
Happy Reading..
_______
Hari-hari berjalan seperti biasanya, Khairi yang sangat menikmati masa-masa kehamilannya, Akhsan yang selalu bekerja keras demi perusahaan, dan ternyata Kamila yang masih terus berharap bisa mendekati Akhsan meskipun dia sendiri sudah mulai dekat dengan Hasan.
Mungkin aura Akhsan lebih kuat jadi dia masih tetap mengharapkan Akhsan yang akan dia dapatkan sebagai pendampingnya.
Hari ini Akhsan juga Khairi pergi ke kampus seperti biasa, mereka berangkat bersama dan berpisah setelah sampai di kampus.
Akhsan langsung pergi ke ruangan nya sementara Khairi sudah di jemput oleh Nara untuk ke kelasnya juga. Kedua bumil itu blm asih begitu semangat menjalani hari-harinya dengan perut yang mulai buncit dan kian membesar seiring berjalannya waktu.
"Khairi, bagaimana dengan dedek yang ada di kandungan mu? Sehat kan? " Tanya Nara antusias, sesekali dia berhenti melangkah lalu melihat Khairi dan juga perutnya yang buncit.
Khairi tersenyum, selama ini tidak ada masalah yang berarti, hanya sesekali Khairi akan merasa kram saja saat dia kelelahan namun itu masih masuk dalam kewajaran sih kata dokter.
"Alhamdulillah, aku dan dedek baik-baik saja. Kalau kamu? Sekarang Pak Marco sudah baik hati kan? Dia benar-benar bisa menerima mu, kan? " Selidik Khairi.
"Alhamdulillah, meskipun dia masih menyatakan belum bisa mencintaiku seutuhnya tapi dia tetap bertanggung jawab padaku, dia juga sangat memperhatikanku. " Jawab Nara.
"Oh iya, bagaimana dengan keadaan Opa Joe, dia baik-baik saja kan? "
"Opa, Opa sudah sering sakit-sakitan mungkin karena usianya kali ya, dan juga Opa susah untuk makan, jadi tenaganya kurang kan? " Terang Nara.
"Ya semoga Opa selalu sehat ya, kapan-kapan biar aku ajak Mas Akhsan untuk jenguk Opa." Ucap Khairi.
"Aku tunggu ya."
"Iya, InsyaAllah. "
Sementara Akhsan yang hampir saja sampai di ruangannya kini tengah berhenti karena berpapasan dengan Kamila. Bukan dia ingin berhenti dengan sendirinya tapi karena memang Kamila yang membuatnya berhenti.
"Ada apa, Mila? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Akhsan
"Sebenarnya..., sebenarnya.. " Kamila sangat ragu untuk mengatakan sesuatu pada Akhsan, sebenarnya dia ingin mengatakan kalau dia sangat menyukai Akhsan, tapi kenapa setelah mereka hanya berdua saja mulut Kamila seakan kelu untuk mengatakannya.
"Ada apa? Bisa tolong cepat katakan? Saya sedang buru-buru! " Ucap Akhsan.
"Pak Akhsan, sebenarnya Kamila... "
__ADS_1
"Kamila!" Suara yang sangat keras menghentikan kata-kata Kamila. Kamila dan Akhsan menoleh dan ternyata ada Hasan yang tengah berlari ke arah mereka berdua.
Gagal sudah untuk Kamila mengatakan apa yang menjadi isi hatinya untuk Akhsan. Semua itu di sebabkan karena kedatangan dari Hasan.
"Ternyata kamu di sini, aku mencari mu kemana-mana dari tadi. " Nafas Hasan terlihat sangat ngos-ngosan bahkan bicaranya pun tidak beraturan.
"Memang nya ada apa? " Tanya Kamila.
"Aku..., " Hasan melirik ke arah Akhsan, dia takut aja karena ada kakak iparnya di sana.
"Baiklah saya pergi dulu, silahkan kalian selesaikan masalah kalian." Pamit Akhsan yang seakan tau akan tatapan minder dari Hasan karena keberadaannya.
"Tapi, Pak! Kamila..? "
"Kamu bisa katakan di lain waktu Kamila." Jawab Akhsan.
Kamila hanya bisa pasrah dengan apa yang menjadi keputusan Akhsan sekarang, dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya mengangguk.
Tak mau berlama-lama di sana Akhsan kembali berjalan menuju ruangannya, dia hanya tidak mau mengganggu Kamila dengan Hasan meskipun entah apa yang ingin mereka bicarakan.
Bukan hanya Akhsan saja yang mendapatkan gangguin dari wanita lain, Ikhsan pun sama. Dia lebih parah lagi karena Suci masih terus getol untuk mendapatkannya.
Tak mau sampai Suci lebih dekat dengan Ikhsan membuat Fatma lebih waspada, bahkan dia lebih sering berjalan kemanapun Ikhsan akan pergi, Fatma sudah seperti seorang bodyguard untuk selalu mengiring kemana Ikhsan pergi.
Meskipun tak berjalan bareng apalagi bergandengan namun Fatma yang terus mengikuti Ikhsan membuat Suci merasa penasaran namun di selimut rasa gerah karena cemburu.
Seperti saat ini, Fatma terus mengikuti Ikhsan yang akan pergi ke kantin. Sebenarnya Ikhsan menawarkan untuk jalan berdampingan namun Fatma menolak karena dia tak mau sampai hubungan mereka terbongkar.
"Permisi, Pak Ikhsan. Mau ke kantin ya? Boleh barengan?" Ucapan Suci yang tiba-tiba datang membuat Ikhsan juga Fatma menghentikan langkahnya.
Ikhsan menoleh ke belakang, sementara Fatma matanya sudah melotot tajam karena kesal.
"Ada apa Pak? " Pertanyaan Suci membuat Ikhsan langsung kembali menoleh ke arahnya dengan wajah gugup.
Suci yang melihat wajah Ikhsan seperti orang yang tengah ketahuan akan sesuatu seketika melihat keadaan di belakang Ikhsan dan ternyata ada Fatma di sana yang sedang berjalan mendekati mereka berdua.
"𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘢𝘬 𝘐𝘬𝘩𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢? 𝘒𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢. " Batin Suci.
"Hallo, Pak, mau ke kantin ya? Fatma boleh barengan kan? " Tanya Fatma dengan wajah sok lugu dan tangannya langsung merangkul lengan Ihsan tanpa rasa takut.
__ADS_1
Suci ternganga, dia begitu geram melihat Fatma menggandeng lengan Ikhsan, bagaimana bisa seorang murid bisa seberani itu, bahkan dia melakukannya di hadapannya.
Seketika Suci menarik paksa Fatma supaya menjauh dari Ikhsan, dia sangat tak rela ada siapapun menyentuh pujaan hatinya. "Lepaskan, Fatma! Dia itu guru, bukan pacarmu! " Seru Suci dengan kesal.
Fatma yang sudah menjauh dari Ikhsan hanya berwajah datar saja memandangi Suci, mana peduli apapun yang di katakan oleh Suci, jangankan hanya menyentuhnya menciumnya pun oke tak menjadi masalah.
"Emang kenapa, Bu? Apa salah? " Tanya Fatma dengan begitu polos.
"Salah, dia itu seorang guru! Dia juga sudah punya istri! "
"Emangnya kenapa kalau pak Ikhsan udah punya istri, salah? "
Ikhsan yang melihat hanya bisa memandangi istrinya itu dengan datar, entah rencana apa lagi yang akan dia lakukan sekarang.
"Jelas salah! Apa kamu tidak takut sama istrinya! "
"Tidak! Lagian kenapa ibu yang sewot, kan Ibu bukan siapa-siapanya, mau aku ngapain juga terserah aku. " Jawab Fatma begitu berani.
Suci menatap kesal Fatma yang tak mau mendengarkan dirinya, murid satunya ini benar-benar membuat ubun-ubunnya menguap seketika.
"Saya? Saya adalah istrinya! Jadi saya minta kamu jauh-jauh dari Pak Ikhsan! " Tukas Suci.
Bukan hanya Fatma yang terbelalak, namun Ikhsan pun sama. Mereka berdua saling lempar pandang saat itu, Suci benar-benar berani mengakui suami orang sebagai suaminya.
"Hahaha!! " Seketika Fatma terbahak-bahak setelah beberapa saat saling lempar pandang dengan Ikhsan.
"Oke. Kalau Bu Suci adalah istri pak Ikhsan! Maka perkenalkan! Saya adalah ibu mertua yang kejam! "
Kali ini Ikhsan yang menahan tawa, kalau Fatma menjadi ibu mertua dari wanita seperti Suci bisa di pastikan dia akan selalu menindas nya setiap hari.
"𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢... 𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢..."
Ikhsan menggeleng dengan bibir yang tersenyum kecil. Istrinya benar-benar luar biasa.
__
Bersambung..
_______________
__ADS_1