
____
Happy Reading..
__________________
" Fatma, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. " Ikhsan beranjak dan berlari mengejar Fatma lalu memeluknya dari belakang. " Semua ini tidak benar, aku tidak tau apapun tentang ini. Aku tidak ingat apapun. " Ucap Ikhsan.
Ikhsan terus berbicara menjelaskan apa yang sama sekali tidak dia lakukan, yang mungkin ada di pikiran Fatma saat ini. Pantes saja Fatma semarah ini padanya kalau hanya pulang terlambat tidak akan sampai seperti ini, tapi ini? Fatma melihat sendiri Ikhsan tubuh Ikhsan yang terus di gerayahi oleh tangan falakor itu.
" Percayalah Fatma. Aku tidak melakukan apapun padanya, aku tidak akan mungkin mengkhianatimu, aku hanya mencintai kamu saja. " Ucap Ikhsan.
" Kenapa Mas harus datang ke rumah itu? Dan ada hubungan apa Mas dan juga falakor itu?" Tanya Fatma dengan dingin.
Dari pertama hingga akhir semua Ikhsan katakan pada Fatma, hingga sampai terakhir Ikhsan meminum teh buatan Suci dan setelah itu dia tak lagi mengingat apapun lagi.
" Lepas! Aku nggak mau Mas menyentuhku, tubuh Mas masih, bau dengan tangan wanita itu." Fatma berontak melepaskan diri dari pelukan Ikhsan.
" Tidak Fatma, Mas sudah mandi. Ini sudah tidak bau lagi." Ikhsan tak mau melepaskan Fatma begitu saja.
" Mas bau!. " Teriak Fatma.
Tangan Ikhsan berhasil terlepas, dan seketika membuat Ikhsan seperti orang bodoh yang berdiri diam dengan tatapan bingung. Ikhsan mengendus-endus tubuhnya
sendiri namun sama sekali tidak bau, seperti ini yang Fatma katakan. " Tidak bau, Fatma. " Kekeuh Ikhsan.
" Kalau aku bilang bau ya bau!. " Ucap Fatma tak kalah kekeuh.
" Oke oke.. Sekarang Mas harus bagaimana? Apa yang harus Mas lakukan!. "
" Semua sudah Fatma siapkan di kamar mandi. " Jari telunjuk Fatma mengarahkan ke arah kamar mandi yang tertutup tak jau dari sana.
" Oke, Mas akan lakukan semuanya yang kamu minta." Ikhsan cepat masuk ke kamar mandi, seketika matanya terbelalak. " Fatma! Ini ngga ada salah!." Teriak Ikhsan keras sedangkan yang di panggil ternyata ternyata ada di belakangnya.
" Tidak! Mas harus mandi dengan air kembang itu, dan sabun itu harus sampai habis. Kalau tidak habis jangan harap Mas bisa dekat-dekat dengan Fatma. " Ancam Fatma.
__ADS_1
Hanya perempuan satu ini yang berani mengancam seorang Ikhsan, tak ada yang lain lagi.
Ikhsan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ini akan sangat lama untuk nya berada di kamar mandi, dia tak habis pikir hukuman seperti ini yang akan dia dapatkan. Mandi kembang daan harus menghabiskan sabun mandi sebanyak tujuh butir.
" Ingat Mas, sabun harus habis, kalau tidak habis najis mugholadho yang ada di tubuh Mas tidak akan hilang." Ucap Fatma.
" Fatma, bukannya aku juga sudah memelukmu, berarti kamu juga terkena najis nya kan? Kalau begitu, bagaimana kalau kita mandi bersama dan habiskan sabun itu bersama-sama. " Ucap Ikhsan yang mempunyai ide konyol itu.
" Ogah!. " Fatma melenggang pergi begitu saja, karena tak semudah itu pintu maafnya untuk Ikhsan, masih ada lagi yang harus Ikhsan dapatkan.
" Fatma! Mandiin aku aja gimana!. " Teriak Ikhsan dari dalam kamar mandi tapi sudah tak lagi ada jawaban dari Fatma karena sudah terlanjur pergi dari kamar tersebut.
" Ini sebuah nasib atau keberkahan? Udahlah lakukan saja, daripada tidak mendapatkan maaf dari Fatma. " Ikhsan mulai melepaskan bajunya dan siap membersihkan najis yang tertinggal di tubuhnya seperti yang Fatma katakan.
________
𝘛𝘪𝘯𝘨....
Sebuah chat masuk di ponsel Akhsan membuat Kairi mengernyit saat itu juga karena saat ini ponsel Akhsan sedang ada di tangannya dan Akhsan tengah rebahan dan menjadikan paha Kairi sebagai bantal nya.
Akhsan menutup bukunya mengambil ponselnya dari tangan Kairi. Akhsan juga mengernyit karena dia tidak tau itu nomor siapa, karena nomor itu belum tersimpan.
di dalam kontaknya. Akhsan bangun dari rebahan nya langsung membaca pesan singkat yang datang melalui WhatsApp.
" 𝘈𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮 𝘱𝘢𝘬, 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬? 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. "
Itulah pesan yang datang itu. Akhsan tak berniat menjawab karena dia tak mengenalnya siapa tau itu hanya orang iseng atau mungkin orang yang mau menipunya.
Akhsan kembali merebahkan tubuhnya seperti tadi dan kembali menyerahkan ponselnya pada Kairi. Akhsan kembali membuka buku dan siap untuk membaca kembali itu akan lebih baik daripada mengurusi orang yang tidak dia kenal.
Kairi langsung menerimanya, membaca chat tadi. " Mas nggak ada niatan untuk membalasnya?. " Tanya Kairi jiwa penasarannya mulai tumbuh dan merajalela.
" Tidak, Mas tidak mengenalnya. " Jawab Akhsan.
Kairi manggut-manggut mengerti setelah mendapatkan jawaban itu Kairi kembali membuka ponsel Akhsan dan melihat video video kartun yang beberapa hari ini menjadi kesukaannya.
__ADS_1
𝘛𝘪𝘯𝘨.....
Pesan kembali masuk membuat Kairi sedikit terganggu karena dia sedang asik dengan kegemaran barunya itu.
" Mas, dia chat lagi. " Ucap Kairi memberi tau.
" Baca yang keras. " Pinta Akhsan tanpa mengubah posisinya dan juga kegiatannya sekarang.
" Pak, kok tidak di balas? Bapak lagi sibuk ya? Ya sudah maaf ya pak. Kalau nanti senggang balas ya, Pak.
Kamila. " Ucap Kairi membaca pesan singkat itu.
" Kamila?. " Kairi mengerutkan keningnya, darimana Kamila bisa mendapatkan nomor Akhsan? Dan kenapa harus Chat Akhsan dan bertanya padanya? Bukannya masih ada orang lain selain Akhsan.
" Mas, mas kasih nomor Mas pada Kamila?. " Tanya Kairi yang sepertinya mulai terganggu dengan Kamila yang selalu mengganggu Akhsan suaminya.
Sejak kemarin Akhsan menyelamatkan Kamila, dia selalu saja mencari-cari cara untuk bisa mendekati Akhsan, apa mungkin Kamila menyukainya? Atau hanya sekedar menjadi penggemar saja atau mungkin semua itu karena dia yang ingin menjadi akrab karena Akhsan telah menyelamatkannya?.
Bermacam-macam pertanyaan muncul di otak Kairi, dia ingin biasa-biasa saja namun semakin kesini sepertinya dia tak bisa mengendalikan hatinya untuk tetap diam saja.
Mendengar pertanyaan Kairi Akhsan menggeleng, dia tidak pernah memberikan nomornya pada siapapun apalagi pada mahasiswanya. Di samping dia tidak mau mereka mengusiknya tapi Akhsan juga tidak mau sampai nantinya ada yang memanfaatkan nya.
" Tidak, Sayang. Mana mungkin Mas menyebarluaskan nomor Mas yang antik ini. Nomor Mas ini hanya keluarga yang tau, kalau untuk rekan kerja Mas semuanya aku kasih nomor Ardi. " Jawab Akhsan.
" Terus, dia dapat dari mana?." Kairi semakin bingung di buatnya.
" Entah?. " Jawab Akhsan singkat.
Ingin rasanya untuk tidak curiga, namun mana bisa seorang istri tidak curiga sama wanita yang ingin mendekati suaminya, Kairi bisa dan sepenuhnya percaya dengan Akhsan suaminya, tapi bagaimana dengan wanita itu? apa dia bisa di percaya.
" 𝘈𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. " batin Kairi.
__
Bersambung...
__ADS_1
_______________