Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
139. Tempat yang sama


__ADS_3

Aisyah dan Shelvia berlari mengejar Marco yang tengah berlari menggendong Nara dan masuk ke rumah sakit.


Meskipun Marco belum bisa menerima Nara , tapi Nara saat ini tengah pingsan karena terjatuh di kamar mandi. Nara harus terus bersembunyi di kamar mandi karena ketakutan saat melihat Marco.


" Abang sih, kalau saja bisa membuat Kak Nara tenang dan bisa melupakan kejahatan Abang, pasti Kak Nara nggak bakal seperti sekarang kan " ucap Shelvia.


" tau nih, abang jelek. katanya cerdas, pinter dalam semua hal, tapi hanya menenangkan perempuan saja nggak bisa " ucap Aisyah menambahi.


Kesal, dongkol pastilah Marco rasakan. tapi ini bukan saatnya untuk marah lagian dia juga tau tempat kalau mau marah, meskipun rumah sakit ini adalah miliknya tapi dia juga tak akan bertingkah semaunya sendiri.


" Dokter.. !! suster,,!! " teriak Marco dengan sangat keras dan terus berlari.


Seorang dokter dan juga perawat berlari dengan mendorong brangkar mendekati Marco yang terus berteriak.


Marco menurunkan Nara perlahan di brangkar dan ikut berlari, " tolong periksa dia, jangan sampai ada kesalahan sedikitpun, kalian mengerti. " seru Marco dengan keras.


" Baik Pak. " jawab dokter.


Marco menunggu di luar setelah Nara di bawa masuk ke dalam dan di periksa, terselip rasa kasihan dan bersalah di benak Marco tapi dia tak bisa melakukan apapun karena masih tertutup akan gengsi dan juga keangkuhan nya.


" semoga saja tidak terjadi apapun pada wanita itu " Marco terus mondar-mandir tak jelas, dia khawatir meskipun rak dapat dia katakan dan dia sembunyikan dari Aisyah dan juga Shelvia.


Aisyah dan Shelvia saling melempar senyum mereka tersenyum setelah melihat ada kekhawatiran dari wajah Marco.


" katanya nggak perduli, katanya nggak suka tapi nyatanya udah kayak cacing kepanasan saat Kak Nara pingsan " celetuk Aisyah.


" iya tuh Bang Marco. udah mulai meleleh mungkin hatinya. semoga saja segera meleleh tuh hati yang sekeras baja. " sambung Shelvia.


Marco menoleh dan melotot pada kedua gadis yang tengah menggunjing nya di depan nya sendiri.


" kalian bisa diem nggak.!! kalau kalian hanya mau ngomong nggak ada gunanya seperti ini mending kalian pulang, dan jangan menambah aku semakin pusing.! " ucap Marco yang akhirnya mengeluarkan suaranya yang ia tahan sedari tadi.


" aku kira orang yang hatinya sekeras baja nggak pernah pusing "' lirih Aisyah.


" hahaha,, dia juga manusia kali Syah. " jawab Shelvia.


Marco semakin kesal, setiap berada di depan kedua bocah ini dia seperti bahan tontonan yang lucu buat mereka berdua. karena mereka pasti akan menertawakan nya meskipun hanya karena hal sepele.


" Ihhh,,,!! diam,, " geram Marco.


" mangap sengaja. ups,, " ucap Aisyah seketika menutup mulutnya sendiri.


" dua in. " imbuh Shelvia.


" diammmmm...!! " Marco semakin kesal dengan tingkah mereka berdua.

__ADS_1


" Pak Marco, dokter memanggil bapak " ucap suster yang keluar dari ruangan namun hanya bagian atas saja yang menyembul keluar.


Marco menoleh dengan cepat dan mengangguk sembari berjalan masuk mengikuti suster tadi " baik. " jawab Marco dan bergegas.


" semoga saja Kak Nara dan kandungnya nggak kenapa-napa " ucap Aisyah penuh harap.


" Amin,,, " jawab Shelvia. " Syah, keluar bentar yuk cari hadiah buat Papa besok. " ajak Shelvia sembari beranjak dan menarik tangan Aisyah.


Aisyah mengangguk, ikutan beranjak dan mengikuti Shelvia membawanya pergi dari sana. " Hm "


🌾🌾🌾🌾🌾


Marco duduk di depan dokter perempuan yang memeriksa Nara. Dia adalah dokter Mitha dokter kepercayaan Marco di rumah sakit itu.


" gimana keadaan dia dok,? " tanya Marco tak sabaran " dia tidak mengalami hal yang serius kan.?


Dokter Mitha tersenyum dan menjawab pertanyaan Marco dengan tenang.


" tidak ada yang perlu di khawatirkan pak, Ibu dalam keadaan baik-baik saja. Dan kandungan nya juga baik-baik saja. Ibu hanya pingsan karena dia sedikit tertekan dan juga Ibu mengalami dehidrasi. " jawab Dokter Mitha.


" mak-maksud dokter di-dia hamil " Marco terperangah.


" apa Ibu tidak mengatakan nya pada bapak.?" tanya Mitha.


" usianya empat minggu, Pak. " jawab Mitha.


Marco kembali terperangah dan begitu terkejut, waktu satu bulan adalah waktu Marco telah merenggut kehormatan Nara dalam keadaan mabuk dan juga menurunkan Nara di pinggir jalan begitu saja tanpa ada rasa kasihan sama sekali.


" dokter tidak bohong kan,?! " ucap Marco memastikan.


" iya Pak, usia kehamilan ibu empat minggu " jawab Mitha menegaskan.


" benarkah dia hamil anakku. apa benar anak itu anakku.emang aku sudah biasa melakukan itu tapi aku selalu memakai pengaman tapi dengan dia,, bahkan aku sama sekali tak memakai pengaman dan aku juga melakukannya tidak hanya sekali saja " Batin Marco.


Marco menoleh menatap Nara yang belum juga sadarkan diri dan terdapat selang infus yang melekat di tangan nya.


" benarkah semua itu. benarkah aku telah menghancurkan gadis yang tidak bersalah sama sekali. " ? " batin Marco sembari termenung menatap Nara.


" Pak. pak " panggil Mitha.


" Ya." Marco tersentak, dan langsung menoleh ke arah Mitha. Marco mengerutkan dahi saat melihat ekspresi Mitha yang seperti nya ingin mengatakan hal yang tak baik. " apa ada masalah.?


" begini Pak, sejauh ini keadaan Ibu dan janinnya dalam keadaan baik-baik saja, tapi jika Ibu terus stress dan tertekan maka itu berakibat buruk pada Ibu dan juga kandungan nya. saya sarankan untuk Bapak bisa membuat Ibu selalu bahagia dan melupakan hal yang membuat Ibu tertekan " ucap Mitha.


" Hmm..? " Marco begitu bingung, bagaimana dia akan membuat Nara merasa bahagia dan melupakan segalanya masalahnya, kalau Marco sendiri lah yang menjadi masalah untuk Nara. " Ba-baik dok. " jawab Marco ragu.

__ADS_1


" ini adalah resep yang harus bapak tebus di apotik, dan ibu harus meminumnya secara rutin" ucap Mitha sembari menyerahkan selembar kertas pada Marco.


" makasih, Dok. "' jawab Marco.


🌾🌾🌾🌾🌾


Setelah semua di nyatakan baik-baik saja Akhsan mengajak Kairi untuk segera pulang, Kairi harus banyak istirahat demi kebaikan nya dan juga janin nya yang dia kandung.


Dari begitu banyak rumah sakit kenapa juga Kairi mengajak ke rumah sakit yang sama dengan Nara berada saat ini.


Tak seperti biasanya yang selalu periksa di rumah sakit nya Airin tap hari ini Kairi merasa sangat ingin saja periksa ke tempat yang lain.


" sekarang udah puas kan, yuk sekarang pulang. " ajak Akhsan.


Entah kenapa Kairi merasa belum puas berada di sana seakan ada yang memintanya untuk tetap tinggal di sana sementara waktu saja.


" bentar Mas, Kairi rasa ada hal yang aneh gitu. kenapa aku masih ingin di sini ya. " jawab Kairi.


Akhsan terdiam, bagaimana dia akan membujuk Kairi untuk segera pulang, bukan apa-apa tapi Akhsan takut kalau sampai ketemu dengan pemilik rumah sakit ini dan terjadi masalah nantinya.


" emang kenapa sih? " tanya Akhsan.


Kairi menggeleng tidak tau. Kairi benar-benar tidak tau alasan nya tapi yang jelas dia masih ingin tetap tinggal di sana.


" sepuluh menit saja ya "


Kairi mengangguk dengan cepat.


Mereka berdua duduk di bangku yang ada. Kairi terus saja menoleh tak jelas, seperti mencari-cari sesuatu tapi apa dia sendiri juga tidak tau.


Akhsan semakin bingung dengan yang di lakukan oleh Kairi, tak seperti biasa nya Kairi seperti ini, apa mungkin ini adalah pengaruh hormon saja atau ada firasat lain Akhsan benar-benar tidak mengetahuinya.


" kamu cari apa? " tanya Akhsan.


" tidak tau " jawab Kairi namun tetap tak menoleh ke arah Akhsan.


Akhsan mengangkat tangannya melihat jam tangan, sudah pukul 10:00 dan Akhsan sebenarnya ada acara di kantor, tapi demi menuruti permintaan Kairi Akhsan hanya diam dan tak mengatakannya.


" sudah sepuluh menit yuk pul....." ucapan Akhsan terhenti karena ada orang yang datang dan berseri dengan suara keras.


" apa yang kalian lakukan di sini,! apa kalian mau memata-matai rumah sakit ku,,!! "


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

__ADS_1


__ADS_2