
Setelah pulang dari supermarket, Fatma langsung pergi ke kamar nya. Mengurung diri mengunci pintu dan tak menghiraukan siapapun yang mengetuk nya dan ingin masuk bahkan untuk Aira sendiri pun dia tak mau membukanya.
Hatinya benar-benar kalut, luka yang lama tertutup kini telah terbuka lagi dan semua itu karena pertemuan nya dengan Nesa ibu kandung nya hari ini.
Tok tok tok...
" Kak, buka kak. biarkan Aira masuk " ucap Aira yang begitu sangat khawatir setelah mendengarkan penjelasan dari Kairi tentang kejadian tadi.
Fatma terus diam tak mengindahkan siapapun yang membujuknya bahkan, Keisha mertuanya pun dia abaikan. Fatma hanya membutuhkan waktu untuk sendiri menata hati nya yang tak akan mudah.
Fatma duduk di lantai bersandarkan ranjang nya dengan memeluk kedua kakinya. Menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangan.
Seketika bayangan akan masa-masa susahnya dan masa-masa paling terpahit untuk hidup nya kembali lagi dalam ingatan nya.
Air mata Fatma tak dapat dia bendung lagi,pikiran nya ingin sekali memaafkan tapi hatinya masih sangat menolaknya, semua tak akan mudah seperti membalikkan telapak tangan.
" kenapa ibu kembali datang kalau hanya untuk membuat luka untuk Fatma dan juga Aira. dan buat apa kalian datang, Fatma dan Aira sudah sangat bahagia dengan hidup tanpa ibu dan bapak, " gumam Fatma melirih.
Lelah menangis. Fatma beralih meringkuk di lantai, tak perduli lagi dengan seberapa pun dinginnya lantai yang tak beralaskan apapun itu. bagi Fatma dia bisa lebih tenang untuk sementara waktu itulah yang ia ingin kan.
Fatma mendengar sangat jelas kebisingan semua orang yang ada di luar kamar nya, mereka ingin sekali masuk tapi Fatma masih butuh waktu.
" Maafkan Fatma, Fatma masih belum bisa " cicit nya.
Satu tangan Fatma dia gunakan sebagai alasan untuk kepala nya sedangkan yang satunya dia gunakan untuk menutup rapat telinganya untuk menghindari suara kebisingan dari semua orang.
🌾🌾🌾🌾🌾
Semua orang begitu khawatir dengan Fatma, sedari tadi mereka berusaha untuk membujuk Fatma untuk membukakan pintu nya tapi tak kunjung di buka oleh Fatma, bahkan sekarang tak lagi terdengar adanya suara Fatma.
ketakutan mereka semua kian menjadi saat mereka terus berteriak dan mengetuk pintu dengan sangat keras tapi tak dapat jawaban sepatah kata pun.
" bagaimana ini Kak?, Aira takut " ucap Aira yang mulai berkaca-kaca.
Seharusnya Aira adalah orang pertama yang paling menderita karena perbuatan Ibu dan bapak nya, sudah di buang dan di pungut lagi dan harus mendapatkan Penyiksaan berulang kali karena ketidaksadaran dari mereka berdua.
Tapi seenggaknya Aira masih bisa tinggal di rumah yang layak dan mendapatkan perlindungan dari bapak nya, karena seperti apapun mereka membenci Aira tapi mereka tak pernah membiarkan Aira di ganggu atau di lukai oleh orang lain. sedangkan Fatma?, dia harus berjuang seorang diri untuk hidungnya selama sebelas tahun.
Hujan panas tidak pernah Fatma hiraukan dia pun juga tak malu bekerja menjadi seorang pemulung, semua itu hanya untuk mendapatkan uang untuk mendapatkan sesuap nasi untuk bertahan hidup.
Kairi mengelus bahu Aira berusaha meyakinkannya bahwa Fatma pasti akan baik-baik saja, Fatma hanya membutuhkan waktu saja untuk sendiri dan untuk bisa berfikir dengan jernih.
" sudah, Kak Fatma pasti akan baik-baik saja. kamu tenang ya " ucap Kairi.
Meskipun ragu Aira tetap mengangguk, mungkin yang di katakan Kairi benar, Fatma membutuhkan waktu untuk sendiri. " iya kak "' jawab nya.
Semuanya duduk di ruang tengah bermusyawarah apa yang akan mereka lakukan, sedangkan Akhsan dan Ikhsan belum juga pulang dan ponsel nya pun tak bisa di hubungi.
__ADS_1
" apa Ikhsan belum juga bisa di hubungi.? " tanya Fahmi yang sudah sangat khawatir dengan keadaan Cucu mantunya yang tak jelas.
" belum Opa " jawab Faisal, tangannya terus memainkan ponsel nya untuk menghubungi Ikhsan atau Akhsan tapi kenyataannya tak tersambung sama sekali.
" Bagaimana ini, Abi.? " ucap Rayyan begitu cemas, tak mungkin juga mereka akan mendobrak pintu kamar Fatma, karena mereka takut nanti akan semakin memperburuk keadaan.
Harapan mereka hanyalah Ikhsan, Fatma akan selalu mendengarkan semua perkataan Suaminya, tapi masalahnya keberadaan Ikhsan sekarang pun mereka tak mengetahuinya.
" Coba hubungi asisten Ikhsan "' pinta Rayyan pada Faisal, dan dengan patuh Faisal langsung menghubungi Anton, asisten Ikhsan di perusahaan nya.
Telfon tersambung namun begitu lama tak di jawab, hingga Faisal harus mengulangi hal yang sama sampai empat kali tapi hasilnya tetap sama.
" sekali lagi nggak ada jawaban Faisal sendiri yang akan datang menjemput paksa Abang Ikhsan "'ucap Faisal mulai kesal.
Tutt... tutt... tutt...
telfon berhasil terhubung dengan Baik.
🌾🌾🌾🌾🌾
Anton yang sedang sibuk dengan setumpuk berkas di hadapan nya pun berhenti sejenak setelah mendengar ponsel nya terus berdering.
Dengan tergesa-gesa Anton segera mengangkatnya setelah matanya melihat siapa yang telah menghubungi nya.
" Assalamu'alaikum, Tuan Faisal. Hmm.?. ada yang bisa saya bantu? " tanya Anton formal.
" Pak Ikhsan sedang meeting Tuan Faisal, apa mungkin ada pesan,? " tanya Anton.
"kalau meeting nya sudah selesai, tolong bilang aja suruh pulang secepatnya. bilang saja istri nya sedang sakit "'pinta Faisal yang tak mungkin akan mengatakan kalau Fatma tengah ada masalah karena bertemu dengan Nesa ibu kandung nya sendiri.
" Baik tuan ""
"Assalamu'alaikum...
"Wa'alaikumsalam " jawab Anton dan setelah itu telfon mereka putus mungkin Faisal yang mengakhiri nya.
Anton terdiam sejenak. benarkah Istri bosnya itu tengah sakit? tapi kenapa Ikhsan ke kantor kalau iya. tapi kalau pun tidak tak biasanya orang rumah akan menghubungi nya tanpa alasan yang jelas mungkin memang benar istri bos nya tengah sakit.
"'sampai kapan pak Ikhsan akan selesai meeting. ini sudah cukup lama, tumben pak Ikhsan lama sekali meeting nya. " gumam Anton bingung.
Anton kembali dengan semua berkas yang ada di hadapan nya, pekerjaan nya begitu menumpuk dan semua itu karena bosnya yang tak fokus bekerja hari-hari terakhir ini.
" aku akan minta bonus yang banyak jika aku berhasil menyelesaikan semua pekerjaan ini " gumam Anton yakin.
🌾🌾🌾🌾🌾
Satu jam penuh Ikhsan meeting, perencanaan untuk mengembangkan perusahaan nya.
__ADS_1
Dengan beberapa koleganya Ikhsan mengutarakan semua rancangan nya dengan sangat baik dan juga jelas, meskipun dalam waktu yang lama tapi semuanya bisa di pahami dengan baik oleh semuanya.
" Meeting akan kita lakukan satu minggu lagi setelah ini. Terima kasih untuk semua kerja sama dari bapak-bapak semua " Ikhsan mengurai senyum matanya menatap semua koleganya bergantian dan tangannya menyatukan berkas yang ada di hadapan bya menjadi satu.
Senyum pun Ikhsan dapatkan dari semua koleganya. semua tersenyum penuh bangga dengan apa yang Ikhsan katakan. mereka pun mengangguk mengerti " Baik Pak " jawab mereka bersamaan.
Semuanya pamit untuk pergi, satu persatu dari mereka mengalami Ikhsan dan langsung keluar dari ruangan itu.
" apa masih ada yang bisa saya bantu pak? " tanya sekertaris dari Ikhsan yang ikut serta dalam meeting.
Ikhsan menggeleng " untuk sekarang tidak ada, pergilah dan selesaikan pekerjaan mu " jawab Ikhsan pelan.
" Baik Pak. " sekertaris itu menunduk dan keluar setelah itu meninggalkan Ikhsan yang masih setia duduk di bangku yang sama.
Ikhsan menyandarkan punggungnya. lega rasanya akhirnya keinginan untuk mengembangkan perusahaan nya akan segera di jalan kan. " Alhamdulillah " gumam nya penuh syukur.
Ikhsan merogoh saku nya, mengambil ponsel nya yang tertidur manusia dengan kehangatan di sana. Heran juga rasanya dari pertama mulai meeting sampai selesai tak ada satupun telfon ataupun chat dari istri nya ataupun siapapun.
" tumben " ucapnya singkat. Tapi kata-kata itu seakan dia tarik lagi setelah ponsel nya tak dapat di nyalakan dan ternyata ponsel nya lowbat.
Tiba-tiba pikiran Ikhsan langsung merasa tak enak, tanpa membereskan semuanya Ikhsan langsung keluar dari ruangan itu dengan berlari.
" Anton,! " teriak nya memanggilnya asisten nya yang masih setia dengan setumpuk berkas di hadapan nya. " apa ada orang rumah yang menghubungi mu? " tanyanya gelisah.
Anton yang sudah berdiri dan menatap Ikhsan terlebih dahulu menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, bagaimana tidak? mata Ikhsan begitu tajam menatapnya.
" I-iya pak "jawab nya gugup.
" siapa? dan apa yang dia katakan? " tanyanya tak sabaran.
" tuan Faisal, Pak. Ta-tadi....?
" apa yang Faisal katakan!!
" ka-katanya is-istri Bapak sa-kit. " jawab Anton gugup.
Plakkkk...
Ikhsan menepuk jidatnya sendiri, bagaimana bisa Anton tak mengatakan itu padanya, padahal dia sering mengatakan kalau pas dia meeting ada salah satu keluarga nya menghubungi nya harus langsung mengatakan nya pada Ikhsan, tapi nampak nya Anton lagi-lagi melupakan nya.
" kenapa kamu tidak mengatakan nya dari tadi, seharusnya kamu langsung masuk dan hentikan meeting nya. Eishh,, kau ini.. "'keluh Ikhsan dan segera berlari.
Ikhsan kembali menoleh sebelum benar-benar keluar, menatap Anton dengan tatapan perintah nya.
" Anton,,!! tolong bereskan barang-barang ku di ruangan meeting,!! teriak nya sembari berlari.
🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
🌾🌾🌾🌾🌾🌾?