kaca depan mobil Akhsan dan pecah di sana. Akhsan terkejut menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba " Astaghfirullah, apa ini.? bingung Akhsan.
Kairi panik tak seperti biasa dia berhadapan dengan hal yang seperti ini. biasanya Kairi hanya mendapatkan hinaan dan cercaan jadi ini adalah suatu yang tak biasa begitu juga dengan Akhsan ini adalah pertama kalinya.
" pak, aku takut. " ucap Kairi matanya berpindah terus menerus antara Akhsan dan juga pecahan telur yang ada di luar.
Meskipun panik tapi Akhsan tak boleh membuat Kairi semakin takut. Akhsan menenangkan Kairi sebelum dia keluar dari mobil dan memeriksa kejadian itu dan mencari tau siapa pelakunya. " kamu disini sebentar dan jangan pernah keluar, mengerti. " ucap Akhsan.
Kairi mengangguk patuh. dia harus tetap di dalam mobil sesuai permintaan Akhsan." baik Pak. " jawab nya patuh.
Pelan-pelan Akhsan keluar dan kembali menutup pintu melihat telur pecah yang berada di kaca mobilnya. Matanya menyusuri semua tempat yang dapat dia lihat namun tak ada satupun yang ada di sana. " apakah ini semacam teror atau ancaman.? tapi kenapa sepertinya aku tak mempunyai musuh." gumam Akhsan bingung.
Akhsan kembali membuka pintu mobil mengambil tisu dan membersihkan telur itu dari sana. Setelah hampir menghabiskan tisu yang ada di tangan nya kaca pun kembali bersih meskipun masih sedikit bau amis.
Sekali lagi mata Akhsan melihat sekitar namun tetap tak melihat satu pun orang di sana. " aneh. " Akhsan masuk dan bergegas untuk segera pergi dari sana mungkin hanya orang gila saja yang melakukan itu dan berlari setelah berhasil melemparkan telur pada mobil Akhsan.
" gimana pak.? tanya Kairi yang masih sangat takut.
Akhsan menghidupkan mesin dan mulai melaju perlahan " tidak ada orang, entah siapa yang melakukan itu tapi kamu tenang saja semua akan baik-baik saja. " jawab Akhsan menenangkan.
Kairi mengangguk dan tersenyum meskipun sebenarnya di dalam hati nya rasa takut itu terus ada di benaknya.
Prokk..... prokk...
Dua telur kembali mendarat di kaca mobil Akhsan namun kali ini mengenai kaca belakang. Akhsan dan Kairi kembali terkejut, tak mau mengambil resiko yang tak di inginkan Akhsan langsung tancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tak menghiraukan telur yang ada di belakang sana.
__ADS_1
" Pak aku takut. " ucap Kairi.
Akhsan membelai lembut pipi Kairi mencoba membuat Kairi tenang. " tenanglah tak akan terjadi apapun, semua akan baik-baik saja. " jawab Akhsan.
Mobil melaju semakin cepat menjauh meninggalkan tempat yang tadi sama sekali tak ada orang di sana. ya jalan itu memang sangat sepi jarang-jarang ada yang lewat di sana karena Akhsan mengambil jalan pintas agar cepat sampai tapi dia benar-benar tak tau kalau akan ada hal yang seperti itu.
Mobil terparkir di lapangan pesantren yang sangat luas, begitu banyak yang menyambut kedatangan Akhsan dan Kairi. semua nampak antusias melihat istri Akhsan yang sama sekali belum mereka kenal.
Kairi terhenyak dia ragu untuk turun setelah melihat begitu banyak para santri dengan hijab syar'i sementara dia sendiri hanya memakai hijab ala kadarnya. " pak aku malu. " ucap Kairi.
Akhsan duduk menghadap Kairi menggenggam tangan Kairi dengan hangat. " tidak usah malu, yakinlah kamu pasti akan terbiasa di sini. lagian kita tak akan lama di sini, setelah Aisyah sembuh kita akan ke tempat tinggal kita yang sebenarnya. " ucap Akhsan. Akhsan memang sudah menyediakan rumah baru untuk mereka sejak jauh-jauh hari.
" tapi pak. "
" sudah, ayo turun. tuh lihat semuanya sudah menyambut mu dengan senang. "
Dengan ragu Kairi turun dan berjalan di belakang Akhsan. Semuanya menyambut Kairi bersalaman dengan Kairi secara bergantian.
" selamat datang Kak.!! sapa semuanya serentak.
" Hmm.. " Kairi mengangguk dan tersenyum manis.
Semua tampak antusias dengan kedatangan Kairi bahkan ada juga yang terus menggandeng Kairi bahkan ada juga yang membawakan barang-barang Kairi." sudah biar aku saja. " ucap Kairi yang merasa sangat begitu sungkan.
" tidak apa-apa Kak, kita sangat senang kok." jawab salah satu dari mereka.
Kairi melangkah dengan begitu pelan menyeimbangi para adik-adik baru untuk Kairi. matanya menangkap dengan begitu jelas gadis imut yang duduk seorang diri di emperan pendopo dan menyandarkan kepalanya di tiang.
" pak itu siapa.? tanya Kairi pada Akhsan.
Akhsan menoleh sejenak pada Kairi lalu beralih pada gadis kecil yang di tunjuk dengan mata Kairi " dia adalah Aira. dia datang kesini beberapa hari yang lalu dibawa oleh Faisal. " Jawab Akhsan lembut.
" apa aku boleh ke sana.?
" boleh. yuk aku antar " Akhsan dan Kairi mendekati Aira sementara semua barang-barang mereka sudah di bawa masuk oleh santri yang lain.
Kairi menyentuh pundak Aira. wajah nya tampak begitu sedih entah masalah apa yang membuat nya begitu tak semangat bahkan untuk tersenyum saja serasa susah. " Aira. "
" Hmm.. " Aira terhenyak dan menatap Kairi yang tersenyum padanya. " kakak siapa.? tanya Aira,dia sama sekali tak mendengar akan pernikahan Akhsan dan Ikhsan tak seperti yang lain. Aira selalu saja mengurung diri dan hanya akan keluar sesekali itupun jika ada yang mengajaknya dengan paksa.
" perkenalkan aku Kairi. aku...?
" dia istri Kak Akhsan, Aira. " sambung Akhsan melanjutkan kata-kata Kairi yang terputus.
" maaf ya Kak, Aira tidak tau. dan selamat untuk pernikahan kakak, semoga kakak selalu bahagia. " doa Aira dengan tulus untuk Akhsan dan Kairi.
" Amin.. , kamu kenapa melamun disini, apa ada masalah.? tanya Kairi.
" Aira, Aira hanya merindukan seseorang Kak. " jawab Aira, " sudah ya Kak, Aira masuk dulu , kakak pasti juga sangat lelah kan. " Aira beranjak meninggalkan Akhsan dan Kairi dalam kebingungan.
Keduanya terus menatap punggung Aira yang semakin jauh. Gadis pendiam dan juga tak suka bergaul, wajah cantik namun tertutup karena kesedihannya bahkan bekas lebam yang kemarin belum juga hilang sempurna. sungguh menyedihkan nasib Aira.
" kasian dia ya pak. "
" iya, dia di temukan Faisal saat di hajar habis-habisan oleh ayahnya, dan katanya dia juga bukan darah daging nya makanya Ayah tega menyakiti Aira. karena itulah Faisal membawanya kesini dan tak membiarkan dia kembali pada ayah angkat nya.
" sungguh malang, ayah kamu pasti akan menyesal melakukan itu padamu Aira. "
Akhsan menarik tangan Kairi untuk membantunya bangun dari duduk nya dan ingin memperlihatkan kamar mereka di sana, meskipun Akhsan sendiri juga masih belum tau sih karena tak mungkin kan dia akan tidur di tempat kemarin saat bersama Ikhsan.
"Abang..!! teriak Ikhsan yang berjalan dengan cepat bersama Fatma di belakang nya.
Tadi tempat itu begitu ramai namun sekarang begitu sepi karena tak tau kalau Ikhsan juga akan datang hari itu.
Akhsan dan Kairi menoleh. Fatma langsung berlari memeluk Kairi dengan membawa begitu banyak kerinduan dan juga cerita. " Kak Kairi, Fatma sangat merindukan kakak. kakak apa kabar.? cerocos Fatma.
__ADS_1
" kakak baik-baik saja Fatma, kamu. " tanya Kairi sembari melepaskan pelukan nya dari Fatma.
" aku pasti baik-baik saja lah Kak. " jawab Fatma girang.
Akhsan dan Ikhsan begitu senang melihat kedekatan Kairi dan Fatma, dia benar-benar sudah seperti adik kakak. " bang, mereka sangat akur ya." Ikhsan merangkul pundak Akhsan dengan semangat.
Akhsan menoleh dan pas melihat luka di lehernya Ikhsan karena perbuatan Fatma tadi pagi. Akhsan tertawa terpingkal bahkan sampai membungkukkan badannya mengejutkan ketiga orang yang ada di sana. " hahaha.. "
" abang kenapa.? tanya Akhsan bingung.
" nggak apa-apa hanya geli saja. " jawab nya begitu enteng.
" geli, kenapa.?
Akhsan kembali berdiri dengan tegak mendekat pada telinga Ikhsan dan membisikkan sesuatu padanya " hey dek, ternyata bini mu ganas juga ya. gimana malam pertama nya sukses. Tapi kamu pakai pengaman kan.? awas kalau sampai adek ipar hamil aku lempar kau ke Amazon. " ancam Akhsan.
Boro-boro sukses. sukses remuk semua tubuh nya iya. " Belum Bang, tapi seperti nya ide abang oke juga akan aku pertimbangkan. " jawab Ikhsan. " kalau Abang sendiri gimana.? udah mulai tuh nyetak generasi penerus keluarga saputra. semoga cepet jadi ya Bang, kalau aku mah daftar belakangan nggak masalah. tapi ingat jangan pakai pengaman, bisa-bisa mati tuh kecebong. " ledek Ikhsan.
" Ikhsan.. " geram Akhsan.
" iya abang tampan. " jawab Ikhsan dengan suara genit sembari mencolek pipi Akhsan.
" Ikhsan..!!
Fatma dan Kairi terkejut apa yang suami mereka bicarakan hingga kedua nya berselisih namun Akhsan saja yang terlihat marah sedangkan Ikhsan malah terus meringis.
" apa yang mereka bicarakan. ? bingung Fatma.
" tau. " Kairi menaikan bahunya tanda tak mengetahui.
" ingat ya Bang. " ledek Ikhsan terus menerus.
" Ikhsan..!!
" Awwww... " keluh keduanya saat telinga nya tertarik dengan kuat dari belakang.
Tangan yang sudah terlihat kecil dan kulit nya yang sudah mengeriput itulah yang menarik telinga keduanya. " udah nikah juga masih saja bertengkar, dihadapkan istri kalian lagi, apa nggak malu. " ucap Tasya dengan tegas.
" hehehe Oma, apa kabar oma. baik lah ya,? baik baik. " jawab Ikhsan di selingi dengan cengiran khas nya.
" eh Oma." sambung Akhsan.
Mau marah malu sama menantu, nggak marah kedua kembar ini bikin emosi, ishh Tasya begitu bingung dengan kelakuan cucunya ini.
" cepat bawa istri kalian masuk, atau Oma tendang kalian dari sini. berkelahi terus kayak bocah, ish kalian ini. " ucap Tasya dongkol.
" hehehe iya Oma tapi lepasin dulu. "
Tasya pun melepaskan kedua tangan nya dari kedua cucunya dan berjalan menghampiri kedua cucu menantunya " kalian jangan seperti mereka ya. yuk masuk sama Oma, biar Oma tunjukin kamar kalian " Tasya menggandeng Fatma dan Kairi bersamaan.
" iya Oma. " jawab keduanya.
" lah Oma kita gimana.? teriak Akhsan.
" terserah. " jawab Tasya dengan enteng.
Akhsan dan Ikhsan geleng-geleng kepala melihat Oma nya yang sudah semakin jauh membawa istri mereka. " ini kita atau mereka sih Bang yang cucunya.?
" tau.
" Oma..!! Keduanya berlari menyusul Tasya dan istri nya takut sampai nanti di kunciin juga pintunya kan bisa gaswat.
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
__ADS_1
Tasya. !! Author merindukan mu. πππ